Khutbah Jumat: Islam Agama Kasih Sayang

Ceramah Singkat: Pemuda Milenial
Khutbah Jumat: Hilang Tanpa Ganti
Hari Kiamat

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Islam Agama Kasih Sayang” yang disampaikan Ustadz Abdullah Zaen, Hafidzahullahu Ta’ala

Khutbah Pertama: Islam sebagai Agama Rahmat

Salah satu ciri utama syariat Islam adalah hadir membawa dan menjunjung tinggi kasih sayang. Banyak dalil dari Al-Qur’an dan sunnah yang menegaskan hal tersebut, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

​وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya[21]: 107)

​Dalam mengajarkan kasih sayang, Islam tidak berhenti pada konsep global atau nasihat umum saja. Islam menjelaskannya secara rinci lengkap dengan contoh nyata dalam praktik sehari-hari. Kasih sayang dimulai dari lingkaran terdekat, yaitu anak, istri, dan keluarga, lalu meluas kepada orang lain, baik yang dekat maupun jauh, bahkan kepada mereka yang berbeda agama sekalipun. Masing-masing mendapatkan porsi kasih sayang sesuai aturan yang telah ditetapkan agama.

​Lebih dari itu, kasih sayang dalam Islam tidak hanya ditujukan untuk manusia. Binatang, tumbuhan, hingga lingkungan pun mendapatkan perhatian khusus. Hal ini telah diajarkan sejak berabad-abad yang lalu, jauh sebelum munculnya kampanye kepedulian hewan atau gaya hidup hijau di dunia Barat.

​Mengenai kasih sayang terhadap anak, terdapat kisah dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencium cucunya, Al-Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma. Saat itu, Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi yang sedang duduk di samping beliau berkomentar bahwa ia memiliki sepuluh orang anak, namun tidak pernah satu pun di antara mereka yang ia cium. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memandangnya seraya bersabda:

​مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

“Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

​Untuk menumbuhkan sikap saling menyayangi antar sesama muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perumpamaan yang indah:

​مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya akan ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

​Langkah nyata untuk menumbuhkan kasih sayang tersebut adalah dengan menebarkan salam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

​لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling menyayangi. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian kerjakan niscaya kalian akan saling menyayangi? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

​Kasih sayang Islam juga mencakup hubungan dengan nonmuslim. Bentuk kasih sayang terbesar adalah mengajak mereka mengenal Islam agar meraih kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat. Namun, jika mereka enggan masuk Islam dan tidak memerangi kaum muslimin, mereka tetap berhak disikapi dengan baik secara lahiriah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

​لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah[60]: 8)

​Islam pun mengajarkan kasih sayang kepada binatang. Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu mengisahkan bahwa saat bepergian bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka melihat induk burung bersama dua anaknya. Ketika para sahabat mengambil anak burung tersebut, induknya tampak gelisah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya tentang siapa yang telah menyakiti induk burung tersebut dan memerintahkan untuk mengembalikan anaknya. Beliau juga melarang membakar sarang semut seraya bersabda:

​إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلَّا رَبُّ النَّارِ

“Sesungguhnya tidak ada yang boleh menyiksa dengan api kecuali Pencipta api (Allah).” (HR. Abu Daud)

​Bahkan dalam urusan menyembelih hewan pun, Islam memerintahkan kelembutan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

​إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik pada segala sesuatu. Apabila kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Apabila kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian mengasah tajam pisau dan menenangkan hewan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Khutbah Kedua: Menjaga Moderasi dalam Kasih Sayang

Saat ini, muncul dua kelompok yang keliru dalam menyikapi konsep kasih sayang. Kelompok pertama menampilkan Islam sebagai agama yang keras dan gemar menumpahkan darah tanpa aturan. Sebaliknya, kelompok kedua menggunakan alasan kasih sayang untuk mengaburkan prinsip akidah dengan menganggap semua agama sama.

​Sikap yang benar adalah sikap pertengahan (wasathiyah), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

​وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang pertengahan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 143)

​Seorang muslim dituntut untuk memadukan dua hal: tegas dalam berprinsip dan santun dalam bersikap. Ketegasan menunjukkan komitmen pada ajaran Islam, sementara kesantunan adalah wujud kasih sayang yang dapat menjadi pintu hidayah bagi orang lain. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan taufik-Nya agar kita termasuk golongan yang pertengahan ini. Amin

Video Khutbah Jumat tentang Islam Agama Kasih Sayang

Sumber: Ustadz Abdullah Zaen

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: