Hadits Tentang Tanda Seseorang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

Hadits Tentang Tanda Seseorang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

ceramah tentang gowes

Kajian Islam Ilmiyah tentang Hadits Tentang Tanda Seseorang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. Hafidzah

Hadits Tentang Akhlak
Hadits Tentang Waktu, Tinggalkan Yang Tidak Bermanfaat Bagimu
Hadits Tentang Amal: Jangan Berlebihan dan Jangan Meremehkan Amal

Kajian Islam Ilmiyah tentang Hadits Tentang Tanda Seseorang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. Hafidzahullah.

Mukaddimah Kajian Tanda Seseorang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah dan diibadahi kecuali Allah, tidak ada sekutu bagiNya dan bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala impahkan kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai akhir zaman.

Alhamdulillah, pada pagi hari ini kita dipertemukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di sebuah majelis. Setelah kita menunaikan satu ibadah yang agung yang diwajibkan kepada kita semuanya. Yaitu shalat subuh secara berjamaah. Dan di masjid Al-Ikhlas Cibinong kita dipertemukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam rangka saling mengingatkan satu dengan yang lain. Dan sangat butuhnya kita dengan peringatan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٥﴾

Hendaklah engkau berikan peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 55)

Semua orang yang beriman butuh dengan peringatan. Bbahkan orang yang shalih sekalipun, seorang ulama sekalipun, mereka butuh dengan peringatan. Dan masing-masing dari kita di dalam perjalanan panjang menuju Allah ‘Azza wa Jalla. Perjalanan panjang yang butuh dengan bekal yang banyak. Dan di samping kiri dan juga kanan jalan tersebut banyak rintangan, banyak gangguan. Yang apabila seseorang tidak berhati-hati di dalam perjalanan tersebut, bisa dia menyimpang. Sehingga akhirnya dia tidak sampai kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka butuh seseorang di dalam kehidupan dunia ini kepada peringatan, kepada nasihat untuk menetapi jalan yang lurus yang menyampaikan dia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

InsyaAllah beberapa menit kedepan, sesuai dengan waktu yang diberikan kepada kita, kita akan bersama-sama merenungi sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan juga Muslim. Dari Muawiyah Ibnu Abi Sufyan. Dan hadits ini sering disebutkan oleh para Dai, para ustadz, para ulama, para masyaikh, ketika mereka membahas tentang keutamaan menuntut ilmu agama. Yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan jadikan dia paham tentang agamanya.”

Ini adalah hadits yang insyaAlalh bersama-sama –biidznillah– kita akan merenungi kandungan-kandungan dan juga faidah yang ada di dalam hadits ini. Dan senantiasa para ulama Rahimahumullah berusaha untuk mengambil faidah dari hadits- hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Demikian pula dari Al-Qur’an. Karena memang tujuan utama Al-Qur’an diturunkan, demikian pula hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai kepada kita adalah untuk kita pahami. Dan kita ambil hikmah dan faidahnya. Bukan hanya sekedar dibaca atau hanya sekedar dihafal atau hanya sekedar mempelajari tajwidnya atau hanya sekedar diperlombakan. Tujuan utamanya -diantaranya- adalah untuk memahami isinya. Maka hadits yang pendek ini, ternyata kita renungi, banyak faidah yang bisa kita ambil.

Derajat Hadits

Hadits ini -sekali lagi- diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim. Dan menunjukkan keshahihan hadits ini dan tidak diragukan lagi bahwa dia adalah hadits yang shahih. Bahkan dia mencapai derajat yang paling tinggi di dalam keshahihan. Apabila hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim, maka ini mencapai derajat yang paling tinggi di dalam kesahihan.

Para ulama menyebutkan derajat-derajat hadits yang shahih. Yang paling tinggi adalah yang muttafaqun ‘alaih (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Kemudian derajat yang kedua adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari saja. Derajat yang ketiga, diriwayatkan oleh Imam Muslim saja. Derajat yang keempat, hadits yang memiliki syarat sama dengan yang dimiliki oleh Al-Imam Al-Bukhari dan seterusnya.

Muawiyah bin Abi Sufyan

Muawiyah bin Abi Sufyan adalah salah seorang sahabat yang mulia di antara sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Bapak beliau juga seorang sahabat Radhiyallahu ‘Anhuma. Beliau mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan pahamkan dia tentang agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Faidah-Faidah Hadits

1. Bahwa seluruh perkara adalah dengan kehendak Allah

9:12 Tidak terjadi sesuatu di dunia ini (bergerak dan juga diamnya) kecuali dengan kehendak Allah. Tidak mungkin terjadi sesuatu di dunia ini (yang baik maupun yang buruk) kecuali dengan kehendak Allah. Termasuk diantaranya pemahaman seseorang terhadap agamanya. Diambil dari apa? Yaitu dari Sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, Allah akan menjadikan dia paham tentang agamanya.”

Orang bisa paham dengan agamanya, apabila dikehendaki oleh Allah. Dan orang tidak paham tentang agamanya, ketika dikehendaki oleh Allah. Jadi seseorang paham dengan kehendak Allah dan orang tidak paham juga dengan kehendak Allah. Berarti seluruh perkara di tangan siapa? Di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Antum belajar, kalau Allah tidak menghendaki antum paham, maka antum tidak akan paham, meskipun antum ingin paham. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, Allah akan menjadikan dia paham tentang agamanya.” Berarti seluruh perkara adalah dengan masyiatullah. Termasuk diantaranya pemahaman seseorang.

Berkata Imam Syafi’i Rahimahullah yang meninggal pada tahun 204 hjriyah didalam sebuah baitnya. Beliau mengatakan:

مَا شِئْتَ كَانَ، وإنْ لم أشَأْ, وَمَا شِئْتُ إن لَمْ تَشأْ لَمْ يكنْ.

“Ya Allah apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi, meskipun aku tidak menghendakinya. Dan apa yang aku kehendaki apabila Engkau tidak menghendakinya maka tidak akan terjadi.”

Semua perkara adalah ditangan Allah, dengan masyi’atullah dan iradatullah. Termasuk didalamnya pemahaman terhadap agama. Tidak mungkin seseorang bisa memahami agamanya kecuali apabila diberikan taufiq oleh Allah ‘Azza wa Jalla,  diberikan kemudahan, dikehendaki untuk bisa memahami agamanya. Dan ini adalah aqidah dan juga keyakinan yang penting.

Khususnya para penuntut ilmu agama. Harus kita tancapkan di dalam hati kita keyakinan yang kuat bahwasannya tidak mungkin saya paham kecuali apabila dikehendaki oleh Allah.

Karena kalau ini kita tancapkan di dalam hati kita, maka nanti akan berkembang dengan kebaikan-kebaikan yang lain. Tidak mungkin seseorang bisa paham kecuali apabila diajarkan oleh Allah dan kehendak oleh Allah dia paham. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

…وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّـهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا ﴿١١٣﴾

Dan Dialah Allah yang telah mengajarkan kepadamu (wahai Muhammad) sesuatu yang sebelumnya engkau tidak tahu. Dan sesungguhnya anugerah dari Allah kepadamu adalah anugerah yang besar.” (QS. An-Nisa[4]: 113)

Nikmat, seseorang tidak tahu kemudian diberitahu oleh Allah. Sebelumnya dia jahil kemudian diajarkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Nikmat yang besar. Dan Allah mengatakan:

الرَّحْمَـٰنُ ﴿١﴾ عَلَّمَ الْقُرْآنَ ﴿٢﴾

Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah Ar-Rahmah yang telah mengajarkan Al-Qur’an.” (QS. Ar-Rahman[55]: 1-2)

Dan tadi dibacakan oleh Imam Hafidzahullah ketika Allah menceritakan tentang Nabi Isa ‘Alaihis Salam.

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ ﴿٤٨﴾

Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengajarkan kepada Nabi Isa Al-Kitab dan juga hikmah, taurat dan juga injil.” (QS. Ali-Imran[3]: 48)

Yang mengajarkan adalah Allah. Tidak mungkin seseorang bisa mendapatkan ilmu kecuali apabila dikehendaki oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

2. Bertawakal dan beristi’anah kepada Allah

16:09 Kalau kita sudah tahu bahwasannya seseorang bisa paham tentang agamanya apabila Allah menghendaki, maka faidah yang kedua, hendaklah seseorang di dalam menuntut ilmu, bertawakal dan beristi’anah kepada Allah.

Kalau sudah tahu Allah Dialah yang mengajarkan, kalau tidak diajarkan oleh Allah tidak mungkin kita bisa tahu, berarti kita tawakal dan memohon pertolongan hanya kepada Allah. Merendahkan diri kita kepada Allah dan yakin bahwasanya manfaat dan juga mudharat di tangan Allah.

Dan jangan dia bertawakal kepada dirinya sendiri. Sebagian orang belajar, tapi dia tertipu dengan kecerdasannya. (Misalnya seseorang mengatakan): “Saya juara terus dari SD sampai SMA, saya membaca setiap hari 100 halaman, saya bisa menghafal dalam 5 menit, setengah halaman dari Al-Qur’an.” Tertipu dengan kecerdasannya dan lupa bahwasannya yang telah memudahkan dia untuk melakukan itu semua adalah Allah. Kalau Allah tidak menghendaki tidak mungkin dia mendapatkan yang demikian.

Maka faidah yang kedua, seseorang di dalam menuntut ilmu tidak lupa dia bertawakal hanya kepada Allah. Antum datang ke sini dan mendengarkan sebuah nasihat, maka kita bertawakal kepada Allah. Tidak mungkin saya bisa paham kecuali apabila dipahamkan oleh Allah. Maka bertawakalnyabukan kepada diri sendiri, tetapi bertawakalnya hanya kepada Allah.

…وَعَلَى اللَّـهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿٢٣﴾

Hendaklah kalian hanya bertawakal kepada Allah kalau kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah[5]: 23)

Bukan bertawakal kepada kecerdasannya, kepada kepandaiannya. Barangsiapa yang bertawakal kepada sesuatu, maka dijadikan dia bergantung kepada sesuatu tersebut. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Allah mengatakan:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّـهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah lah yang akan memberikan kecukupan.” (QS. At-Talaq[65]: 3)

Dan inilah yang sering dinasihatkan oleh sebagian guru kami di sana, di kota Madinah. Beliau sering menasihatkan kepada muridnya.

Antum, bagaimanapun Antum mahir, menguasai dalam satu bidang (mungkin sudah belajar puluhan tahun, sudah mengajar berkali-kali, sudah hafal di luar kepala), maka jangan lupa terus meminta pertolongan kepada Allah. Tidak mungkin engkau bisa menyampaikan ilmu, membaca Al-Qur’an, kecuali apabila Allah memudahkan dirimu. Allah mampu dalam satu waktu langsung mengambil ilmu yang ada pada kita. Sewaktu-waktu diambil ilmu tersebut dari hati kita sehingga tiba-tiba kita lupa. Allah bisa untuk melakukannya.

Maka seseorang senantiasa minta kepada Allah, bagaimana pun dia mahir, dia seorang pengajar, dia seorang dosen, dia seorang Dai, dia seorang qari’, jangan dia meremehkan, tidak perlu saya murojaah, tidak perlu saya mengulang kembali, di luar kepala dan seterusnya. Terus seseorang beristi’anah kepada Allah.

3. Berdoa kepada Allah meminta supaya dipahamkan di dalam ilmu agama

20:58 Kalau kita sudah tahu bahwasannya Allah yang menghendaki seseorang paham atau tidak, maka hendalah dia meminta kepada Allah supaya diberikan tambahan ilmu agama. Didalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, diantara dzikir yang disunnahkan setelah shalat subuh adalah ucapan beliau:

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, dan rezeki yang baik dan amalan yang diterima.” (Musnad Imam Ahmad, 6/322; Sunan Ibnu Majah, no. 925)

Ini disunnahkan setelah shalat subuh, termasuk dia adalah diantara dzikir-dzikir yang dibaca setelah shalat subuh. Diawal hari, kalau kita membaca dzikir ini, insyaAllah kita dapat kebaikan yang banyak. Tiga perkara yang penting dalam kehidupan kita:

Ilmu yang bermanfaat

Pertama, ilmu yang bermanfaat. Jadi setiap hari seseorang meminta kepada Allah ilmu yang bermanfaat. Menunjukkan bahwasannya seseorang bergelut dengan ilmu/belajar itu setiap hari. Meminta kepada Allah setiap hari ilmu yang bermanfaat. Kalau dia tidak menghadiri majelis seperti ini, membaca sendiri di rumah. Sempatkan diri untuk membaca. Jangan malas membaca. Termasuk diantaranya membaca Al-Qur’an, mempelajari isinya, ini termasuk Tholabul Ilmi.

Kemudian yang kedua rezeki yang baik dan yang ketiga meminta kepada Allah amalan yang diterima. Diantara tiga hal ini, yang pertama kali disebutkan oleh Nabi adalah ilmu yang bermanfaat. Berarti ilmu lebih penting daripada yang lain. Meminta kepada Allah ilmu yang bermanfaat. Dan di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh NabiNya:

…وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا ﴿١١٤﴾

Berdoalah (wahai Muhammad): ‘Wahai Rabbku, tambahkan kepadaku ilmu.’” (QS. Tha-ha[20]: 114)

Para ulama mengatakan, Allah tidak menyuruh NabiNya meminta satu tambahan kecuali tambahan didalam masalah ilmu. Tidak menyuruh NabiNya meminta tambahan dunia, tambahan kekuasaan, tambahan jabatan, tapi menyuruh NabiNya untuk meminta tambahan ilmu.

Oleh karena itu (faidah) yang ketiga, pentingnya seseorang ketika dia menuntut ilmu agama berdoa kepada Allah supaya diberikan oleh Allah pemahaman di dalam agamanya.

4. Senang bermajelis ilmu

24:52 Diantara faidah yang bisa bisa kita ambil dari hadits ini, bahwa seseorang apabila mendapatkan hatinya senang menuntut ilmu (ketika mendengar ada kajian, senang hatinya, saya akan mendapatkan ilmu, saya akan mendengar firman Allah, saya akan mendengar hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, akan bertambah keimanan saya, saya akan mengetahui yang halal dan saya akan mengetahui yang haram) senang dirinya dengan majelis ilmu, maka ketahuilah semoga ini adalah tanda bahwasanya Allah menginginkan kebaikan pada diri kita.

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan jadikan dia paham tentang agamanya.”

Jadi barangsiapa yang mendapatkan dirinya senang bermajelis ilmu, tambahan ilmu dan ingin mengamalkan isinya, maka hendaklah seseorang husnudzan (berbaik sangka) kepada Allah bahwa Allah menghendaki kebaikan pada dirinya. Berdasarkan hadits ini: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya maka akan dijadikan dia paham tentang agamanya.”

Dan kebaikan di sini adalah kebaikan dunia maupun kebaikan di akhirat. Karena orang yang menempuh jalan ilmu kemudian dia paham tentang agamanya, ketahuilah bahwasanya dia akan mendapatkan kebaikan yang banyak di dunia maupun dia akhirat. Orang yang paham tentang agamanya, maka dia akan mendapatkan kebaikan yang banyak.

Kebaikan di dunia

Karena orang yang belajar, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat derajatnya.

يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu di antara kalian.” (QS. Al-Mujadilah[58]: 11)

Meskipun seseorang pada asalnya dia adalah seorang yang hina, tidak dipandang oleh orang lain. Tetapi ketika diketahui dia adalah orang yang berilmu, diangkat derajatnya oleh Allah.

Di zaman Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, ada seorang budak. Umar bin Khattab saat itu sebagai seorang Khalifah. Kemudian bertemu dengan gubernur Mekah yang saat itu sedang berada di luar kota Mekah. Maka Umar sebagai seorang khalifah bertanya kepada Gubernurnya. Siapa yang engkau angkat menjadi penggantimu ketika engkau keluar meninggalkan kota Mekah? Maka Gubernur ini mengatakan: “Ibnu Abza”. Umar mengatakan, “Siapa Ibnu Abza yang engkau tunjuk sebagai sementaramu?” Maka dia mengatakan, “Dia adalah seorang budak di antara budak-budak.” Maka Umar heran, “bagaimana engkau mengangkat pengganti sementara dari kalangan budak?” Kita tahu bahwasannya seorang budak atau hamba sahaya berbeda dengan orang yang merdeka. Seorang budak atau hamba sahaya adalah bagian dari harta seseorang, bisa dijual, bisa dihadiahkan dan seandainya itu adalah budak wanita maka boleh didatangi, halal baginya.

إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ

Yang dihalalkan bagi seseorang adalah istrinya dan juga budak atau hamba sahaya. (QS. Al-Mu’minun[23]: 6)

Kedudukan seorang budak adalah harta bagi seseorang. Maka Umar bin Khattab megatakan, “Bagaimana engkau mengangkat penggantimu sementara di sana adalah seorang budak.”

Maka Gubernur ini mengatakan:

إنه قارئ لكتاب الله عـز وجل، وإنه عالـم بالفرائض

“Sesungguhnya budak ini adalah orang yang hafal Al-Qur’an (30 juz)” Padahal dia adalah seorang budak, tapi dia punya keimanan, dia punya semangat untuk belajar, mungkin mengalahkan banyak orang yang merdeka. Banyak orang yang merdeka tidak hafal. Tapi dia meskipun seorang budak, dia punya semangat untuk menghafal Al-Qur’an,  dia belajar.

“Dan dia adalah orang yang paham tentang masalah ilmu waris.” Ilmu, banyak orang yang tidak memahaminya. Kalau kita tanya yang hadir di sini, sebagian besar kita tidak paham ilmu waris. Padahal ini ilmu yang penting. Setiap hari ada orang yang meninggal dan banyak orang yang perlu tentang ilmu ini. Apalagi masalah harta, ini masalah yang sensitif. Tapi banyak di antara manusia yang tidak memahaminya. Tapi budak ini, dia belajar ilmu waris. Karena Allah sendiri yang telah membagi harta bagi ahli waris di dalam Al-Qur’an. Suami haknya demikian, istri haknya demikian, anak haknya demikian, orang tua haknya demikian. Dia pelajari sehingga dia bisa menguasai. Oadahal dia seorang budak. Karena dia paham tentang Al-Qur’an, tentang ilmu waris, akhirnya Gubernur ini mengangkat dia sebagai seorang pengganti sementara. Dia tinggalkan banyak orang yang merdeka karena Allah Suhanahu wa Ta’ala telah mengangkat derajat budak ini dengan ilmu yang dia miliki. Kemudian Umar bin Khattab ingat tentang hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Umar mengatakan: “Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah mengangkat dengan kitab ini (yaitu dengan Al-Qur’an) beberapa kaum” Diantaranya adalah kejadian ini. Seorang budak diperintahkan, disuruh, ,dijual tapi karena dia memiliki Al-Qur’an dan dia mengetahui tentang faraid, diangkat derajatnya oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ini baru satu kebaikan di dunia.

Kebaikan yang lain, orang yang paham tentang agamanya maka dia berjalan di dunia ini diatas ilmu, diatas cahaya dari Allah. Dia berjalan di dunia ini dalam keadaan dia yakin, bukan dalam keadaan bingung. Berbeda dengan orang yang tidak paham tentang agamanya. Orang yang paham tentang agamanya, dia punya pedoman. Pedoman Al-Qur’an, pedoman sunnah. Kejadian apa saja yang menimpa dia, dia tahu apa yang harus dilakukan. Kalau misalnya terjadi musibah, ini yang saya lakukan. Kalau saya mendapatkan kenikmatan, ini yang saya lakukan. Kalau saya berdosa, ini yang saya lakukan. Kalau saya bertemu dengan orang dewasa atau orang yang lebih tua, ini yang saya lakukan. Saya bertemu dengan anak kecil, ini yang saya lakukan. Kalau saya punya tetangga, hak ini yang harus saya tunaikan. Saya memiliki orang tua, hak ini yang harus saya tunaikan. Saya menikah dan berkeluarga, maka kewajiban sebagai seorang suami demikian dan seterusnya.

Setiap perkara, dia kembali kepada pedomannya, yaitu kepada Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga dia berjalan di permukaan bumi dalam keadaan tenang, tahu pedoman. Berbeda dengan orang yang tidak mau belajar agama, hidup di dunia dalam keadaan dia bingung, tidak tahu apa yang dilakukan. Ketika terkena musibah, cepat sekali dia menggerutu. Ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dia, mudah sekali dia marah. Ketika dia mendapatkan kenikmatan, dia lupa kepada Allah, tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hartanya. Makanya ِAllah mengatakan:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Apakah sama antara orang yang tahu dengan orang yang tidak tahu?” (QS. Az-Zumar[39]: 9)

Pertanyaan yang isinya adalah pengingkaran, nggak akan sama. Orang yang belajar, dia akan mendapatkan kebaikan di dunia sebelum di akhirat.

Kata خَيْرًا (kebaikan) pada hadits ini mencakup kebaikan dunia dan juga kebaikan akhirat. Kebaikan akhirat banyak. Sekarang kalau orang paham tentang agamanya, dia mengetahui yang halal (juga) mengetahui yang haram, mengetahui mana yang wajib dan mana yang sunnah. Kalau dia mengetahui yang wajib, maka dia bisa melaksanakan kewajiban tersebut dan dia bisa selamat dari dosa karena dia melaksanakan kewajiban. Tapi kalau orang yang tidak belajar, dia tidak tahu bahwasanya ini adalah perkara yang wajib sehingga dia tinggalkan.

Orang yang belajar agama adalah mempelajari mana yang haram sehingga dia menjauhi perkara yang haram tersebut. Ini tidak boleh, ini makruh, ini diharamkan, maka dia bisa meninggalkan. Tapi orang yang tidak belajar, dia tidak mengetahui hadits ini yang menunjukkan tentang keharaman perilaku ini. Bahkan terkadang dia memusuhi orang yang mengamalkannya karena dia tidak mengetahui ilmunya. Yang seharusnya dicintai karena dia melaksanakan sunnah, justru dibenci. Yang seharusnya dia amalkan, justru dia tinggalkan.

Kalau seseorang selama di dunianya tahu yang halal dan diamalkan, tahu itu wajib dan diamalkan, mempelajari yang haram kemudian dia tinggalkan sampai dia meninggal dunia, apa yang terjadi dihari kiamat? Tentunya kebaikan yang banyak bagi seseorang. Dia akan mendapatkan pahala yang besar, diantaranya adalah masuk kedalam surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah buah dari ilmu.

Jadi -sekali lagi- bahwa kebaikan di sini adalah kebaikan di dunia maupun di akhirat. “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan jadikan dia paham tentang agamanya.”

5. Jika kita malas menuntut ilmu

38:53 Apabila kita melihat bahwasanya kita malas untuk menghadiri majelis ilmu, maka segera kita mengoreksi diri kita. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, Allah jadikan dia paham tentang agamanya.” Berarti seperti yang disampaikan dalam faidah yang ke-4 tadi, orang yang semangat untuk menuntut ilmu, dia harus husnudzan bahwasannya Allah menghendaki kebaikan pada dirinya. Sebaliknya kalau kita dapatkan diri kita malas atau kita membenci majelis ilmu atau tidak senang melihat orang-orang belajar, maka hendaklah dia memperbanyak istighfar dan mengoreksi dirinya. Mungkin karena dosa-dosa yang dia lakukan, sehingga perasaan-perasaan ini ada pada dirinya, menjadikan hatinya berat untuk menghadiri majelis ilmu.

6. Allah akan menjadikan dia paham tentang agamanya

Ucapan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Allah akan menjadikan dia paham tentang agamanya” Yang dimaksud dengan “paham tentang agamanya” di sini adalah memahami agamanya baik berupa pondasi agama ini maupun cabang-cabangnya. Karena yang tersebar bahwasannya fiqih adalah yang berkaitan dengan hukum-hukum. Fiqih tentang puasa, fiqih tentang thaharah, fiqih tentang shalat, fiqih tentang haji, ini adalah istilah. Dan yang dimaksud oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di sini “dijadikan dia faqih (paham)” bukan hanya paham tentang masalah puasa, shalat, thaharah saja, tapi yang dimaksud adalah paham tentang agama secara umum. Mencakup didalamnya paham tentang aqidah dan justri ini yang paling penting, lebih penting daripada fiqih. Seseorang mempelajari dan memahami aqidahnya. Demikian pula memahami cabang-cabang didalam agama ini. Maka kalimat “Allah akan menjadikan dia paham tentang agamanya” ini mencakup semuanya.

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, dijadikan dia paham tentang agamanya. Diantaranya adalah tentang masalah aqidah. Bahkan inilah ilmu yang paling utama dibandingkan ilmu-ilmu yang lain. Lebih utama daripada ilmu fiqih, lebih utama daripada akhlak, lebih utama daripada muamalah. Kalau aqidah seseorang benar, maka cabang-cabang yang lain akan benar. Dan ini adalah dorongan bagi kita untuk mempelajari ilmu aqidah, ilmu tauhid sebelum ilmu-ilmu yang lain.

Al-Imam Abu Hanifah Rahimahullah mengarang sebuah kitab AlFiqh AlAkbar. Kitab ini adalah tentang masalah aqidah, tapi beliau menamakan kitab aqidah ini dengan fiqh. Karena makna al-fiqh adalah pemahaman dan masuk didalamnya adalah pemahaman tentang masalah aqidah.

7. Yang paling penting didalam belajar adalah pemahaman

Yang paling penting didalam belajar adalah pemahaman. Jadi ilmu bukan hanya sekedar menghafal dan bukan hanya sekedar membaca. Tetapi lebih penting dari itu adalah memahami apa yang kita baca dan memahami apa yang kita dengarkan. Makanya beliau (Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) mengatakan: “Dijadikan dia paham tentang agamanya” Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an menyuruh kita untuk mentadabburi, memahami apa isi Al-Qur’an. Allah mengatakan:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا ﴿٢٤﴾

Kenapa mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Ataukah di dalam hati mereka ada penutup?” (QS. Muhammad[47]: 24)

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ﴿٢٩﴾

 “Sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, dan dia adalah berbarokah supaya mereka mentadaburi ayat-ayatnya.” (QS. As-Shad[38]: 29)

Jadi kitab diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tujuannya adalah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya. Apa yang dimaksud dengan mentadabburi? Bukan hanya sekedar dibaca atau sekedar dihafal atau hanya kita semangat mempelajari tajwidnya. Tapi lebih penting daripada itu kita berusaha untuk memahami isi dari Al-Qur’an. Jadi maksud kita belajar adalah memahami, bukan hanya sekedar menghafal.

Penutup Tanda Seseorang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

Baik, itu yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga apa yang sedikit dari hikmah-hikmah yang bisa kita ambil dan juga faidah-faidah yang bisa kita ambil dari hadits ini bisa kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari dan membawa kebaikan bagi kita baik dalam kehidupan agama kita maupun dalam kehidupan dunia kita. Wallahu Ta’ala A’lam..

47:08 Sesi tanya jawab..

Sumber Kajian Hadits Tanda Seseorang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: