Faktor Dari Dalam Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)

Faktor Dari Dalam Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)

Tulisan tentang “Faktor Dari Dalam Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)” ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullahu Ta’ala.

Sebelumnya: Faktor Dari Dalam Sebab Turunnya Iman (Bag. 1)

Faktor Dari Dalam Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)

4. نِسْيًا (Lupa)

Menit ke-30:14 Perkara ketiga yang akan menyebabkan turunnya keimanan adalah نِسْيًا (lupa). Yaitu seseorang lupa. Tadi telah dia ketahui, kemudian dia lupa. Dan lupa itu bisa timbul karena lemahnya hati atau karena kelalaian. Dan kelupaan ini bisa timbul karena sengaja ataupun karena tidak sengaja.

Syaikh menjelaskan bahwasanya lupa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an itu ada dua macam. Yang pertama adalah kelupaan yang seseorang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan udzur. Karena dia sengaja untuk melupakan. Kelupaannya timbul karena kesengajaannya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr[59]: 19)

Dia sengaja untuk melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sengaja untuk tidak memperhatikan ayat-ayat Allah sehingga akhirnya lupa.

Dan jenis yang kedua yaitu kelupaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan udzur. Yaitu yang dia tidak sengaja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ

“(Mereka berdoa): ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah’.” (QS. Al-Baqarah[2]: 286)

Dalam hadits disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan;

فَعَلْتُ

“Aku kabulkan”

Artinya adalah kelupaan yang tidak disengaja oleh seseorang yang sudah berusaha namun akhirnya dia lupa. Ini tidak disengaja. Oleh karena itu, seorang muslim dituntut untuk berusaha bersungguh-sungguh untuk menjauhkan dirinya agar tidak terjerumus dalam sifat lupa dan penyakit-penyakit sebelumnya yang tadi kita sebutkan.

5. Bermaksiat

Menit ke-32:41 Sebab yang kelima yang bisa menurunkan keimanan yaitu melakukan kemaksiatan/ terjerumus ke dalam dosa-dosa. Kita semua telah mengetahui, dan tidak samar bagi kita bahwasanya kemaksiatan sangat berpengaruh terhadap keimanan. Telah banyak atsar dari perkataan para salaf yang mengatakan bahwasanya;

الإيمان يزيد وينقص ,يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

“Iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.”

Sebagaimana seseorang tatkala melakukan keimanan, melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala baik perkara yang wajib maupun perkara yang sunnah, maka akan bertambah keimanannya dan dia merasakan hal itu.

Demikian juga jika seseorang melanggar perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, terjerumus dalam perkara-perkara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan ataupun yang makruh, maka akan menurunkan keimanannya. Akan tetapi yang perlu kita ketahui bahwasanya dosa-dosa itu bertingkat-tingkat, ada derajat-derajatnya. Demikian juga kerusakan-kerusakan juga bertingkat-tingkat. Kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh dosa itu bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkatan-tingkatan dosa-dosa tersebut.

Dosa-Dosa Besar dan Kecil

Menit ke-34:43 Syaikh menjelaskan bahwasanya kalau kita perhatikan, dosa-dosa itu terbagi menjadi dua, yaitu dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil. Dan sebagaimana hal ini ada penyebutannya dalam Al-Qur’an maupun dalam sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Di antara ayat-ayat yang menjelaskan akan adanya dosa besar dan dosa kecil, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;

إِن تَجْتَنِبُوا۟ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلًا كَرِيمًا

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An-Nisa[4]: 31)

Demikian juga dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji,” (QS. Asy-Syura[42]: 37)
Ini menunjukkan ada dosa-dosa besar dan ada dosa-dosa kecil. Hal ini juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebutkan di dalam hadits pembagian dosa. Bahwasanya ada dosa besar dan dosa kecil. Sebagaimana sebuah hadits dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam bersabda;

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa di antara keduanya selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim, no. 233c)

Ini menunjukkan bahwasanya ada dosa-dosa besar dan ada dosa-dosa kecil.

6. Jiwa Yang Buruk

Menit ke-37:44 Kemudian tadi kita telah menyebutkan tentang sebab-sebab yang timbul dari dalam diri seseorang yang bisa menurunkan keimanan seseorang. Sebab yang keenam adalah النَفْسُ الْاَمَارَاتُ بِالسُوْءِ yaitu jiwa yang mendorong kepada keburukan.

Kita tahu bahwasanya setiap manusia memiliki jiwa seperti ini. Dalam diri manusia ada jiwa yang selalu mendorongnya untuk melakukan kemaksiatan/ keburukan-keburukan. Menyuruhnya untuk terjerumus dalam hal-hal yang buruk atau bahkan menjerumuskan dia ke dalam kebinasaan. Dan inilah sifat jiwa manusia.

Oleh karena itu, seseorang tidak mungkin terselamatkan dari jiwanya yang buruk kecuali kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufik. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang perkataan إِمْرَأَةُ العَزِيْزِ (wanita yang pernah merayu Nabi Yusuf ‘Alaihissalam). Dia mengatakan,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf[12]: 53)

Dia menjelaskan bahwasanya dia memang telah melakukan kesalahan tatkala merayu Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Dan dia mengakui bahwasanya jiwanya telah menyuruh dia untuk melakukan keburukan dan tidak akan selamat kecuali yang Allah Subhanahu wa Ta’ala rahmati. Demikian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا

“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya,” (QS. An-Nur[24]: 21)

Kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan rahmat, maka semua jiwa kita akan menyeru kepada kemaksiatan/ keburukan. Demikian juga dalam hadits kita tahu khutbatul hajah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengatakan;

نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا..

“Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari keburukan-keburukan jiwa-jiwa kami.”  (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, Al-Hakim, Daud Ath-Thayalisi, Imam Ahmad, dan Abu Ya ‘la)

Artinya jiwa seseorang itu ada keburukannya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjaganya dan memberinya taufik, maka dia akan terseret dengan hawa nafsunya kepada kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Muhasabah

Menit ke-41:47 Para pendengar Radio Rodja yang Allah Subhanahu wa Ta’ala rahmati,

Syaikh menjelaskan bahwasanya perkara yang sangat bermanfaat bagi seorang hamba yaitu jika dia melakukan muhasabah. Muhasabah dirinya, menghitung-hitung (membanding-bandingkan) antara kebaikan yang pernah dia lakukan dan kemaksiatan yang telah dia lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat);” (QS. Al-Hasyr[59]: 18)

Jiwa kita telah melakukan banyak perkara. Kita timbang-timbang, lihat, dan lakukan hisab. Karena untuk persiapan di hari depan (akhirat). Kata Syaikh bahwasanya ayat ini adalah dalil akan adanya muhasabah. Seseorang hendaknya menimbang-nimbang antara kebaikan dan keburukannya.

Caranya yang pertama adalah seseorang bermuhasabah tentang perkara-perkara yang diwajibkan kepada dirinya. Apakah dia telah melaksanakan seluruh perkara yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepadanya atau tidak. Jika dia ingat ternyata ada perkara wajib yang belum dia kerjakan, maka hendaknya dia melakukannya dengan mengqadha’nya atau dengan memperbaikinya.

Kemudian dia juga menghisab diri dia tentang perkara-perkara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala larang. Selama ini, apa saja perkara-perkara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala larang yang telah dia lakukan. Jangan sampai waktu kita berlalu tanpa kita menimbang-nimbang.

Jangan sampai yang kita lihat hanya kebaikan saja. Adapun perkara yang buruk tidak pernah kita perhatikan. Kita ini terjerumus dalam keburukan juga, makanya kita hisab diri kita. Apa saja kemaksiatan-kemaksiatan yang telah kita lakukan. Kalau kita ingat ternyata ada kemaksiatan/ pelanggaran yang telah kita lakukan, maka hendaknya kita segera bertaubat dan beristighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan segera memperbanyak kebaikan agar bisa menghapuskan dosa-dosa tersebut.

Menghisab Diri Sendiri

Kemudian seorang hamba hendaknya selain bermuhasabah, juga menghisab diri dia pada perkara-perkara yang dia lalaikan. Jika dia lalai dari berdzikir, lalai untuk rajin dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hendaknya dia segera memperbaiki hal tersebut.

Lalu setelah itu dia menghisab dirinya terhadap amalan-amalan yang telah dia lakukan. Apa yang telah dia katakan, ke mana kakinya telah melangkah, apa yang telah tangannya lakukan, atau pun yang telah telinganya dengarkan. Semua amalan yang telah tubuhnya lakukan hendaknya dia cek.

Sesungguhnya amalan kebaikan yang dia lakukan itu untuk siapa? Apakah dia melakukannya ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Kemudian yang kedua, apakah amalan yang dia lakukan, baik oleh badannya, hatinya, dan seluruhnya, apakah dia lakukan sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam? Karena ketahuilah di hari kiamat kelak, akan ada pertanyaan yang timbul pada setiap amalan yang kita lakukan.

Apakah amalan yang kita lakukan, setelah capek-capek kita lakukan di atas muka bumi ini, itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala? Itu pertanyaan pertama.

Dan pertanyaan kedua, apakah yang kita lakukan itu sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam? Itulah hisab. Jadi kita menghisab diri kita agar kita bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tidak membawa banyak kerugian.

Kebanyakan orang tidak menghisab dirinya. Merasa dirinya sudah hebat atau sudah banyak amalan. Namun ternyata di hari kiamat dia sadar ternyata amalannya tidak benar dan terlalu banyak kemaksiatan yang dia lakukan dari pada kebaikan yang dia lakukan. Mengapa semua itu? Karena dia meninggalkan hisab. Dia tidak menghitung-hitung ketika masih hidup di dunia.

Selanjutnya: Faktor Dari Luar Sebab Turunnya Iman (Bag. 1)

MP3 Kajian Faktor Dari Dalam Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)

Mari turut menyebarkan tulisan tentang “Faktor Dari Dalam Sebab Turunnya Iman (Bag. 2)” ini di media sosial yang Anda miliki baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum.

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: