Ceramah Singkat: Apakah Anda Orang Baik?

Ceramah Singkat: Apakah Anda Orang Baik?

dukung ngaji id

"Ceramah Singkat: Apakah Anda Orang Baik?" ini merupakan catatan kajian dari ceramah singkat yang disampaikan oleh Ustadz Muhamad Nuzul Dzikri Hafizha

Menjaga Penampilan Ketika Menghadiri Majelis Ilmu
Materi 72 – Tawadhu’ Terhadap Orang yang di Bawahnya Tanpa Pilih-Pilih Menyapa dan Mengucapkan Salam
Bersemangat Menghadiri Majelis-Majelis Ilmu

“Ceramah Singkat: Apakah Anda Orang Baik?” ini merupakan catatan kajian dari ceramah singkat yang disampaikan oleh Ustadz Muhamad Nuzul Dzikri Hafizhahullahu Ta’ala

Ceramah Singkat: Apakah Anda Orang Baik?

Istri, Tolok Ukur Kebaikan

Saudaraku rahimakumullah,

Apakah Anda orang baik? Apakah kita ingin menjadi orang yang baik? Ini sebuah harapan semua orang, terlepas seperti apa pengalamannya, latar belakangnya, dan kehidupannya. Semua orang ingin mendapatkan title/ predikat baik.

Oleh karena itu, jangan mengklaim diri kita baik sebelum kita mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي خَيْرُكُمْ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya (istri dan anak-anaknya), dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku).” (HR. At Tirmidzi)

Saudaraku rahimakumullah,

Hadits ini menarik. Dan hadits ini menjadi bahan evaluasi kita, sudahkah kita menjadi orang baik? Bukan klaim yang kita ucapkan dengan lisan kita. Namun ini adalah title yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikan. Apa standar beliau? Di antara standar beliau adalah apa yang beliau sebutkan dalam hadits di atas. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri dan anak-anaknya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap istri dan anak-anakku.”

Sebuah hadits yang terkesan sederhana, namun tidak. Hadits ini sarat akan makna, karena ini merupakan salah satu tolok ukur kebaikan seseorang.

Mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan sikap seorang suami kepada istrinya sebagai tolok ukur kebaikan? Mengapa istri yang diangkat di dalam hadits ini? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan “Yang paling baik dengan atasan, ustadz, atau mertuanya.” Tapi beliau mengatakan “Yang paling baik dengan istrinya.”

Ini sebuah tanda tanya besar yang harus kita jawab. Yang harus dijawab oleh orang yang ingin mendapat gelar baik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan pertanyaan tersebut telah dijawab oleh ulama kita.

Di antaranya adalah Syaikh Abdul Malik Ramadhani. Beliau menjelaskan, ada dua rahasia mengapa sikap kepada istrilah yang dijadikan tolok ukur;

1. Hidup Bersama

Yang pertama, karena istri adalah sosok yang tinggal bersama kita dalam satu atap. Bahkan bukan hanya dengan satu atap, tapi dalam satu kamar dan satu ranjang. Dan kita tidak mungkin bersandiwara dengan orang yang hidup dan tinggal bersama kita dengan cara seperti itu.

Seseorang bisa bersandiwara di hadapan orang di luar rumahnya. Tapi tidak dengan orang yang berada di dalam rumahnya. Di hadapan orang-orang rumah, dia akan memperlihatkan seperti apa dirinya yang sebenarnya. Dia akan menampakkan kelebihan atau kekurangannya. Semuanya akan ia perlihatkan di hadapan istrinya tersebut. Karena kehidupan di dalam rumah bukan panggung sandiwara.

Kehidupan di dalam rumah bukanlah lokasi shooting. Aktor sehebat apapun itu tidak bisa memperlihatkan aktingnya sebagai orang baik di dalam rumahnya sendiri. Di dalam rumahlah kita akan memperlihatkan seluruh sisi di dalam diri kita.

Ketika seseorang itu emosional, kasar, dan ringan tangan, dia akan emosi di dalam rumahnya, membentak dan memaki istrinya serta melakukan KDRT kepada pasangannya. Seseorang tidak bisa berakting di hadapan istri yang senantiasa menemaninya, yang tinggal satu atap dengannya, dan satu kamar dengannya.

Seluruh rahasianya akan dilihat oleh mata kepala istrinya. Bahkan mendengkurnya kita pun istri kita mengetahuinya. Dan pakaian apapun kita perlihatkan di dalam rumah, di hadapan istri kita. Seseorang mungkin tidak akan berani memakai singlet di hadapan bosnya. Tetapi memakai singlet di hadapan istri, saya rasa hampir semua suami melakukannya.

Kalau pakaian saja demikian, begitu juga dengan sikap, karakter, dan emosi. Seseorang tidak bisa bersandiwara serta menutupi kelemahan dan keburukannya di hadapan istrinya. Maka apabila dia baik dengan istri, in syaa Allah dia adalah orang yang baik.

2. Lebih Lemah dari Suami

Alasan yang kedua adalah karena secara umum, istri itu lebih lemah dari pada suami. Secara fisik dan kedudukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi para wanita.” (QS. An-Nisa’[4]: 34)

Pembagian tugas yang sangat sempurna dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan merendahkan salah satu pihak. Para istri secara umum lebih lemah dari pada suaminya. Dan kita tidak bisa jaga image atau bersandiwara dengan orang yang lebih lemah dari pada kita.

Kita mungkin bisa menebar senyum dan pesona di hadapan manager atau komisaris kita. Tapi kita akan tampil apa adanya di hadapan bawahan kita.

Oleh karena itu, sebagian orang mengatakan jika kita ingin menilai apakah orang tersebut baik atau tidak, lihatlah bagaimana dia berinteraksi dengan bawahannya. Lihatlah bagaimana dia menyikapi pembantunya, berbicara dengan supirnya. Kasar atau tidak, suka membentak atau tidak. Karena seseorang  akan menampilkan gaya bahasa apa adanya di hadapan orang-orang yang berada di bawahnya.

Ini hal yang perlu kita camkan. Dan ini yang menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan sikap seorang suami kepada istrinya sebagai salah satu tolok ukur kebaikan.

Maka para suami, marilah kita menjaga sikap kepada istri kita. Takutlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Berilah nasihat kepada para istri dengan baik.” (HR. At Tirmidzi)

Mungkin kita bisa mengasari mereka di dunia yang fana ini, tapi ingatlah adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ingatlah, sehebat apapun qiyamullail kita, puasa Nabi Daud kita, sebanyak apapun dzikir kita, kalau standar yang satu ini tidak kita penuhi maka kita belum bisa dikatakan sebagai orang baik.

خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي خَيْرُكُمْ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya (istri dan anak-anaknya), dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. At Tirmidzi)

Akhlak Rasulullah

Dua alasan itu membuka mata kita. Dan inilah yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya tentang bagaimana akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan:

كاَنَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an.” (HR. Bukhari dalam Adabil Mufrad)

Mungkin hadits ini sederhana dan pernah kita dengar. Namun bagi orang yang memahami, tidak demikian. Ini adalah pujian dari seorang istri. Seorang istri memuji suaminya, “Akhlak suamiku (Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah Al-Qur’an. Beliau adalah Al-Qur’an berjalan.”

Sudahkah istri kita memberikan komentar positif tentang kita? Sudahkah istri kita memuji kita di hadapan teman-temannya, ibunya, atau sahabatnya? Kalau istri kita sudah memuji kebaikan dan kelembutan kita, maka in syaa Allah kita adalah orang yang baik.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dipuji oleh pembantunya, Anas bin Malik. Beliau mengatakan, “Aku pernah melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 10 tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengatakan ‘ah’ sama sekali. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengatakan ‘Mengapa engkau melakukan ini? Harusnya seperti ini’.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan kata-kata itu di hadapan pembantunya yang melayaninya selama 10 tahun.

Coba tinjau diri kita, apakah kita sudah bisa melakukan demikian? Kita memiliki pembantu lalu kita tidak pernah mengatakan ‘ah’, komplain, menghardik, dan mencaci. Kalau dia salah, kita luruskan dengan baik.

Inilah alasannya. Sekali lagi, istri kita lebih lemah dari kita dan hidup bersama kita. Satu atap dengan kita dan kita tidak bisa bersandiwara di hadapannya. Untuk itu, jagalah sikap kita dengannya. Perbaiki tutur kata kita di hadapannya. Dengarkan curahan-curahan hatinya. Jadilah teman yang baik baginya. Bukan hanya sekedar memuaskan nafsu syahwat kita. Santunlah di hadapannya, karena dia adalah ibu dari anak-anak kita.

Dia adalah teman hidup kita. Yang paling utama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي خَيْرُكُمْ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya (istri dan anak-anaknya), dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap istriku.” (HR. At Tirmidzi)

Video Ceramah Singkat: Apakah Anda Orang Baik?

Sumber video: Yufid.TV

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Ceramah Singkat: Apakah Anda Orang Baik?” ini di media sosial yang Antum miliki, baik itu facebook, twitter, telegram, whatsapp, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi sebab hidayah bagi kaum muslimin. Barakallahu fiikum…

Komentar

WORDPRESS: 0