Di Antara Faedah Iman Kepada Takdir Yaitu Sabar dan Ridha

Di Antara Faedah Iman Kepada Takdir Yaitu Sabar dan Ridha

Tulisan tentang “Di Antara Faedah Iman Kepada Takdir yaitu Sabar dan Ridho” ini adalah catatan yang kami tulis dari ceramah singkat Ustadz Yazid bin A

Tulisan tentang “Di Antara Faedah Iman Kepada Takdir yaitu Sabar dan Ridho” ini adalah catatan yang kami tulis dari ceramah singkat Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullahu ta’ala.

Di Antara Faedah Iman Kepada Takdir Yaitu Sabar dan Ridha

Ikhwani fiddin a’azzakumullah,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi;

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai sebuah kaum niscaya Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Maka barang siapa yang ridha (dengan ketetapan Allah –pent), maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barang siapa yang murka, maka Allah-pun akan murka kepadanya.” (Hadits ini hasan)

Tingkatan Manusia

1. Murka

Tingkatan orang ketika mendapat cobaan/ujian/musibah, yang paling rendah adalah murka. Kalau ada orang yang murka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala juga murka kepada dia. Jika dia marah dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya ketika sakit dia marah, lalu anak/ adiknya meninggal kemudian dia marah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala juga marah kepada dia;

مَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Maka barang siapa yang ridha (dengan ketetapan Allah –pent), maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barang siapa yang murka, maka Allah-pun akan murka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi)

Tingkatan kedua yang Allah perintahkan yaitu sabar. Tingkatan yang lebih tinggi lagi yaitu ridha, lalu yang lebih tinggi lagi yaitu syukur.

2. Sabar

Maka sabar ini penting dan ini merupakan kewajiban seorang mukmin. Yaitu harus sabar dengan takdir-takdir Allah yang pahit. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ . أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah[2]: 155-157)

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

وجدنا خير عيشنا بالصبر

Kami mendapati kebaikan kehidupan kami ini dengan sabar.” 

Dibawakan oleh Al Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Uddatush Shabirin. Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan,

الصبر مطيَّةٌ لا تكبُو

Sabar itu merupakan kendaraan yang tidak akan terjatuh.”

Adukan Kepada Allah

Sabar itu bermanfaat. Dan kita diperintahkan untuk sabar ketika menghadapi cobaan/ ujian/ musibah. Tidak gelisah, berkeluh kesah, maupun menceritakan cobaan/ ujian kita kepada orang lain. Adukan itu semuanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagian orang ketika kurang makanan, dia cerita kepada orang. Dia tidak sabar. Ketika sakit, dia ceritakan semuanya kepada orang. Tidak hanya itu, bahkan dia meminta-minta pada manusia. (Hal ini) tidak boleh, hukumnya haram.
Antum ingat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama kali mengambil perjanjian dengan para sahabat yang masuk Islam. Di samping mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak boleh berbuat syirik, tidak berbuat maksiat, lalu apa? Jangan meminta-minta kepada manusia. Itu harus kita ingat. Jadi mengharap hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kalau ada cobaan/ ujian, maka bersabar. Yang susah bukan kita saja, tapi jutaan orang lain juga susah. Kadang-kadang diangkat di media ketika seorang dai/ ustadz sedang kesusahan dan mengatakan bahwa harus dibantu. Padahal banyak yang lebih susah dari dai tersebut. Banyak orang bahkan jutaan yang susah, mengapa hanya dia yang berkeluh kesah?

Itu jutaan orang yang di kampung-kampung hidup lebih susah dari dia, tidak mengeluh. Mereka mencari nafkah dengan apa adanya, tidak mengharap dari manusia, malah si da’i minta-minta. Di WhatsApp lagi buka donasi ketika anaknya sakit di rumah sakit. Tidak boleh dalam Islam, hukumnya haram. Sabarlah dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala akan uji kita dengan orang yang paling kita cintai. Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin melihat kita, kita sabar atau tidak dengan ujian ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin lihat agar dia terus meminta kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, mengharap pada-Nya, dan yang lainnya. Maka kita harus sabar dalam ketaatan. sabar menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi takdir yang pahit.

3. Ridha

Orang mukmin yang mengimani qada dan qadar itu dia akan ridha terhadap apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan. Dan ridha ini pembahasan yang panjang. Kita mengucapkan:

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

Aku ridha Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Muhammad sebagai nabiku.” (HR. Ahmad)

Kalau ridha kepada Allah, maka ridha kepada semua takdir/ keputusan Allah. Ridha ketika kita mentauhidkan rububiyah dan uluhiyahnya Allah, serta asma wa sifat. Kita ridha dengan semua yang Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan/ tetapkan, dan ridha dengan agama Islam ini. Semua syariat agama Islam, kita wajib untuk melaksanakannya. Artinya semua syariat di agama Islam ini mudah, tidak sulit.

Kita ridha kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan kita ittiba’, mencintai beliau ini wajib. Makanya orang yang merasakan manisnya iman adalah orang yang ridha kepada Allah. Dalam hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ الإِيْماَنِ مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا وِبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا رَسُوْلاً

“Telah merasakan manisnya iman, siapa yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai nabi dan rasul.” (HR. Muslim)

Manisnya Iman

Antum merasakan kalau kita ridha dengan apa yang Allah takdirkan, itu akan terasa nikmat/ manisnya iman itu. Al Imam Ibnul Qayyim membahas tentang keutamaan ridha itu kurang lebih ada 50 di dalam kitab-nya Madarijus Salikin di juz yang kedua. Apa manfaat dari ridha, apa keutamaan ridha, disebutkan satu per satu oleh beliau. Disebutkan dalam kitab Madarijus Salikin, saya bacakan sebagiannya saja, kata Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala: 7.58

مَنْ مَلأَ قَلْبَهُ مِنَ الرِّضَا بِالْقَدَرِ: مَلأَ اللَّهُ صَدْرَهُ غِنًى وَأَمْنًا وَقَنَاعَةً، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِمَحَبَّتِهِ، وَالإِنَابَةِ إِلَيْهِ، وَالتَّوَكُّلِ عَلَيْهِ. وَمَنْ فَاتَهُ حَظُّهُ مِنَ الرِّضَا: امْتَلأَ قَلْبُهُ بِضِدِّ ذَلِكَ، وَاشْتَغَلَ عَمَّا فِيهِ سَعَادَتُهُ وَفَلاحُهُ

“Barang siapa yang memenuhi hatinya dengan ridha kepada takdir Allah, maka Allah akan penuhi hatinya dengan merasa cukup, kemudian Allah menetapkan dia hidupnya pas-pasan lalu dia ridha, maka dia menjadi orang yang paling kaya di muka bumi ini.”

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

وَارْضَ بِما قَسَمَ الله لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النّاسِ

Ridhalah dengan apa yang Allah berikan kepada kamu, niscaya kamu jadi orang yang paling kaya muka bumi ini.” (HR. At-Tirmidzi)

Misalnya kita mempunyai beras hanya satu gelas, kita bisa masak hari itu untuk makan dengan istri dan anak. Cukup kita ridha, maka Allah akan penuhi hati kita dengan kecukupan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya. (HR. Muslim; dari Abdullah bin ‘Amr)

Merasa Aman

وََأَمۡنٗا, dan dia juga merasa aman. Orang kalau dia ridha dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia akan aman. Tidak ketakutan seperti kebanyakan orang zaman sekarang yang apa-apa takut. Orang beriman tidak seperti itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah takdirkan tidak akan menimpa kita kecuali yang sudah Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan.

Dia keluar rumah dengan tenang, dia berangkat ke masjid dengan tenang, dan di masjid juga tenang. Sebagian orang tidak ada ketenangan, karena dia tidak meyakini dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala itu.

Qana’ah

وَقناة, dia qana’ah (puas) dengan rezeki yang Allah berikan karena Allah sudah takdirkan demikian. Dan Allah kosongkan hatinya untuk selalu mencintai-Nya. Dengan dia ridha kepada takdir Allah, maka Allah membuat hatinya itu cinta kepada-Nya, selalu bertaubat kepada-Nya, dan tawakkal hanya kepada-Nya.

Tapi kebalikannya, orang yang hilang dari keridhaan kepada takdir ini, maka hatinya penuh dengan kegelisahan, kegundah gulanaan, dan dia akan menyibukkan diri dengan apa-apa yang tidak membawa kepada kebahagiaan dan kesuksesan.

Maka dari itu, orang beriman ketika dia betul-betul memahami tentang ridha ini, dia adalah orang yang paling bahagia. Kuncinya di situ. Para ulama menyebutkan, kalau orang ingin bahagia hidupnya, maka ridhalah dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan. Dia orang yang paling bahagia di dunia ini.

Apa yang Allah takdirkan untuk dia, dia ridha. Maka dia adalah orang yang paling bahagia. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya cobaan/ penyakit, dia ridha. Artinya memang cobaan/ musibah ini mau ditolak dengan apa lagi? Dia tetap ikhtiar, tapi dia ridha dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan ridha dengan penyakitnya, tapi dia ridha dengan apa yang Allah takdirkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah takdirkan, tapi dia wajib untuk ikhtiar. Dia berdoa kepada Allah agar diangkat penyakitnya. Bukan berarti dia ridha lalu dibiarkan penyakitnya, tidak! Tapi dia mengambil Akhdul Asbab, bagaimana caranya agar dia sembuh. Seperti itulah orang beriman. Kita cukup sampai di sini, mudah-mudahan bermanfaat.

Video Di Antara Faedah Iman Kepada Takdir Yaitu Sabar dan Ridha

Sumber video: MIAH Bogor

Demikian catatan “Di Antara Faedah Iman kepada Takdir yaitu Sabar dan Ridha“. Mari turut menyebarkan catatan kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: