Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Berjuang Untuk Kemuliaan Akhirat” yang disampaikan Ustadz Maududi Abdullah, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA: Kesyukuran kepada Pencipta dan Selawat kepada Teladan Mulia
Ma’asyiral muslimin jemaah sidang Jumat rahimani wa rahimakumullah…,
Rasa syukur sepatutnya senantiasa dipanjatkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Rabb yang telah menciptakan manusia serta menyediakan seluruh kebutuhan dalam kehidupan di permukaan bumi. Pujian juga selayaknya dialamatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menganugerahkan rahmat dan nikmat yang sangat berlimpah, serta mengasihi dan menyayangi hamba-Nya melebihi kasih sayang yang pernah diterima dari kedua orang tua.
Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi tercinta, Rasul yang mulia, dan suri teladan umat, Nabi Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau adalah satu-satunya manusia yang sangat diharapkan oleh setiap mukmin agar kelak di akhirat dikumpulkan bersama di dalam kelompoknya. Kelompok beliaulah satu-satunya golongan yang akan mendapatkan keselamatan pada hari pembalasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ
“Pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya.” (QS. At-Tahrim[66]: 8)
Pada hari tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan lagi menghinakan, membuat sedih, ataupun memberikan kepedihan kepada Nabi serta orang-orang yang beriman bersama beliau. Hari kiamat merupakan momentum ketika seseorang tidak lagi berkeinginan untuk dikelompokkan bersama orang tua, tokoh yang dibanggakan di dunia, maupun figur yang sangat disukai, karena seluruh keterikatan duniawi akan sirna.
Keinginan terbesar seorang hamba adalah dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dalam barisan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bagi setiap umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, apabila pada hari itu tidak ditempatkan bersama Nabi tercinta, hal tersebut menjadi pertanda nyata atas kehancuran, kesengsaraan, serta kebinasaan di akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan gambaran mengenai peristiwa di hari akhirat dan yaumul mahsyar melalui firman-Nya:
وَإِذَا الرُّسُلُ أُقِّتَتْ
“Dan apabila rasul-rasul telah ditetapkan waktunya.” (QS. Al-Mursalat[77]: 11)
Di dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan:
وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ
“Dan apabila jiwa-jiwa dipasangkan (dikelompokkan).” (QS. At-Takwir[81]: 7)
Kedua ayat tersebut menjelaskan kondisi ketika para nabi dan para rasul ditentukan waktu pertemuannya bersama kaum masing-masing. Setiap nabi akan berdiri bersama umatnya; umat Nabi Musa bersama Nabi Musa, umat Nabi Ibrahim bersama Nabi Ibrahim, umat Nabi Nuh bersama Nabi Nuh, dan umat Nabi Saleh bersama Nabi Saleh. Melalui skema ini, umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara keseluruhan akan disatukan dalam satu kelompok besar bersama beliau. Penyatuan ini merupakan bentuk realisasi dari kalimat wa idzar rusulu uqitat, dimana setiap umat akan dikenali berdasarkan nabi yang diutus kepada mereka.
Namun, ayat wa idzan nufusu zuwijat memberikan penjelasan yang lebih spesifik mengenai keberadaan kelompok-kelompok kecil di dalam umat tersebut. Ayat ini mengabarkan bahwa kelompok besar umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam nantinya akan dipisah-pisahkan lagi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi faksi-faksi yang lebih kecil berdasarkan kemiripan amal dan keadaan mereka. Umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berada dalam satu kesatuan yang homogen, melainkan terbagi menjadi kelompok-kelompok yang berbeda. Ada manusia yang berkelompok dengan golongan tertentu, dan salah satu di antara sekian banyak kelompok kecil tersebut adalah kelompok yang berada erat bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Pengelompokan kecil inilah yang menjadi esensi dari harapan setiap muslim. Fokus utama seorang hamba bukan sekadar berada di dalam lingkaran besar sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena seluruh manusia yang hidup di zamannya otomatis akan dikumpulkan bersama nabi mereka. Harapan yang sesungguhnya adalah agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan hamba-Nya ke dalam barisan kelompok kecil yang berada di dekat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terpisah dari kelompok-kelompok lain yang terabaikan.
Kondisi istimewa tersebut kembali merujuk pada ketetapan di dalam Surah At-Tahrim ayat ke-8, yaitu sebuah hari ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan serta tidak menghinakan Nabi beserta orang-orang yang benar-benar beriman dan setia kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Menjadi bagian dari kelompok kecil di dalam populasi besar umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan cita-cita tertinggi yang patut diperjuangkan sekuat tenaga semasa hidup di bumi. Kelompok kecil yang dimaksud adalah sebuah barisan mulia yang di dalamnya terdapat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta orang-orang yang setia kepada beliau hingga akhir zaman.
Faktor utama yang membentuk kluster istimewa ini dijelaskan di dalam sebuah hadits shahih ketika seorang sahabat mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
عَنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ رَجُلاً، سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ ” وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا ”. قَالَ لاَ شَىْءَ إِلاَّ أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صلى الله عليه وسلم. فَقَالَ ” أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Dari Anas, bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hari kiamat, ia berkata, ‘Kapan terjadinya hari kiamat?’ Beliau bersabda, ‘Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.’ Maka Beliau bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.'” (HR. Bukhari) [1]
Melalui dialog tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menjelaskan waktu spesifik terjadinya kiamat, melainkan mengalihkan perhatian pada substansi yang jauh lebih krusial. Peristiwa kiamat merupakan ketetapan yang pasti terjadi tanpa bisa dihindari, namun tingkat keselamatan seorang hamba saat hari itu tiba merupakan suatu hal yang belum pasti.
Fokus utama seorang muslim semestinya tertuju pada kepastian keselamatan dirinya di akhirat, bukan pada waktu kedatangan kiamat. Melalui jawaban jujur sang sahabat yang menyatakan bahwa modal utamanya adalah rasa cinta yang mendalam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, Allah ‘Azza wa Jalla melegitimasi pengakuan tersebut sebagai sebuah pelajaran sekaligus keutamaan (manaqib) bagi umat setelah mereka.
Prinsip cinta inilah yang melatarbelakangi lahirnya kelompok-kelompok kecil di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Memandang, Maha Menilai, dan Maha Mengetahui akan mengonversi orientasi cinta abstrak manusia selama di dunia menjadi pengelompokan fisik yang nyata di padang mahsyar.
Meskipun berada di bawah payung besar umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kecenderungan hati manusia terbagi menjadi banyak faksi. Dalam ruang lingkup umat dakwah (seluruh manusia yang hidup setelah diutusnya nabi), terdapat kelompok yang melabuhkan cintanya kepada sesembahan selain Allah, nabi yang dituhankan, matahari, jin, maupun malaikat. Atas dasar cinta tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengumpulkan mereka bersama objek sesembahan masing-masing, terpisah dari barisan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Sementara itu, di dalam ruang lingkup umat istijabah (orang-orang yang menyambut dakwah Islam dan bersyahadat), polarisasi cinta juga terjadi secara sangat variatif. Terdapat individu yang hatinya tertambat pada para penyanyi, penari, serta aktor dan aktris film. Di sisi lain, ada kelompok manusia yang mengarahkan cintanya secara lurus kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat, serta orang-orang saleh.
Perbedaan isi hati antara satu manusia dengan manusia lainnya tidak luput dari pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Zat yang Maha Mengetahui siapa figur yang paling dicintai, diteladani, dan dijadikan sebagai uswah (panutan) di dalam kehidupan ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS. Ghafir[40]: 19)
Segala bentuk kecintaan, keteladanan, dan keterikatan emosional yang disembunyikan di dalam dada selama di dunia akan diwujudkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bentuk pengelompokan yang riil di akhirat, di mana setiap manusia secara otomatis akan dihimpun bersama siapa yang dicintainya.
Ma’asyiral muslimin jemaah sidang Jumat rahimani wa rahimakumullah…,
Khatib mengimbau diri sendiri serta seluruh jemaah yang hadir pada kesempatan yang berbahagia ini untuk berjuang, menargetkan, serta mencita-citakan kemuliaan di akhirat. Kemuliaan tersebut berupa penempatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dalam barisan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berkelompok erat bersama beliau dan orang-orang yang beriman. Melalui ikhtiar ini, seorang hamba akan dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dalam keselamatan, sebagaimana firman-Nya:
يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ
“Pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya.” (QS. At-Tahrim[66]: 8)
Pada hari itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan lagi menghinakan Nabi serta siapa saja yang beriman bersama beliau.
KHUTBAH KEDUA: Hakikat Cinta yang Benar Menurut Syariat
Hadirin sidang Jumat rahimani wa rahimakumullah…,
Setelah memahami kedudukan pengelompokan di akhirat, setiap muslim hendaknya berjuang untuk menjadikan cinta tertinggi dan terbesar di dalam hatinya tertuju kepada Nabi tercinta, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Umat Islam juga harus waspada terhadap jebakan iblis yang mengkondisikan rasa cinta hanya sebatas pada lidah, kata-kata, propaganda, ungkapan, ataupun sekadar senandungan dan nyanyian.
Fenomena cinta yang superfisial tersebut bukan merupakan bentuk kecintaan yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam syariat-Nya. Cinta yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah cinta yang benar-benar tulus, yang dibuktikan melalui kepatuhan serta ketundukan.
Berkaitan dengan klaim cinta ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya ketika banyak orang menyatakan cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 31)
Ayat tersebut menjadi indikator bahwa cinta yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah cinta yang mengalir dan dibuktikan secara konkret di dalam amal perbuatan. Manifestasi dari amal tersebut ditunjukkan melalui kepatuhan dan ketaatan.
Seseorang yang menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, lalu mengikrarkan cinta, merupakan sosok yang memiliki cinta yang benar dan selaras dengan kehendak syariat. Sebaliknya, bentuk pengakuan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya menjadi tidak valid apabila amal perbuatan seseorang bertolak belakang dengan perintah-perintah-Nya. Sungguh suatu hal yang tidak sejalan ketika seseorang mengaku cinta, tetapi ia enggan melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjadikan hal-hal yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sebagai kebiasaan sehari-hari.
Perbuatan maksiat yang dijadikan hobi dan sesuatu yang disukai, disertai kebencian terhadap orang-orang yang mengajak manusia untuk meninggalkan larangan Allah dan Rasul-Nya, merupakan tanda cinta palsu. Cinta yang bertolak belakang antara lisan dan amal perbuatan ini bersumber dari setan serta merupakan tipuan iblis. Tujuannya adalah agar seorang muslim yang menyatakan cinta dengan lisannya tetap merasa aman, meskipun amalnya menunjukkan bahwa ia tidak lagi mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Seseorang yang amalnya bertolak belakang sebenarnya telah mencintai hal lain yang ia ikuti, ditiru, serta ia jadikan teladan dan figur dalam kehidupan. Namun, lisannya terjerat dalam kata-kata cinta sebagai jebakan setan agar ia tetap bertahan di atas kemaksiatan karena merasa maksiat tersebut tidak berpengaruh terhadap cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Khatib menasihati diri sendiri dan jemaah sekalian agar berhati-hati, serta membuktikan cinta yang dinyatakan lisan melalui amal nyata.
Sekiranya bahasa lisan saja cukup untuk menyelamatkan manusia di akhirat dan mengumpulkan mereka bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kaum munafik di Kota Madinah dan kaum munafik setelah mereka adalah generasi pertama yang akan mendapatkan kemuliaan tersebut hanya dengan kata-kata. Esensi dari dusta adalah ketika ucapan tidak lagi sesuai dengan perbuatan dan apa yang dinyatakan tidak selaras dengan kenyataan. Oleh karena itu, orang-orang yang menyatakan cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetapi tidak mengikuti beliau dalam amalnya merupakan pelaku dusta dalam kata cinta. Sifat cinta yang tidak nyata dan hanya sebatas ucapan semacam itu dapat diucapkan oleh semua orang.
Ayat Al-Qur’an diturunkan untuk menguji dan membuktikan siapa orang yang sebenarnya memiliki cinta yang jujur. Orang yang benar-benar taat, mengikuti, meneladani, dan mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang memiliki keselarasan antara apa yang dinyatakan dengan apa yang dilaksanakan. Kaum muslimin hendaknya menjadi hamba yang berusaha mewujudkan cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam bentuk ketaatan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya, serta menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya. Melalui langkah tersebut, cita-cita untuk dikumpulkan bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di akhirat dapat menjadi kenyataan.
Sumber Video Khutbah Jumat “Berjuang Untuk Kemuliaan Akhirat”
Sumber: Maududi Abdullah
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
REFERENSI:


COMMENTS