Khutbah Jumat : Kesabaran dan Kasih Sayang Allah Terhadap Hamba-Nya

Khutbah Jumat : Kesabaran dan Kasih Sayang Allah Terhadap Hamba-Nya

Khutbah Idul Adha Yang Membuat Menangis: Nabi Ibrahim Idola Kita
Khutbah Jumat: Ibadah Hati dan Ketakwaan
Khutbah Jumat: Seriuslah Dalam Berbenah

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Kesabaran dan Kasih Sayang Allah Terhadap Hamba-Nya” yang disampaikan Ustadz Maududi Abdullah, Hafidzahullahu Ta’ala

KHUTBAH PERTAMA : Hakikat Pengesaan dan Tujuan Penciptaan Manusia

Sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala…

Segala puji bagi Allah ‘Azza wa Jalla, Tuhan pemilik keagungan, kemuliaan, kekuasaan, pemerintahan, kebesaran, dan keagungan. Marilah senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tiada henti merahmati, menyayangi, serta mencurahkan aneka ragam nikmat yang sangat melimpah kepada hamba-hamba-Nya. Manusia sering kali kurang bersyukur, bahkan terkadang menggunakan rahmat dan nikmat tersebut untuk hal-hal yang tidak diridai oleh-Nya, seperti melakukan maksiat dan melanggar syariat.

Meskipun demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tetap mengalirkan karunia-Nya. Demi Allah, sekiranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak, Dia tentu kuasa untuk mencabut kembali nikmat-nikmat tersebut. Apabila seorang hamba berbuat maksiat dengan mata, Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu membutakannya. Apabila maksiat dilakukan dengan lisan, Dia berkuasa menjadikannya kelu. Begitu pula jika tangan dan kaki digunakan untuk pelanggaran, Dia mampu menjadikannya lumpuh, serta membuat telinga menjadi tuli jika digunakan untuk mendengarkan hal yang haram.

Kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya melampaui kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Walaupun Dia melihat manusia kerap menggunakan pemberian-Nya untuk hal yang mendatangkan murka-Nya, karunia tersebut tidak serta-merta dihentikan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mencabut nikmat yang ada, senantiasa mencurahkan kasih sayang-Nya, serta memberikan taufik agar manusia dapat beralih dan berhenti dari segala bentuk kemaksiatan yang dilarang di dalam agama.

Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi tercinta dan rasul yang mulia, Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau adalah nabi pembawa petunjuk dan rasul pilihan, yang menjadi suri teladan serta pemimpin yang telah memberikan tuntunan sempurna bagi manusia dalam menjalani kehidupan di muka bumi.

Sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala…

Setiap mukmin tentu tahu, sadar, dan meyakini bahwa satu-satunya Zat yang menciptakan, memberi rezeki, memberikan kehidupan, serta mencukupi segala kebutuhan di dalam hidup ini hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tiada tuhan pemelihara selain Dia, dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia. Karena Dialah satu-satunya Pencipta tunggal yang melimpahkan kenikmatan di dunia ini, menjadi sebuah keharusan bagi setiap manusia untuk menghambakan diri sepenuhnya hanya kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru seluruh umat manusia melalui firman-Nya di dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwalah.” (QS. Al-Baqarah[2]: 21)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia sekaligus menjamin seluruh sarana pendukung yang dibutuhkan selama hidup. Oleh karena itu, komitmen mutlak seorang hamba adalah memurnikan ibadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Nilai ketauhidan inilah yang terkandung di dalam kalimat:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ

“Tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah.”

Kalimat mulia ini menjadi prinsip serta panduan hidup seorang muslim sejak menjalani kehidupan hingga ajal menjemput.

Barang siapa yang mampu bertahan di atas kalimat tauhid serta benar-benar menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tidak menyekutukan-Nya sampai akhir hayat, dia telah meraih esensi keislaman yang sejati. Seseorang yang memurnikan tauhidnya tidak akan menghambakan diri kepada para wali, para nabi, malaikat, pepohonan, kuburan, bebatuan, keris, maupun benda-benda pusaka lainnya. Dia mengarahkan seluruh ketundukannya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wafat dalam keadaan menjaga kesucian tauhid dan bersih dari perbuatan syirik merupakan tanda keselamatan bagi seorang hamba. Komitmen bertauhid inilah yang mengantarkan seorang muslim untuk mendapatkan rida dan berhak memasuki surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana yang ditegaskan oleh para ulama, para dai, dan mubalig berdasarkan dalil syariat, setiap muslim yang menjaga imannya dan tidak berbuat syirik pasti akan sampai ke surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Muslim yang berhak mendapatkan surga adalah muslim yang menghambakan dirinya semata-mata kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak kepada selain-Nya, dan konsisten di atas jalan tersebut hingga akhir hayat. Segala bentuk permohonan, perlindungan, permintaan kesehatan, jaminan keamanan dari aneka marabahaya, rezeki, jodoh, hingga pangkat dan jabatan hanya ditujukan kepada Allah, Tuhan pemilik keagungan dan kemuliaan.

Dialah satu-satunya tempat bagi seorang hamba untuk mengadu, berharap bantuan, serta memohon pertolongan. Hal ini merupakan wujud nyata dari pengamalan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah[1]: 5)

Kesadaran ini menegaskan posisi manusia sebagai hamba yang hanya menyembah dan meminta pertolongan kepada Tuhannya, termasuk dalam memohon perlindungan dari berbagai marabahaya. Kenyataan di dalam kehidupan bermasyarakat menunjukkan adanya sebagian orang yang justru memohon perlindungan, rezeki, dan berbagai permintaan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika tindakan tersebut dilakukan, kesucian penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seketika runtuh akibat perbuatan syirik tersebut.

KHUTBAH KEDUA: Larangan Syirik dan Batasan Meminta kepada Makhluk

Sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala…

Keyakinan penuh terhadap hakikat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Pencipta, Pemberi rezeki, dan Penolong, akan melahirkan keinsafan bahwa sangat aneh apabila seorang manusia justru menghambakan diri kepada selain-Nya. Meminta rezeki, perlindungan, jabatan, serta aneka kebutuhan hidup kepada makhluk atau benda apa pun merupakan perkara yang tidak diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An-Nisa'[4]: 36)

Seorang hamba Allah yang sejati adalah individu yang menjaga seluruh sisa usianya agar tidak terjatuh ke dalam kesyirikan, atau segera bertobat dan tidak kembali mengulangnya jika pernah terjerumus. Syirik merupakan dosa yang paling dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena merusak hakikat penghambaan. Di dalam sebuah hadits qudsi, Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan ketidaksukaan-Nya terhadap perbuatan tersebut:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, niscaya Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim)[1]

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah, aneka ragam ibadah, ketaatan, dan permohonan jangan pernah diserahkan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Permintaan bantuan kepada sesama makhluk hanya diperbolehkan apabila memenuhi tiga syarat mutlak. Pertama, makhluk yang dimintai tolong masih hidup. Kedua, makhluk tersebut hadir di hadapan kita atau terdapat alat penghubung komunikasi yang memadai. Ketiga, perkara yang diminta merupakan hal yang mampu dikerjakan oleh makhluk tersebut.

Adapun urusan mendatangkan rezeki, melapangkan jabatan, memberikan keberkahan hidup, mendekatkan jodoh, hingga memakmurkan tempat usaha, seluruhnya merupakan kuasa mutlak Ilahi. Tidak ada satu pun makhluk yang mampu merealisasikannya, sehingga perkara-perkara tersebut haram diminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pelanggaran terhadap batasan ini menyebabkan seseorang keluar dari hakikat menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena telah terjebak dalam penyekutan, yang berakibat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabaikan dirinya bersama sekutu yang dipujanya tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pujian tertinggi kepada para nabi dan utusan-Nya di dalam Al-Qur’an dengan menyematkan predikat sebagai “hamba Allah”. Kedudukan mulia sebagai hamba yang taat ini disematkan kepada para utusan pilihan-Nya, mulai dari Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Apabila membaca Al-Qur’an, manusia akan mendapati bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji para nabi dan rasul dengan menyebut mereka sebagai hamba Allah. Salah satu ayat yang sangat masyhur dan akrab di telinga adalah ayat yang berbicara tentang peristiwa Isra dan Mikraj. Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sebutan sebagai hamba-Nya melalui firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَىٰ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha.” (QS. Al-Isra'[17]: 1)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendapatkan pujian mulia ini karena beliau adalah hamba Allah yang benar-benar memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan derajat tertinggi bagi manusia di permukaan bumi. Ketika manusia mulai melenceng dari jalur tauhid ini dan enggan menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka akan jatuh pada pilihan kehinaan dengan menjadi penyembah pohon, kuburan, batu, matahari, atau bahkan menyembah sapi.

Sumber Video Khutbah Jumat “Kesabaran dan Kasih Sayang Allah Terhadap Hamba-Nya”

Sumber: Maududi Abdullah

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

REFERENSI

[1] https://sunnah.com/riyadussalihin:1616

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: