Khutbah Jumat: Nikmat yang Tidak Terlihat

Khutbah Jumat: Nikmat yang Tidak Terlihat

Khutbah Jumat: Bentengi Diri Kita dari Neraka
Khutbah Jumat Singkat: Jumatan Berkualitas
Khutbah Jumat: Ibadah Salah Hati

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Nikmat yang Tidak Terlihat” yang disampaikan Ustadz Ammi Nur Baits, Hafidzahullahu Ta’ala

KHUTBAH PERTAMA: Hakikat Nikmat Sehat dan Ketenangan Jiwa

Kaum muslimin berkumpul di tempat ini dalam kondisi sehat walafiat, meskipun sebagian diantaranya ada yang sedang menjalani masa pemulihan. Keberadaan manusia yang berada di dekat orang-orang sakit, baik di lingkungan sekitar maupun di rumah sakit, menjadi pengingat akan sebuah kenikmatan luar biasa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada hamba-Nya, yaitu nikmat sehat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda mengenai keutamaan kesehatan ini:

لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النَّعِيمِ

“Tidak mengapa kekayaan itu bagi orang yang bertakwa, dan kesehatan bagi orang yang bertakwa itu lebih baik daripada kekayaan, serta jiwa yang tenang adalah bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah)[1]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa kesehatan fisik bagi orang yang bertakwa memiliki nilai yang lebih tinggi daripada kekayaan materi, di samping ketenangan dan kenyamanan jiwa yang juga merupakan bagian dari kesempurnaan nikmat tersebut.

Setiap individu dapat melakukan aktivitas apapun dengan sangat nyaman serta merasakan seluruh fungsi indra secara optimal saat tubuh dalam kondisi sehat. Makanan yang dikonsumsi dapat dirasakan kelezatannya dengan baik, di mana rasa asin, manis, dan rasa lainnya dapat berfungsi normal karena faktor kesehatan. Sebaliknya, bagi orang yang sedang menderita sakit, semua makanan akan terasa pahit akibat dicabutnya sebagian fungsi kemampuan indra oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Manusia sepatutnya bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat sehat yang membuat dahi dapat diletakkan di atas tanah sejajar dengan kaki saat bersujud, gerakan rukuk dapat dilakukan dengan sempurna, serta berbagai aktivitas ibadah lainnya dapat ditunaikan tanpa hambatan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan definisi mengenai hakikat manusia yang kaya melalui standar kepemilikan tiga nikmat utama, bukan berdasarkan seberapa banyak harta yang dikumpulkan. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا

“Siapa pun di antara kalian yang menyongsong pagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dibentangkan untuknya berikut seluruh isinya.” (HR. Tirmidzi)[2]

Tiga nikmat ini merupakan modal dasar yang paling utama bagi manusia agar dapat beraktivitas dengan nyaman. Komponen pertama adalah rasa aman di tempat tinggal. Kondisi akan menjadi sangat berbeda apabila tempat beribadah atau wilayah hunian berada di zona konflik, seperti di Iran atau di Palestina, dimana ledakan bom dapat terjadi kapan saja. Keadaan serba mencekam dan ketakutan yang tinggi akan membuat seseorang tidak berani keluar dari rumah atau bunker.

Keberadaan masyarakat yang saat ini dapat berangkat menuju masjid tanpa perlu membawa senjata serta mampu melakukan banyak aktivitas tanpa dibayangi rasa takut merupakan bentuk kenikmatan yang luar biasa. Melalui ketersediaan nikmat aman, seorang hamba dapat menjalankan kegiatan apa pun yang diinginkan tanpa adanya gangguan.

Pentingnya nikmat aman dan pemenuhan kebutuhan pangan ini bahkan dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai salah satu argumentasi untuk mengajak orang-orang musyrik agar bersedia memurnikan tauhid dan masuk ke dalam agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

“Maka hendaklah mereka menyembah Allah (pemilik) rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy[106]: 3-4)

Ayat tersebut mengandung perintah untuk menyembah Allah semata karena Dialah yang telah memberikan jaminan pangan sehingga manusia tidak mengalami kelaparan, sekaligus menganugerahkan rasa aman sehingga mereka terbebas dari ketakutan. Setelah menjelaskan pentingnya stabilitas keamanan dan pangan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian menyebutkan nikmat kedua yang tidak kalah krusial bagi eksistensi manusia, yaitu kesehatan pada fisik dan jasadnya.

Seseorang yang memiliki nikmat sehat dapat merasakan kenikmatan dunia sesuai dengan hakikat rasanya. Ia dapat tidur dengan nyenyak, merasakan makanan sesuai rasa aslinya, serta beraktivitas dengan sangat nyaman. Sebaliknya, orang yang sedang sakit akan dibatasi seluruh aktivitasnya oleh penyakit yang diderita. Dalam urusan konsumsi pun mereka menghadapi banyak pantangan, seperti peringatan terhadap risiko ginjal, darah tinggi, atau asam urat. Penyakit membuat seseorang menjadi sangat terbatas untuk menikmati keindahan dunia.

Kondisi tersebut menyadarkan manusia bahwasanya kemampuan seorang hamba dalam menikmati materi dunia itu sangat terbatas. Keterbatasan ini bukan karena ia tidak memiliki materi, sebab ada kalanya harta melimpah dan isi rekening sangat banyak, tetapi semua itu tidak dapat dimanfaatkan untuk dinikmati. Fenomena ini jamak terjadi di mana seorang muslim memiliki banyak harta, tetapi harta tersebut tidak pernah mengantarkannya ke tanah suci atau tidak dapat dinikmati untuk kebaikan. Pada saat itulah, harta yang ada di tangan sama sekali tidak memberikan manfaat.

Komponen ketiga dari modal kebahagiaan hidup adalah kecukupan pangan (wa ‘indahu quutu yaumihi). Ketika seorang hamba memiliki bahan makanan yang cukup untuk hari itu, ia tidak akan dirundung kecemasan mengenai apa yang dapat mencukupi kebutuhan hidupnya pada hari tersebut. Kebutuhan dasarnya telah terpenuhi sehingga ia terbebas dari kelaparan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa siapa saja yang memiliki tiga nikmat ini, maka seolah-olah dunia telah dibentangkan untuknya dengan seluruh isinya.

Berdasarkan petunjuk tersebut, definisi orang yang memiliki kekayaan duniawi sesungguhnya cukup diukur dari tiga modal nikmat dasar ini. Untuk tahap selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban mengenai sejauh mana nikmat tersebut digunakan untuk ketaatan dan ibadah kepada-Nya. Manusia akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai apa yang telah diperbuatnya setelah diberikan rasa aman, kesehatan, dan kecukupan makanan.

Nikmat sehat merupakan perkara yang pertama kali akan ditanyakan di akhirat kelak. Para ulama menjelaskan berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa ada beberapa urusan yang menempati prioritas pertama untuk dimintai pertanggungjawaban. Berkaitan dengan amal hamba, perkara yang pertama kali ditanya adalah salat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah salatnya.” (HR. Tirmidzi)[3]

Sementara itu, berkaitan dengan pemanfaatan nikmat yang telah dianugerahkan, terdapat dua hal yang akan ditanyakan pertama kali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu kesehatan fisik dan air segar yang diminum. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

“Sesungguhnya nikmat yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat adalah urapan kepadanya, bukankah Kami telah menyehatkan badanmu dan memberimu minum dengan air yang segar?” (HR. Tirmidzi)[4]

Setiap orang yang pernah mengalami sakit pasti dapat merasakan betapa agungnya nikmat sehat. Keadaan di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertanyakan perihal kesehatan jasad dan ketersediaan air segar menunjukkan besarnya nilai kedua hal tersebut. Manusia dapat membayangkan andai saja seluruh minuman di muka bumi ini rasanya manis tanpa ada air tawar, maka kehidupan tidak akan berjalan dengan nyaman. Oleh karena nikmat berupa air tawar saja akan ditanyakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka manusia sudah sepatutnya bersiap menghadapi pertanyaan seputar nikmat-nikmat lain yang berukuran lebih besar.

Melalui kesadaran ini, setiap jemaah hendaknya memanfaatkan nikmat sehat dan kesempatan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Tidak ada yang mampu merasakan betapa agungnya nikmat sehat kecuali mereka yang sedang terbaring sakit. Kondisi ini selaras dengan sebuah ungkapan bijak:

الصِّحَّةُ تَاجٌ عَلَى رُؤُوسِ الأَصِحَّاءِ لاَ يَرَاهَا إِلاَّ الْمَرْضَى

“Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat, tidak ada yang dapat melihatnya kecuali orang-orang yang sedang sakit.”

Manusia senantiasa memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesehatan yang berkah serta menjadikan seluruh amal ibadah sebagai amal yang diterima di sisi-Nya.

KHUTBAH KEDUA: Urgensi Memanfaatkan Waktu Sehat dan Waktu Luang

Hadirin jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Terdapat sebuah ayat di dalam Al-Qur’an yang diharapkan dapat menjadi motivasi, terutama bagi orang yang berada dalam kondisi sehat, untuk berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan kesempatan sehatnya.

Kesehatan merupakan jenis nikmat yang seringkali terlupakan oleh manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda mengenai fenomena kelalaian ini:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalam keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)[5]

Mengenai balasan bagi hamba yang konsisten beramal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.” (HR. At-Tin[95]: 6)

Di dalam naskah Tafsir Al-Qurtubi, terdapat riwayat dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, yang menjelaskan tentang hakikat operasional dari ayat tersebut. Ibnu Abbas radhiallahu anhuma menyatakan bahwa seorang hamba yang berada pada masa mudanya (syabab) memiliki kondisi fisik yang kuat sehingga ia rajin menunaikan shalat, berpuasa sunnah, bersedekah, serta aktif melakukan berbagai jenis amal saleh. Namun, seiring berjalannya waktu, hamba tersebut akan sampai pada usia tertentu di mana kondisi fisiknya tidak lagi mampu melayani keinginan ibadahnya karena faktor kelemahan atau penyakit.

Dalam kondisi keterbatasan fisik seperti itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa aliran pahala untuk hamba tersebut tidak akan pernah terhenti. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetap mencatat dan memberikan pahala kepadanya sesuai dengan kadar kebiasaan amal saleh yang rutin ia kerjakan ketika masih dalam kondisi muda dan sehat.

Pemberian pahala yang terus mengalir ini menjadi alasan mendasar bagi setiap orang yang saat ini masih memiliki fisik kuat dan sehat untuk menggunakannya secara maksimal. Selagi tubuh masih mampu melangkah ke masjid, melakukan gerakan rukuk dan sujud dengan sempurna, serta menjalankan puasa sunah, ketaatan tersebut harus dibiasakan. Pada saatnya nanti, ketika lutut sudah tidak dapat ditekuk, pinggang tidak dapat diajak berkompromi, dan jasad tidak lagi mampu digerakkan menuju rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala, pahala rutin akan tetap diperoleh oleh yang bersangkutan. Itulah makna hakiki dari kalimat falahum ajrun ghairu mamnun.

Namun, jaminan pahala yang terus mengalir tanpa putus ini hanya berlaku khusus bagi hamba yang telah menjadikan amal saleh tersebut sebagai sebuah kebiasaan konsisten di waktu sehatnya. Ketentuan ini tidak berlaku bagi individu yang hanya sesekali datang ke masjid, sesekali berpuasa sunnah, atau sekadar beribadah tanpa menjadikannya sebagai rutinitas. Ketika kelompok yang tidak konsisten ini sampai pada titik kelumpuhan aktivitas akibat faktor usia tua atau sakit, mereka tidak mendapatkan aliran pahala otomatis karena memang tidak memiliki rekam jejak kebiasaan amal saleh di masa mudanya.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penegasan mengenai kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-Nya yang terhalang melakukan rutinitas ibadah karena alasan syar’i. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar, maka dicatat baginya pahala seperti amal yang biasa ia lakukan ketika mukim (tidak safar) dan sehat.” (HR. Bukhari)[6]

Berdasarkan dalil tersebut, dapat dipahami bahwa aktivitas ibadah yang dilakukan di waktu sehat merupakan tabungan pahala yang sesungguhnya di hari tua. Ketentuan ini serupa dengan prinsip duniawi yang menyatakan bahwa olahraga ketika masih muda adalah tabungan kesehatan di hari tua. Manusia senantiasa memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hamba-Nya sebagai pribadi yang istiqomah, selalu berusaha melakukan ketaatan kepada-Nya, konsisten meniti ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sebenarnya, serta dianugerahi akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah).

Sumber Video Khutbah Jumat “Nikmat yang Tak Terlihat”

Sumber: anb channel

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

REFERNSI:

[1] https://alquran-sunnah.com/kitab/Shahihah/SEHAT%20ITU%20LEBIH%20BAIK.htm

[2] https://sunnah.com/riyadussalihin:510

[3] https://sunnah.com/riyadussalihin:1081

[4] https://sunnah.com/tirmidhi:3358

[5] https://sunnah.com/bukhari:6412

[6] https://sunnah.com/bukhari:2996

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: