Ceramah Singkat: Makna Ibadah Yang Sesungguhnya

Ceramah Singkat: Makna Ibadah Yang Sesungguhnya

Ibadah adalah sesuatu yang menghimpun kesempurnaan cinta dan kesempurnaan merendahkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Berikut ceramah singkat “Makna Ibadah Yang Sesungguhnya” yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. Hafidzahullahu Ta’ala.

Ceramah Singkat: Makna Ibadah Yang Sesungguhnya

Beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala/menghambakan diri kepadaNya adalah tujuan manusia diciptakan di dunia ini. Bahkan ini adalah tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan alam semesta beserta isinya, tujuan diturunkannya kitab-kitab suci dari sisiNya dan tujuan diutusnya para Nabi dan Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka hanya beribadah kepadaKu (kepada Allah) semata-mata.” (QS. Az-Zariyat[51]: 56)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, tahukah kita apakah arti ibadah?

Ibadah yang kita terjemahkan dengan bebas dalam bahasa kita dengan penghambaan diri/berbakti menghambakan diri beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesuai dengan namanya yang memang diambil dari kata-kata at-ta’abbud (التعبد) atau طريق معبد yang berarti sesuatu yang ditundukkan/dijadikan rendah.

Maka ibadah seperti yang diterangkan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah:

عبارةٌ عمّا يجمعُ كمالَ الحب وكمالَ الذُّلِّ لله عز وجل

“Sesuatu yang menghimpun kesempurnaan cinta dan kesempurnaan merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Dua unsur penting inilah yang harus menyertai setiap ibadah. Harus disertai dengan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga kita merasakan ibadah itu sebagai sesuatu yang menggembirakan, sesuatu yang nikmat dan lezat, sesuatu yang kita butuhkan lebih daripada kebutuhan kita terhadap makanan dan minuman.

Di samping itu juga, ibadah menjadikan kita merenungkan bahwa kita adalah hamba yang rendah, yang sangat bergantung dengan rahmat dan karunia Allah, yang penuh dengan kekurangan, hanya dengan mendekatkan diri kepada Allah kita bisa menutupi kekurangan-kekurangan diri kita dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Wahai sekalian manusia, kalian adalah hamba-hamba yang sangat fakir/sangat lemah/butuh dan tergantung kepada rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang Maha Kaya dan lagi Maha Terpuji.” (QS. Fatir[35]: 15)

Oleh karena itulah ma’asyiral muslimin rahimakumullah, sikap ini harus lahir dalam diri kita setiap kita laksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya kenapa kita belajar iman, belajar tauhid, membenarkan aqidah dan keyakinan kita, supaya ibadah kita lebih bernilai. Karena belajar iman, mengenal kemahaindahan nama-nama dan kesempurnaan sifat-sifatNya akan melahirkan dalam diri kita cinta kepada Allah dan selalu merendahkan diri/tunduk kepadaNya. Ini yang akan menjadikan ibadah kita benar-benar bernilai ibadah/penghambaan diri dalam arti yang sesungguhnya.

Coba lihat kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta kedudukan yang mulia ini dalam doa beliau yang disebutkan dalam hadits yang shahih:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ

“Ya Allah hidupkanlah aku sebagai orang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin dan himpunkanlah diriku di dalam golongannya orang-orang miskin.” (HR. Tirmidzi)

Miskin di sini artinya bukanlah hanya sekedar kembali kepada masalah tidak punya harta. Miskin artinya adalah tunduk dan merendahkan diri seperti yang ditafsirkan Al-Imam Ibnul Atsir dalam An-Nihayah fi Gharibil Hadits (النهاية في غريب الحديث) dan juga yang ditafsirkan oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hambali:

من كان قلبه مسكينا خاضعا لله، خاشعا له

“Orang yang hatinya tunduk, merasakan butuh, bergantung kepada Allah dan selalu khusyuk dihadapanNya.”

Ini kedudukan yang diminta oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meminta dihidupkan sebagai orang yang selalu tunduk/merendahkan diri, mati juga seperti itu dan hari kiamat dibangkitkan/dikumpulkan bersama orang-orang yang demikian.

Inilah penghambaan diri yang sejati. Makanya ketika Al-Qur’an memuji kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, banyak beliau dipuji dengan kedudukan al-ubudiyah (penghambaan diri yang sejati).

Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan tingginya kedudukan NabiNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah sebutkan beliau sebagai hamba yang sejati, yang tahu menghambakan dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا

Dan bahwasanya ketika hamba Allah berdiri berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka para jin-jin itu pun mengerumuninya.” (QS. Al-Jinn[72]: 19)

Disebut beliau sebagai hamba Allah yang berdoa. Ini menunjukkan bahwa beliau telah menunaikan penghambaan diri dengan sesungguhnya.

Dalam surat Al-Isra’ Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ…

Segala puji bagi Allah yang memperjalankan hambaNya dimalam hari…” (QS. Al-Isra'[17]: 1)

Disebut dengan kedudukan “hambaNya”. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan kondisi beliau yang sangat taat beribadah, sampai-sampai ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau shalat malam sampai kakinya bengkak saking lamanya berdiri, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata:

يا رسول الله تفعل هذا وقد غفر لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر؟

“Wahai Rasulullah, engkau lakukan ini shalat sampai demikian lama berdiri sampai bengkak kakimu padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang?”

Apa jawaban Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika itu?

أفَلا أكُونُ عَبْدًا شَكُورًا؟

“Apakah aku tidak ingin menjadi hamba Allah yang banyak bersyukur atas nikmatNya?”

Coba lihat, luar biasa penghambaan diri. Menjadikan seorang hamba taat beribadah tetap dengan merendahkan diri, tetap dengan merasa gembira, tidak merasa payah dengan ibadah tersebut, merasakan nikmat, tetap dia mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menisbatkan “kalau bukan karena hidayah Allah dia tidak akan bisa mengerjakannya”

Inilah hamba yang tahu diri, hamba yang sejati, hamba yang selalu merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun sebaik dan sebanyak apapun amal yang dikerjakannya.

Makanya ini adalah sifat utama yang harus kita tumbuhkan dalam diri kita agar kita benar-benar menjadi hamba Allah yang sejati yang itu akan semakin meninggikan kedudukan kita di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala pernah mengatakan: “Semakin sempurna sikap penghambaan diri/merendahkan diri seorang hamba di hadapan Allah, maka kedudukannya akan semakin tinggi dan derajatnya akan semakin terangkat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Tentu ini merupakan penjabaran dari makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits riwayat Imam Muslim:

مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seorang hamba merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan semakin meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kalau ada orang yang kelihatannya rajin ibadah tapi tidak menjadikan dia rendah, tapi justru dia menjadi sombong/percaya diri/merasa dirinya hebat, dia lupa menisbatkan nikmat hidayah kepada Allah, demi Allah ini lebih buruk keadaannya daripada orang yang kelihatannya malas beribadah tapi dirinya tetap menjaga sifat-sifat merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al-Imam Mutharrif bin ‘Abdillah bin Shikhkhir -salah seorang ulama dari kalangan tabi’in- pernah mengatakan:

لأَنْ أَبِيْتَ نَائِماً وَأُصْبِحَ نَادِماً، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَبِيْتَ قَائِماً وَأُصْبِحَ مُعْجَباً

“Sungguh jika aku di malam hari tertidur/tidak beribadah tetapi kemudian aku bangun di siang hari di pagi hari dalam keadaan menyesali perbuatanku/merasakan diriku penuh dengan kekurangan/rendah, sungguh itu lebih aku sukai daripada aku bangun/rajin beribadah di malam hari kemudian di pagi harinya aku bangun dalam keadaan menyombongkan diriku.”

Ketika membawakan riwayat atsar ini, Al-Imam Adz-Dzahabi Rahimahullahu Ta’ala dalam kitab Siyar A’lamin Nubala’ mengatakan:

لا أفلح والله من زكى نفسه أو أعجبته

“Sungguh demi Allah tidak akan beruntung orang yang menganggap dirinya suci atau kagum terhadap dirinya sendiri.”

Oleh karena itulah ma’asyiral muslimin rahimakumullah, latihlah diri kita untuk benar-benar menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sesungguhnya. Cukup dengan kita selalu mengingat semua nikmat/kekuatan/kemampuan kita berbuat apapun termasuk dalam urusan-urusan kebaikan agama, tidak mungkin kita bisa lakukan kalau bukan karena dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ingat ucapannya penduduk surga setelah masuk ke dalam surga:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ

Segala puji bagi Allah yang memberikan hidayah kepada kami, sungguh kmi tidak akan bisa mendapatkan hidayah kalau bukan karena petunjuk dari Allah.” (QS. Al-A’raf[7]: 43)

Selalu nisbatkan kebaikan dengan petunjukNya agar kita selalu mensyukuri nikmatNya, agar kita semakin mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala atas karunia kebaikan-kebaikan yang dilimpahkanNya, selalu merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena kita adalah hamba yang lemah, tidak mungkin kita bisa menutupi kekurangan kita/memperbaiki keburukan-keburukan diri kalau bukan karena rahmat dan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita dalam kebaikan, memudahkan kita untuk menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sejati, yang senantiasa semangat mengamalkan kebaikan karena kita merasa cinta dan merasakan kenikmatannya. Dan selalu merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kita mengakui dan meyakini sempurnanya keagungan dan kebesaranNya, serta rendahnya/penuh kekurangannya diri kita sebagai hamba.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan ceramah singkat ini bermanfaat.

Video Ceramah Singkat: Ibadah Yang Sesungguhnya

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang kultum singkat ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: