Keutamaan Akhlak Mulia

Keutamaan Akhlak Mulia

ceramah tentang gowes

Berikut pembahasan "Keutamaan Akhlak Mulia" yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq Al Badr Hafidzahullahu Ta'ala. A. Mukaddimah Pidato Ag

Hadits Tentang Akhlak
Senyum Adalah Ibadah
Cara Mendapatkan Akhlak Mulia

Berikut pembahasan “Keutamaan Akhlak Mulia” yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq Al Badr Hafidzahullahu Ta’ala.

A. Mukaddimah Pidato Agama Islam Tentang Akhlak: Cara Mendapatkan Akhlak Mulia

B. Keutamaan Akhlak Mulia

Dan Syaikh Rahimahullaahu Ta’ala memulai dengan perkataan beliau bahwa diantara hal-hal yang sangat mulia dan faedah daripada husnul khuluq (akhlak yang baik) adalah:

1. Patuh dan Taat Kepada Perintah Allah dan RasulNya

Mencontoh akhlak Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang luar biasa. Dan sesungguhnya ini mengikuti perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala dan perintah RasulNya dan mencontoh akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang luar biasa. Dan sesungguhnya di dalam husnul khuluq adalah ibadah yang luar biasa, yang membutuhkan waktu yang sangat panjang dari seorang hamba dan dia berada di dalam sebuah hal yang sangat nikmat, hal yang sangat penuh dengan kedamaian bersamaan dengan pahala yang sangat besar yang dia dapatkan.

Di dalam kalimat ini, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyebutkan kepada kita beberapa keutamaan berakhlak mulia. Yang pertama, orang yang berakhlak mulia itu patuh dan taat kepada perintah Allah dan RasulNya. Karena Allah yang memerintahkan dia untuk melakukan itu. Dan Allah yang menganjurkan manusia untuk berakhlak mulia dan Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyebutkan hadits-hadits yang sangat banyak di dalam anjuran untuk berakhlak mulia. Yang kedua, orang yang berakhlak mulia, dia mencontoh dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengamalkan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا ﴿٢١﴾

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang sangat baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)

Betapa banyak kemuliaan bagi seorang Muslim yang mengetahui akhlak yang mulia dan kemudian dia berusaha mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang beliau adalah imamnya orang-orang yang berakhlak mulia.

2. Selalu dalam keadaan ibadah kepada Allah

Di antara manfaat yang disebutkan oleh beliau bahwasanya seorang Muslim ketika dia berakhlak dengan akhlak yang mulia, dia selalu dalam keadaan ibadah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, dia selalu dalam keadaan bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana orang bertaqarrub kepada Allah dengan shalat, dengan puasa, dengan zakat. Maka orang berakhlak mulia pun sedang bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ibadah adalah sebuah nama yang mencakup seluruh yang dicintai oleh Allah dan diridhai oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dari perkataan, perbuatan yang dzahir atau yang batin.

Di antara amalan-amalan ibadah itu adalah akhlak yang mulia, akhlak yang baik. Dan orang yang berakhlak mulia dan mengamalkan akhlak mulia dalam kehidupannya, hari-harinya selalu dalam keadaan ibadah, hari-hari selalu dalam keadaan mendekatkan diri kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala yang dengannya ia akan mendapatkan kemuliaan-kemuliaan yang sangat banyak.

Ketahuilah saudaraku, akhlak mulia menuntut anda untuk mengamalkannya dalam waktu yang sangat panjang. Waktu yang sangat panjang menuntut adanya pahala yang sangat besar. Seorang yang berakhlak mulia, maka dia harus latihan setiap saat. Dirinya dilatih setiap saat untuk berakhlak mulia didalam muamalah bersama manusia. Dia harus pandai bagaimana hidupnya dalam kondisi akhlak yang sangat hebat. Dan itu membutuhkan waktu yang sangat panjang. Setiap dia bermuamalah bersama manusia, dia selalu berakhlak mulia sehingga waktu dia untuk mengamalkan ibadah ini adalah waktu yang sangat panjang.

Oleh karena itu saudaraku, ketika Nabi ditanya tentang ibadah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga, Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

تَقْوى اللَّهِ وَحُسنُ الخُلُق

“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Kemudian Nabi juga mengatakan:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku tempatnya pada hari kiamat adalah yang terbaik akhlaknya diantara kalian” (HR At-Tirmidzi)

Dan hadits-hadits dalam masalah ini sangatlah banyak.

3. Dicintai Orang Lain

Di antara keutamaan akhlak yang mulia kata beliau adalah bahwasanya akhlak mulia ini membuat orang yang memiliki akhlak mulia ini dicintai oleh orang yang ada hubungan kerabat dan orang yang jauh. Dan disukai oleh musuh dan menjadikan musuhnya menjadi sahabatnya. Dan menjadikan orang yang jauh darinya menjadi orang yang dekat dengannya yang dengannya seorang da’i apabila berakhlak mulia, maka akan dicintai oleh orang-orang sekitarnya, akan dicintai oleh orang-orang yang tidak ada hubungan kekerabatan dengannya, apalagi oleh orang-orang yang dekat dengannya yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Bahkan dicintai oleh sahabat, juga dicintai oleh musuh-musuhnya. Karena husnul khuluq (akhlak yang mulia) membuat pelakunya dicintai oleh manusia dan manusia mencintai orang yang bermuamalah dengan akhlak yang baik.

Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berusaha untuk bagaimana jiwa kita ini kita didik untuk berakhlak mulia.

Dan di antara yang paling penting adalah bahwasanya orang yang berakhlak mulia itu harus ditanamkan akhlak mulia itu pada dirinya pada saat dia mengajar, pada saat dia mentarbiyah, pada saat dia berdakwah. Dan hendaklah menjadi kebiasaannya husnul khuluq tersebut.

Oleh karena itu beliau mengatakan bahwa dengannya seseorang da’i kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala yang mengajarkan kebaikan kepada manusia dakwahnya, dan hendaklah dia bisa mengumpulkan manusia kepadanya dengan hati mereka yang mencintai dia. Dan kemudian mereka siap untuk menerima dakwah disebabkan adanya sebab yang membuat itu dan adanya hal yang tidak menghalangi manusia untuk menerima dakwahnya.

Maksudnya adalah bahwa seseorang da’i apabila dia berakhlak mulia, ada hal yang menyebabkan ia dicintai orang dengan akhlaknya yang mulia, dengan tutur katanya yang sopan, dengan budi pekertinya yang mulia. Dan ada hal yang membuat manusia tidak terhalang untuk menerima dakwahnya. Maksudnya adalah bahwa dia jauh dari sifat marah, dia jauh dari murka, kata-kata yang kasar, kalimat-kalimat yang tidak baik tidak keluar dari dirinya. Sehingga tak ada halangan bagi orang untuk mendekat kepadanya dan mencintainya.

Oleh karena itu hendaknya kita berusaha menjadi orang yang berakhlak mulia sebagaimana dikatakan Allah tentang NabiNya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّـهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Disebabkan rahmat Allah yang Allah berikan kepada engkau, engkau bisa berlemah-lembut kepada manusia. Seandainya engkau adalah orang yang kasar maka manusia di sekelilingmu akan lari daripadamu.” (QS. Ali-Imran[3]: 159)

4. Akhlak Yang Baik Memberikan Kebahagiaan

Berkata Rahimahullah: Dan khusnul khuluq itu sebenarnya adalah sebuah kebaikan yang boleh jadi melebihi sebuah kebaikan apabila seseorang berbuat baik dengan harta. Beliau berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kalian tidak akan mungkin membuat manusia bahagia dengan harta kalian, akan tetapi buatlah manusia bahagia dengan akhlak yang baik. Dan sesungguhnya apabila seseorang berkumpul padanya dua kebaikan ini, sempurna. Dia berbuat baik kepada manusia dengan hartanya dan dia berbuat baik kepada manusia dengan akhlaknya, ini kesempurnaan.

Akan tetapi ketika dia tidak mampu berbuat baik kepada manusia, bermuamalah yang luar biasa kepada manusia dengan hartanya, maka setidak-tidaknya bahwa dia selalu bermuamalah kepada manusia dengan akhlak yang mulia. Sehingga manusia memiliki dua kesempurnaan, kesempurnaan dari harta dan kesempurnaan dari akhlak. Kondisinya, hartanya dia infakkan dan perkataan dia penuh dengan kemuliaan. Inilah kesempurnaan yang luar biasa seandainya bisa didapatkan oleh seseorang.

Manusia ketika mendapatkan seseorang yang akhlaknya baik, maka mereka akan betah dengan orang yang baik tersebut. Karena orang yang baik itu bisa berakhlak mulia, merasa lapang, karena akhlak mulia itu sendiri kelapangan. Akhlak yang mulia itu membuat jiwanya lapang. Dan akhlak mulia itu jiwa yang lapang yang keluar kepada manusia dengan kelapangan pula. Maka jiwa orang yang berakhlak mulia yang lapang, telah membuat akhlaknya lapang pula dan melapangkan kehidupan manusia.

Akhlak yang mulia terkadang perlu diperhatikan bahwa orang yang berinfak dengan hartanya, terkadang tidak mampu untuk melakukan apa yang dilakukan oleh manusia yang berakhlak mulia. Banyak sekali kejadian-kejadian yang bisa kita buktikan bahwa orang yang memberikan hartanya kepada manusia, akan tetapi ketika dia tidak berakhlak mulia, diapun tidak dicintai oleh manusia lainnya. Orang tidak suka kepadanya, bahkan ada sebagian orang yang menolak harta dari orang ingin memberikan harta kepadanya. Padahal dia membutuhkan harta itu. Ini karena orang yang memberikan harta kepadanya memberikan dengan su’ul khuluq (akhlak yang buruk). Dia butuh tapi dia tolak. Karena orang yang memberikan harta kepadanya, akhlaknya tidak baik ketika memberikan harta itu. Ini menunjukkan kepada kita pentingnya akhlak yang mulia.

Dan saya ingin menyampaikan bahwa sembari kita melanjutkan bacaannya buku ini, sebuah kitab kecil ini, saya ingin menyampaikan sesuatu. Yaitu bahwa tulisan ini dikarang oleh beliau dan beliau adalah orang yang sangat luar biasa akhlaknya. Ini dibuat oleh seorang lelaki yang mashur dengan akhlak yang mulia. Seorang lelaki yang diberikan oleh Allah kelebihan kepadanya dengan akhlak-akhlaknya yang luar biasa, dengan adab-adabnya yang luar biasa, muamalah-muamalahnya yang luar biasa. Itu diketahui oleh semua orang yang bermuamalah dengannya. Diketahui oleh orang-orang yang berjumpa dengannya dan diketahui oleh orang-orang yang tidak berjumpa dengannya namun membaca biografi kehidupannya. Ini perlu untuk antum ketahui bahwa yang mengarang ini adalah seorang lelaki yang luar biasa akhlaknya, orang yang selalu mengamalkan khusnul khuluq dalam kehidupannya. Dan dia memiliki sejarah-sejarah yang banyak dan orang-orang banyak menyaksikan kemuliaan akhlaknya. Jadi dia bukan datang dari seorang lelaki yang lemah akhlaknya. Akan tetapi dia adalah orang yang sangat luar biasa akhlaknya. Sehingga beliau mendapatkan kecintaan manusia kepadanya. Dan orang suka kepadanya dalam kehidupannya bahkan setelah wafatnya. Ini perlu kita ingatkan supaya bertambah semangat kita untuk memperhatikan dan membaca kesimpulan dari pada akhlak mulia ini.

Kalau seandainya ada waktu yang lapang, bisa saja saya akan ceritakan kepada antum berita-berita dan kabar-kabar tentang akhlak mulia beliau ini. Dari cerita-cerita yang diriwayatkan di dalam kitab-kitab, di dalam biografi-biografi beliau tentang bagaimana akhlak mulia beliau yang luar biasa. Dan kalau ana sampaikan ini kepada antum, antum akan melihat hal yang sangat menakjubkan dan bagaimana Allah telah memuliakan lelaki ini dengan akhlak yang sangat mulia.

5. Mendapatkan Ilmu-Ilmu Yang Sangat Banyak

Berkata juga beliau Rahimahullahu Ta’ala, dengan akhlak yang mulia, dengan jiwa yang tenang dan jiwa yang damai, seseorang bisa dengannya mendapatkan ilmu. Yang dia bisa mungkin untuk menguasai ilmu itu dengan akhlaknya yang mulia. Sehingga dia mendapatkan ilmu-ilmu yang sangat banyak dan dia bisa berpikir untuk mendapatkan ilmu tersebut.

Maksud dari pada perkataan beliau (Syaikh Abdurrahman As-Sa’di) ini, adalah seorang penuntut ilmu butuh akhlak yang mulia. Didalam menuntut ilmu, dia sangat membutuhkan akhlak yang mulia itu. Bagaimana mungkin tidak? Dia membutuhkan ilmu, dia membutuhkan pelajaran, ilmu dan pelajaran itu tidak dia dapatkan kecuali kalau dia berakhlak mulia. Maka diantara kemuliaan akhlak mulia adalah bahwa orang yang berakhlak mulia mudah baginya untuk mendapatkan ilmu-ilmu syariat.

Dan diantara akhlak mulia yang dibutuhkan oleh seorang penuntut ilmu adalah sabar. Sabar adalah akhlak yang mulia sekali. Dan barangsiapa yang tidak memiliki sabar, bagaimana mungkin dia bisa menuntut ilmu?

Bagaimana mungkin dia akan sabar dalam menuntut ilmu? Betapa banyaknya orang-orang yang berjalan diatas jalan ilmu kemudian tidak sabar dan kemudian setelah beberapa bulan dia pun meninggalkan ilmu karena ketidaksabarannya dalam menuntut ilmu tersebut. Maka seorang penuntut ilmu membutuhkan kesabaran agar dia belajar dan terus belajar sabar terus belajar.

Seorang penuntut ilmu membutuhkan akhlak mulia untuk menarik hati orang yang mengajarkan ilmu kepadanya. Sehingga guru yang mengajarkan kepadanya suka kepadanya lalu menyampaikan kepadanya ilmu-ilmu yang penuh dengan manfaat. Sehingga seorang penuntut ilmu yang berakhlak mulia, jiwanya akan lapang. Dan kelapangan jiwanya itu dia butuhkan untuk bisa sabar untuk membaca, mempelajari ilmu, duduk bermujalasah dengan orang-orang ahli ilmu. Sehingga akhlak mulia sebenarnya adalah suatu hal yang sangat menolong sekali dan sangat membantu sekali seseorang untuk mendapatkan ilmu.

6. Orang Yang Berakhlak Mulia Mampu Menguasai Diskusi

Beliau berkata Rahimahullaahu Ta’ala, bahwasanya seorang yang berakhlak mulia, dengannya dia mampu untuk melakukan diskusi-diskusi bersama orang-orang yang menyelisihinya dengan menunjukkan hujjahnya dan memahami hujjah orang yang berbeda pendapat dengannya. Dan dengan itu, dia bisa mengarahkan dirinya kepada hal yang baik dan benar dari perkataan dan amalan. Dan bahwa sesungguhnya hal yang seperti ini disebabkan oleh dua perkara ini, yaitu ketika dia bisa menegakkan hujjahnya dan bisa mendengar hujjah daripada orang yang berbeda pendapat dengannya, maka itu akan mampu membuat dia untuk bisa menundukkan orang yang berbeda pendapat dengannya. Allah Tabaraka wa Ta’ala melalui RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memuji orang yang berakhlak mulia dengan mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعطِِي عَلَى الْعُنْفِ

“Sesunguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada orang yang keras dan kasar” (Muslim no. 2593)

Saudaraku, di dalam hal ini beliau (Syaikh Nashir As-Sa’di) mengatakan bahwa ada faedah yang sangat besar. Yaitu faedah ketika seseorang berakhlak mulia sedang berdiskusi dan sedang adu argumentasi. Orang yang akhlaknya mulia akan mampu menyampaikan hujjahnya dengan tenang dan nyaman kepada orang yang berbeda pendapat dengannya. Dia akan menyampaikan hujjahnya dengan jiwanya yang lapang. Sehingga mudah baginya untuk menyampaikan hujjah itu dan sampai hujjah itu kepada orang yang berbeda dengannya. Sebaliknya, dengan jiwa dan akhlaknya yang mulia dan lapang, dia juga mampu untuk mendengar dengan baik apa yang disampaikan oleh orang yang berbeda pendapat dengannya. Sehingga dia bisa menangkap maksud dan tujuan daripada orang yang berbeda pendapat itu. Dan ini tidak akan mungkin dilakukan kecuali oleh orang-orang yang akhlaknya mulia.

Orang yang tidak mampu menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan, terkadang disebabkan akhlaknya yang lemah. Sehingga dia tidak mampu menyampaikan kepada orang yang berbeda pendapat dengannya apa yang ingin dia sampaikan daripada hujjah. Pun juga hal yang sama dia tidak mampu untuk mendengar dengan baik apa yang disampaikan oleh orang berbeda pendapat dengannya. Karena akhlaknya yang tidak baik membuat apa yang disampaikan oleh orang yang berbeda pendapat dengannya, itu tak mampu dia tangkap dengan baik karena jiwanya tidak lapang.

Oleh karena itu di dalam hal-hal yang berhubungan dengan diskusi, akhlak yang mulia sangatlah penting. Terkadang orang yang akhlaknya tidak baik dalam berdiskusi, lisannya pun tak mampu untuk berucap. Ini disebabkan oleh akhlaknya yang tidak baik. Lisannya seolah-olah kaku untuk mengucapkan kata-kata dan lebih daripada itu terkadang orang yang akhlaknya tidak baik dalam berdiskusi, lisannya tidak mampu berucap namun anggota tubuhnya yang lain mulai bergerak.

Taukah antum apa yang bergerak itu? Yang bergerak adalah mulai tangannya bergerak. Padahal ini babnya adalah bab diskusi, bukan bab tangan. Namun kenapa tangannya ikut bergerak? Ini disebabkan akhlaknya yang tidak mulia, akhlaknya yang buruk. Sehingga seharusnya diskusi namun yang terjadi adalah tangannya ikut memukul. Bahkan lebih daripada itu terkadang yang di bawah pun ikut naik ke atas. Kaki pun naik. Padahal babnya adalah bab diskusi. Ini sesuatu yang banyak terjadi disebabkan oleh akhlak yang tidak baik dari seseorang, maka terjadilah hal yang seperti ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita melihat bahwa orang-orang yang akhlaknya tidak baik mudah sekali marah, mudah sekali mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, mudah sekali memukul, mudah sekali melakukan hal-hal yang memberikan mudzarat dan bahaya untuk orang-orang yang berdiskusi di depannya.

Oleh karena itu, seorang yang berakhlak mulia akan berada pada posisi yang sangat nyaman, pada posisi sangat tenang, sehingga dia mampu untuk menguasai diskusi tersebut.

7. Orang Yang Berakhlak Mulia Terbebas dari Sifat Tergesa-Gesa

Kemudian berkata beliau, bahwasanya dengan husnul khuluq, seorang hamba akan selamat dari pada mudzarat-mudzarat yang terjadi disebabkan oleh tergesa-gesa, disebabkan oleh perilaku yang tidak baik. Karena dia memiliki akhlak yang sangat mulia dan kesabaran yang sangat baik. Dan dia mampu untuk melihat segala sesuatu yang mungkin memiliki kemungkinan-kemungkinan yang sangat banyak mudzaratnya untuk dia jauhi dengan akhlaknya yang mulia.

Di dalam bab ini beliau (pengarang) ingin mengingatkan kepada kita sebuah faedah yang luar biasa. Yaitu orang yang akhlaknya baik akan memiliki sifat yang mulia, akhlak yang mulia, sehingga dia terbebas dari sifat tergesa-gesa, terbebas dari berkata-kata yang tidak baik, terlepas dari perilaku melakukan gerakan-gerakan yang akan membuat dia menyesal dikemudian hari. Dengan akhlak-akhlaknya yang mulia, dia terhindar dari hal yang seperti itu. Berganti dengan akhlak tenang, berubah dengan akhlak yang mulia, yang senang untuk diperhatikan dan selalu memikirkan akibat daripada apa yang dia lakukan.

Dia ingin dan selalu memperhatikan “Kalau saya melakukan hal ini, apa yang akan terjadi dikemudian hari?” Dan ini adalah sesuatu yang sangat penting dan sangat terpuji untuk seseorang memikirkan “Kalau saya melakukan sesuatu apa yang akan terjadi dikemudian hari?”

Orang yang buruk akhlaknya, selalu dia tergesa-gesa dalam bersikap. Sehingga membuat dia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak baik, kalimat-kalimat yang tidak baik, kegilaan-kegilaan dalam berbuat dan membuat dia akhirnya pun menyesal dikemudian hari.

Betapa banyaknya penyesalan-penyesalan terjadi? Betapa banyaknya penyesalan-penyesalan terwujud dari seorang insan? Dan semua itu dihasilkan oleh akhlak yang tidak baik. Dan sesungguhnya orang yang telah berakhlak mulia, maka dia akan terhindar dari sifat-sifat yang seperti ini, kalimat-kalimat yang tidak baik, tergesa-gesa dalam membuat keputusan, tidak peduli dengan apa yang terjadi dikemudian hari dia melakukannya. Maka akan berganti sifat-sifat ini dengan sifat-sifat yang terpuji, tenang, pengasih, penyayang, berhati-hati dan selalu memikirkan apa yang akan terjadi kedepan dengan pekerjaannya.

8. Orang Yang Berakhlak Mulia Mampu Menunaikan Hak Orang Lain

Kemudian berkata beliau (Syaikh Sa’di Rahimahullah), dengan akhlak yang baik, seseorang mampu untuk bisa menunaikan kewajiban-kewajibannya. Baik kewajiban-kewajiban itu hak-hak orang lain terhadap dirinya, ada hak-hak yang wajib dan ada hak-hak yang mustahab (yang sunah). Hak-hak yang ditunaikan itu antara lain hak keluarganya, hak anak-anaknya, hak kaum kerabatnya, hak sahabatnya, hak tetangganya, hak orang yang dia bermuamalah dengannya. Dan antara dia dengan orang-orang yang bermuamalah dengannya, dia bisa memberikan hak tersebut. Dan betapa banyaknya kewajiban-kewajiban kita tidak kita berikan kepada orang lain dan kita sia-siakan hak orang lain yang wajib untuk kita berikan? Itu penyebabnya adalah akhlak yang tidak baik.

Saudaraku, didalam bab ini beliau menyampaikan kepada kita bahwa manusia memiliki hak-hak terhadap kita. Kita wajib untuk menunaikan hak itu kepada mereka. Dan hak-hak itu terbagi dua; ada yang wajib dan ada yang mustahab (sunnah).

Misalnya orang tua kita, memiliki hak atas diri kita. Ada yang wajib, ada juga yang sunnah. Demikian juga dengan keluarga, anak-anak, tetangga, demikian dengan orang-orang kita bermuamalah dengannya setiap hari dalam kehidupan kita. Dan ini terbagi dua sebagaimana yang tadi dikatakan ada yang wajib dan ada yang sunnah.

Orang yang berakhlak mulia akan mampu memberikan semua hak-hak manusia terhadap dirinya secara keseluruhan. Dia akan mampu menunaikan hak-hak tersebut. Orang yang Allah muliakan dengan dia melatih dirinya dengan akhlak mulia dan dia melatih jiwanya menjadi jiwa yang lapang dengan akhlak mulia, dia akan mampu untuk menunaikan hak-hak ini. Berbeda dengan orang yang buruk akhlaknya, dia tidak akan mampu menunaikan hak-hak itu. Hak-hak wajib (yang seharusnya) dia tunaikan untuk kedua orang tuanya, tak mampu untuk dia lakukan. Baik yang wajib ataupun yang sunnah. Kepada anaknya, tak mampu dia lakukan baik yang wajib ataupun yang sunnah. Kepada keluarganya, tak mampu dia lakukan baik yang wajib ataupun yang sunnahnya.

Oleh karena itu, hendaklah kita menjauhkan diri kita dari su’ul khuluq (akhlak yang buruk) agar kita kemudian mampu menjadi seorang hamba yang apabila berakhlak mulia maka dia akan mendapatkan sebuah faidah yang besar yaitu dia mampu untuk menunaikan hak-hak manusia yang ada pada dirinya.

9. Bertindak adil dan menjauhkan dari sifat ingin selalu menang sendiri

Menit ke-52:32 Sesungguhnya akhlak yang mulia akan mengajak seorang manusia yang berakhlak mulia kepada sifat bersikap adil dan menjauhkan pelakunya dari sifat ingin selalu menang sendiri dan harus perkataannya yang selalu benar. Dan sesungguhnya orang yang melakukan sifat seperti ini, maka dia akan terseret kepada sifat tidak peduli kepada hujjah orang lain, yang penting dia menang dan akan jauh daripada sifat adil.

Dalam hal ini ada sebuah faedah yang sangat besar, bahwa orang yang berakhlak mulia akan membuat dia mampu untuk bersikap adil. Karena dia meletakkan segala sesuatu pada tempat yang benar dengan kemuliaan akhlaknya. Walau terkadang keputusan yang dia ambil itu terdakang memberikan mudharat atas dirinya secara dzahir, dia tidak peduli. Karena yang penting bagi dia adalah bahwa kebenaran itu terwujud, yang penting bagi dia bukanlah untuk memenangkan dirinya.

Betapa banyak para ulama terdahulu dari ulama-ulama Salaf yang memiliki akhlak yang mulia. Manakala kita baca sejarah mereka di saat berdiskusi, yang penting bagi mereka adalah bagaimana kebenaran itu tampak dalam diskusi, bagaimana mereka benar-benar menjadikan kebenaran adalah segala-galanya yang di atas, bukan maksud mereka dalam berdiskusi adalah ingin menang. Akan tetapi satu-satunya maksud daripada mereka diskusi adalah bagaimana kebenaran itu terwujud.

Banyak daripada manusia tidak peduli dalam diskusinya apakah kebenaran itu yang terwujud atau tidak, yang terpenting bagi dirinya dia adalah menang dalam diskusi itu. Walau kadang-kadang dia memenangkan dirinya di atas sesuatu yang batil. Dan ini disebabkan oleh hawa nafsunya yang luar biasa. Tujuan dari diskusinya adalah yang penting baginya adalah suaranya tinggi, yang penting kata-katanya didengarkan orang. Ini yang akan terjadi.

Dan boleh jadi, kadang-kadang dalam diskusi, orang yang sebenarnya hujjahnya benar, lemah dalam mengungkapkan kata-kata, lemah dalam lisan. Dan sebaliknya, orang yang hujjahnya salah, orang yang berada di atas kebatilan, lidahnya tajam, lidahnya bagus untuk menyampaikan kebatilannya sehingga dia menang dalam beradu argumentasi.

Akan tetapi akhlak yang mulia akan membuat orang yang berakhlak mulia tidak kembali kepada ingin menang sendiri, ingin selalu dipuji, ingin selalu diatas, dia tidak melakukan itu dalam diskusi-diskusinya. Karena yang penting baginya adalah bagaimana kebenaran itu terwujud dan ini membawa dia kepada sebuah sifat yang luar biasa, yaitu sifat adil dalam berdiskusi.

10. Berada dalam kehidupan yang nyaman

Menit ke-57:24 Dan sesungguhnya orang yang memiliki akhlak yang mulia berada dalam kehidupan yang nyaman. Sekarang, di dunia ini dia merasakannya. Dan dia akan mendapatkan kenikmatan yang luar biasa dalam kehidupan dunia ini. Karena sesungguhnya orang yang akhlaknya baik, jiwanya itu tenang, jiwanya penuh dengan kedamaian dan ini yang membuat dia mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan hidup di permukaan bumi ini dan dia akan mendapatkan kenyamanan dalam hidupnya.

Dan sebagaimana orang yang buruk akhlaknya, maka dia selalu merasakan kesengsaraan dalam kehidupannya dan dia selalu merasakan dalam kondisi-kondisi yang tidak nyaman, adzab yang berkelanjutan dan berkepanjangan. Sesungguhnya orang yang akhlaknya tidak baik akan mendapatkan hal yang seperti itu. Dia selalu bertengkar antara dia dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya, pertengkaran bersama dirinya, pertengkaran bersama anak-anaknya, pertengkaran bersama orang-orang yang bermuamalah dengannya. Dan ini akan membuat susah hidupnya sendiri dan akan membuat kacau perjalanan waktu dan umurnya.

Dan apa yang dia dapatkan dengan su’ul khuluq tadi? Buruknya akhlak tadi akan membuat dia terjauh dari pada efek-efek yang baik dari khusnul khuluq dan dia akan mendapatkan lawan-lawan daripada kemulihan khusnul khuluq.

Syaikh Sa’di mengatakan faedah yang luar biasa, yaitu bahwa orang yang memiliki akhlak mulia jiwanya tenang, jiwanya damai. Di dunia dia merasakan ketenangan hidup yang luar biasa, nanti di akhirat pun dia akan mendapatkan kehidupan yang luar biasa juga. Orang yang Allah muliakan dia dengan akhlak yang baik, dia menemukan kedamaian yang luar biasa di dalam dirinya yang tidak ada orang yang bisa merasakan kedamaian dan ketentraman itu selain daripada orang yang Allah muliakan dengan memiliki akhlak yang mulia.

Berseberangan dengan semua itu orang yang akhlaknya tidak baik. Hidupnya selalu sengsara, hidupnya selalu menderita, hidupnya selalu penuh dengan permusuhan. Permusuhan bersama tetangga, bersama istrinya, bersama anak-anaknya, bersama orang-orang yang bermuamalah dengannya. Sehingga akhirnya dia selalu melakukan hal-hal yang membuat orang lain sengsara dan membuat dirinya juga bahkan sengsara. Sehingga hidupnya berada dalam adzab yang selalu dalam kesusahan dan kesusahan. Berbeda dengan orang yang akhlaknya baik. Akhlak yang baik hidup itu tenang, hidup itu damai.

11. Mendapatkan derajat seorang yang rajin berpuasa dan shalat

Menit ke-1:01:41 Dengan ini, mengertilah kita makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّ الُمؤْمِنَ لَيُدْركُ بِحُسنِ خُلُقِه درَجةَ الصائمِ القَائمِ

“Seorang hamba akan mampu mendapatkan dengan akhlaknya yang baik derajat seorang yang rajin berpuasa, yang rajin berdiri shalat.” (Hadits shahih diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam sunannya dan diriwayatkan oleh imam-imam yang lainnya)

Hadits ini menerangkan kepada kita bagaimana posisi seorang yang berakhlak mulia, bagaimana pahala yang didapat, bagaimana luar biasanya orang yang berakhlak mulia dan apa keutamaan orang yang yang memiliki akhlak yang mulia.

Keutamaannya -kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- yaitu dia berada pada derajat orang yang selalu berpuasa dan selalu shalat. Berpuasa maksudnya adalah berpuasa sunnah seperti puasa senin dan kamis, puasa-puasa di tiga hari setiap bulannya dan puasa-puasa lainnya. Demikian juga shalat. Orang yang rajin shalat adalah rajin shalat-shalat sunnah. Seperti shalat qabliyah, ba’diyah, shalat tahajud dan yang lainnya daripada shalat sunnah. Ini maksud dari pada hadits ini.

Dan orang yang rajin puasa-puasa sunnah dan juga rajin untuk melakukan shalat-shalat sunnah ditambah akhlaknya yang mulia, maka dia menjadi orang yang lebih mulia daripada orang yang sedang berakhlak mulia saja. Hal ini karena ada kelebihan dia, yaitu akhlak mulia dia dapatkan dan kemudian dia melebihi orang tersebut dengan banyaknya shalatnya dan banyaknya puasanya.

Yang jelas, hasil dari semua ini bahwa akhlak mulia adalah sesuatu yang sangat agung dan kemuliaan yang luar biasa yang di surga Allah Tabaraka wa Ta’ala akan mendapatkan tempat yang sangat tinggi. Sebagaimana yang tadi dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa sesungguhnya hamba yang berakhlak mulia akan sampai kepada derajat orang yang rajin berpuasa dan orang yang rajin shalat-shalat sunnah dan puasa-puasa sunnah. Ini menunjukkan posisi akhlak mulia dalam agama kita dan buahnya yang sangat manis dalam agama kita.

C. Bagaimana Cara Mendapatkan Akhlak Mulia?

Baca di sini: Bagaimana Cara Mendapatkan Akhlak Mulia?

Video Kajian Cara Mendapatkan Akhlak Mulia

Lihat di sini: Pidato Agama Islam Tentang Akhlak: Cara Mendapatkan Akhlak Mulia

Ditulis dari video rekaman kajian ilmiah tentang Cara Mendapatkan Akhlak Mulia – Tabligh Akbar Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq Al Badr, rekaman pada Ahad, 15 rajab 1439 H / 01 April 2018 M di Masjid Sulaiman Fauzan Al-Fauzan Bagek Nyak A, Lombok Timur.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
Saudaraku, silahkan login atau daftar terlebih dahulu untuk menyalin. Barakallahu fiik.
%d blogger menyukai ini: