Khutbah Jumat Singkat Padat – Waktu Kita Untuk Apa?

Khutbah Jumat Singkat Padat – Waktu Kita Untuk Apa?

pandai mendengar

Berapa waktu yang kita habiskan untuk membaca koran, pesan-pesan WA, ratusan status Facebook? Bandingkan berapa waktu yang kita habiskan untuk membaca surat cinta dari Allah, yaitu Al-Qur'an.

Penjelasan Ibadah Istighatsah dan Menyembelih
Khutbah Jum’at Tentang Membela Agama Allah adalah Kewajiban Setiap Muslim
Khutbah Idul Adha: Pentingnya Mengenal Allah

Khutbah Jumat singkat padat “Waktu kita untuk apa?” ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah di Masjid Manarul ‘Ilmi Kompleks PONPES Tunas Ilmu Purbalingga pada 30 Jumadil Akhiroh 1442 H/ 12 Febuari 2021 M.

Khutbah Pertama – Waktu Kita Untuk Apa?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yaitu dengan mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta menjauhi apa yang dilarang oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Jamaah Jumat yang semoga dimuliakan Allah,

Banyak di antara kita yang yang sudah tidak asing dengan ayat berikut ini:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Az-Zariyat[51]: 56)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala barusan menjelaskan bahwa satu-satunya tujuan Dia menciptakan kita di muka bumi adalah untuk beribadah dan mengabdi kepadaNya. Namun sayangnya, banyak dari kita justru mengabaikan tujuan utama tersebut, lebih sibuk dengan remeh-temeh urusan lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan peribadahan kepada Allah. Sehingga justru melupakan aktivitas ketaatan kepadaNya.

Kaum muslimin yang kami hormati,

Berapa jam dalam sehari kita menyempatkan waktu untuk belajar agama? Untuk membaca dan mengkaji Al-Qur’an? Untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Berapa rupiah uang yang kita sisihkan setiap bulan untuk bersedekah di jalan Allah?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan menunjukkan karakter kita sebenarnya yang lebih banyak menghabiskan waktu dan harta untuk urusan dunia dibandingkan akhirat.

Kita seolah makhluk yang super sibuk, sehingga untuk beribadah kepada Allah saja seakan harus menyempat-nyempatkan. Padahal seluruh waktu, seluruh umur, bahkan seluruh hidup kita seharusnya kita persembahkan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, adalah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.” (QS. Al-An’am[6]: 162)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Allah itu Maha Adil, namun kenapa kita tidak berbuat adil kepada Allah? Ketika ada SMS atau WA masuk, kita begitu bergegas untuk membaca dan membalasnya. Namun mengapa saat Allah memanggil-manggil kita agar kita menghadap kepadaNya, justru kita begitu berani untuk menunda-nundanya.

Ketika Bos/komandan/majikan atau atasan memanggil, betapa takutnya kita sehingga dengan cepat kita menghadap kepadanya. Tapi ketika panggilan Tuhan berkumandang, alangkah berani dan lambannya kita untuk memenuhi panggilan tersebut. Padahal yang memanggil kita saat itu adalah Tuhannya Bos, yang memanggil kita saat itu adalah penguasanya semua penguasa.

Betapa kecilnya nominal uang ketika kita sedang berhadapan dengan penjual baju. Alangkah murahnya nilai satu juta ketika kita sedang shopping. Betapa kecilnya angka seratus ribu ketika kita belikan pulsa. Namun ketika ada kotak infak berlalu di hadapan kita atau ada anak yatim yang kesusahan hidup, berapa gerangan lembaran rupiah yang akan kita keluarkan dari dompet kita?

Mengapa lembaran merah seratus ribu menjadi begitu besar nominalnya saat dibawa ke Masjid dan begitu kecil ketika dibawa ke mall? Alangkah pelitnya kita untuk urusan akhirat dan borosnya kita untuk urusan dunia.

Mengapa saat shalat atau membaca Al-Qur’an kita tidak kerasan dan kita mengeluh kepanjangan? Jangankan khusyuk, bahkan menyadari apa yang sedang dibaca saja tidak sempat. Betapa lamanya 15 menit jika kita gunakan untuk beribadah kepada Allah dan betapa singkatnya 15 menit ketika digunakan untuk nonton film.

Betapa asyiknya apabila pertandingan bola ada perpanjangan waktu, tapi ketika mendengar khutbah Jumat lebih lama sedikit dari biasanya kita begitu ringan untuk mengeluh, bahkan menggerutu.

Berapa waktu yang kita habiskan untuk membaca koran, untuk membaca pesan-pesan WA, untuk membaca ratusan status Facebook, lalu bandingkan Berapa waktu yang kita habiskan untuk membaca surat cinta dari Sang Tuhan, yaitu Al-Qur’an?

Betapa sulitnya menyempatkan waktu untuk membaca satu halaman kitab suci dan alangkah mudahnya membaca ratusan halaman novel.

Jujurlah, kita lebih sering menghabiskan sisa usia kita dengan obrolan-obrolan tanpa makna atau menghabiskannya untuk berdzikir dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Alangkah sulitnya merangkai kata demi kata saat berdoa kepada Allah Ta’ala, namun begitu mudahnya menyusun kalimat-kalimat panjang ketika menggunjing tetangga/bergosip dengan teman atau mengobrol tanpa makna.

Betapa banyak orang yang katanya takut kepada neraka, tapi kelakuannya justru mengantarkan dia ke neraka. Dan betapa banyak orang yang katanya ingin masuk surga tapi justru kelakuannya menjauhkan dia dari surga sejauh-jauhnya.

Khutbah Kedua – Waktu Kita Untuk Apa?

Sidang Jumat yang kami hormat,

Tujuan Allah menciptakan kita hanya satu, yaitu untuk beribadah kepadaNya, tidak ada tujuan yang lain. Namun bukan berarti kita disuruh 24 jam x 360 hari untuk duduk berdiam di masjid, bukan. Kemudian kita tidak bekerja dan mencari nafkah, bukan. Lalu menjadi beban orang lain, bukan.

Mukmin sejati tetap bekerja, mukmin sejati tetep membanting tulang memeras keringat. Yang membedakan antara mukmin dengan yang lainnya adalah untuk apa dia bekerja dan bagaimana cara dia bekerja.

Yang pertama, untuk apa dia bekerja? Seorang mukmin bekerja untuk menjaga harga diri, menjaga kehormatan agar tidak menjadi pengemis dan peminta-minta. Seorang mukmin bekerja untuk menafkahi anak, istri dan keluarga yang ditanggungnya. Seorang mukmin bekerja untuk mengumpulkan modal harta yang bakal dia gunakan untuk bersedekah, untuk berkurban, untuk berumrah, untuk berhaji. Itulah tujuan mukmin bekerja.

Adapun poin yang kedua, bagaimana mukmin bekerja? Dia bekerja hanya dalam jenis pekerjaan yang dihalalkan oleh Allah saja, bukan pekerjaan yang remang-remang/syubhat, apalagi yang haram.

Kemudian, kesibukan mukmin dalam bekerja tidak membuat dia lalai dari ibadah-ibadah yang primer. Waktunya shalat dia berhenti bekerja untuk menunaikan shalat, waktunya belajar agama dia gunakan untuk fokus belajar agama, waktunya refreshing dan bercengkrama dengan keluarganya ia manfaatkan untuk aktivitas positif tersebut.

Intinya, kita harus menghabiskan seluruh umur kita untuk beribadah kepada Allah. Dan bekerja adalah termasuk dari ibadah, dengan catatan berbagai poin yang telah tadi kita sampaikan.

Video Khutbah Jumat singkat padat – Waktu Kita Untuk Apa?

Silahkan dibagikan, semoga bermanfaat dan menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0