Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Rezeki yang Paling Indah” yang disampaikan Ustadz Farhan Abu Furaihan , Hafidzahullahu Ta’ala
Khutbah Pertama: Urgensi Ketakwaan dan Jaminan Rezeki Makhluk
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran[3]: 102)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِي وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki yang banyak dan perempuan. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa'[4]: 1)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَمُْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 70-71)
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كَلَامُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
A’adzanallahu wa iyakum minan nar.
Wahai sekalian hamba Allah, sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla.
Tidak sedikit dari manusia yang mengalami kekhawatiran, ketakutan, dan kegelisahan tatkala memikirkan tentang rezeki serta anak keturunan di kemudian hari. Kekhawatiran tersebut timbul akibat lemahnya keyakinan terhadap jaminan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, Allahu Jalla wa ‘Ala telah menegaskan di dalam Al-Qur’an:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud[11]: 6)
Ayat tersebut berlaku mutlak bagi seluruh makhluk yang melata di atas permukaan bumi, baik dari golongan jin, manusia, maupun hewan. Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Mahakuat lagi Maha Kokoh (Ar-Razzaq Dzul Quwwatil Matin), menjamin pemenuhan kebutuhan mereka dengan kekuasaan-Nya yang mutlak. Manakala Dia menghendaki sesuatu, Dia cukup berfirman kun fayaqun (jadilah, maka jadilah ia).
Negara, kedua orang tua, maupun institusi tempat seseorang bekerja pada hakikatnya tidak akan pernah mampu menjamin ketersediaan rezeki bagi siapa pun di masa depan. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bertindak sebagai penjamin tunggal atas hal tersebut. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman mengenai fenomena makhluk hidup yang tidak dapat mencari makanannya sendiri:
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu.” (QS. Al-Ankabut[29]: 60)
Realitas di lapangan memperlihatkan keberadaan manusia yang terlahir dengan keterbatasan fisik, seperti buta, cacat, maupun menyandang kebutuhan khusus sejak lahir. Secara kalkulasi manusiawi, individu tersebut dinilai mustahil untuk bisa menumpuk kekayaan atau mencari mata pencaharian secara mandiri. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa tidak jarang dari mereka justru hidup lebih berkecukupan daripada orang yang kondisi fisiknya sehat dan normal. Fakta ini menjadi bukti nyata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan rezeki kepada mereka, dan Dia pula yang akan memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.
Kepastian mengenai tibanya rezeki pada setiap individu memiliki sifat yang serupa dengan ketetapan ajal. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penegasan mengenai hal ini melalui sabda beliau:
إِنَّ الرِّزْقَ لَيَطْلُبُ الْعَبْدَ كَمَا يَطْلُبُهُ أَجَلُهُ
“Sesungguhnya rezeki itu mencari seorang hamba sebagaimana ajalnya mencarinya.” (HR. Ibnu Hibban)
Di samping itu, kepastian pemenuhan hak rezeki bagi setiap jiwa sebelum tibanya ajal merupakan perkara yang telah diwahyukan secara langsung ke dalam dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا
“Sesungguhnya Malaikat Jibril telah menyampaikan (meniupkan) ke dalam hatiku bahwa tidak akan mati suatu jiwa kecuali telah menyempurnakan ajalnya dan menerima seluruh rezekinya secara sempurna.” (HR. Abu Nu’aim)
Berdasarkan landasan hadits tersebut, ucapan rasa iba yang berlebihan terhadap seseorang yang meninggal dunia sebelum sempat menikmati gaji perdana atau rezeki duniawi tertentu dinilai kurang tepat. Sekiranya perkara tersebut memang ditakdirkan menjadi bagian dari rezekinya, maka ia tidak akan diwafatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan setelah menerima haknya secara totalitas dan sempurna.
Seluruh catatan rezeki setiap makhluk telah dituliskan secara teliti di dalam Lauhul Mahfuz semenjak 50.000 tahun sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan langit dan bumi. Ketetapan tersebut bersifat permanen, tidak akan pernah bertambah, tidak akan berkurang, serta tidak akan tertukar dengan bagian orang lain karena semuanya telah ditakar dengan penuh keadilan.
Oleh karena itu, kewajiban utama bagi setiap hamba hanyalah melakukan ikhtiar dan usaha pencarian dengan metode yang dibenarkan oleh syariat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan sabdanya:
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ وَلَا يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمْ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ
“Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik. Dan janganlah lambatnya kedatangan rezeki mendorong salah seorang di antara kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah.” (HR. Hakim)
Perasaan bahwa kedatangan rezeki mengalami keterlambatan tidak boleh dijadikan alasan bagi seorang muslim untuk menempuh jalur kemaksiatan atau menggunakan cara-cara yang diharamkan demi memperoleh harta.
Rezeki yang berkah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah diperoleh dengan cara bermaksiat kepada-Nya. Apabila seorang hamba telah meyakini dan tidak ada lagi keraguan sebutir debu pun di dalam hatinya bahwa semua rezeki telah dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia perlu memahami hakikat dari rezeki yang paling indah, paling bermanfaat, serta abadi. Sesungguhnya rezeki yang paling indah bagi setiap hamba adalah karunia untuk masuk ke dalam surga dan selamat dari neraka Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman mengenai balasan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa:
وَإِنَّ لِلْمُتَّقِينَ لَحُسْن مَآبٍ جَنَّاتِ عَدْنٍ مُفَتَّحَةً لَهُمُ الْأَبْوَابُ مُتَّكِئِينَ فِيهَا يَدْعُونَ فِيهَا بِفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ وَشَرَابٍ وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ أَتْرَابٌ
“Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, di dalamnya mereka bertelekan (sambil memohon) buah-buahan yang banyak dan minuman di surga itu. Dan di sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak memandang kecuali kepada suaminya saja dan yang sebaya umurnya.” (QS. Sad[38]: 49-52)
Di dalam surga, setiap penghuninya akan mendapatkan apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka, yang dahulu senantiasa mereka batasi ketika hidup di dunia. Selama di dunia, hawa nafsu manusia dibatasi oleh syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Banyak hal yang disukai oleh hawa nafsu, tetapi rela ditinggalkan oleh seorang mukmin karena mengetahui bahwa perkara tersebut diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagai bentuk balasan atas kesabaran tersebut, tatkala seorang hamba masuk ke dalam surga, para malaikat akan menyambut dan berkata kepadanya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
“Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (QS. Fussilat[41]: 31)
Segala fasilitas surga merupakan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang nyata pada hari kiamat nanti bagi orang-orang yang beriman. Di dunia ini, tidak ada satu pun yang menghalangi seorang mukmin untuk mendapatkannya melainkan kematian semata. Oleh karena itu, manusia tidak sepatutnya mengeluhkan urusan kehidupan dunia yang semu lagi menipu ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan:
هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِيَوْمِ الْحِسَابِ إِنَّ هَٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَذٍ
“Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari berhitung. Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tidak habis-habisnya.” (QS. Sad[38]: 53-54)
Realitas saat ini menunjukkan betapa banyak manusia yang demi mengejar rezeki dunia yang semu lagi menipu, rela kehilangan rezeki yang paling indah dan abadi berupa surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagian orang rela melakukan tindakan keji seperti membunuh, memfitnah dengan menjadikan tersangka sebagai korban atau sebaliknya, menipu, menculik, bahkan menciptakan berbagai keonaran di tengah masyarakat hanya demi meraih karier, jabatan, dan secuil materi dunia. Perbuatan tersebut menyebabkan mereka kehilangan rezeki yang abadi di akhirat kelak.
Umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada umumnya memiliki standar usia berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Jika masa hidup yang singkat tersebut dibandingkan dengan satu hari di akhirat yang kadar waktunya setara dengan 1.000 tahun di dunia, maka umur 60 hingga 70 tahun di dunia ini tidak lebih dari 1,5 jam saja menurut kalkulasi waktu akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
“Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al-Hajj[22]: 47)
Bahkan, pada bagian hari yang lain di akhirat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa satu harinya setara dengan 50.000 tahun di dunia:
فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij[7]: 4)
Perbandingan waktu tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak sepatutnya rela kehilangan keindahan surga yang abadi demi menikmati secuil kenikmatan dunia yang fana, hingga tega menjual keimanan mereka demi sebuah kekufuran.
Sebagian manusia rela meninggalkan shalat lima waktu, tidak berpuasa di siang hari pada bulan Ramadan tanpa udzur syar’i, enggan mengeluarkan zakat yang telah wajib dikeluarkan, serta enggan menginfakkan harta untuk berangkat haji padahal kewajiban dan kesempatan telah ada. Bahkan, sebagian orang rela menjual kehormatan, menciptakan berbagai kejahatan, serta menghalalkan segala cara demi menaikkan karier dan jabatan untuk meraih secuil dunia yang semu lagi menipu. Manusia seringkali lupa bahwa surga Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih mahal dan berharga daripada seluruh kemewahan fana tersebut.
Keadaan ini sangat kontras dengan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka justru melupakan urusan rezeki duniawi yang sudah berada di dalam genggaman tangan tatkala kalimat tentang surga terdengar oleh telinga mereka di medan Perang Uhud.
Sebagaimana terdapat di dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang sahabat Nabi yang sedang menggenggam beberapa butir kurma untuk dimakan di tengah medan pertempuran. Sebelum mengunyah kurma tersebut, ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai kedudukannya jika ia mati terbunuh. Pertanyaan yang diajukan bukan mengenai jaminan asuransi bagi diri dan keluarga, bukan pula mengenai jaminan fasilitas rumah atau pendidikan dari negara bagi anak keturunannya. Sahabat tersebut murni menegaskan pertanyaan mengenai tempat kembalinya di hari kiamat jika ia gugur di medan jihad Uhud pada hari itu.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian memberikan jawaban singkat:
فِي الْجَنَّةِ
“Di dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tatkala kalimat surga tersebut menyentuh dan mendengung di telinganya, Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa sahabat tersebut seketika melemparkan kurma yang ada di genggamannya. Ia langsung berlari seorang diri menuju ke arah musuh, membelah shaf-shaf pasukan mereka, dan bertempur dengan gigih hingga gugur sebagai syuhada pada hari itu.
Para sahabat memiliki keyakinan yang utuh terhadap prinsip bahwa segala sesuatu yang dikorbankan demi ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan digantikan dengan perkara yang jauh lebih baik.
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، بَارَكَ اللَّهُ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Khutbah Kedua: Untaian Doa dan Permohonan Ampunan
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيدًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، أَمَّا بَعْدُ
Wahai sekalian hamba Allah, kewajiban untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meneladani tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam harus senantiasa dijaga. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan umat beriman untuk mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi-Nya:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup di antara mereka maupun yang telah wafat.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah[2]: 201)
وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Semoga keselamatan senantiasa tercurah kepada para rasul, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Sumber Video Khutbah Jumat “Rezeki yang Paling Indah”
Sumber : Tahfizh Imam Nawawi
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS