Faktor Dari Luar Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)

Faktor Dari Luar Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)

dukung ngaji id

Tulisan tentang "Faktor Dari Luar Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)" ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr.

Mengatasi Penyakit Marah
Enam Syarat Masuk Surga (Bag.3)
Ceramah Singkat: Manislah dengan Janggut Anda

Tulisan tentang “Faktor Dari Luar Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)” ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullahu Ta’ala.

Sebelumnya: Faktor Dari Luar Sebab Turunnya Iman (Bag. 1)

Faktor Dari Luar Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)

3. Teman-Teman Yang Buruk

Menit ke-1:00:50 Perkara ketiga dari faktor luar yang menyebabkan turunnya keimanan seseorang adalah teman-teman yang buruk. Dan ini termasuk ke dalam perkara yang berbahaya.

Teman-teman yang buruk sangat memberikan kerusakan kepada manusia dan bisa menyebabkan kerusakan bagi imannya seseorang. Bahkan bisa merusak akhlaknya. Orang yang tadinya baik, karena berteman dengan orang yang buruk akhlaknya, dia bisa berubah dan imannya bisa hancur. Disebabkan karena teman-teman yang buruk.

Oleh karena itu, teman-teman yang buruk merupakan sebab terbesar berkurangnya keimanan seseorang. Dalam satu hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu berdasarkan agama temannya (sahabatnya), maka hendaknya salah seorang kalian kalau ingin bergaul, lihat siapa temannya.” (HR. Abu Dawud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378. (ash-Shahihah no. 927))

karena temannya sangat berpengaruh terhadap agamanya. Temannya bisa merubah akhlaknya, agama, dan bahkan keimanannya.

Menit ke-1:03:07 Syaikh menjelaskan bahwasanya sahabat-sahabat yang buruk ini merupakan sebab terbesar berkurangnya keimanan. Oleh karena itu, banyak atsar-atsar dari para salafush shalih yang mengingatkan akan bahayanya teman-teman yang buruk.

Bahkan seseorang terkadang tidak ditanya tentang agamanya. Untuk mengetahui agama seseorang, maka yang ditanya adalah tentang temannya. Siapa temannya orang itu? Kalau ternyata temannya buruk, maka (lazim) diketahui orang itu juga akhlaknya buruk.

Jadi mengetahui akhlak seseorang itu adalah dengan akhlak temannya. Dan ketahuilah bahwasanya pengaruh dari teman yang buruk ini sangat besar sekali. Seseorang yang tadinya bisa jadi seseorang yang shalih, mustaqim, baik, rajin beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena bergaul dengan teman-teman yang buruk, akhirnya jadi fasik seperti mereka. Jadi tukang maksiat seperti mereka. Disebabkan karena bergaul dengan mereka.

Betapa besar pengaruhnya ini dan kita sudah lihat kenyataan ini. Ini sunnatullah, kenyataan yang terjadi. Setiap orang yang bergaul dengan orang yang buruk, maka dia akan menjadi buruk seperti dia.

Oleh karena itu, suatu shohibus sahib/ pepatah mengatakan bahwa sahabat itu akan membawa. Kalau kita bergaul dengan seorang yang buruk, kita akan terbawa terhadap keburukan orang tersebut. Oleh karena itu, janganlah kita biarkan diri kita bergaul kecuali dengan orang-orang yang baik, orang-orang yang shalih yang mengingatkan kita kepada akhirat. Orang yang kalau melihat dia, dia mengingatkan kita kepada akhirat dan melupakan kita kepada dunia. bukan kita bergaul dengan orang-orang yang kalau kita lihat dia, malah menjerumuskan kita ke dalam kemaksiatan.

Sahabat Zaman Sekarang

Menit ke-1:05:31 Syaikh mengingatkan, di zaman sekarang ini ada sahabat-sahabat baru yang dahulu tidak terdapat di zaman dahulu. Di zaman dahulu tidak ada sahabat model baru ini. Sekarang sangat digemari oleh masyarakat.

Apakah sahabat-sahabat baru yang masyarakat gemari? Yaitu, kata Syaikh, ada dua perkara. Yaitu parabola (televisi) ada channel-channel yang dengan berbagai macam channel. Kemudian yang kedua adalah internet. Kita lihat betapa tergandrungnya masyarakat dengan dua perkara ini. Duduk di depan televisi/ internet dengan waktu yang lama.

Dan dua perkara ini sangat berpengaruh dalam aqidah dan akhlak seseorang. Seseorang yang tadinya bisa jadi bertakwa dan istiqamah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, gara-gara melihat internet, satu hari saja, gara-gara melihat parabola (tontonan-tontonan yang buruk), satu hari saja bisa berubah aqidah dan akhlaknya. Karena pengaruh kedua sahabat ini sangat luar biasa (internet dan televisi).

Kerusakan-Kerusakan Besar

Menit ke-1:08:15 Syaikh menjelaskan, barang siapa yang merenungkan/ memperhatikan kerusakan-kerusakan yang dua sahabat ini timbulkan, baik قَنَوَات (channel-channel) atau pun internet  yang buruk.

Jadi maksud pembahasan kami adalah website dan channel-channel yang menyebarkan kerusakan, akibat yang ditimbulkan dari dua perkara ini sangatlah besar dan banyak tidak terhitung. Kerusakan dalam masalah aqidah maupun akhlak.

Kita lihat dalam masalah aqidah, betapa banyak orang yang menonton televisi atau melihat internet, orang Islam akhirnya ragu dengan keislamannya. Karena mereka membaca perkara-perkara yang buruk yang membuat iman mereka ragu dengan keislaman mereka, dengan kekafiran orang-orang kafir, dan dengan aqidah mereka. Karena mereka membaca hal-hal syubhat yang terpancarkan dari channel-channel maupun dari internet. Sehingga seorang muslim hidup dengan penuh keraguan, kebingungan, dan tidak yakin dengan agamanya. Inilah kerusakan aqidah yang timbul.

Adapun kerusakan yang berkaitan dengan perkara sosial, kemasyarakatan, atau yang berkaitan dengan akhlak, maka sangatlah banyak. Kalau kita perhatikan channel-channel atau internet yang ada dan macam-macamnya, kita akan menyaksikan penayangan-penayangan yang luar biasa. Yang mengajarkan seseorang untuk berbuat kerusakan, melakukan kekerasan, bahkan pembunuhan.

Kita tahu betapa banyak orang yang mempelajari bagaimana cara mencuri, cara membunuh, atau cara menipu dengan menonton film-film, acara-acara, atau tayangan-tayangan yang mengajarkan akan kekerasan, pencurian, pembunuhan, dan model-model kerusakan yang lainnya. Seseorang belajar dari televisi, video, dari tontonan yang dia lihat.

Kemudian belum lagi acara-acara televisi yang mengajak kepada kerusakan yang lain seperti ikhtilat (bercampurnya laki-laki dengan perempuan). Seseorang yang menonton percampuran antara laki-laki dan perempuan di dalam televisi akhirnya terbiasa. Akhirnya dia menganggap itu perkara biasa. Karena dia sering menonton di televisi dan akhirnya dia lakukan ikhtilat antara laki-laki dan perempuan, safar (tanpa mahram), kemudian tabarruj.

Belum lagi buka aurat. Di televisi terlalu banyak hal-hal yang mengajarkan untuk membuka aurat. Sehingga seorang wanita muslimah yang melihat perkara tadi akan merasa biasa dan berpikir, “Toh, saya sering lihat orang membuka aurat.” Kemudian akhirnya dia terajak untuk melakukan yang demikian.

Demikian juga model-model yang di mana laki-laki mengikuti gaya-gaya perempuan. Kemudian perempuan mengikuti seperti gaya laki-laki. Lalu adanya hubungan yang buruk, seperti homoseksual. Tersebarkan di televisi atau di acara-acara tontonan. Sehingga mengakibatkan masyarakan terbiasa dengan hal ini dan mengajarkan kepada masyarakat untuk melakukan hal-hal yang seperti itu.

Belum lagi akibat dari kedua perkara ini (acara di televisi, channel-channel, atau internet yang buruk) mengakibatkan banyaknya kaum muslimin yang lalai dari melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Betapa banyak shalat yang ditinggalkan? Itu karena acara tontonan di televisi.

Shalat subuh ditinggalkan, shalat Isya ditinggalkan, karena menonton televisi. Belum lagi ketaatan-ketaatan yang lain. Itu karena mereka sibuk dengan kedua perkara ini.

Tugas Kepala Keluarga

Oleh karena itu, Syaikh mengingatkan, setiap kepala keluarga di antara kita hendaknya menjaga rumahnya (يحسن بيته). Artinya dia menjaga rumahnya. Jangan sampai termasuki dengan kerusakan-kerusakan yang seperti ini. Jangan sampai dia merusak anak-anaknya dengan mendatangkan alat-alat seperti ini (parabola dan internet) yang akhirnya merusak anak-anak. Karena kepala keluargalah yang bertanggung jawab. Maka hendaknya dia menjaga dirinya jangan sampai merusak keluarganya dengan alat-alat yang seperti ini.

Menit ke-1:12:35 Demikian saja, inilah penghujung dari pengajian pada pertemuan kita kali ini. Dan Syaikh berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyucikan jiwa-jiwa kita. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kebenaran kepada jiwa-jiwa kita. Juga semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan menajuhkan kita dari perkara-perkara yang bisa menyesatkan kita. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mendengar doa dan Maha Mengabulkan permintaan kita.

MP3 Kajian Faktor Dari Luar Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)

Mari turut menyebarkan tulisan tentang “Faktor Dari Luar Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)” ini di media sosial yang Anda miliki baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum.

Komentar

WORDPRESS: 0