Khutbah Jumat : Beningnya Hati

Khutbah Jumat : Beningnya Hati

iklan erto's

Berikut khutbah jumat tentang “Beningnya Hati yang disampaikan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafizhahullahu Ta’ala. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor.

Khutbah Jumat : Beningnya Hati

Khubat Jumat pertama

Ummatal Islam,

Sesungguhnya kehidupan hati adalah merupakan kehidupan yang hakiki. Di mana seorang hamba yang hatinya hidup, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kepada dia berbagai macam kenikmatan. Dan kenikmatan yang paling luas adalah mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dengan beramal shalih. Maka ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hati yang hidup kepada seorang hamba, dia akan bisa melihat kebenaran dan merasakan akan adanya penyakit-penyakit yang masuk ke dalam dirinya.

Orang yang hatinya hidup, ia lebih bahagia dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari pada memaksiati Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itulah, kewajiban seorang hamba ialah dia harus lebih memperhatikan kesehatan hatinya dibandingkan dengan kesehatan badannya.

Keutamaan Para Sahabat

Dahulu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keistimewaan dan keutamaan kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan dengan banyaknya amal, akan tetapi dengan kebeningan hati mereka. Al-Hasan al-Bashri berkata,

ما فضل اصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم بكثرة صلاة ولا بكثرة صيام ولكن انما فضل بما وقر في قلوبهم

“Tidaklah para sahabat diberikan keutamaan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena banyaknya shalat atau puasa mereka, akan tetapi mereka diberikan keutamaan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena apa yang ada di hati mereka.”

Dalam riwayat yang lain, Al Hasan Al Bashri berkata kepada teman-temannya,

انتم اكثر صلاة و اكثر صياما من اصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وهم كانوا افضل منكم

“Kalian lebih banyak shalatnya dan kalian lebih banyak puasanya dibandingkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi para sahabat lebih utama dari kalian.” Lalu teman-temannya Al Hasan Al Bashri berkata,

و لماذا؟

“Mengapa hal itu terjadi?” Al Hasan Al Bashri menjawab,

لانهم كانوا أزهد الناس في الدنيا و ارعبهم في الاخرة

“Karena hati mereka lebih mengharapkan akhirat dibandingkan kalian dan hati mereka lebih zuhud terhadap kehidupan dunia dibandingkan kalian.”

Penyakit Hati

Subhanallah, ya Akhal Islam,

Seorang mukmin lebih memperhatikan kesehatan hatinya dibandingkan dengan kesehatan badannya. Adapun orang-orang yang terkena penyakit hati, berupa kemunafikan, dia lebih memperhatikan kesehatan badannya dan tidak peduli dengan hatinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati orang-orang munafik dalam surah Al-Munafiqun Allah berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum.” (QS. Al Munafiqun[63]: 4)

Karena orang-orang munafik lebih memperhatikan badannya, namun mereka tidak peduli dengan hatinya. Sedangkan seorang mukmin sangat memperhatikan hatinya. Dia khawatir kalau ternyata kemunafikan itu masuk ke dalam dirinya. Muhammad bin Al Munkadir berkata,

أَدْرَكْتُ ثَلاَثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ

“Aku bertemu dengan tiga puluh sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka semua mengkhawatirkan kemunafikan itu ada pada diri mereka.” (HR. Bukhari)

Bayangkan, para sahabat yang imannya luar biasa itu ternyata mereka semua mengkhawatirkan dan takut kalau ternyata hatinya tertimpa penyakit kemunafikan. Karena sesungguhnya penyakit-penyakit hati, apa lagi penyakit kemunafikan, itu akan membinasakan akhirat seorang hamba. Keselamatan kita di akhirat bukan tergantung kepada harta benda kita, tetapi kepada hati kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat,” (QS. Asy-Syu’araa[26]: 88-89)

Apa yang dimaksud dengan selamat? Kata Al Imam Ibnul Qayyim, dia selamat dari mengagungkan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selamat dari berbagai macam penyakit hati berupa kesombongan, hiqd/ dengki, cinta dunia yang berlebihan, serta yang lainnya.

Pengaruh Syahwat

Ummatal Islam,

Hati yang berpenyakit akan menyebabkan amal apapun tidak bermanfaat. Ketika hati dipenuhi dengan hawa nafsu dan syahwat, seringkali ilmu itu tidak ada manfaatnya. Lihatlah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan seorang laki-laki yang bernama Bal’am yang hidup di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan ayat-ayat dan ilmu-Nya kepadanya. Tapi ternyata ia memiliki penyakit hati, yaitu cinta dunia dan mengikuti hawa nafsu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ . وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah,” (QS. Al-A’raf[7]: 175-176)

Ternyata hatinya penuh dengan penyakit cinta dunia/ mengikuti hawa nafsu sehingga akhirnya ilmu yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala ajarkan itu tidak bermanfaat dalam hidupnya.

Perumpamaan Hati dan Ilmu

Ummatal Islam,

Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengumpamakan hati bagaikan tanah, dan ilmu bagaikan air hujan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم كمثل غيث أصاب أرضًا

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Air hujan bagaikan ilmu yang mana sangat bermanfaat sekali. Sedangkan tanah itu bagaikan hati. Tetapi ketika tanah itu tidak cocok untuk mendapatkan air hujan, ia menjadi malapetaka/ longsor sehingga tidak ada manfaatnya air hujan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan tersebut.

Demikian pula hati. Hati yang banyak penyakitnya, dipenuhi dengan syahwat dan mengikuti hawa nafsu. Ketika mendapatkan ilmu, maka ilmu hanya menjadi malapetaka untuk dirinya.

Ummatal Islam,

Oleh karena itulah, perhatian kita kepada hati harus melebihi perhatian kita kepada badan kita. Karena sesungguhnya kehidupan hati itu lebih utama dari pada kehidupan badan kita.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Khutbah Jumat Kedua

Ummatal Islam,

Ada tiga cara untuk memelihara kesehatan hati kita. Al Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitab Ighatsatul Lahfan bahwasanya kesehatan hati tidak ada bedanya dengan kesehatan badan kita. Memelihara kesehatan badan, itulah cara memelihara kesehatan hati.

Cara Menjaga Kesehatan Hati

Yang pertama adalah menjaga stamina badan kita agar senantiasa kuat sehingga tidak mudah terserang penyakit. Demikian pula stamina iman yang ada di hati kita pun harus kita jaga. Lalu yang kedua adalah tidak mengonsumsi makanan yang bisa merusak badan kita. Demikian pula hati yang tidak mengonsumsi sesuatu yang bisa merusak hati kita. Dan yang ketiga adalah mengeluarkan unsur yang bisa merusak badan kita, demikian pula hati.

1. Beramal Shalih

Ada pun yang pertama, menjaga stamina hati yaitu dengan cara beramal shalih. Kita berusaha membiasakan amalan shalih yang antara lain membiasakan membaca Al-Qur’an setiap harinya, shalat tahajjud untuk bertaqarrub dan bermunajat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta membiasakan lisan kita untuk berdzikir memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membesarkan-Nya. Karena itu merupakan kekuatan hati kita. Ibadah dan amal shalih berupa shalat, puasa, zakat, sedekah dan yang lainnya, itulah kekuatan iman dan hati kita.

2. Jangan Bermaksiat

Lalu yang kedua, jangan mengonsumsi sesuatu yang bisa merusak hati kita, yaitu maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena maksiat itu melemahkan keimanan. Maksiat akan menjadikan seorang hamba merasa berat untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Betapa banyak orang-orang yang berbuat maksiat, dan kita melihat lisannya kelu untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hatinya pun tidak merasakan nikmat ketika ia shalat, akibat dari maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ia lakukan.

3. Perbanyak Istighfar

Kemudian yang ketiga, keluarkan perkara yang bisa merusak hati kita dengan cara banyak istighfar dan taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik kepada seorang hamba kepada dua hal ini, yaitu taubat dan istighfar, sungguh ia telah mendapat sesuatu yang luar biasa. Karena sesungguhnya istighfar dan taubat itu yang menyebabkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa seorang hamba walaupun sebanyak apapun dosanya. Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ! لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُك عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتنِي غَفَرْتُ لَك

“Wahai anak Adam kalaulah dosamu sampai ke awang-awang di langit saking banyaknya dosamu itu, kemudian kamu minta ampun kepada-Ku, aku pasti ampuni dosamu.” (HR. Tirmidzi)

Subhanallah. ya Akhal Islam, betapa bahagianya seorang hamba yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya taubat dan istighfar. Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِى صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

“Beruntung seorang hamba yang mendapatkan dalam catatan amalnya nanti di hari kiamat banyak istighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Ibnu Majah 3950)

Video Khutbah Jumat Tentang Beningnya Hati

Sumber Video Khutbah Jumat: RodjaTV Live Streaming

Demikian khutbah Jumat tentang “Beningnya Hati“. Mari turut menyebarkan catatan kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: