Khutbah Jumat: Solidaritas Menghadapi Ujian dan Kesusahan Sesama Muslim

Khutbah Jumat: Solidaritas Menghadapi Ujian dan Kesusahan Sesama Muslim

Khutbah Jumat Ramadhan – Ibadahnya Pemalas | Ustadz Ammi Nur Baits
Khutbah Jumat : Kewajiban Patuh terhadap Perintah Allah dan Rasul-Nya
Khutbah Jumat Singkat Tentang Amalan Pembuka Rezeki

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Solidaritas Menghadapi Ujian dan Kesusahan Sesama Muslim” yang disampaikan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Hafidzahullahu Ta’ala

KHUTBAH PERTAMA: Kesadaran Syukur, Takwa, dan Empati Sosial

Sidang Jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala…

Tiada kata yang pantas untuk diucapkan selain ungkapan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang telah diberikan. Anugerah-Nya tidak pernah berhenti dinikmati dalam setiap detik kehidupan. Segala bentuk nikmat tersebut menuntut adanya rasa syukur, serta lisan yang senantiasa bertahmid memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala pemberian-Nya.

Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beserta segenap keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang istikamah berjalan di bawah naungan sunnah beliau hingga hari kiamat kelak.

Sidang Jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Marilah senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang Dia firmankan di dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)

Umat manusia diperintahkan untuk mengerjakan segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dibangun di atas ilmu dan keikhlasan, serta menjauhi segala larangan-Nya berdasarkan ilmu karena takut akan azab serta murka-Nya. Melalui ketakwaan yang sebenar-benarnya, seorang hamba akan mendapatkan ketetapan wafat dalam kondisi muslim yang husnul khatimah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan perintah takwa dan menjaga lisan melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosa mu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 70-71)

Perintah tersebut mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk yang penuh dengan kelemahan dan tidak memiliki daya untuk mewujudkan sesuatu secara mandiri, sebagaimana ditegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah (wa khuliqal insanu dha’ifa). Oleh karena itu, manusia mutlak membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala agar segala urusan dan amal ibadahnya diperbaiki. Ketaatan yang mutlak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi satu-satunya jalan untuk meraih kemenangan besar dalam kehidupan.

Sidang Jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala…

Kehidupan pada hari-hari ini sedang berada dalam kondisi yang tidak mudah bagi banyak orang maupun lingkungan sekitar. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air saat ini sedang diuji dengan berbagai musibah di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ujian dan musibah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut tidak hanya terbatas pada tiga wilayah itu saja. Musibah dan kesulitan bisa jadi sedang menimpa diri sendiri, tetangga rumah, rekan kerja, kakak, adik, anak, maupun orang tua.

Dalam menghadapi situasi yang penuh kesulitan ini, penting untuk merenungkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa membantu membebaskan seorang muslim dari satu kesulitan di dunia, niscaya Allah akan membebaskannya dari satu kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Muslim) [1]

Hadits ini memberikan jaminan bahwa tindakan seorang muslim yang mau membantu mengurai kesulitan, kesusahan, serta kesedihan saudaranya di dunia hingga urusannya selesai, akan dibalas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kemudahan dan penyelesaian masalah yang jauh lebih besar pada hari kiamat kelak.

Hari kiamat merupakan hari yang sangat mengerikan. Pada hari tersebut, segala bentuk harta benda maupun keturunan tidak akan memberikan kegunaan sedikit pun bagi pemiliknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai hakikat hari tersebut:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) di hari yang harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 88-89)

Pada hari itu, setiap individu akan lari dan menjauh dari orang-orang terdekatnya, mulai dari saudara kandung, ibu, ayah, pasangan hidup, hingga anak-anak kandungnya sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan kepanikan manusia pada hari kiamat melalui firman-Nya:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa[80]: 34-37)

Setiap orang akan sibuk memikirkan keselamatan dirinya masing-masing. Di tengah kedahsyatan situasi tersebut, tindakan seorang muslim yang mau membantu mengurai kesulitan saudaranya selama hidup di dunia akan dibalas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengurai dan memudahkan segala kesulitan hamba tersebut pada hari kiamat kelak.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan tuntunan mengenai kelonggaran dalam urusan piutang bagi orang yang sedang mengalami kesulitan finansial. Para ulama menjelaskan bahwa setidaknya ada dua cara untuk memberikan kemudahan tersebut, yaitu memberikan penangguhan waktu pembayaran ketika sudah jatuh tempo sampai ia mampu membayar, atau memberikan potongan dan bahkan memutihkan seluruh sisa utangnya.

Meskipun setiap orang memiliki kebutuhan terhadap materi, pengorbanan dalam memberikan kelonggaran hutang ini akan mendatangkan balasan yang sangat besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Janji mulia ini ditegaskan dalam lanjutan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barangsiapa yang mempermudah urusan orang yang mengalami kesulitan, niscaya Allah akan mempermudah urusannya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim) [2]

Kehidupan manusia dipenuhi dengan berbagai macam problematika dari berbagai sisi. Ketika seseorang bersedia memudahkan urusan utang saudaranya, Allah Subhanahu wa Ta’ala secara mutlak akan memudahkan urusan kehidupannya di dunia maupun di akhirat berdasarkan prinsip bahwa balasan yang diterima akan selaras dengan jenis perbuatan yang dilakukan (al-jaza’ min jinsil ‘amal).

Tuntunan selanjutnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah mengenai kewajiban menjaga kehormatan sesama dengan menutup aib atau skandal pribadinya yang tidak merugikan pihak lain. Seorang muslim yang mengetahui celah buruk saudaranya dilarang keras untuk membocorkan, menyebarkan, maupun menjadikannya sebagai bahan fitnah. Langkah terbaik yang harus ditempuh adalah menutup aib tersebut sembari memberikan nasihat secara rahasia agar orang tersebut mau bertaubat dan memperbaiki diri. Manfaat besar dari sikap menjaga aib ini disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim) [3]

Setiap manusia dipastikan memiliki kekurangan dan aib tersendiri. Menutup aib orang lain menjadi syarat mutlak agar Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan menutupi celah keburukan diri kita, terutama pada hari kiamat (yaumul tsubut) ketika seluruh rahasia batin akan disingkap dan dibuka di hadapan mahkamah Allah ‘Azza wa Jalla.

Segala penuturan dalil ini pada hakikatnya adalah tentang kepentingan diri sendiri. Janji pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu mengalir selama seorang hamba mau mengalirkan bantuannya kepada sesama, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim) [4]

KHUTBAH KEDUA : Kehidupan Akhirat Sebagai Balasan Hakiki

Hadits mulia ini harus mampu membuka mata hati setiap muslim untuk menyadari bahwa aktivitas menolong orang lain sebenarnya merupakan kebutuhan primer bagi diri sendiri sebelum menjadi kebutuhan bagi orang yang dibantu. Keuntungan spiritual berupa jaminan perlindungan dan bantuan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala akan didapatkan terlebih dahulu oleh orang yang mengulurkan bantuan.

Ketika seorang hamba mengurai kesulitan saudaranya di dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengurai kesulitannya pada hari kiamat kelak. Balasan di akhirat ini jauh lebih mulia karena akhirat merupakan tempat kembali yang terbaik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai keutamaan negeri akhirat:

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada sekarang (permulaan).” (QS. Ad-Duha[93]: 4)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan kemuliaan akhirat:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la[87]: 17)

Bantuan yang diberikan kepada sesama manusia di dalam kehidupan dunia yang fana, sementara, dan singkat ini akan dibalas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pertolongan di kehidupan yang kekal abadi, sepanjang amal tersebut dilakukan dengan ikhlas karena-Nya. Oleh karena itu, pihak yang paling diuntungkan ketika menolong orang lain adalah diri sendiri.

Menolong sesama merupakan sebuah kebutuhan mendasar bagi orang yang memberi bantuan. Terkait prinsip ini, ulama tabi’in Muhammad bin Wasi pernah menyatakan bahwa apabila ada seseorang yang memiliki kebutuhan dan beliau memiliki kemampuan untuk menolong, beliau tidak akan melepaskan orang tersebut sebelum urusannya selesai, meskipun seluruh harta beliau harus habis demi membantunya.

Ungkapan tersebut mencerminkan bahwa para ulama terdalam tidak sekadar menghafal atau memahami hadits, melainkan meyakini sepenuhnya ilmu yang telah dipelajari. Para ulama sangat berharap mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kelancaran dalam urusan dunia. Mereka berkeinginan agar dapat tersenyum pada hari kiamat, yaitu suatu hari ketika matahari didekatkan dalam jarak satu mil di atas kepala manusia, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengurai segala kesulitan dan memberikan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya yang suka menolong.

Setiap muslim perlu melakukan evaluasi diri mengenai kontribusi yang telah diberikan kepada rekan kerja, tetangga, saudara, maupun kerabat terdekat pada hari-hari ini. Perhatian khusus harus dicurahkan kepada lingkaran keluarga terdekat, seperti sepupu, kakak, adik, orang tua, hingga mertua.

Fenomena kelalaian sering terjadi ketika seorang anak lupa mengirimkan nafkah atau bantuan kepada orang tua dan mertua yang sedang mengalami kesulitan. Sering kali orang tua memilih diam dan tidak mengeluh mengenai kesusahan mereka. Sikap pasif dari anak yang tidak berusaha mencari tahu kondisi orang tua akan menyebabkan hilangnya kesempatan emas untuk berbakti (birrul walidain) serta hilangnya peluang untuk meraih pertolongan yang luar biasa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kepedulian serupa juga harus dialirkan kepada saudara-saudara sebangsa yang sedang tertimpa musibah di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan daerah-daerah lainnya. Setiap mukmin harus mengambil bagian dalam meringankan beban mereka selama kesempatan di dunia masih terbuka. Ketika kehidupan dunia ini berakhir, harta yang tidak dialokasikan untuk perjuangan mengurai kesulitan sesama akan menjadi beban hisab yang berat pada hari kiamat.

Harta benda yang dimiliki di dunia pasti akan dimintai pertanggungjawaban secara terperinci. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai rukun pertanyaan di hari kiamat:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara.” (HR. Tirmidzi) [5]

Di antara empat perkara tersebut, salah satu yang paling krusial adalah pertanyaan mengenai harta kekayaan:

وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ

“Dan tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan kemana ia menginfakkannya.” (HR. Tirmidzi) [6]

Setiap hamba harus memastikan bahwa salah satu jawaban yang siap dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla adalah alokasi harta yang digunakan untuk membantu orang tua, mertua, pasangan hidup, anak-anak, kerabat, tetangga, serta saudara-saudara seagama yang membutuhkan di berbagai wilayah. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik-Nya.

Sumber Video Khutbah Jumat “Solidaritas Menghadapi Ujian dan Kesusahan Sesama Muslimt”

Sumber: Muhammad Nuzul Dzikri 

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

REFERENSI : 

[1] [2] [3] [4] https://sunnah.com/muslim:2699a

[5] [6] https://sunnah.com/tirmidhi:2417

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: