Khutbah Jumat: Memuliakan Ulama

Khutbah Jumat: Memuliakan Ulama

Khutbah Jumat tentang “Memuliakan Ulama” adalah transkrip dari khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits, S.T., BA. Hafizhahullahu Ta’ala.

Khutbah Jumat: Memuliakan Ulama

Khutbah Pertama

Alhamdulillah, kita wajib bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Masjid yang baru saja direnovasi sudah bisa kita manfaatkan untuk shalat berjamaah pada kesempatan kali ini.

Dan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mari kita manfaatkan masjid ini sebaik mungkin, untuk semakin banyak kita mengagungkan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan fungsi masjid;

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,” (QS. An-Nur[24]: 36)

Karena itu para jama’ah, yang bisa untuk merutinkan shalat berjama’ah lima waktu di masjid ini, mari kita ramaikan. Karena salah satu bentuk dari mensyukuri sebuah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kita memanfaatkan dalam rangka untuk ketaatan kepada-Nya.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji bahwa;

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim[14]: 7)

Karena itulah para ulama mengatakan, “الشكر هو الهافظ”, sesungguhnya mensyukuri nikmat adalah bentuk penjagaan terhadap nikmat tersebut.

Selanjutnya jama’ah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala muliakan,

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang definisi wali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus[10]: 62)

Artinya, mereka akan mendapat jaminan kebahagiaan. Siapakah wali Allah itu? Allah Subhanahu wa Ta’ala jelaskan di lanjutan ayat;

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus[10]: 63)

Maka batasan yang bisa disebut sebagai wali Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ketika seorang hamba itu beriman dan bertakwa kepada-Nya meskipun dia tidak memiliki kesaktian maupun ilmu kanuragan. Karena yang disebut wali bukanlah yang sakti melainkan siapa yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melakukan ketaatan kepada-Nya.

Dan salah satu di antara wali Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah para ulama. Sebab mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang syariat-Nya, dan yang paling maksimal dalam mengamalkannya.

Yang dimaksud dengan ulama di sini adalah orang yang mengamalkan ilmunya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir[35]: 28)

Karena itulah, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu pernah mengatakan;

العلم هو الخشية

“Hakikatnya ilmu (para ulama) adalah ilmu yang mengantarkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Dan Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah menegaskan bahwa andaikan bukan ulama sebagai wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah tidak memiliki wali lagi. Beliau pernah mengatakan,

لو لا العلماء هم أولياء الله في الآخرة فما لِله ولي

“Andaikan bukan ulama yang merekalah wali-wali Allah, maka Allah sudah tidak memiliki wali.”

Andaikan ulama sudah tidak dianggap wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sudah tidak ada wali lagi bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena yang lain itu derajatnya di bawah ulama.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut para ulama sebagai ahli waris beliau dan para Nabi. Dalam hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya para ulama adalah ahli waris para Nabi.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Ini semua menunjukkan bahwa kita semua umat muslim memberikan penghormatan kepada mereka (para ulama) dan diajarkan untuk memberikan penghormatan kepada mereka, karena mereka adalah orang-orang pilihan di tengah umat ini. Mereka disebut sebagai ahli waris para Nabi dan wali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sehingga dengan demikian, bagian dari menghormati syariat adalah menghormati orang-orang yang mengemban syariat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita sebagai orang-orang yang sadar diri akan jasa-jasa mereka. Dan memberikan penghormatan sesuai porsinya.

Demikian sebagai khutbah yang pertama. Semoga bermanfaat.

Khutbah Kedua

Kaum muslimin jama’ah Jum’at yang Allah Subhanahu wa Ta’ala muliakan,

Berkat jasa para ulama kita mengetahui beberapa hukum syariat yang itu kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, dahulu ada sebagian ulama yang merasa sangat berhutang budi kepada gurunya. Ulama berhutang budi kepada ulama yang lain. Seperti yang seorang ulama nyatakan, Abdullan bin Wahb muridnya Imam Malik rahimahullah.

Beliau pernah mengatakan, “Andaikan bukan karena jasa Imam Malik dan Imam Layf bin Sa’ad, tentu aku akan menjadi orang yang sesat.”

Dan kita memahami hal itu sebab yang namanya manusia bisa mengenal aturan syariat dan hidupnya lebih terarah disebabkan karena jasa para ulama yang mengajarkan ilmu agama. Karena itulah Imam Hasan Al Bashri pernah mengatakan, “Andaikan bukan karena jasa para ulama, tentu manusia akan menjadi seperti binatang.”

Jama’ah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala muliakan,

Kita memuliakan mereka dengan cara mengikuti ajaran yang mereka sampaikan. Sebab mereka yang menyambung ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.  Sehingga kita mengikuti ulama agar bisa mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka sebagai prinsip penting, jangan sampai mengkultuskan ulama dengan cara mengikuti ulama tapi meninggalkan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini justru salah fungsi.

Sehingga kita mengikuti ulama agar bisa mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka jangan sampai kita mengikuti ulama namun justru meninggalkan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Karena itu bisa jadi ketika ada sebuah perkataan ulama yang keliru, tidak sesuai dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kita ikuti hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kita tinggalkan perkataan ulama itu meskipu tetap menghormati mereka sebagai tokoh agama.

Dan kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga dengan sedikit penjelasan tentang ini kita bisa menempatkan diri sebagai hamba yang tahu di mana saya harus meletakkan penghormatan dan rasa cinta. Sebab yang namanya rasa cinta itu akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Kita juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan kita hidayah.

Video Khutbah Jumat: Memuliakan Ulama

Sumber Video: Anb Channel

Mari turut menyebarkan “Khutbah Jumat: Memuliakan Ulama” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum.

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: