Khutbah Idul Adha: Faedah dan Tatacara Menyembelih Kurban

Khutbah Idul Adha: Faedah dan Tatacara Menyembelih Kurban

pandai mendengar

Seorang muslim menyerahkan diri kepada Allah dengan sepasrah-pasrahnya dan mencintai Allah ‘Azza wa Jalla lebih daripada apa yang dia miliki dari harta, keluarga, kedudukan dan selainnya.

Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah Tentang Hakikat Ibadah Qurban
Khutbah Jumat Menyambut Muharram: Mencintai Sunnah Rasulullah
Khutbah Jumat Singkat Tentang Kurban

Berikut ini transkrip khutbah idul adha tentang “Faedah dan Tatacara Menyembelih Kurban” yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy Hafidzahullahu Ta’ala.

Khutbah Pertama Faedah dan Tatacara Menyembelih Kurban

Ma’asyiral muslimin, hari ini kita bergembira dan di hari ini pula kita berbahagia dan bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menyampaikan kita kepada 10 hari yang paling afdhal di antara hari-hari di dunia ini. 10 hari yang pertama di bulan Dzulhijjah, yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ

“Tidak ada di sana hari-hari yang amal shalih didalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari yang pertama di bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan khususnya hari ini, yaumun nahr (hari korban), hari yang ke sepuluh, maka ini adalah hari yang paling agung, sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

أَعْظَمَ الأَيَّامِ يَوْمُ النَّحْرِ

“Sebesar-besar dan seagung-agung hari ini adalah hari an-nahr (yaitu kita sekarang ini tanggal 10 Dzulhijjah).” (HR. Abu Dawud)

Allahuakbar, Allahuakbar, Laa Ilaaha Illallah, Allahuakbar wa Lillahilhamd..

Ma’asyiral muslimin, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus NabiNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan agama yang haq, dengan petunjuk dan Allah berjanji akan menampakkan agama ini sebagaimana dalam FirmanNya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah Allah ‘Azza wa Jalla yang telah mengutus RasulNya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk Allah tampakkan agama tersebut di antara sekian banyak agama meskipun orang-orang musyrikin membenci.” (QS. At-Taubah[9]: 33)

Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjaga agama ini, dan ini adalah janji Allah dengan menjaga sumber dari agama ini. Allah berjanji akan menjaga Al-Qur’an dan akan menjaga As-Sunnah yang merupakan penjelas dari Al-Qur’an.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami lah yang telah menurunkan Al-Qur’an dan Kami lah yang akan menjaganya.” (QS. Al-Hijr[15]: 9)

Dan termasuk penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap agama ini adalah menjadikan di dalam setiap generasi para ulama yang mereka menyampaikan agama ini dari generasi kegenerasi berikutnya.

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُلُهُ يَنْفُوْنَ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَ انْتِحِال الْمُبْطِلِيْنَ وَ تَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

“Akan membawa ilmu (agama) ini dalam setiap generasi orang-orang yang adil di antara mereka, tugas mereka adalah menafikan penyimpangan orang-orang yang berlebihan, membantah keyakinan-keyakinan batil dari orang-orang yang membawa kebatilan, menafikan takwilnya orang-orang yang jahil.” (HR. Al-Baihaqi)

Maka inilah janji Allah, bahwasanya agama ini akan terus dijaga oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Dan di dalam sebuah hadits, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ ، وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

“Akan ada segolongan dari umatku yang mereka akan senantiasa menjaga agama ini, tidak akan memudharati mereka orang-orang yang meninggalkan mereka dan orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang urusan Allah dan mereka dalam keadaan demikian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud dengan urusan Allah di sini adalah datangnya angin di akhir zaman sebelum ditiupnya sangkakala. Kalau orang yang beriman menghirup angin tersebut, maka dia akan dicabut nyawanya oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ini menunjukkan bahwasanya agama ini akan terus ada dan tidak akan punah. Dan sangkaan orang yang menyangka bahwasanya dakwah ini sebentar lagi akan berhenti dan bahwasanya dakwah ini akan hancur, maka ini adalah persangkaan yang buruk kepada Allah, inilah yang dimaksud dengan ظَنَّ السّوْء yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an:

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ

Allah akan mengadzab orang-orang munafikin baik yang laki-laki maupun wanita, dan orang-orang musyrikin baik laki-laki maupun yang wanita, yang mereka menyangka kepada Allah dengan persangkaan yang buruk.” (QS. Al-Fath[48]: 6)

Di antara persangkaan yang buruk kepada Allah adalah persangkaan bahwasanya agama ini akan hancur, bahwasanya dakwah Salafiyah ini akan hancur.

Ma’asyiral muslimin.. Dakwah Salafiyah adalah dakwah kepada Islam itu sendiri. Ajakan kepada manhaj salaf adalah ajakan untuk melaksanakan agama Islam yang murni yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah yang shahihah berdasarkan pemahaman para Salafush Shalih. Dan Salafiyyun adalah Ahlus Sunnah yang sebenarnya. Ahlus Sunnah secara kalimat adalah mereka yang ahli dan dekat dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka berusaha untuk mempraktikkan apa yang sampai kepada mereka berupa agama Allah ini, baik di dalam diri mereka sendiri, keluarga mereka, masyarakatnya, tentu semuanya itu sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Dan dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang mengumpulkan antara dua perkara yang agung. Yang pertama, mereka memiliki ilmu, beramal berdasarkan ilmu yang kokoh berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para Salaf dan dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yang kedua, dakwah mereka adalah dakwah yang disertai dengan akhlak. Dakwah mereka adalah dakwah akhlak, dakwah yang didasarkan kasih sayang kepada orang lain.

Mereka menasehati adalah karena cintanya mereka kepada orang lain. Mereka membantah dan mereka menerangkan kebatilan dasarnya adalah kasih sayang kepada orang lain.

Allahuakbar, Allahuakbar, Laa Ilaaha Illallah, Allahuakbar wa Lillahilhamd..

Di dalam kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dan juga putranya yang tercinta (Ismail ‘Alaihis Salam), terdapat pelajaran dan faedah yang banyak bagi seorang muslim dan juga muslimah. Di antara pelajaran yang paling penting adalah bahwasanya seorang muslim menyerahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sepasrah-pasrahnya. Dan mencintai Allah ‘Azza wa Jalla lebih daripada yang lain, termasuk di antaranya adalah apa yang dia miliki, apa yang dia cintai berupa harta, berupa keluarga, berupa kedudukan. Silakan dia mencintai perkara-perkara tadi, tapi kalau sudah datang perintah Allah ‘Azza wa Jalla, kalau sudah datang syariat Allah, maka kita harus mendahulukan perintah Allah ‘Azza wa Jalla daripada apa yang kita cintai.

Dan di antara pelajaran yang bisa kita ambil, bagaimana Ibrahim ‘Alaihis Salam mendidik anaknya (Ismail ‘Alaihis Salam). Sehingga ketika dia berumur 13 tahun -dan di depan saya para pemuda yang mereka berumur 13 tahun atau lebih- ketika dia berumur sedemikian belianya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji beliau dan juga bapaknya.

Datang bapaknya (Ibrahim ‘Alaihis Salam) mengabarkan kepada anaknya dengan penuh rahmah. Dan saat itu Ismail ‘Alaihis Salam sedang berada di usia yang seorang bapak sangat mencintainya, apalagi disebutkan bahwasanya beliau adalah seorang anak yang halim. Halim adalah orang yang memiliki sifat hilm yang merupakan sayyidul akhlak.

Ketika dia berumur 13 tahun sudah mulai bisa membantu orang tuanya. Ibrahim ‘Alaihis Salam sudah tua, dan orang semisal beliau butuh dengan bantuan dari anak-anaknya. Tapi lihat bagaimana Allah ‘Azza wa Jalla menguji khalilNya, beliau melihat di dalam mimpinya bahwasanya beliau menyembelih Ismail. Mimpi seorang Nabi adalah wahyu dan itu dipahami oleh Ibrahim.

Oleh karena itu beliau berkata kepada anaknya dan mengabarkan bahwasanya beliau bermimpi menyembelih Ismail. Dan apa ucapan anak yang shalih, yang diterbitkan oleh Ibrahim khalilullah dengan tarbiyatut tauhid, dengan tarbiyah aqidah, beliau tidak ragu-ragu untuk mengatakan:

أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Wahai bapakku, kerjakan apa yang telah diperintahkan kepadamu...” (QS. As-Saffat[37]: 102)

Dengan kelembutan dia mengatakan “Ya Abati”. Dan menghilangkan keraguan dengan mengatakan: “Kerjakan apa yang telah diperintahkan kepadamu, engkau akan dapatkan aku isyaAllah termasuk orang-orang yang bersabar.

Allahuakbar, Allahuakbar, Laa Ilaaha Illallah, Allahuakbar wa Lillahilhamd..

Kaum Muslimin, pandemi corona telah berkepanjangan, dan hendaklah hal ini membangunkan kesadaran kita, menggugah kelalaian kita, menjadikan kita mau kembali kepada Allah, menanggalkan kesombongan kita, kita jauhkan diri kita dari dosa, ambillah pelajaran dari umat-umat yang terdahulu. Karena yang terkena musibah seperti ini bukan hanya kita.

Umat-umat terdahulu, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah uji mereka dengan berbagai bencana dan berbagai musibah. Maka ambillah pelajaran dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an. Ketika mereka ditimpa musibah dan Allah menghendaki sebenarnya supaya mereka kembali kepada Allah, ternyata apa yang terjadi? Mereka tidak kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mereka tidak kembali kepada Allah sampai akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka bagi mereka berbagai pintu rezeki dan kenikmatan. Sehingga ketika mereka bergembira, bersukacita dengan kenikmatan-kenikmatan tadi, datang dan turun adzab Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

Dan sungguh Kami telah mengutus dan mengirimkan kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami turunkan kepada mereka berbagi kesusahan dan musibah, supaya mereka kembali (mendekatkan diri) kepada Allah.” (QS. Al-An’am[6]: 42)

Tapi apa yang terjadi?

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُم بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا…

Seandainya datang kesusahan-kesusahan tadi mereka mau kembali,”

وَلَٰكِن قَسَتْ قُلُوبُهُمْ

“tapi sudah keras hati mereka,”

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“dan setan menghias-hiasi untuk mereka apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am[6]: 43)

Dikatakan bahwa ini bukan karena dosa kalian, ini adalah perkara yang biasa.

Kemudian Allah mengatakan:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ

Ketika mereka lupa dengan apa yang mereka diingatkan dengannya.”

Apa yang terjadi?

فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ

Maka kami buka untuk mereka segala pintu (yaitu pintu-pintu rezeki dan juga pintu-pintu kenikmatan).

حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

Ketika mereka sudah bergembira ria dengan apa yang diberikan kepada mereka, maka Kami mengadzab mereka dengan tiba-tiba dan tiba-tiba mereka menjadi orang-orang yang berputus asa dari berbagai kebaikan.” (QS. Al-An’am[6]: 44)

Oleh karena itu sadarlah. Sadarlah dengan apa yang terjadi dan peringatan Allah ‘Azza wa Jalla. Tentunya dengan kembali kepada Allah, beristighfar dan bertaubat, dan kita mengambil sebab-sebab yang lain. Bersabar, menjaga apa yang telah dihimbau oleh pemerintah dengan memperhatikan berbagai protokol kesehatan. Dan jangan kita melemah. Karena sudah lamanya pandemi ini kemudian kita hilang kesabaran dan mulai kita bermudah-mudahan dalam perkara ini.

Khutbah kedua Faedah dan Tatacara Menyembelih Kurban

Ma’asyiral muslimin, bertakwalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla di dalam kesendirian Antum dan ketika bersama orang lain. Karena takwa adalah sebab sebaik-baik bekal perjalanan kita menuju Allah ‘Azza wa Jalla.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal bagi kalian adalah ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (QS. Al-Baqarah[2]: 197)

Diwajibkan ketika menyembelih untuk menyebut “Bismillah”. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

Maka hendaklah kalian makan dari apa yang disebutkan nama Allah.” (QS. Al-An’am[6]: 188)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ ، فَكُلُوهُ

“Apa yang keluar darahnya dengan disembelih dan disebutkan nama Allah, maka makanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menunjukkan tentang wajibnya membaca “Bismillah”.

Adapun orang yang lupa, tidak mengucapkan “Bismillah” ketika menyembelih, maka di sana ada khilaf di antara para ulama. Dan sebagian ulama mengatakan tetap tidak sah dan tidak halal sembelihannya, meskipun dia lupa. Karena ini adalah syarat, tidak gugur karena lupa. Dan berdasarkan keumuman firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

Dan janganlah kalian makan dari apa yang tidak disebutkan nama Allah, karena sesungguhnya itu adalah kefasikan.” (QS. Al-An’am[6]: 121)

Kemudian di antara adab dan sunnah dalam menyembelih, ketika kita menyembelih disunnahkan untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat. Dan kita membaringkan di atas bagian badannya sebelah kiri, kemudian kita injak dengan kaki kanan dan kita pegang kepalanya dengan tangan. Lalu kita sembelih dengan tangan kanan kita.

Setelah mengucapkan “bismillah” disunnahkan -dan bukan merupakan kewajiban- untuk membaca takbir dan mengatakan “wallahuakbar”, yang wajib adalah mengucapkan “bismillah”. Kemudian jika menyembelih sendiri, setelah itu mengatakan:

اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنِّي

“Ya Allah ini adalah dari-Mu dan juga untuk-Mu, dariku.”

Kalau itu adalah sembelihan orang lain maka disebutkan namanya dengan mengatakan: عن فلان.

Kemudian (kalau menyembelih sendiri) dia mengatakan:  اللهم تقبل مني, tapi kalau untuk orang lain dia mengatakan: اللهم تقبل من فلان.

Kemudian di antara adabnya adalah menggunakan pisau yang tajam. Ini adalah di antara adab-adab menyembelih. Bahkan sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa kalau sampai menggunakan pisau yang tidak tajam, maka dia melakukan perkara yang haram.

Dan di antara adabnya adalah memutuskan kerongkongan dan juga tenggorokan. Kerongkongan adalah saluran pencernaan yang bersambung ke lambung, adapun tenggorokan adalah saluran pernafasan yang bersambung ke paru-paru. Ini sunnah untuk dipotong juga. Adapun yang wajib adalah memotong dua urat yang merupakan jalan darah. Dan kalau bisa memotong tenggorokan dan juga kerongkongannya, maka ini adalah suatu yang baik dan disunnahkan.

Tidak boleh mengasah pisau di depan sembelihan. Dan tidak boleh seseorang menyembelih seekor hewan sementara hewan lain yang akan disembelih melihat. Maka ini bukan termasuk ihsan di dalam menyembelih. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الذِّبْحَةَ

“Kalau kalian menyembelih, maka hendaklah kalian baik di dalam menyembelih.”

وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Maka salah seorang di antara kalian ketika dia akan menyembelih, hendaklah dia menajamkan pisaunya dan menjadikan hewan sembelihan tadi tenang.” (HR. Muslim)

Kemudian hari ini adalah hari yang lain daripada yang lain. Berkumpul di hari yang mulia ini dua hari raya, yaitu hari raya Idul Adha dan yang kedua adalah hari Jumat. Maka dalam keadaan seperti ini, bagi orang yang menghadiri shalat Ied bersama imam, gugur kewajiban dia untuk mendatangi shalat Jumat. Karena dizaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah terjadi yang seperti ini, dan beliau mengatakan:

قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ

“Telah berkumpul di hari ini dua hari raya.”

Kemudian beliau mengatakan:

فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ

“Barangsiapa yang ingin maka shalat hari raya ini sudah mencukupi dia dari Jumat.”

Artinya sudah gugur kewajibannya. Kedatangan dia ke masjid itu adalah perkara yang sunnah. Seandainya dia shalat dzuhur di rumahnya empat rakaat, maka ini sudah mencukupi.

وَإِنّا مُجَمّعُونَ إِن شَاءَ الله

“Karena sesungguhnya sesungguhnya kami akan melakukan shalat Jumat, insyaAllah.”

Dan ini menunjukkan bahwasanya seorang imam, plus muadzin dan satu orang yang ketiga, mereka tetap diwajibkan untuk mendirikan shalat Jumat. Dan tentunya yang afdhal/lebih besar pahalanya adalah kita mendatangi shalat Jumat. Meskipun merupakan keringanan bagi orang yang sudah melakukan shalat ‘ied, maka dia boleh dan diberikan keringanan untuk tidak mendatangi shalat Jumat.

Video Khutbah Jumat Tentang Faedah dan Cara Menyembelih Kurban

Sumber video: HSI TV

Mari turut menyebarkan link download kajian “Faedah dan Tatacara Menyembelih Kurbanini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0