Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Hakikat Kehidupan dan Bahaya Kelalaian demi Materi” yang disampaikan Ustadz Abu Haidar, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Transformasi Anak dan Istri Menjadi Musuh di Akhirat
Hadirin sidang jumat yang Allah muliakan.
Dalam kehidupan di dunia, setiap manusia senantiasa berjuang, berikhtiar, berusaha, dan berkorban demi orang-orang yang dicintai, seperti keluarga, orang tua, istri, anak-anak, serta kerabat. Dorongan tersebut seringkali membuat seseorang lupa diri dalam bekerja, hingga rela meninggalkan anak dan istri dalam jangka waktu yang lama serta menempuh jarak yang jauh.
Kondisi yang paling fatal terjadi ketika seseorang sampai mengabaikan ibadah. Demi mengejar harta dan menyenangkan anak, amal shalih tidak lagi diperhatikan. Perbuatan seperti ini dilarang keras oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kehidupan di dunia bukanlah sarana untuk bersenang-senang dan menimbun materi semata, melainkan sebuah wadah mutlak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini selaras dengan tujuan penciptaan makhluk:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)
Harta kekayaan seharusnya dicari sekadar untuk menopang kelancaran ibadah. Demikian pula lembaga keluarga dibentuk untuk menunjang aktivitas peribadahan melalui ajakan untuk beribadah bersama-sama. Seorang suami wajib mengajak istri dan anak-anaknya beribadah agar selamat dari siksa api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan perintah tegas mengenai hal ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُو أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim[66]: 6)
Keluarga tidak boleh hanya dibahagiakan dari aspek lahiriah dan kebutuhan duniawinya saja, sementara urusan ibadah dan agamanya diabaikan. Pengabaian terhadap aspek spiritual ini akan mendatangkan kerugian yang besar bagi manusia di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan peringatan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَائِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun[63]: 9)
Istri dan anak-anak yang dibahagiakan secara buta di dunia tanpa pendidikan agama dapat berubah status menjadi musuh di akhirat. Manakala anggota keluarga tidak dididik dengan nilai-nilai agama, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lalai terhadap ibadah, mengabaikan kewajiban, melanggar larangan syariat, serta menyepelekan perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Akibatnya, mereka akan terkena murka dan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pada hari kiamat, anak dan istri tersebut akan mengajukan tuntutan hukum kepada suami atau ayahnya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla atas pembiaran kedurhakaan yang mereka lakukan selama hidup di dunia. Setiap kepala keluarga wajib mempertanggungjawabkan kepemimpinannya, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari)
Tuntutan tersebut menjadi penyebab berubahnya hubungan kasih sayang menjadi permusuhan yang nyata. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan fenomena ini di dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (QS. At-Taghabun[64]: 14)
Anak dan istri berubah menjadi musuh di akhirat apabila hak-hak mereka dalam perkara agama diabaikan oleh kepala keluarga. Pembiaran tanpa adanya pengajaran ibadah, pembekalan ilmu agama, serta ketiadaan larangan terhadap perbuatan dosa dan kemaksiatan.
Anggota keluarga kelak akan bertengkar di akhirat dan berubah menjadi musuh yang saling mencelakakan apabila urusan agama mereka diabaikan. Manusia perlu menyadari bahwa keluarga dan harta tidak akan dibawa mati, karena perkara yang menyertai manusia ke dalam kubur hanyalah amal perbuatannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan hal ini di dalam sebuah hadits:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Yang mengikuti mayit itu ada tiga hal; yang dua akan kembali dan yang satu akan tetap bersamanya. Ia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika seseorang meninggal dunia, pihak keluarga akan mengantarkan jenazahnya sambil menangis. Harta kekayaan berupa kendaraan seperti mobil atau sepeda motor juga turut mengiringi perjalanan menuju tempat pemakaman. Namun, setelah prosesi pemakaman selesai, keluarga dan harta tersebut akan kembali ke rumah, sedangkan perkara yang terus ikut masuk ke dalam alam kubur hanyalah amal perbuatannya.
Apabila amal perbuatan seseorang dikategorikan baik, amalan tersebut pasti menjadi prioritas utamanya selama hidup di dunia. Manusia yang berakal sehat akan langsung meninggalkan kesibukan dunianya tatkala mendengar kumandang adzan demi mendahulukan ibadah, baik ibadah fardhu maupun ibadah sunnah.
Amal perbuatan harus diletakkan pada nomor urut pertama karena tujuan utama manusia diciptakan di dunia adalah untuk beramal. Sikap yang lebih mengutamakan keluarga dan harta dengan cara mengabaikan amal hanya akan mendatangkan kerugian besar, sebab amalan tersebut yang menjadi faktor penentu keselamatan atau kecelakaan seseorang di alam kubur.
Saat manusia berada di alam kubur, Malaikat Munkar dan Nakir akan datang untuk mengajukan pertanyaan mengenai amal perbuatan. Pertanyaan di alam kubur pada hakikatnya tidak berupa hafalan, melainkan sebuah cerminan dari amalan nyata selama hidup di dunia.
Pertanyaan mengenai siapa Rabb berkaitan erat dengan kualitas iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pertanyaan mengenai apa agama menjadi ukuran tingkat ketaatan dan komitmen muamalah serta ibadah seseorang. Sementara itu, pertanyaan mengenai siapa nabi menjadi tentang loyalitas serta konsistensi manusia dalam menjalankan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Apabila seluruh komponen tersebut diaplikasikan dengan baik selama hidup di dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan keteguhan kepada hamba-Nya untuk menjawab pertanyaan tersebut secara lancar. Proses interogasi di alam kubur sama sekali tidak menyerupai wawancara di dunia. Dua malaikat yang bertugas memiliki karakteristik fisik dan suara bentakan yang sangat mengerikan, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ
“Apabila mayit telah dikuburkan, maka akan datang kepadanya dua malaikat yang hitam semu kebiru-biruan, salah satunya disebut Munkar dan yang lainnya disebut Nakir.” (HR. Tirmidzi)
Di dalam kitab At-Tadzkirah, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa seandainya ada manusia di dunia yang mendengar kedahsyatan bentakan Malaikat Munkar dan Nakir, kekuatan bentakan tersebut dapat menyebabkan seluruh persendian tulang manusia copot dan hancur berantakan.
Meskipun pertanyaan tersebut disertai dengan bentakan yang sangat dahsyat, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memantapkan hati orang-orang yang beriman agar tetap tenang melalui jaminan-Nya di dalam Al-Qur’an:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim[14]: 27)
Berkat pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, orang beriman mampu menjawab bahwa Rabbnya adalah Allah, agamanya adalah Islam, dan nabinya adalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika diajukan pertanyaan mengenai amal perbuatannya selama di dunia, orang beriman akan mengatakan bahwa dirinya beriman kepada Allah, rasul, serta kitab-Nya, sekaligus membaca dan mengamalkan seluruh isinya. Kemampuan melewati fase fitnah kubur ini menjadi penanda bahwa hamba tersebut telah meraih keselamatan.
Kelancaran dalam menjawab pertanyaan di alam kubur murni disebabkan oleh kualitas amal perbuatan yang baik selama hidup di dunia. Sebaliknya, apabila amal perbuatan manusia selama di dunia dikategorikan buruk akibat diabaikan demi mengejar kesenangan anak, istri, serta harta benda, maka penyesalan mendalam akan terjadi. Terlebih lagi jika manusia sampai mengabaikan rambu-rambu agama demi memperebutkan jabatan, pangkat, maupun kekuasaan.
Tatkala kematian menjemput, anak, istri, keluarga, harta, jabatan, pangkat, hingga jutaan pendukung sama sekali tidak dapat ikut serta ke dalam kubur untuk memberikan pertolongan. Satu-satunya perkara yang ikut masuk ke dalam alam kubur hanyalah amal perbuatannya.
Apabila amal perbuatan manusia buruk, maka saat diajukan pertanyaan oleh malaikat, dia hanya mampu meratapi tanpa bisa menjawab, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai kondisi orang kafir atau munafik di alam kubur:
فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ
“Maka ia berkata, ‘Hah, hah, aku tidak tahu! Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku pun ikut mengatakannya.'” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketidakmampuan tersebut mengakibatkan datangnya azab kubur yang sangat dahsyat. Berdasarkan realitas ini, dipahami bahwa urusan amal shalih harus lebih dipentingkan dan diprioritaskan diatas segala-galanya.
Keberadaan keluarga dan harta kekayaan seharusnya diposisikan sebagai sarana atau alat untuk mendukung aktivitas beramal. Manakala seseorang dikaruniai harta oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, harta tersebut harus dialokasikan untuk beramal shalih sebagai bekal menghadapi alam kubur dan kehidupan akhirat.
Demikian pula ketika seseorang diamanahi keluarga, anak, dan istri, momentum tersebut wajib dijadikan sebagai sarana untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya. Aktivitas memberikan nafkah yang halal bernilai pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tindakan mendidik, membimbing, mengajari ilmu agama, memerintahkan perbuatan makruf, serta mencegah keluarga dari segala bentuk kemungkaran merupakan investasi pahala yang akan menyelamatkan manusia di alam kubur hingga akhirat kelak. Sikap hidup jangan sampai terbalik dengan mengorbankan amalan demi memenuhi tuntutan anak dan istri. Justru sebaliknya, anak, istri, dan harta harus dijadikan instrumen untuk menopang serta menunjang amalan demi meraih kebahagiaan bersama di alam kubur dan akhirat, sehingga kebersamaan keluarga tidak hanya dirasakan di dunia melainkan berlanjut hingga ke surga.
KHUTBAH KEDUA : Gambaran Kebahagiaan Keluarga Mukmin di Surga
Hadirin sidang jumat yang Allah muliakan.
Kehidupan akhirat menyediakan potret kebahagiaan yang hakiki bagi keluarga muslim. Orang-orang beriman yang berhasil mendidik anak keturunannya di atas landasan iman akan dipersatukan kembali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surga. Kepastian penggabungan ini ditegaskan di dalam Al-Qur’an:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS. At-Thur[52]: 21)
Melalui ayat tersebut, anak keturunan yang tingkat amalannya berada di bawah orang tuanya akan diangkat dan digabungkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla ke dalam tingkatan surga yang sama dengan orang tuanya sebagai bentuk pemuliaan. Kebahagiaan kolektif satu keluarga di dalam surga ini juga digambarkan secara visual di dalam Surat Yasin:
إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِيهُونَ هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ
“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, berbaring di atas dipan-dipan.” (QS. Yasin[36]: 55-56)
Para penghuni surga beserta pasangannya berada di bawah naungan yang menyejukkan sembari duduk bersandar di atas dipan-dipan yang supermewah. Faktor utama yang menyebabkan mereka dapat meraih kebahagiaan sekeluarga di akhirat adalah adanya sikap saling ta’awun atau bekerja sama dalam menunaikan ketaatan selama hidup di dunia. Kepala rumah tangga menjalankan fungsinya dengan baik dalam membimbing istri dan anak-anaknya untuk beribadah, konsisten beramal saleh, belajar memahami syariat agama, mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, hingga mengajarkannya kepada orang lain.
Ketika salah seorang kepala keluarga meninggal dunia dan dihantarkan oleh keluarganya, seusai prosesi penguburan pihak keluarga akan pulang ke rumah. Pada saat itulah amal shalih yang bagus akan tetap tinggal menyertai di dalam kubur. Manfaat hubungan kekeluargaan yang berlandaskan iman akan terus berlanjut melalui doa-doa shalih yang dipanjatkan oleh keluarga yang ditinggalkan, karena doa tersebut terbukti sampai ke alam kubur.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan bahwa kelak di akhirat ada seseorang yang diberikan pahala dalam jumlah yang sangat besar dan banyak. Orang tersebut terkejut lalu berkata, “Ya Allah, dari mana aku memperoleh pahala sebanyak ini? Rasanya belum pernah beramal dengan amalan yang pahalanya sebesar ini.” Atas pertanyaan tersebut, maka disampaikan jawaban kepada orang tua itu bahwa pahala melimpah tersebut bersumber dari istighfar atau permohonan ampunan yang dipanjatkan oleh anaknya.
Anak yang masih hidup di dunia secara konsisten memohonkan ampunan untuk orang tuanya melalui untaian doa kebaikan. Doa dan permohonan ampunan tersebut mengalir sampai kepada orang tua di alam kubur, menjadi sebab keselamatan mereka, menghapus dosa-dosa, serta mendatangkan pahala yang melimpah. Anak-anak yang memiliki karakter saleh seperti ini merupakan hasil nyata dari pola didikan agama yang baik dari orang tua.
Pendidikan anak yang berbasis pada Al-Qur’an juga memberikan dampak kemuliaan yang luar biasa bagi orang tua di akhirat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai keutamaan ini:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُورٍ ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا تَقُومُ لَهُمَا الدُّنْيَا
“Barangsiapa siapa membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat yang cahayanya seperti cahaya matahari. Dan kedua orang tuanya akan dipakaikan dua perhiasan pakaian yang tidak bisa ditandingi oleh dunia dan isinya.” (HR. Thabrani)
Menerima anugerah tersebut, kedua orang tua ini bertanya, “Ya Allah, bagaimana aku bisa diberikan perhiasan pakaian semegah ini? Kenapa? Rasanya belum pernah beramal dengan amalan yang pahalanya sebesar ini.” Jawaban yang diberikan kepada mereka adalah karena anak mereka telah mengambil Al-Qur’an selama hidup di dunia.
Anak tersebut aktif membaca, memahami, menghafalkan, mengamalkan, serta mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain. Melalui wasilah amalan anak tersebut, dia tidak hanya memuliakan dirinya sendiri, melainkan kedua orang tuanya pun ikut terbawa serta menjadi termuliakan di akhirat.
Hal ini menunjukkan betapa besarnya peran anak kepada orang tua, serta orang tua kepada anak untuk saling menolong dan mendukung mulai dari dunia sampai ke akhirat. Oleh karena itu, manusia dilarang keras mengabaikan amalan shalih demi mengejar urusan keluarga dan harta benda semata. Sebaliknya, harta dan keluarga wajib dijadikan sebagai alat atau sarana untuk menopang amalan serta menunjang ibadah demi meraih kebahagiaan sejati di dunia hingga akhirat.
Sumber Video Khutbah Jumat “Hakikat Kehidupan dan Bahaya Kelalaian demi Materi”
Sumber : Tarbiyah Sunnah Channel
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS