Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Hakikat Kesuksesan Umar bin Abdul Aziz” yang disampaikan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Kiat Sukses Berdasarkan Nilai Ketakwaan
Ma’asyiral muslimin, sidang Jumat yang semoga Allah muliakan…
Tidak ada kata yang pantas untuk diucapkan kecuali puji dan puja syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang dilimpahkan-Nya. Nikmat tersebut tidak bisa dipisahkan dengan derap langkah kaki dan detak-detak jantung manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim[14]: 34)
Semua detakan jantung, darah yang mengalir dengan lancar di dalam pembuluh darah, bahkan kedipan mata merupakan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengingat tidak ada seorang pun manusia yang mampu menghitung nikmat-nikmat tersebut, maka kewajiban hamba adalah senantiasa bersyukur serta beristigfar atas segala kelalaian di dalam bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia harus selalu memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjaga adab di hadapan-Nya, sehingga tidak berkeluh kesah kepada Ar-Rahman Ar-Rahim yang senantiasa mencurahkan segalanya.
Selawat beriring salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta para keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang istiqamah berjalan di bawah naungan sunah beliau sampai Hari Kiamat kelak.
Hadirin yang Allah muliakan, marilah memperkuat ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)
Setiap hamba dituntut untuk bertakwa dengan sebenar-benar takwa dan tidak wafat kecuali dalam kondisi memeluk agama Islam.
Ma’asyiral muslimin yang Allah muliakan…
Secara umum, masyarakat memiliki ketertarikan yang besar untuk mendengarkan kunci keberhasilan orang-orang sukses yang berada di level tertinggi dalam kehidupan dunia. Nasihat dari figur di belakang layar perusahaan-perusahaan besar sering kali dibeli bukunya, dicatat kalimat-kalimat bijaknya, serta disebarluaskan di media sosial. Fenomena sosial tersebut menjadi alasan kuat untuk melihat kembali nama besar Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu taala.
Beliau berada di tingkat tertinggi dalam pencapaian dunia dengan memimpin sebuah kekhalifahan besar, bukan sekadar sebuah perusahaan. Di samping sebagai khalifah atau pemimpin tertinggi umat yang membawahi berbagai wilayah Islam pada masa itu, beliau adalah seorang imam, ulama besar, sekaligus mujtahid mutlak. Tingkatan ini merupakan derajat tertinggi di tengah-tengah para ulama dan dunia ilmu. Beliau mampu menggabungkan kepemimpinan dunia, kepemimpinan ilmu, dan orientasi akhirat; dua bidang besar yang hanya bisa diraih oleh segelintir orang.
Banyak orang yang dinilai sukses di dunia namun tidak mendirikan salat berjamaah, tidak bertauhid, bahkan terjerumus ke dalam kesyirikan serta tidak percaya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Uniknya, banyak orang yang justru terinspirasi oleh kata-kata mutiara tokoh dunia tersebut. Jika tokoh dunia mampu menginspirasi, maka nama besar Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu taala jauh lebih layak untuk menginspirasi. Tidak ada orang sukses pada hari ini yang melebihi kesuksesan Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu taala jika merujuk pada luasnya wilayah kekuasaan beliau saat menjabat sebagai khalifah, serta tingginya kadar keimanan dan ketakwaan beliau kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kiat sukses di dunia dan di akhirat yang disampaikan oleh Al-Imam Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu Ta’ala tertuang di dalam nasihat dan wasiat beliau kepada seseorang:
أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ
“Aku wasiatkan engkau untuk senantiasa bertakwa kepada Allah.”
Wasiat tersebut mengandung perintah untuk menegakkan seluruh perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh keikhlasan, serta sesuai dengan sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketakwaan yang hakiki merupakan peleburan antara nilai keikhlasan dan kebenaran amal. Beliau melanjutkan perkataannya:
الَّذِي لَا يُقْبَلُ غَيْرُهَا
“Di mana tidak ada amal selain ketakwaan yang akan diterima oleh Allah.”
Selain ketakwaan, tidak ada perkara yang akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seberapa lelah, letih, dan besarnya pengorbanan manusia dalam hidup tidak akan bernilai dan tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala jika tidak berlandaskan ketakwaan. Nasihat ini merupakan saripati dari firman Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 27)
Berdasarkan ayat tersebut, perkara yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah karya, amal, ibadah, dan salatnya orang-orang yang bertakwa.
Amal ibadah seperti puasanya orang yang bertakwa, serta segala sesuatu yang dikerjakan atas dasar keikhlasan dan di atas kebenaran, merupakan syarat mutlak diterimanya sebuah amalan. Selebihnya, amalan tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini menegaskan kembali firman-Nya bahwa sesungguhnya yang diterima oleh Allah hanya yang berasal dari orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Ma’idah[5]: 27)
Ma’asyiral muslimin yang semoga Allah muliakan…
Al-Imam Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu taala melanjutkan untaian nasihatnya:
وَلَا يُرْحَمُ إِلَّا أَهْلُهَا
“Dan tidak ada yang disayangi oleh Allah kecuali orang yang bertakwa.”
Berdasarkan prinsip tersebut, tidak ada yang dicintai dan disayang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali orang-orang yang bertakwa. Sebesar apa pun kesuksesan, sebanyak apa pun kekayaan, dan setinggi apa pun posisi jabatan seseorang, jika ia tidak memiliki ketakwaan, maka seluruh fasilitas duniawi tersebut bukan merupakan tanda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai atau menyayanginya.
Fenomena kelimpahan duniawi tanpa ketakwaan itu disebut sebagai istidraj, yaitu sebuah kondisi di mana seorang hamba sengaja diulur dan dibiarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kelak jatuh dalam keterpurukan yang semakin menyakitkan. Logikanya, terdapat perbedaan rasa sakit yang nyata antara seseorang yang jatuh dari lantai satu dengan seseorang yang jatuh dari lantai tiga puluh di dalam kehidupan dunia. Mengenai kasih sayang-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan di dalam Al-Qur’an:
فانَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 76)
Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu taala merupakan sosok nama besar yang berada di tingkat tertinggi dalam konstelasi kehidupan dunia sekaligus di puncak piramida ilmu. Beliau menyampaikan prinsip bahwa tidak ada yang disayang oleh Allah kecuali orang yang bertakwa bukan kapasitasnya sebagai seorang guru teori di dalam kelas. Beliau berbicara sebagai seorang praktisi yang telah menyelami dinamika kehidupan hingga ke level tertinggi.
Pernyataan beliau sangat layak untuk diperhitungkan karena merupakan ucapan dari seorang juara di atas para juara. Pembuktian nyata inilah yang dicari oleh masyarakat. Jika sekadar teori tanpa adanya karya dan pembuktian, semua orang pada era modern ini bisa memproduksi kalimat hikmah, terlebih dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Namun, Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu taala merintis karyanya dari bawah hingga mencapai puncak kekuasaan sebagai khalifah. Beliau mengingatkan manusia agar jangan pernah berpikir bahwa kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala diukur berdasarkan kepemilikan jabatan, kekuasaan, atau harta. Kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya dicurahkan kepada pemilik ketakwaan.
Selanjutnya, Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu taala menyatakan:
وَلَا يُثَابُ إِلَّا عَلَيْهَا
“Dan tidak ada yang diberi pahala kecuali atas dasar ketakwaan.”
Ketentuan ini mengikat bagi siapa saja yang mengharapkan apresiasi, pahala, maupun reward dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap hamba wajib melandasi segala aktivitasnya di atas ketakwaan, baik ketika beramal, beribadah, berkarya, bekerja, membangun sebuah bisnis, maupun saat menjalankan profesi sebagai karyawan.
Konsekuensi hukum dari kaidah ini adalah apabila seseorang bekerja tanpa didasari ketakwaan, maka aktivitasnya dari pagi hingga sore hari tidak akan membuahkan pahala sedikit pun di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pengorbanan waktu dan tenaga yang terkuras habis selama hari kerja (weekdays) akan berlalu sia-sia tanpa nilai ukhrawi. Bahkan, ibadah sakral seperti salat pun jika dikerjakan tanpa ketakwaan seperti terselip niat riya, merasa terpaksa, atau sekadar menjadikan salat Jumat sebagai rutinitas belaka maka pahalanya dipastikan gugur.
KHUTBAH KEDUA : Kesenjangan Antara Pemberi Nasihat dan Pelaku Amal
Ma’asyiral muslimin, sidang Jumat yang semoga Allah muliakan…
Al-Imam Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu taala menutup untaian kalimat nasihatnya dengan sebuah pesan yang sangat mendalam:
فَإِنَّ الْوَاعِظِينَ بِهَا كَثِيرٌ وَالْعَامِلِينَ بِهَا قَلِيلٌ
“Sesungguhnya orang yang menasihati tentang ketakwaan itu sangat banyak, namun orang yang mengamalkannya sangat sedikit.”
Beliau memberikan gambaran realitas bahwa orang yang berbicara, memberikan ceramah, atau menyampaikan dalil-dalil mengenai pentingnya ketakwaan jumlahnya sangat melimpah. Ragam formula dan tips ketakwaan disebarluaskan oleh banyak orang hingga jumlahnya tidak terhitung.
Ada banyak orang yang pandai berbicara mengenai ketakwaan. Namun, orang yang benar-benar menjalankan, mengimplementasikan, menerapkan, serta menumbuhkan ketakwaan di dalam kehidupan nyata jumlahnya sangat sedikit. Tidak semua orang yang melontarkan retorika ketakwaan dikategorikan sebagai ahli takwa. Tidak semua orang yang dengan mudah menyerukan agar menjauhi kemaksiatan mampu membentengi dirinya ketika kemaksiatan tersebut nyata berada di depan mata. Demikian pula, tidak semua orang yang memerintahkan untuk menegakkan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara otomatis melaksanakannya dalam kehidupan pribadi.
Realitas kehidupan ini diulas secara mendalam oleh Al-Imam Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu taala melalui perkataannya:
فَإِنَّ الْوَاعِظِينَ بِهَا كَثِيرٌ وَالْعَامِلِينَ بِهَا قَلِيلٌ
“Sesungguhnya orang yang menasihati tentang ketakwaan itu sangat banyak, namun orang yang mengamalkannya sangat sedikit.”
Berdasarkan fakta tersebut, jumlah orang yang menceramahkan atau mengkhotbahkan perihal kekuatan takwa memang sangat melimpah. Jumlah jamaah yang mendengarkan nasihat ketakwaan pun sangat banyak, namun hanya sedikit di antara mereka yang langsung mengaplikasikannya setelah melangkah keluar dari pintu masjid.
Fenomena kelangkaan pelaku amal ini merupakan sebuah tamparan keras bagi hati sanubari hamba untuk merenungkan posisi dirinya, apakah termasuk ke dalam golongan mayoritas yang hanya pandai berwacana atau golongan minoritas yang konsekuen dalam beramal. Di dalam kehidupan berkeluarga, banyak suami mampu menasihati istri dan anaknya agar bertakwa, namun sedikit sekali suami yang benar-benar mempraktikkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada banyak orang tua yang mengangkat tema takwa di hadapan anak-anaknya, tetapi sedikit sekali ayah dan ibu yang konsisten bertakwa, baik di depan maupun di belakang anak-anak mereka. Begitu pula di lingkungan masyarakat atau perusahaan, banyak pemimpin pandai berpidato atau berbicara takwa di atas mimbar masjid, tetapi tidak banyak yang mengamalkannya. Realitas ini menjadi pelajaran berharga bagi setiap individu, terutama bagi pemberi nasihat, untuk menyelaraskan antara lisan dengan perbuatan.
Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Menjadi orang yang bertakwa tidak menuntut seseorang menjadi pribadi yang suci tanpa celah. Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu taala menjelaskan sebuah kaidah bahwa seseorang dikategorikan sebagai orang yang bertakwa apabila timbangan pahalanya lebih banyak daripada dosa-dosanya. Batasan takwa bukan terletak pada kesempurnaan mutlak, melainkan pada sejauh mana perjuangan seorang hamba untuk mempertahankan ketakwaannya di dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia dipastikan pernah terjatuh ke dalam dosa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah orang-orang yang banyak bertobat.” (HR. Tirmidzi) [1]
Melalui penegasan hadits tersebut, setiap hamba harus mengevaluasi diri agar tidak terjebak ke dalam kelalaian mayoritas manusia. Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengonfirmasi bahwa kelompok hamba yang menepati jalan kebenaran dan bersyukur jumlahnya selalu sedikit:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (bersyukur).” (QS. Saba'[34]: 13)
Sebaliknya, jika memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an, penyebutan mayoritas manusia hampir selalu berada di dalam konteks yang tidak positif. Kenyataan ini selaras dengan sunnatullah bahwa para pemenang dan orang-orang sukses dalam bidang apa pun selalu berada di posisi minoritas. Di dalam institusi pendidikan, siswa yang berhasil meraih peringkat terbaik selalu berjumlah sedikit. Oleh karena itu, manusia harus memilih untuk bergabung bersama kelompok minoritas yang mulia ini, yaitu menjadi hamba yang konsisten bertakwa, bersyukur, beriman, serta beramal saleh kepada Rabbul ‘alamin.
Seseorang tidak memerlukan usaha keras maupun proses belajar jika hanya ingin menjadi pribadi yang buruk, durhaka, melakukan kemaksiatan, atau menjadi penghuni neraka. Jalan menuju keburukan berserakan tanpa hambatan. Oleh karena itu, para ulama melontarkan sebuah ungkapan hikmah:
لَيْسَ الْعَجَبُ مِمَّنْ هَلَكَ كَيْفَ هَلَكَ وَإِنَّمَا الْعَجَبُ مِمَّنْ نَجَا كَيْفَ نَجَا
“Bukan hal yang mengejutkan apabila ada seseorang yang gagal dan binasa mengenai bagaimana ia bisa gagal, namun hal yang mengejutkan lagi mengagumkan adalah ketika ada seseorang yang berhasil mengenai bagaimana kunci keberhasilannya.”
Berdasarkan motivasi tersebut, setiap muslim dituntut untuk terus memperbaiki kualitas ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sumber Video Khutbah Jumat “Hakikat Kesuksesan Umar bin Abdul Aziz”
Sumber : Muhammad Nuzul Dzikri
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
REFERENSI:


COMMENTS