Dunia dan Pertanggungjawaban Nikmat

Dunia dan Pertanggungjawaban Nikmat

Khutbah Jumat: Orang Shalih Yang Bangkrut
Khutbah Jumat: Rush Hour
Khutbah Jumat: Lima Keistimewaan Nabi Muhammad

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Dunia dan Pertanggungjawaban Nikmat” yang disampaikan Ustadz Ammi Nur Baits, Hafidzahullahu Ta’ala

Khutbah Pertama: Keterbatasan Manusia dalam Menikmati Dunia

Prinsip utama yang ditekankan dalam Al-Qur’an adalah bahwa setiap kenikmatan yang dirasakan manusia di dunia akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat, baik nikmat besar maupun nikmat kecil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

“Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takathur[102]: 8)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menegaskan bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga dia ditanya tentang hartanya; dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia gunakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keterbatasan yang besar bagi hamba-Nya dalam menikmati dunia. Segala nikmat di alam ini pasti akan binasa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman[55]: 26-27)

Setiap pemilik harta pasti akan berpisah dengan apa yang dimilikinya. Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam pernah berpesan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar hidup sesuka hati kerana kematian itu pasti, dan mencintai apa pun namun perpisahan itu nyata. Puncak musibah dunia adalah kematian, di mana semua harta akan ditinggalkan.

Bahkan sebelum mati, Allah Subhanahu wa Ta’ala sering kali membatasi kemampuan manusia untuk menikmati harta, misalnya melalui rasa sakit atau usia tua. Apabila seseorang mencapai usia senja, fisikalnya menjadi lemah dan tidak lagi mampu menikmati kemewahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan:

وَمَن نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى ٱلْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya) (menjadi lemah kembali). Maka mengapa mereka tidak memikirkan?” (QS. Yasin[36]: 68)

Para sahabat Nabi sangat waspada terhadap kenikmatan dunia. Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘Anhu pernah menangis ketika hendak berbuka puasa kerana teringat Mus’ab bin Umair yang gugur tanpa kain kafan yang cukup. Beliau khawatir jangan-jangan kenikmatan yang melimpah di dunia merupakan balasan amal yang disegerakan sehingga mengurangkan jatah di akhirat. Begitu juga Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu yang memilih hidup sederhana kerana takut akan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai orang-orang kafir yang telah menghabiskan nikmat mereka di dunia

Allah taala berfirman:

وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِي حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik”. (QS. Al-‘Ahqaf: 20)

Kesadaran ini menjadi bahan renungan mengenai bagaimana seharusnya interaksi manusia dengan dunia yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Khutbah Kedua: Beralih kepada Kenikmatan Batin

Kenikmatan fisikal memiliki batas dan akan terus menurun seiring waktu. Namun, terdapat satu kenikmatan yang dapat dirasakan sehingga akhir hayat, yaitu kenikmatan batin. Kenikmatan ini dirasakan oleh seorang mukmin ketika dia merasa dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 28)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ketenangan (sakinah) ke dalam hati orang beriman agar iman mereka bertambah. Walaupun fisikal sudah lemah atau sedang sakit, seseorang tetap boleh menikmati ketaatan kepada-Nya. Masalah timbul apabila masa muda hanya dihabiskan untuk kenikmatan fisikal seperti makanan, melancong, atau hiburan semata-mata, tanpa pernah merasakan kemanisan membaca Al-Qur’an atau solat yang khusyuk.

Seseorang yang tidak melatih batinnya akan merasa tertekan di usia tua walaupun memiliki banyak harta. Oleh itu, sudah saatnya manusia belajar mengalihkan tumpuan dari kenikmatan fisikal kepada kenikmatan batin secara bertahap. Hal ini dilakukan dengan belajar solat yang khusyuk, mentadabbur Al-Qur’an, dan menikmati majlis ilmu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dan dijadikan penyejuk hatiku di dalam solat.” (HR. An-Nasa’i)

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menghidupkan batin kita dan memberikan hidayah supaya tidak terlena dengan kehidupan dunia yang sementara. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima setiap ketaatan yang kita lakukan. Amin ya Mujibas sailin.

Video Khutbah Jumat tentang Dunia dan Pertanggungjawaban Nikmat

Sumber: anb channel

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: