Bersemangat Menghadiri Majelis-Majelis Ilmu

Bersemangat Menghadiri Majelis-Majelis Ilmu

pandai mendengar

Kajian Bersemangat Menghadiri Majelis-Majelis Ilmu ini merupakan adab kedua dari kajian 15 Adab di Majelis Ilmu. Disampaikan oleh Ustadz Muhamad Nuzul

Tidak Memisahkan Dua Orang Yang Duduk Berdampingan
Memilih Tempat Yang Paling Strategis
Melapangkan dan Meluaskan Majelis

Kajian Bersemangat Menghadiri Majelis-Majelis Ilmu ini merupakan adab kedua dari kajian 15 Adab di Majelis Ilmu. Disampaikan oleh Ustadz Muhamad Nuzul Dzikri Hafidzahullah di Masjid Al-Barkah Cileungsi pada tahun 1433 H / 2012 M.

Lihat sebelumnya: Mengikhlaskan Niat Kepada Allah Ketika Menuntut Ilmu

2. Bersemangat menghadiri majelis-majelis ilmu

Menit ke-20:00 Seorang muslim harus memiliki kesungguhan dan semangat yang tinggi dalam menghadiri majelis-majelis ilmu tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal letih, kejenuhan dan kebosanan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah dalam mendapatkan/mengerjakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu…”

Dan ingat, menuntut ilmu agama, datang ke majelis ilmu adalah salah satu hal yang bermanfaat untuk diri kita. Bahkan ini adalah pintu gerbang menuju hal-hal bermanfaat yang lain. Karena kita tidak mungkin tahu bagaimana shalat, bagaimana puasa, bagaimana zakat, bagaimana dzikir, bagaimana shalawat, mana harta yang halal dan mana harta yang haram, kecuali dengan menuntut ilmu. Dan salah satu media utama menuntut ilmu adalah datang ke majelis ilmu. Oleh karena itu camkan baik-baik sabda beliau:

“Bersemangatlah dalam mendapatkan/mengerjakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu. Dan meminta pertolonganlah kepada Allah, dan janganlah engkau lemah/jenuh/bosan.” (HR. Muslim)

Nabi pun juga bersabda dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Hakim, beliau mengatakan:

مَنْهُومَانِ لاَ يَشْبَعَانِ مَنْهُومٌ فِى الْعِلْمِ لاَ يَشْبَعُ مِنْهُ وَمَنْهُومٌ فِى الدُّنْيَا لاَ يَشْبَعُ مِنْهَا

“Ada dua golongan yang sangat rakus dalam bidangnya masing-masing dan tidak pernah merasakan kenyang: (1) penuntut ilmu (2) pencari dunia.” (HR. Hakim)

Penah lihat milioner pensiun dini? Tidak ada. Semakin kaya, semakin semangat untuk menambah pundi-pundi kekayaannya.

Oleh karena itu Nabi bersabda:

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا

“Apabila anak Adam memiliki satu lembah yang berisi emas, dia akan mencari lembah emas yang kedua.” (HR. Bukhari)

Lalu ketika dia mendapatkan lembah emas yang kedua, apakah dia akan istirahat? Tentu tidak, tapi dia akan mencari lembah emas yang ketiga. Lalu Nabi menutup sabdanya dengan mengatakan:

وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ

“Dan tidak ada yang bisa memenuhi isi perut anak Adam kecuali tanah ketika ia dikubur dan dipendam di bawah tanah.”

Oleh karena itu ulama ketika menjelaskan hadits ini mengatakan; “Kalau kita ingin bercermin dan bertanya, pantaskah kita disebut penuntut ilmu, coba bandingkan semangat kita (mencari ilmu) dengan semangat pencari dunia.” Bandingkan, mereka bekerja berapa jam? Bandingkan dengan orang-orang yang terkenal dengan istilah workaholic (rajin kerja), bandingkan semangat kita dalam membaca Al-Qur’an, membaca tafsir, membaca syarah hadits, membaca perkataan para ulama, dengan semangat mereka mencari dunia. Kalau ternyata tidak seimbang, sepertinya kita belum pantas dinobatkan menjadi penuntut ilmu.

Jadi bersemangatlah dalam mendatangi majelis-majelis ilmu. Ibnu Jamaah mengatakan:

العلم لا يعطيك بعضه حتى تعطيه كلك

“Ilmu itu tidak akan memberikan salah satu bagiannya sampai engkau menyerahkan seluruh kemampuanmu.”

Kalau kita mengerahkan seluruh kemampuan, kita pun tidak mendapatkan seluruh ilmu, hanya sebagian saja. Antum 7 hari nggak tidur, belajar terus, menguasai seluruh isi Al-Qur’an? Jawabnya tidak, hanya sebagian saja. Itu orang yang sudah sungguh-sungguh mengerahkan seluruh kemampuannya, bagaimana dengan orang yang kerjaannya tidur, istirahat, rekreasi dan seterusnya?

Oleh karena itu bersemangatlah dalam menuntut ilmu, bersemangatlah dalam mendatangi majelis-majelis ilmu. Dan itulah yang dilakukan oleh para ulama kita.

Abul ‘Abbas Tsa’lab (salah satu ulama Nahwu) pernah mengatakan dan berkomentar tentang Ibrahim Al-Harbi (muridnya), kata beliau: “Saya tidak pernah kehilangan Ibrahim Al-Harbi dalam majelis pelajaran Nahwu selama 50 tahun.”

Subhanallah, lihat bagaimana semangatnya para ulama dalam menuntut menuntut ilmu. Dan Al-Imam Ibrahim Al-Harbi menjadi ulama besar, karena beliau benar-benar serius dalam menuntut ilmu.

Al-Imam Syafi’i pernah ditanya bagaimana semangatnya dalam menuntut ilmu di majelis ilmu. Kata Imam Idris Asy-Syafi’i Rahimahullah mengatakan:

طلب المرأة المضلة ولدها ليس لها غيره

“Aku bersemangat menuntut ilmu/datang ke majelis ilmu seperti semangatnya seorang ibu yang sedang mencari anaknya yang hilang dan ia tidak punya anak kecuali anak tersebut.”

Subhanallah, kira-kira malas-malasan nggak? Apabila seorang wanita hanya memiliki satu anak dan anak yang semata wayang itu hilang, maka ia akan cari seantero dunia. Itulah semangat Imam Syafi’i dalam mendatangi majelis ilmu dan mempelajari ilmu agama.

Jadi para ulama kita semangat sekali. Bahkan mereka kalau mendatangi majelis ilmu, itu tidak bisa santai-santai. Mereka sigap dan berjalan cepat. Makanya Syu’bah bin Hajjaj mengatakan:

ما رأيت أحدا قط يعدو إلا قلت: مجنون أو صاحب حديث

“Tidaklah aku melihat seseorang berjalan dengan cepat kecuali aku katakan: orang ini kalau bukan orang gila, dia penuntut ilmu hadits yang ingin datang ke majelis ilmu.”

Jadi kalau mau ngaji jalannya cepat, bukan santai, tenang, ngobrol dulu, mampir dulu, ketawa-ketawa dulu, tapi segera datang ke majelis ilmu. Bahkan dalam rangka menjaga semangat mereka menghadiri majelis ilmu, kalau kajian libur, mereka tetap datang ke majelis ilmu. Al-Imam Abdullah Al-Karkhi mengatakan: “Aku menghadiri majelis Abu Hazim pada hari Jumat walaupun tidak ada kajian agar tidak terputus kebiasaanku menghadirinya.”

Mereka menjaga momentum, menjaga semangat agar jangan sampai semangat itu kendor. Karena kalau sering libur, jiwa itu akan malas untuk datang ke majelis ilmu. Ini adab, mereka tetap datang walaupun tidak ada Ustadznya.

Jadi tetap menjaga semangat, jangan sampai semangat ini pudar. Karena kalau sudah libur, setan dengan mudah memadamkan api semangat kita. Bahkan mereka tidak sungkan-sungkan merogoh kocek dalam-dalam untuk biaya datang ke majelis ilmu. Salah satu contoh yang menarik adalah apa yang dikatakan oleh para ulama kita, di antaranya Al-Imam Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal ketika membahas seorang ulama yang bernama Hisyam bin ‘Ammar As-Sulami (salah satu guru Imam Bukhari). Dijelaskan oleh para ulama sejarah, bahwa ayat Hisyam bin ‘Ammar As-Sulami pernah menjual rumahnya seharga 20 Dinar agar anaknya dapat pergi ke majelisnya Imam Malik dan menuntut ilmu dari beliau.

Hal ini karena harus rihlah, melakukan perjalanan jauh yang pada saat itu Hisyam masih kecil. Ketika ia sampai di majelisnya Imam Malik, ia meminta Imam Malik untuk meriwayatkan hadits-hadits Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada dirinya. Namun Imam Malik justru menolaknya dan Imam Malik justru memerintahkan Hisyam untuk membaca. Hisyam pun menolak.

Sehingga pada akhirnya Imam Malik memanggil seorang anak kecil untuk memukul Hisyam sebagai bentuk hukuman terhadap dirinya. Guru memberikan hukuman adalah hal yang biasa. Akhirnya anak tersebut memukul Hisyam 15 kali atau 17 kali. Setelah dipukul, Hisyam menangis. Lalu Hisyam pun berkata kepada Imam Malik: “Wahai Imam Malik, Ayahku telah menjual rumahnya agar aku duduk di majelismu dan mendengar ilmu darimu, namun mengapa engkau justru memukul diriku ?”

Dalam riwayat yang lain Hisyam mengatakan: “Engkau telah berbuat dzalim kepada diriku. Engkau menyuruh orang memukulku sebanyak 15 kali tanpa ada kesalahan yang berarti. Dan aku tidak akan memaafkan dirimu Wahai Imam Malik.”

Imam Malik mengatakan: “Jika demikian, apa gantinya? Jangan sampai engkau menuntutku pada hari kiamat.”

Hisyam meminta kafarat-nya adalah: “Engkau harus meriwayatkan 15 hadits untuk diriku.” Allahu Akbar. Siapa di antara kita begini? Semangat mereka terhadap ilmu mengalahkan segalanya. Bukan meminta uang, bukan berantem sama gurunya, bukan mengajak orang-orang kampung untuk mengeroyok gurunya, dia minta balasannya 15 hadits. Jadi satu pukulan dihargai dengan satu hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Akhirnya Imam Malik pun mengajarkan dan menyampaikan 15 hadits. Ketika sudah selesai 15 hadits, Hisyam mengatakan:

زد في الضرب وزد في الحديث

“Kalau begitu Imam Malik, pukul saya lagi agar engkau ajarkan aku hadits-hadits lagi.”

Maka Imam Malik pun tertawa dengan ucapan Hisyam bin ‘Ammar. Dimana kita dibanding beliau? Subhanallah.

Dan akhirnya beliau menjadi ulama besar, beliau adalah guru dari Imam Bukhari, Imam Abu Dawud, Imam An-Nasa’i dan para ulama-ulama yang lain.

Lihat bagaimana semangatnya datang ke majelis ilmu. Dipukul gurunya, gurunya melakukan sesuatu yang beliau tidak ridhai, bukannya mundur, bukannya kabur, bukannya “taubat” dari majelis ilmu, namun menggugat gurunya dengan kompensasi hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Mp3 Kajian Bersemangat Menghadiri Majelis-Majelis Ilmu

Sumber: radiorodja.com

Silahkan dibagikan, semoga bermanfaat dan menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0