Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat : Nikmat Dianggap Beban” yang disampaikan Ustadz Ammi Nur Baits, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Dialog Umar bin Khattab dan Orang Yahudi Mengenai Kesempurnaan Al-Qur’an
Disebutkan sebuah riwayat dari Imam Ahmad dari Thariq bin Syihab. Dikisahkan bahwa seorang laki-laki Yahudi datang menghadap kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiallahu anhu. Orang Yahudi tersebut memberikan pernyataan mengenai keberadaan sebuah ayat di dalam kitab suci umat Islam:
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ آيَةً فِي كِتَابِكُمْ لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا
“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kalian membaca sebuah ayat dalam kitab kalian, yang sekiranya ayat itu diturunkan kepada kami kaum Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya.” (HR. Ahmad) [1]
Mendengar penuturan tersebut, Umar bin Khattab radhiallahu anhu menanyakan ayat spesifik yang dimaksud oleh orang Yahudi itu. Orang Yahudi tersebut kemudian membacakan ayat yang dimaksud:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْهِكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah[5]: 3)
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa beliau mengetahui secara pasti mengenai tempat, waktu, serta tanggal diturunkannya ayat tersebut. Beliau menyampaikan bahwa momentum turunnya ayat tersebut terjadi ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang berada di Padang Arafah menunaikan haji wada’.
Riwayat tersebut membuktikan bahwa pernyataan tentang sempurnanya sebuah syariat tidak pernah ditemukan di dalam kitab Taurat maupun kitab-kitab suci sebelumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan penegasan mengenai kelengkapan syariat ini hanya di dalam Al-Qur’an. Meskipun umat Islam mengimani bahwa Injil, Taurat, dan Zabur merupakan kitab-kitab samawi yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ayat ini memberikan informasi tentang betapa sempurnanya nikmat yang diberikan kepada umat Islam melalui pengutusan syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lengkap.
Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan status Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di hadapan makhluk-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya[21]: 107)
Esensi dari keberadaan beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam terletak pada syariat yang dibawanya. Hal ini dikarenakan keberadaan jasad fisik beliau dibatasi oleh dimensi waktu dan tempat, sedangkan pemberlakuan syariat beliau tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Umat muslim pada masa sekarang dapat merasakan keindahan syariat Islam karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memposisikan syariat ini sebagai rahmat bagi semesta alam.
Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah di dalam karya tafsirnya memberikan penjelasan mendalam ketika mengulas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut. Beliau menyatakan:
يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّ اللَّهَ جَعَلَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ أَيْ أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لَهُمْ كُلِّهِمْ فَمَنْ قَبِلَ هَذِهِ الرَّحْمَةَ وَشَكَرَ هَذِهِ النِّعْمَةَ سَعِدَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ رَدَّهَا وَجَحَدَهَا خَسِرَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menjadikan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai rahmat bagi semesta alam, yaitu Dia mengutusnya sebagai rahmat bagi mereka semuanya. Maka barang siapa yang menerima rahmat ini dan mensyukuri nikmat ini, niscaya ia akan beruntung di dunia dan di akhirat. Dan barang siapa yang menolaknya serta mengingkarinya, niscaya ia akan merugi di dunia dan di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir) [2]
Uraian dari Ibnu Katsir rahimahullah tersebut mengajak setiap hamba untuk memahami bahwa syariat Islam merupakan sebuah nikmat yang agung. Sebagai konsekuensi logis atas besarnya karunia tersebut, sudah selayaknya umat Islam mensyukuri kehadiran syariat ini dengan cara mengamalkannya secara konsisten, sebagaimana penegasan yang termuat di dalam surah Al-Maidah ayat ke-3.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku.” (QS. Al-Maidah[5]: 3)
Melalui ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut agama Islam ini sebagai sebuah nikmat. Oleh karena itu, setiap muslim wajib memahami dan menerima eksistensi agama ini sebagai bentuk karunia terbesar. Namun, kenyataan menunjukkan adanya sebagian orang yang keliru dalam memandang agama, yaitu menganggapnya sebagai beban kehidupan dan bukan sebagai nikmat. Cara pandang yang keliru tersebut membuat mereka merasa berat dan susah ketika diajak untuk mendekatkan diri kepada tuntunan agama.
Sebagian masyarakat bahkan berasumsi bahwa mempelajari Islam secara mendalam dan serius hanya akan merepotkan diri sendiri serta membuat roda kehidupan menjadi sulit. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan syariat mulia ini sama sekali bukan untuk menyusahkan kehidupan hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
طه مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ
“Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS. Taha[20]: 1-2)
Asumsi bahwa mempelajari aturan syariat akan membuat hidup semakin susah, repot, dan terkekang oleh banyaknya larangan merupakan bentuk prasangka buruk (suudzon) kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketakutan terhadap aturan ini sering kali muncul pada ranah muamalah yang berkaitan dengan interaksi ekonomi manusia. Banyak orang yang belum siap menerima ketentuan syariat secara utuh karena khawatir akan membatasi ruang gerak bisnis mereka. Sungguh ironis ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan syariat sebagai rahmat dan nikmat, tetapi sebagian hamba justru menganggapnya sebagai sesuatu yang mendatangkan kerepotan.
Langkah awal setelah mengakui kebenaran syariat Islam sebagai rahmat bagi semesta alam adalah kesadaran untuk mensyukurinya. Wujud konkret dari rasa syukur tersebut adalah kesediaan untuk membuka diri dalam mempelajari agama serta kesiapan untuk mengamalkan seluruh isinya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagian orang enggan menghadiri majelis ilmu karena dibayangi ketakutan akan banyaknya larangan yang harus mereka patuhi setelah mereka mengetahuinya. Mereka lebih memilih untuk bebas mengikuti kecenderungan hawa nafsu dan menolak menghambakan diri secara total kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, ketundukan penuh kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala sejatinya merupakan hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya yang harus diperjuangkan. Seseorang yang hidupnya hanya memperturutkan hawa nafsu, pada hakikatnya merupakan budak dari hawa nafsunya sendiri.
Umat Islam senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar hati mereka dibukakan untuk menerima syariat ini secara maksimal, serta diberikan kemudahan untuk mengenali, mempelajari, dan mengamalkannya di dalam kehidupan yang nyata.
KHUTBAH KEDUA: Perumpamaan Orang yang Berpaling dari Agama
Fenomena mengenai individu yang merasa takut untuk mendekatkan diri kepada tuntunan agama bukan merupakan hal baru, melainkan sudah terjadi sejak zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan bahwa sebagian kaum musyrikin dahulu menolak keras untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendirikan salat malam, mereka berusaha menjauh karena khawatir akan terpengaruh oleh keindahan tata bahasa serta keluhuran isi kandungan Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan gambaran psikologis mengenai orang-orang yang berpaling dari peringatan agama melalui firman-Nya:
فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ
“Maka mengapa mereka berpaling dari peringatan? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa.” (QS. Al-Muddassir[74]: 49-51)
Perilaku sebagian orang pada masa sekarang yang ketakutan untuk mempelajari batasan halal dan haram karena khawatir ruang gerak mereka menjadi tidak bebas, memiliki kesamaan karakter dengan apa yang digambarkan di dalam ayat tersebut. Mereka berpaling dan berlari menjauh dari ilmu agama layaknya keledai liar yang ketakutan saat mendapati kejaran seekor singa.
Sikap sebagian orang yang ketakutan terhadap tuntunan agama memiliki kesamaan dengan kaum musyrikin dahulu yang ketakutan mendengarkan Al-Qur’an. Mereka digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagaikan keledai liar yang lari terbirit-birit karena takut terhadap kejaran seekor singa.
Oleh karena itu, setiap muslim perlu menyadari kembali bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menurunkan syariat ini untuk menyusahkan hamba-Nya. Sebaliknya, syariat ini sengaja dihadirkan sebagai bentuk rahmat. Di dalam syariat tersebut terkandung berbagai perintah, larangan, serta aturan. Setiap hamba diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui seluruh isi syariat ini, yang pada hari kiamat kelak harus dipertanggungjawabkan mengenai sejauh mana mereka mampu menyesuaikan diri dengan aturan yang telah diturunkan.
Peru dipahami pula bahwa ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat suatu aturan, Dia tidak memiliki kepentingan sedikitpun terhadap makhluk-Nya. Hal ini berbeda dengan manusia yang sering kali menyisipkan kepentingan pribadi atau kelompok saat membuat suatu regulasi. Di dalam sebuah hadits qudsi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan firman Allah ‘Azza wa Jalla:
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا
“Wahai hamba-Ku, seandainya generasi pertama hingga generasi terakhir dari kalian, baik manusia maupun jin, semuanya berada pada tingkat ketakwaan yang paling tinggi dari salah seorang di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-Ku, seandainya generasi pertama hingga generasi terakhir dari kalian, baik manusia maupun jin, semuanya berada pada tingkat kedurhakaan yang paling buruk dari salah seorang di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3]
Andai saja seluruh jin dan manusia memiliki hati yang bertakwa seperti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketaatan tersebut tidak akan menambah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sedikit pun. Sebaliknya, andai saja seluruh makhluk memiliki hati yang jahat dan durhaka seperti Firaun, maksiat tersebut tidak akan mengurangi keagungan kerajaan-Nya.
Seorang hamba tidak boleh berasumsi bahwa ketaatan yang dilakukannya akan menambah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana ia juga dilarang menganggap bahwa perbuatan maksiat dapat mengurangi kekuasaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala sama sekali tidak membutuhkan makhluk-Nya. Dampak dari ketaatan maupun kemaksiatan sepenuhnya akan kembali kepada diri manusia itu sendiri.
Umat Islam senantiasa memohon hidayah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dianugerahi hati yang terbuka untuk menerima kebenaran syariat, serta diberikan kemudahan untuk mempelajari dan mengamalkannya di dalam kehidupan sehari-hari demi menggapai keselamatan di dunia dan di akhirat.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
“Ya Allah, berilah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.” (HR. Bukhari) [4]
Sumber Video “Khutbah Jumat Nikmat Dianggap Beban”
Sumber : anb channel
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
REFERENSI:
[1] https://sunnah.com/ahmad:188


COMMENTS