Ceramah Singkat: Jadilah Pemuda Spesial

Ceramah Singkat: Jadilah Pemuda Spesial

iklan erto's

Tulisan tentang “Jadilah Pemuda Spesial” ini adalah catatan faedah dari ceramah singkat yang dibawakan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.. Hafizhahullahu Ta’ala.

Ceramah Singkat: Jadilah Pemuda Spesial

Ahibbati fillah,

Kalau kita lihat para pemuda ini, tonggaknya semua bangsa dan negara. Mengapa pemerintah kita itu paling takut dengan mahasiswa? Katanya seperti itu, karena mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan. Jika ternyata engkau ketika muda pekerjaannya hanya menghabiskan uang orang tuamu untuk hal-hal yang tidak berguna, engkau nanti jadi pemimpin akan menghabiskan uangnya rakyat.

Mengapa? Karena ketika muda belum benar. Akhirnya karakter yang terbentuk adalah pekerjaannya hanya menghabiskan uang dan hidupnya foya-foya. Ketika engkau menjadi salah satu pemimpin, pekerjaan engkau juga menghabiskan uangnya rakyat. 

Ana mengingatkan ini karena akhir tahun ini akan ada pemilihan umum/ pilkada. Akan ada hal itu serentak. Maka ingat, ketika anak ini saat muda hidup bersama orang tuanya, hanya menghabiskan hasil kerja orang tuanya, ketika dia nanti menjabat di pemerintahan, dia akan menghabiskan hasil kerja rakyat. Berbahaya.

Maka kalau kita melihat ada yang Masya Allah, kalau pemuda itu baik, Allah Subhanahu wa Ta’ala takjub kepada pemuda tersebut. Bahkan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbincang tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, dia akan mendapatkan naungan tersebut.

Bagaimana Antum ketika matahari itu terik, di padang pasir, lalu pemuda diletakkan di sana. Yang dapat payung naungan itu hanya pemuda yang bertakwa di antara pemuda-pemuda yang lainnya. Merekalah pemuda yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kecondongan dia untuk maksiat, kecondongan pemuda untuk hiburan, atau untuk macam-macam, dia menahan dirinya. Maka spesial banget dia tuh.

Ashabul Kahfi

Lihatlah pengikut para nabi, mereka rata-rata adalah pemuda. Ashabul Kahfi, coba buka surat al-Kahf. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi[18]: 13)

Maa syaa Allah, pemuda-pemuda yang beriman, Ashabul Kahfi, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ceritakan di surat al-Kahfi menjadi cerita yang menginspirasi kawula muda. Mereka bukan orang-orang tua, mereka bukan pensiunan yang bertakwa yang beriman. Bukan. Tapi mereka فِتْيَةٌ – pemuda.

آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”

Dan ingat, tujuh pemuda itu yang akhirnya tidur di dalam gua selama 309 tahun, mereka bukan orang miskin. Mereka anak-anak orang kaya. Maka tatkala mereka bangun dari tidur mereka, mereka punya uang. Mereka para pemuda yang pergi dari rumahnya meninggalkan orang tuanya.

Kalau bicara hidup di dalam gua, para pemuda ini biasa hidup dalam ruangan yang nyaman, di atas kasur yang empuk, dan makanan yang selalu tersedia. Statusnya adalah anak orang kaya, bagaimana dia siap untuk keluar dari rumah mewah mereka? Tidur di dalam gua beralaskan tanah. Mengapa mereka lakukan itu?

آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”

Dikuatkan iman mereka. Setelah 309 tahun, mereka bangun dari tidurnya. Mereka tetap mempertahankan keimanan mereka. Mereka lapar, lalu diberilah uang kepada salah satunya untuk berangkat ke kota mencari makanan yang enak. Tidak mengapa makan makanan yang enak, silahkan, tapi jangan berlebih-lebihan. 

Video Ceramah Singkat: Jadilah Pemuda Spesial

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Jadilah Pemuda Spesial” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: