Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat : Al-Qur’an dan Sunnah Sebagai Bimbingan di Zaman Fitnah” yang disampaikan Ustadz Abu Yahya, Hafidzahullahu Ta’ala
Mukadimah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
KHUTBAH PERTAMA : Ancaman Menyelisihi Perintah Rasul dan Keterbatasan Akal
Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an dan mengutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tiada lain adalah untuk kebahagiaan manusia sebagai bimbingan hidup dalam menghadapi berbagai macam problematika kehidupan, terutama pada zaman yang penuh dengan fitnah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui tentang apa yang akan terjadi di masa depan, sehingga Dia pastilah sudah memberikan bimbingan untuk menghadapi berbagai macam problematika yang terjadi. Oleh karena itu, kewajiban utama setiap muslim adalah berusaha menyibukkan diri untuk mempelajari Al-Qur’an dan hadits karena di dalamnya terdapat banyak sekali bimbingan yang sangat dibutuhkan, terutama bagi yang hidup di akhir zaman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُاللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ
“Dan bagaimana kamu dapat menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu?” (QS. Ali ‘Imran[3]: 101)
Meskipun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah wafat, sunnah-sunnah beliau tetap ada. Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan jaminan bahwa siapa pun yang senantiasa mempelajari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan terjaga dari kekafiran. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut bahwa kekafiran itu akan jauh dari kalian selama kalian terus-menerus dibacakan ayat Allah dan pada kalian ada rasul-Nya, yang dalam hal ini adalah sunnahnya.
Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pada sambungan ayat tersebut:
وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Barang siapa berpegang teguh kepada agama Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 101)
Siapapun yang mempelajari kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sesuai dengan pemahaman para sahabat, para tabi’in, dan para tabiut tabi’in sebagai generasi terbaik, pasti akan diberikan petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala serta selamat dari berbagai macam kesesatan dan penyimpangan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ancaman di dalam Al-Qur’an melalui ayat-ayat yang banyak bagi mereka yang menyelisihi perintah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah satunya adalah firman-Nya:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur[24]: 63)
Ayat ini memperingatkan orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul agar waspada terhadap datangnya fitnah atau azab yang pedih. Imam Ahmad rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan fitnah di sini adalah kekafiran atau kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ancaman yang sangat berat, di mana kedua konsekuensi tersebut sama-sama pahit bagi seorang hamba.
Sejarah mencatat bahwa ekspedisi utusan-utusan dikirim ke berbagai negeri untuk mendakwahkan Islam sehingga wilayahnya semakin meluas. Oleh karena itu, sahabat Umar bin Khattab radhiallahu anhu pernah berkata:
اتَّهِمُوا الرَّأْيَ فِي الدِّينِ
“Tuduhlah akal-akal kalian dalam urusan agama ini.” (HR. Al-Baihaqi)
Pernyataan tersebut mengingatkan manusia bahwa terkadang saat melihat dalil, teks tersebut seakan-akan tidak sesuai dengan keinginan pribadi atau bahkan dianggap merugikan urusan duniawi. Padahal, sebetulnya di balik dalil tersebut ada kebaikan besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan bagi para hamba-Nya.
Setiap muslim wajib memiliki sikap taslim (tunduk dan berserah diri secara penuh) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, serta meyakini bahwa ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi segala sesuatu. Landasan utama dari sikap berserah diri ini ditegaskan oleh Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa[4]: 65)
Ayat ini menetapkan kewajiban mutlak bagi seorang muslim untuk menerima keputusan wahyu tanpa ada rasa berat hati, melainkan menyerahkan diri dengan sebenar-benarnya taslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Tidak layak bagi seorang muslim, apabila telah ada ketentuan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, untuk mencari alternatif atau pilihan yang lain. Mengambil pilihan lain di luar ketentuan wahyu mencerminkan adanya anggapan seolah-olah keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tidak layak bagi dirinya. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabbul ‘Alamin yang ilmu-Nya mencakup segala sesuatu. Keraguan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya menjadi indikator tidak adanya keimanan di dalam hati seseorang.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ
KHUTBAH KEDUA: Sikap Menghadapi Fitnah Kepemimpinan
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Umat Islam, sikap taslim mengkonsekuensikan keyakinan bahwa keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya adalah yang terbaik, termasuk dalam menghadapi huru-hara dan dinamika yang berhubungan dengan pemerintahan pada zaman ini. Fenomena mencela, menjelek-jelekkan, dan melayangkan berbagai tuduhan buruk terhadap pemimpin merupakan hal yang telah dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di dalam hadits yang sahih, beliau bersabda:
إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا
“Sesungguhnya akan ada setelahku sikap egois (atsarah) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” (HR. Bukhari)
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan atsarah di sini adalah tipe pemimpin yang lebih mementingkan urusan pribadinya daripada hak rakyatnya. Di dalam riwayat lain, perintah untuk bersabar ditekankan secara eksplisit melalui sabda beliau:
فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْدِ
“Maka bersabarlah kalian sampai kalian berjumpa denganku di telaga Haud.” (HR. Bukhari)
Seorang mukmin yang memiliki sikap taslim akan meyakini bahwa perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut mengandung maslahat dan kebaikan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keterikatan taslim akan menganggap perintah sabar ini tidak sesuai dengan keinginan maupun penalaran akal mereka. Padahal, seluruh tuntunan yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersumber langsung dari wahyu Pencipta alam semesta, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm[53]: 3-4)
Berdasarkan petunjuk tersebut, kewajiban yang harus ditunaikan adalah mendoakan para pemimpin dengan kebaikan, bukan menghinakan mereka. Tindakan menghinakan pemimpin akan mendatangkan konsekuensi buruk berupa kehinaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنْ أَهَانَ السُّلْطَانَ أَهَانَهُ اللَّهُ
“Barang siapa yang menghinakan pemimpin, maka Allah akan menghinakannya.” (HR. Tirmidzi)
Ancaman ini menjadi peringatan bagi orang-orang yang gemar mencela agar segera bertobat sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan kehinaan kepada mereka di dunia dan di akhirat.
Doa Penutup Khutbah
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ اهْدِهِمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sumber Video Khutbah Jumat “Al-Qur’an dan Sunnah Sebagai Bimbingan di Zaman Fitnah”
Sumber : Masjid Soleh Hawa Official
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS