Mendengarkan Ilmu dengan Penuh Konsentrasi

Mendengarkan Ilmu dengan Penuh Konsentrasi

pandai mendengar

Diamnya dan mendengarnya kita dengan seksama, itu menunjukkan bagaimana penghormatan/pengagungan kita kepada Allah dan pemuliaan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Mutiara Hikmah : Bagaimana Ilmu Mengangkat Derajat Manusia
Duduk di Tempat Yang Masih Kosong
Hadits Arbain ke-15 : Berkata Baik, Memuliakan Tamu, dan Adab Bertetangga

Kajian Mendengarkan Ilmu dengan Penuh Konsentrasi ini disampaikan oleh Ustadz Muhamad Nuzul Dzikri Hafidzahullah di Masjid Al-Barkah Cileungsi pada tahun 1433 H / 2012 M.

Kajian sebelumnya: Ikatlah Ilmu dengan Tulisan

Catatan Kajian Mendengarkan Ilmu dengan Penuh Konsentrasi

Menit ke-5:34 Pada kesempatan kali ini kita akan berpindah ke adab yang lain. Adab yang tidak kalah pentingnya dari adab sebelumnya. Adab ini adalah mendengarkan kajian/ilmu yang disampaikan dengan penuh konsentrasi. Kita harus fokus ketika mempelajari ilmu, ketika duduk di majelis ilmu. Hilangkan segala urusan kita, fokus kita bagaimana mendengar firman-firman Allah dan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibacakan, dan konsentrasi kita harus tertuju pada ilmu yang sedang kita pelajari dan kita dengar.

Jadi, kita harus diam dan mendengarkan dengan seksama.

Dan di antara dalil yang menjelaskan masalah ini, yang pertama adalah Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Az-Zumar ayat 17 dan 18, Allah berfirman:

…فَبَشِّرْ عِبَادِ ﴿١٧﴾ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّـهُ ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ ﴿١٨﴾

Maka berilah kabar gembira kepada hamba-hambaKu, yaitu orang-orang yang mendengar ucapan (Al-Qur’an) yang disampaikan kepada mereka dengan seksama/konsentrasi lalu mereka mengikutinya/mengamalkannya. Merekalah orang-orang yang Allah berikan petunjuk, dan merekalah orang-orang yang menggunakan akal sehatnya.” (QS. Az-Zumar[39]: 17-18)

Jadi, salah satu sifat hamba-hamba Allah ketika mendengarkan firman Allah, ketika mendengarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di bacakan/dikaji/dijelaskan/ditafsirkan dan disyarah, mereka mendengar dengan seksama.

Lihat bagaimana Allah berfirman الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ. Makna اِسْتَمَعَ – يَسْتَمِعُ – استماعاً bukan hanya sekedar mendengar, bukan hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Namun benar-benar diperhatikan, benar-benar dipahami, benar-benar ditadabburi. Dan itulah salah satu dari sifat-sifat hamba Allah Tabaraka wa Ta’ala. Itu dalil dari Al-Qur’anul Karim.dal

Di antara dalil yang digunakan oleh para ulama adalah penuturan Usamah bin Syuraik. Beliau menuturkan sebagaimana hadits yang dikeluarkan Imam Ath-Thabrani dan dishahihkan Imam Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, Usammah menceritakan bagaimana kondisi para sahabat ketika berada di majelis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau mengatakan:

كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرُ، لَا يَتَكَلَّمُ مِنَّا مُتَكَلِّمٌ

“Dahulu ketika kami duduk di majelis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seakan-akan di atas kepala-kepala kami dihinggapi seekor burung. Tidak ada satupun dari kami yang berbicara (semua mendengar dengan seksama).”

Kita tahu bersama bahwa burung tidak akan hinggap kecuali di benda yang tenang dan tidak bergerak. Jadi sangking khusyuknya, sanking mentadabburinya, sangking diamnya, kalau burung mau hinggap di kepala mereka, ini bisa.

Ini adalah praktek langsung para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika mereka duduk di majelis beliau, mereka diam dan mendengarkan dengan seksama, tidak ada seorang pun yang berbicara, tidak ada seorangpun yang ngobrol dengan temannya, sibuk dengan dunianya, sms saudaranya yang ada di luar, main BB dan seterusnya. Ini adalah adab yang harus kita perhatikan.

Oleh karena itu ‘Abdullah bin Mubarak, sebagaimana yang dinukilkan oleh Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr, beliau menuturkan:

أَوَّلُ الْعِلْمِ النِّيَّةُ ثُمَّ الِاسْتِمَاعُ ثُمَّ الْفَهْمُ ثُمَّ الْعَمَلُ ثُمَّ الْحِفْظُ ثُمَّ النَّشْرُ

“Pertama kali yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu yang mau mempelajari ilmu adalah niat yang ikhlas, yang kedua mendengarkan dengan seksama, yang ketiga dipahami, yang keempat diamalkan, yang kelima dihafal, yang terakhir didakwahkan disebarkan dan disosialisasikan.”

Inilah tips dalam dunia ilmu.

Di antara dalil yang dijelaskan oleh para ulama dalam masalah ini agar kita benar-benar memahami bahwa ini bukan majelis yang biasa-biasa saja, bukan rapat yang hanya dihadiri oleh manusia, bukan obrolan warung kopi biasa yang ada di pinggir jalan, namun ini majelis ilmu. Yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di awal-awal surat Al-Hujurat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ…

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian tinggikan suara kalian di atas suara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (QS. Al-Hujurat[49]: 2)

Hammad bin Zaid mengatakan:

أرَى رَفْعَ الصَّوْتِ عَلَيْهِ بَعْدَ مَوْتِهِ؛ كَرَفْعِ الصَّوْتِ عَلَيْهِ فِي حَيَاتِهِ

“Aku memandang mengeraskan suara berbicara di hadapan beliau ketika beliau meninggal dunia itu sama saja dengan berbicara dan mengangkat suara di hadapan beliau ketika beliau hidup.”

Beliau menjelaskan:

إِذَا قُرِئَ حَدِيثٌ وَجَبَ عَلَيْكَ أَنْ تُنْصِتَ لَهُ كَمَا تُنْصِتُ لِلْقُرْآنِ

“Apabila hadits Nabi dibacakan/dijelaskan/disyarah, wajib atas Anda untuk diam sebagaimana Anda diam ketika Al-Qur’an dibacakan.”

Jadi, ketika ustadz/guru/kiayi/ulama kita menyampaikan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hukumnya sama dengan ketika Nabi langsung bersabda dengan lisan sucinya. Artinya dari sisi ini kita tidak boleh berbicara, kita harus diam, tanggalkan segala aktivitas, fokus mendengarkan sabda-sabda itu dijelaskan, dikaji dan ditelaah oleh guru-guru kita. Ini adalah adab dalam menuntut ilmu agama dan berada di majelis-majelis ilmu.

Bagaimana potret majelis para ulama?

Menit ke-16:19 Inilah yang terjadi di majelis-majelis para ulama kita. Diriwayatkan:

Majelis Al-Imam Waki’ bin Al-Jarrah

كان طلاب وكيع بن الجراح في مجلسه كأنهم في صلاة (yang masyhur كان وكيع يكونون في مجلسه كأنهم في صلاة)

“Dahulu murid-muridnya Al-Imam Waki’ bin Al-Jarrah di majelis ilmu beliau seperti mereka sedang shalat.”

Diam, hening, tidak ada gelak tawa, tidak ada obrolan, tidak ada suara kasak kusuk, sakan-akan mereka sedang shalat. Ini yang harus kita ketahui bersama-sama.

Majelis ‘Abdurrahman bin Mahdi

Di majelis ‘Abdurrahman bin Mahdi (ulama besar yang wafat tahun 168 Hijriyah) tidak ada satupun orang yang berbicara, tidak ada satupun orang yang berani meraut pensilnya karena khawatir akan menimbulkan suara. Dan tidak ada satupun orang yang berdiri/berlalu-lalang, semua duduk kecuali ada hajat. Seolah di kepala mereka ada seekor burung dan seolah-olah mereka sedang shalat.

Suatu ketika ada seseorang tertawa sendiri di majelis ilmunya ‘Abdurrahman bin Mahdi. Lalu suara tawa itu terdengar oleh beliau, beliau bertanya: “Siapa yang tertawa barusan?” Secara spontanitas jamaah langsung menunjukkan telunjuknya ke satu orang tersebut. ‘Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Anda belajar hadits (ilmu agama) dan Anda tertawa? Pengajian saya liburkan selama satu bulan.”

Subhanallah, ini hukuman karena tidak beradab di majelis ilmu.

Dalam riwayat yang lain: “Beliau langsung tutup majelis lalu pulang ke rumahnya.” Subhanallah.

Kenapa ‘Abdurrahman bin Mahdi berani melakukan demikian? Karena memang sudah terkondisikan. Memang mereka ingin belajar. Makanya sebagai bentuk hukuman agar mereka jera. Tentunya hukuman berkaitan dengan maslahat dan mudharat, jangan memberikan hukuman tertentu apabila tidak ada maslahatnya. Dan pada saat itu hukuman seperti ini bermaslahat, orang jadi menyesal, orang jadi kapok untuk berbicara. Karena konsekuensinya mereka tidak mendapatkan ilmunya ‘Abdurrahman bin Mahdi selama 1 bulan.

Jadi, ulama marah besar kalau ada yang berisik, kalau ada yang berbicara, kalau ada yang ngobrol, kalau jamaah tidak bisa menjaga kekhusyuan sebuah majelis ilmu. Mereka bukan merasa tersinggung, bukan karena merasa dicuekin oleh jamaahnya, bukan karena merasa tidak dianggap, mereka marah karena cemburu ketika firman Allah dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diacuhkan oleh murid-muridnya.

Jadi, yang pertama kali harus kita jaga, yang harus kita penuhi haknya bukan hak guru kita, bukan hak Ustadz yang menyampaikan, yang pertama kali harus kita jaga adalah hak Allah dan hak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ketika para ulama menghukum/memarahi muridnya, itu bukan dengan marah emosi, tapi marah mendidik. Mereka marah bukan karena merasa harga diri mereka dijatuhkan, bukan itu. Namum mereka marah cemburu karena Allah, cemburu karena sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak didengarkan dengan seksama.

Majelis Ayyub Rahimahullah

Diantara bukti bahwa mereka marah bukan karena pribadi adalah apa yang dikatakan oleh Ahmad bin Zaid. Beliau mengatakan: “Kami dahulu duduk di majelisnya Ayyub, lalu beliau mendengar suara berisik. Dia berkata:

ما هذا اللغط ؟ أما بلغهم أنّ رفع الصوت عند الحديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم كرفع الصوت عليه في حياته .

“Suara apa ini? Tidakkah mereka paham bahwa mengeraskan volume suara kita dihadapan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu sebagaimana bersuara di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika berbicara pada saat beliau hidup.”

Ini yang membuat mereka marah, bukan karena pribadi. Dan sekali lagi nggak perlu berharap banyak dari orang seperti itu, kalau Rasulullah saja nggak dihargai, apalagi Ustadznya?

Jadi, yang pertama kali harus kita pahami adalah beradab di hadapan Allah dan RasulNya ketika firman-firmanNya dibacakan, ketika sabda-sabda NabiNya dijelaskan. Karena diamnya kita, mendengarnya kita dengan seksama, itu menunjukkan bagaimana penghormatan/pengagungan kita kepada Allah dan pemuliaan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Majelis Imam Malik Rahimahullah

Salah satu kisah yang paling menakjubkan adalah kisahnya Imam Malik bin Anas yang tercantum dalam kitab al-Madkhal oleh Ibnu al-Hajj (Arab: المدخل لابن الحاج) dari salah satu murid dekat Imam Malik, yaitu Ibnu Wahab. Ibnu Wahab mengatakan: “Suatu hari, ketika imam Malik menyampaikan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tiba-tiba raut wajahnya berubah memerah, terlihat beliau sedang menahan rasa sakit. Dan ekspresi tersebut tetap melekat di wajah beliau sampai akhir kajian. Ketika kajian ditutup dan para murid-murid sudah keluar dari majelis dan pulang ke rumahnya masing-masing, beliau pun langsung membuka khuf-nya. Ternyata di dalam sepatu tersebut ada seekor kalajengking yang telah menggigit kaki beliau.”

Kalajengking ini menggigit berkali-kali. Maka muridnya bertanya kepada Imam Malik Rahimahullah: “Wahai Imam, apa yang mencegah engkau untuk membuka sepatumu, untuk berteriak ketika kalajengking tersebut menggigitmu di gigitan yang pertama dan terus menjelaskan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?” Ucapan yang sangat luar biasa, ucapan yang mencerminkan iman dan takwa yang ada di dalam diri seroang muslim. Beliau mengatakan:

استحيت من النبي صلى الله عليه وسلم أن يكون حديثه يقرأ وأقطعه لضر أصاب بدني

“Aku malu/sungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, haditsnya dibacakan namun aku potong karena rasa sakit yang menimpa diriku.”

Subhanallah. Imam Malik beranggapan bahwa menghentikan hadits Nabi yang sedang dibacakan sama saja seperti Nabi lagi berbicara langsung kita potong pembicaraannya. Beliau malu melakukan hal tersebut.

Mereka benar-benar mempraktikkan firman Allah:

وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, itu adalah bukti takwa yang ada di dalam hati.” (QS. Al-Hajj[22]: 32)

Jadi, hadirin sekalian, dengarlah dengan seksama, diam. Dan pada hari ini kita belum dituntut yang macam-macam oleh Allah dan RasulNya, kita belum dituntut untuk mengorbankan darah, nyawa, seluruh harta kita, yang Allah inginkan dari kita masih hal-hal yang sifatnya sederhana, di antaranya diam ketika dibacakan, dengarkan dengan saksama, buat suasana masjid itu kondusif untuk proses belajar dan mengajar. Kalau kita tidak bisa diam menahan lisan, menahan keinginan, kebebasan dan hawa nafsu kita, bagaimana kalau Allah menuntut hal yang lebih tinggi dari kita? Hendaklah kita diam, dengar dengan sesama ketika ilmu itu di sampaikan.

Ingat, kalau kita berhadapan dengan pejabat misalnya, walaupun sepegal apapun kita tidak akan bertingkah yang aneh-aneh. Mengapa kita tidak terapkan pola pikir itu ketika kita berhadapan dengan firman-firman Allah dan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan di antara alasan mengapa kita diam adalah agar kita tidak mendzalimi orang lain. Karena kita berbicara, karena kita mengajak ngobrol teman kita, karena kita berisik, bisa jadi konsentrasi teman kita terganggu. Dan kalau hanya terganggu saja masih lumayan walaupun sudah parah. Bisa jadi mereka salah paham. Ustadznya bilang “tidak boleh” karena kita berisik yang terdengar hanya “boleh”, ini bahaya. Kita akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mendzalimi orang yang melakukan perbuatan mubah saja tidak boleh, apalagi mengganggu orang yang sedang beribadah menuntut ilmu. Jelas dosanya tidak kecil di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menjaga Anak-Anak di Majelis Ilmu

Menit ke-34:46 Disamping kita diperintahkan untuk diam dan mendengarkan dengan seksama, kitapun juga diperintahkan oleh Allah dan RasuNya untuk menjaga anak-anak di majelis-majelis ilmu. Jangan sampai mereka gaduh, jangan sampai mereka bersuara sehingga mengganggu proses berjalannya kajian, jangan sampai mereka teriak-teriak, jangan sampai mereka bermain di majelis ilmu sehingga orang-orang tertanggu.

Memang benar orang tua hendaknya melatih anak-anaknya ke majelis ilmu. Iini adalah sebuah perbuatan yang terpuji ketika kita punya anak kecil lalu kita ajak anak-anak untuk mendengarkan kajian rutin di masjid. Ini adalah langkah yang patut diacungi jempol dan didukung oleh syariat. Karena ini salah satu bentuk mentarbiyah anak, ini adalah salah satu usaha kita mengamalkan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا…

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim[66]: 6)

Ini bagus, namun hendaknya kita tidak berhenti sampai di sini, kita tidak hanya menghantar dan mengajak anak-anak duduk di samping kita di majelis ilmu. Namun kita pun juga berkewajiban untuk menjelaskan adab-adab di majelis ilmu kepada anak-anak kita.

Ini yang dilakukan oleh para ulama kita. Mereka suka membawa anak-anak kecil mereka ke majelis-majelis ilmu.

Imam Abu ‘Ashim

Al-Imam Abu ‘Ashim mengatakan:

ذهبت بابني إلى ابن جريج وهو ابن أقل من ثلاث سنين يحدثه بهذا الحديث والقران

“Aku pergi ke majelisnya Ibnu Juraij bersama anakku. Dan pada saat itu anakku berusia kurang dari tiga tahun dan Ibnu juraij menyampaikan Al-Qur’an dan hadits.”

Membawa anak kecil ke majelis ilmu memang budayanya para ulama. Namun bukan hanya itu yang mereka lakukan. Kalau kita ingin mengikuti para sahabat, kita ingin mengikuti para ulama, ingatlah para ulama tidak hanya mengajak anak-anak mereka ke majelis ilmu, namun mereka pun juga mempersiapkan segala sesuatunya. Dan di antaranya mempersiapkan adab. Mereka mendidik anak-anak bagaimana harus bersikap di majelis ilmu.

Ibnunya Sufyan Ats-Tsauri

Berkata ibunya Sufyan Ats-Tsauri kepada Sufyan Ats-Tsauri ketika beliau kecil:

يا بني، اذهب، فاطلب العلم…

“Wahai anakku, pergilah engkau dan tuntutlah ilmu. Kalau engkau telah mencatat belasan hadits, coba evaluasi dirimu, apakah ada penambahan/kemajuan di dalam cara berjalan/kebijaksanaan/wibawamu? Kalau ternyata tidak ada kemajuan sama sekali, maka Ilmu itu bukanlah ilmu yang bermanfaat, namun juga tidak memudharatkan dirimu (karena mungkin masih kecil).”

Dia dididik dari awal. Jangan hanya sekedar datang, tapi benar-benar belajar, perhatikan adab dan akhlaknya. Diajarkan dulu dari rumah, tidak main dilepas begitu saja. Bahkan nasihatnya seperti menasihati orang dewasa.

Makanya mungkin ada di antara orang-orang yang sudah ngaji dia sudah mempelajari ratusan hadits tapi tidak ada perubahan, tetap saja sombong, tetap saja angkuh, menyepelekan orang. Memang mungkin tidak ada evaluasi. Namun para ulama tidak, orang tuanya dari awal sudah mendidiknya.

Subhanallah.. Luar biasa. Inilah yang harus dilakukan oleh kita kalau mengajak anak-anak mendatangi majelis majelis ilmu.

Mp3 Kajian Mendengarkan Ilmu

Sumber: radiorodja.com

Silahkan dibagikan, semoga bermanfaat dan menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0