Ceramah Singkat: Jadilah Muslim yang Cerdas

Ceramah Singkat: Jadilah Muslim yang Cerdas

iklan erto's

Kecerdasan benar-benar menjadikan pikiran manusia bisa memahami segala sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi dirinya, bukanlah sekedar kemampuan untuk memahami sesuatu dalam perkara-perkara dunia yang tidak bermanfaat bagi manusia.

Berikut catatan kajian dari ceramah singkat “Jadilah Muslim yang Cerdas” yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. Hafidzahullahu Ta’ala.

Ceramah Singkat: Jadilah Muslim yang Cerdas

Kecerdasan dalam artian yang terpuji tentu merupakan perkara yang tidak mungkin luput dalam ajaran Islam yang sempurna yang dibawa oleh Nabi kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semua kebaikan dunia dan akhirat, itulah yang dijadikan ada pada agama dan petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan panggilan RasulNya yang mengajakmu kepada hal-hal yang memberikan kebaikan hidup bagimu.” (QS. Al-Anfal[8]: 24)

Kecerdasan atau kepandaian tentu perlu diukur dengan pemahaman yang benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala di antara nama-nama yang Maha Indah adalah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui), Yang Maha Berilmu dengan ilmu yang sempurna, ilmu yang tidak ada padanya kekurangan dalam semua segi, ilmu yang tidak akan mungkin diliputi dengan kelalaian karena sempurnanya ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى

Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabbku tidak akan mungkin lupa dan tidak akan mungkin keliru.” (QS. Tha Ha[20]: 52)

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Khabir (Yang Maha Terperinci PengetahuanNya), mengetahui segala sesuatu yang ada pada makhlukNya dengan sedetail-detailnya. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan nama-nama Yang Maha Indah menurunkan agama, maka pasti agama ini penuh dengan segala kebaikan, penuh dengan ilmu. Berarti agama Islam ini yang mengajarkan kepada kita kecerdasan dalam artian yang sesungguhnya.

Buktinya apa? Dalam ayat-ayat Al-Qur’an, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kepada hamba-hambaNya untuk mengambil pelajaran dari petunjukNya, untuk mengambil ibrah dari tanda-tanda kekuasaanNya, Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan bahwa ini hanya akan diambil oleh orang-orang yang berakal, orang-orang yang punya kecerdasan.

فاعتبروا يا أولي الألباب

“Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang punya akal sehat.”

لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

Terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang punya akal sehat.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 190)

لِّأُولِي النُّهَىٰ

Bagi orang-orang yang punya kecerdasan/kemampuan berpikir dengan benar.” (QS. Tha Ha[20]: 130)

Ini menunjukkan agama Islam benar-benar mengajarkan kecerdasan, benar-benar menjadikan pikiran manusia bisa memahami segala sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi dirinya, bukanlah sekedar kemampuan untuk memahami sesuatu dalam perkara-perkara dunia yang tidak bermanfaat bagi manusia.

Contoh saat ini ketika dijadikan sebagai simbol kecerdasan/orang-orang yang punya pemikiran jenius/punya pemikiran yang sangat pintar katanya, tapi apa yang dipikirkannya tidak membawa dia untuk mengenal Rabbnya, tidak membawa dia untuk mengikuti fitrahnya, apakah ini bermanfaat? Justru dia mengikuti jalannya setan yang memalingkan manusia dari fitrah, padahal mereka katanya melakukan penelitian terhadap alam, menemukan banyak penemuna-penemuan yang mengagumkan, tapi ketika tidak membimbing mereka untuk mengenal Islam untuk keselamatan dirinya di kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti. Apakah ini bermanfaat? Apakah ini pantas dikatakan sebagai kecerdasan? Atau justru pantas dikatakan sebagai kebodohan yang sesungguhnya?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Zaman sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disebut sebagai zaman Jahiliyah. Nisbat kepada jahil. Disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari sahabat yang mulia Hudaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ

“Ya Rasulallah, dulu kita hidup di zaman Jahiliyah yang penuh dengan keburukan (yakni zaman kebodohan/kegelapan/tidak ada ilmu karena tidak membawa kepada cahaya yang menerangi langkah manusia, zaman yang penuh dengan kegelapan dan kebodohan) Kemudian Allah datang menurunkan petunjuk yang engkau bawa membawa kebaikan dan membawa cahaya yang terang benderang.”

Coba lihat perbandingan dan apa yang disebutkan oleh sahabat yang mulia Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu dalam hadits yang shahih ini.

Berarti zaman sebelum diutusnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah zaman Jahiliyah. Oleh karena itu dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih, perbuatan-perbuatan yang buruk dinisbatkan kepada zaman tersebut.

Contoh seperti perempuan yang berdandan/berhias/yang melanggar atau menyimpang dari syariat Islam:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

Handaknya kalian wahai/kaum perempuan menetap di rumah-rumahmu dan janganlah kamu berdandan bertingkah laku seperti kebiasaan wanita-wanita jahiliyah yang terdahulu, wanita-wanita yang hidup dalam kegelapan kebodohan.” (QS. Al-Ahzab[33]: 33)

Subhanallah, ini kita perhatikan bahwa agama Islam itu mengajarkan kepada kita kecerdasan dalam artian yang sesungguhnya. Karena kebodohan tidak pantas untuk orang-orang yang mulia, tidak pantas untuk orang-orang yang mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Makanya kebodohan itu Allah sebutkan sebagai sifat yang sangat melekat pada penghuni neraka. Na’udzubillahi min dzalik. Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Sungguh-sungguh telah Kami jadikan sebagai penghuni neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia karena mereka bodoh (tidak mau belajar ilmu yang benar, tidak mau mencerdaskan diri mereka dalam artian yang sebenarnya). Mereka punya hati tidak digunakan untuk memahami petunjuk Allah yang menyelamatkan/memuliakan dirinya dunia akhirat, mereka punya penglihatan tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah/membaca ayat-ayat Allah, dan mereka punya telinga tidak digunakan untuk mendengarkan nasihat-nasihat yang bermanfaat.

Mereka ini tidak berbeda dengan binatang ternak yang cuma bisa makan minum tidur. Bahkan mereka lebih rendah/sesat. Karena binatang ternak tidak punya akal pikiran, sedangkan mereka punya akal pikiran yang harusnya digunakan untuk bisa mengisi hidupnya dengan memahami kebenaran agar dia menjadi orang cerdas yang sesungguhnya.

Oleh karena itulah ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di sini perlu kita satukan dulu pemahaman yang benar dari makna kecerdasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan kita, menciptakan akal kita, mungkinkah Dia akan menurunkan agama yang tidak sesuai dengan pemikiran akal kita? Jawabnya pasti akan bersesuaian.

Makanya kita ketahui yang terkenal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala menulis kitab yang sangat masyhur, yaitu درء تعارض العقل والنقل (Menolak pertentangan/kontradiksi antara akal yang sehat dengan syariat/dalil yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan pada wahyuNya). Tidak mungkin akan bertentangan. Justru akal yang sehat ketika bertemu dengan wahyu dari Allah, akan diisi dan dijadikan semakin cerdas, semakin berilmu, semakin terang-benderang menerangi langkah manusia, dijauhkan dari kejahilan, dari kegelapan.

Dan memang kegelapan dan kejahilan adalah sesuatu yang sangat disukai oleh iblis. Karena dengan itu dia kan bebas menggoda manusia, mengombang-ambingkan mereka dalam kegelapan dan kesesatan, mudah dimasukkan ke dalam jurang kebinasaan. Na’udzubillahi min dzalik.

Al-Imam Ibnul Jauzi Rahimahullahu Ta’ala pernah mengatakan:

اعلم أن أول تلبيس إبليس عَلَى الناس صدُّهم عَنِ العلم

“Ketahuilah perangkap pertama yang akan dilontarkan oleh iblis untuk menjebak manusia adalah menghalangi mereka dari ilmu (ilmu agama/kecerdasan yang sesungguhnya).”

لأنَّ العلم نور

“Karena ilmu itu adalah cahaya,” menjadikan jalan manusia terang, terhindar dari kegelapan.

فإذا أطفا مصابيحهم خبطهم فِي الظُلَم كيف شاء

“Maka kalau iblis telah berhasil memadamkan cahaya manusia, menjadikan jalan mereka gelap, maka dia pun bebas mengombang-ambingkan mereka dalam kegelapan tersebut.”

Oleh karena itulah ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Belajar agama -setelah berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala- ini menjadi sebab terangnya hati kita, terangnya langkah kita. Itulah sebabnya dalam Al-Qur’an disebutkan fungsi agama memberi kehidupan dan ruh, hidup kita akan lebih berarti, iman kita akan memiliki kehidupan, hati kita akan punya ruh, kemudian memberikan cahaya untuk menerangi langkah kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Apakah orang yang tadinya mati kemudian Allah hidupkan dia dengan iman dengan dia mengenal petunjuk Allah, mengenal ilmu agama. Dan Kami jadikan pada dirinya cahaya yang dengan itu dia berjalan di antara manusia. Apakah ini perumpamaannya sama dengan orang yang hidup dalam kegelapan dan tidak bisa keluar darinya?” (QS. Al-An’am[6]: 122)

Inilah agama, memberikan kehidupan, menjadikan iman dan hati kita hidup, sehingga semangat berbuat kebaikan, memikirkan hal-hal yang bermanfaat, tidak berlarut-larut dalam urusan dunia yang tidak mendatangkan manfaat bagi kita untuk kehidupan yang kekal abadi, kemudian memberikan cahaya yang akan membimbing/menerangi langkah kita untuk kita selalu diteguhkan dalam menempuh jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lurus sampai kita menghadapNya di akhirat kelak.

Demikianlah makna kecerdasan yang sesungguhnya yang hendaknya menjadi renungan bagi kita semua.

فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang punya pandangan, wahai orang-orang memiliki akal yang sehat.” (QS. Al-Hasyr[59]: 2)

Semoga nasihat ini bermanfaat bagi kita semua dan menjadi sebab pencerahan untuk meluruskan makna kecerdasan yang sesungguhnya di kalangan kaum muslimin.

Video Ceramah Singkat: Ibadah Yang Sesungguhnya

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang kultum singkat ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: