Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Hakikat Muraqabah dan Sifat Allah Yang Maha Mengawasi” yang disampaikan Ustadz Khalid Basalamah, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Doa Istigfar dan Kemaslahatan Bangsa
Saudaraku seiman yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala…
Satu hal yang dapat disepakati bersama adalah bahwa kinerja yang selalu terjaga serta kualitas yang senantiasa terawasi terwujud karena adanya pengawasan. Pengawasan ini memberikan manfaat yang sangat besar dalam kehidupan manusia, seperti halnya fungsi pengawasan di dalam sebuah kantor instansi.
Bagi kaum muslimin, salah satu tingkatan level keimanan yang harus dikejar agar iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sempurna adalah meyakini adanya muraqabah, yaitu kesadaran penuh akan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat yang diyakini selama ini melalui susunan kalimat tauhid:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ
“Tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah.”
Dialah Sang Pencipta, Penguasa, dan Pemilik semesta alam yang menggantikan siang dan malam, menurunkan air hujan, serta menciptakan manusia beserta seluruh perilaku dan karakternya. Keyakinan terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala pula yang menggerakkan langkah kaki jemaah sekalian untuk menghadiri salat Jumat pada hari ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat-sifat yang sempurna, dan di antara sifat-sifat tersebut adalah Ar-Raqib, yang berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengawasi hamba-hamba-Nya. Merupakan tindakan yang sangat bodoh apabila seseorang menganggap bahwa ketika sedang sendirian di dalam kamar hotel atau melakukan pelanggaran agama di suatu tempat yang tersembunyi dari pandangan manusia, Tuhannya tidak melihat perbuatan tersebut. Anggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengawasinya merupakan pemahaman yang sangat keliru.
Ayat-ayat Al-Qur’an telah diturunkan sejak belasan abad yang lalu, dan kebenaran tersebut akan terus dibaca oleh orang-orang beriman sampai hari kiamat kelak guna menjelaskan ketatnya pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pengawasan ini dikawal oleh para malaikat sebagai petugas yang tidak pernah tidur, tidak pernah lalai, serta mencatat setiap perkara, baik yang kecil maupun yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hal ini di dalam Al-Qur’an:
وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا
“Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab[33]: 52)
Makna tafsir dari ayat tersebut mencakup segala hal, mulai dari perkara yang paling kecil hingga perkara yang paling besar. Setiap manusia kelak pada hari kiamat akan menyaksikan sendiri lembaran buku amalnya. Di dalam catatan tersebut, manusia akan melihat kembali kedipan matanya yang pertama, yang keseratus, yang keseribu, hingga kedipan matanya yang terakhir sebelum wafat. Demikian pula dengan tarikan dan hembusan napasnya, serta apa saja yang dipikirkan oleh akalnya dan lintasan niat di dalam hatinya. Manusia lain mungkin tidak mengetahuinya, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengawasi semua itu dan akan memperlihatkannya kembali kepada hamba yang bersangkutan pada hari kiamat nanti.
Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala kembali mengingatkan manusia bahwa Dia melihat seluruh aktivitas hamba-Nya secara detail dan akan memberikan penilaian yang adil. Perbuatan baik akan mendapatkan balasan berupa pahala pada hari kiamat, sedangkan perbuatan buruk akan mendatangkan hukuman, baik berupa siksa kubur maupun siksa api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
“Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 217-219)
Melalui ayat ini, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperintahkan untuk bertawakal dan menyerahkan hasil usaha kepada Zat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, serta mengajarkan sikap tawakal tersebut kepada umatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melihat hamba-Nya ketika berdiri melaksanakan ibadah dan memperhatikan gerak-geriknya di antara orang-orang yang sujud.
Setiap gerak-gerik seorang hamba yang patuh kepada-Nya dipastikan berada dalam pengawasan-Nya, dan Dia akan memberikan penilaian sesuai dengan kualitas amal tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan:
وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yunus[10]: 61)
Segala aktivitas, mulai dari membaca ayat Al-Qur’an hingga pekerjaan lainnya, tidak luput dari pengetahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan perkara sekecil zarrah pun, baik di bumi maupun di langit, tidak ada yang tersembunyi karena seluruhnya telah tercatat dengan rapi di dalam Lauh Mahfuzh. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyatakan:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ
“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 5)
Meskipun seseorang merasa memiliki kecerdasan ekstra atau mempunyai banyak orang kepercayaan yang dapat diperintah untuk menutupi tindakan buruknya seperti praktik korupsi, manipulasi data, perzinaan, perjudian, atau bentuk pelanggaran agama lainnya, perbuatan tersebut tidak akan pernah bisa disembunyikan. Allah ‘Azza wa Jalla adalah Ar-Raqib, Zat Yang Maha Mengawasi segala hal.
Banyak manusia yang tidak memahami hakikat pengawasan ini, sehingga merasa telah sangat hebat dalam mengemas serta menyembunyikan kemaksiatannya. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu membongkar seluruh rahasia tersebut hanya melalui satu kejadian kecil, seperti bocoran dari orang kepercayaan, gawai yang tidak sengaja terbuka lalu terlihat oleh istri, atau melalui jalan lain yang di luar nalar manusia. Ketika hal itu terjadi, manusia hanya bisa terheran-heran, padahal kepastian terbongkarnya aib tersebut merupakan konsekuensi nyata karena setiap hamba berada di bawah pengawasan Penguasa alam semesta.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat Al-Bashir (Maha Melihat), As-Sami’ (Maha Mendengar), dan Al-‘Alim (Maha Mengetahui segala sesuatu). Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan kesempurnaan ilmu-Nya di dalam Al-Qur’an:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am[6]: 59)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui secara detail setiap jengkal tanah hingga sebutir pasir di daratan, baik mengenai letak, ukuran, maupun kadarnya. Demikian pula di lautan, tidak ada satu pun makhluk hidup atau butiran pasir laut yang luput dari pengetahuan-Nya.
Ayat-ayat ini menjelaskan kewajiban setiap mukmin untuk menyadari adanya muraqabah atau pengawasan yang sangat ketat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala demi menyempurnakan keimanan. Manusia mungkin bisa mengecoh sesamanya, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memiliki cara untuk menyingkap apa yang tersembunyi.
Melalui introspeksi diri terhadap usia yang telah dilewati, baik tiga puluh, empat puluh, lima puluh, atau enam puluh tahun, manusia akan menyadari bahwa tidak ada satu pun rahasia yang benar-benar bisa disembunyikan selamanya. Jika rahasia itu berupa kebaikan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki cara untuk membukanya agar menjadi pelajaran bagi orang lain, baik ketika orang tersebut masih hidup maupun setelah meninggal dunia. Sebaliknya, jika rahasia itu berupa keburukan, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membongkarnya demi menghentikan kezaliman yang dilakukan.
Tujuan utama dari khotbah Jumat ini adalah agar setiap jemaah keluar dari masjid dengan membawa kesadaran mendalam mengenai tingkat keimanan muraqabah. Manusia tidak boleh terus-menerus membodohi diri sendiri dengan merasa bahwa perbuatannya tidak ada yang mengetahui.
Langkah yang paling bijaksana adalah menjadi hamba yang patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketaatan kepada-Nya sama sekali tidak mendatangkan kerugian, karena orang yang beriman tetap dapat menikmati makanan yang enak, kendaraan, rumah, serta pasangan hidup, selama semuanya diperoleh melalui jalur yang halal.
Tindakan melanggar hukum agama, seperti berzina atau mencuri, tidak memiliki alasan pembenar karena pintu-pintu yang halal selalu terbuka lebar. Berbeda halnya jika semua daging di dunia ini diharamkan sedangkan tubuh manusia sangat membutuhkan protein hewani, maka dalam kondisi darurat tersebut seseorang baru dimaklumi jika mengonsumsi babi atau hewan bertaring. Namun, kenyataannya hal-hal yang halal jauh lebih banyak jumlahnya daripada hal-hal yang diharamkan.
Perkara yang diharamkan di dalam syariat Islam sebenarnya sangat sedikit. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan babi, Dia menggantinya dengan sapi, kambing, ayam, kelinci, serta seluruh hewan air. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan khamar (minuman keras) dan narkotika, Dia menggantinya dengan susu, madu, sirup, serta aneka minuman tradisional yang menyehatkan seperti jamu. Begitu pula ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan zina, Dia membuka pintu pernikahan sebagai solusi yang sah.
Adanya kecenderungan manusia untuk tetap terjerumus ke dalam kemaksiatan menunjukkan kelalaian terhadap konsekuensi dosa. Setiap bentuk pelanggaran pasti akan mendatangkan hukuman. Allah Subhanahu wa Ta’ala memang memiliki Sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang), namun sifat-sifat mulia tersebut diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang taat. Di sisi lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memiliki Sifat Syadidul ‘Iqab, yaitu Zat yang sangat berat siksaan-Nya bagi para pembangkang.
Merupakan kesalahan besar apabila seseorang terus melakukan kemaksiatan dengan bersandar pada Sifat Kasih Sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala, sementara dia melupakan ancaman siksa-Nya yang sangat pedih. Hal ini bagaikan seorang karyawan yang bekerja dengan ugal-ugalan hanya karena menganggap atasannya adalah orang yang baik, tanpa menyadari bahwa tindakan indisipliner nya suatu saat pasti akan mendatangkan sanksi pemecatan.
Manusia dituntut untuk senantiasa menggunakan akal sehatnya guna memahami bahwa pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah terputus. Ketika manusia sedang tidur, makan, maupun beraktivitas, seluruh kehidupannya berada di bawah pengamatan Sang Pencipta. Di mana pun manusia berada, Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersamanya. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan kedekatan ini di dalam Al-Qur’an:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid[57]: 4)
Oleh karena itu, rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus senantiasa ditumbuhkan dengan menyadari bahwa lintasan hati terkecil pun tidak ada yang luput dari pengetahuan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah[2]: 235)
Peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ditujukan kepada semua orang beriman agar menyadari bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. Esensi utama yang harus digarisbawahi adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui seluruh isi hati manusia. Di dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai ketelitian pengawasan-Nya:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir[40]: 19)
Pengkhianatan mata dapat terjadi ketika seseorang secara lahiriah memandang ke arah depan, namun sejatinya arah pandangan dan niatnya tertuju ke kiri atau ke kanan. Hal serupa juga terjadi ketika seseorang seolah-olah sedang membaca naskah karya ilmiah melalui gawai miliknya, tetapi segera menggantinya dengan tontonan yang haram saat orang lain pergi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui seluruh perbuatan tersebut, sehingga manusia tidak boleh membodohi diri sendiri dengan menganggap bahwa tindakannya aman karena tidak ada orang lain yang melihat. Setiap bentuk maksiat merupakan wujud pelanggaran yang memiliki konsekuensi hukuman yang sangat keras dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Satu kebohongan atau satu penipuan yang dilakukan bisa menjadi penyebab Allah Subhanahu wa Ta’ala mencabut nikmat kesehatan selama satu bulan, mengacaukan keharmonisan rumah tangga selama satu tahun, atau menjadikan anak bersikap durhaka.
Prinsip ini dipahami dengan baik oleh tabi’in Said bin Musayyib rahimahullah, yang senantiasa memperbaiki kualitas salat serta meningkatkan kuantitas sedekahnya. Beliau pernah berkata kepada anaknya bahwa seluruh amal saleh tersebut sengaja dikerjakan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga sang anak. Ketaatan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan perlindungan-Nya terhadap lingkungan sekitar, seperti menjadikan istri dan anak-anak berbakti, melancarkan urusan pekerjaan, serta membuat orang lain menaruh hormat. Sebaliknya, sekecil apa pun pelanggaran yang dilakukan meskipun disembunyikan rapat-rapat Allah Subhanahu wa Ta’ala kuasa untuk mengacaukan segalanya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan tuntunan mengenai salah satu tingkatan terbaik dalam keimanan. Melalui hadits terkenal yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, dijelaskan adanya tingkatan dalam agama. Seseorang yang baru bersyahadat berada pada level muslim. Ketika dia mulai menyempurnakan rukun Islam yang lima serta mengimani rukun iman yang enam, posisinya naik menjadi seorang mukmin.
Tingkatan tertinggi dicapai ketika seorang hamba memiliki keyakinan mutlak bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengawasinya, sehingga muncul rasa takut terhadap hukuman-Nya serta kepercayaan penuh terhadap janji kebahagiaan bagi orang-orang yang taat. Tingkatan mulia ini disebut dengan ihsan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai definisi ihsan:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari) [1]
Prinsip muraqabah ini telah diterapkan secara nyata oleh para pendahulu yang saleh (salafus saleh) dalam kehidupan sehari-hari mereka. Salah satu contohnya adalah Al-Junaid rahimahullah, seorang ulama yang sangat masyhur kesalehannya. Beliau senantiasa mengawasi setiap detik kehidupannya dengan penuh kehati-hatian. Beliau menjaga pandangan mata, pendengaran telinga, ucapan lisan, serta aktivitas tangan, kaki, dan kemaluannya agar hanya bergerak pada perkara yang diperbolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menjauhi segala hal yang dilarang tanpa memedulikan konsekuensinya.
Ketika para murid bertanya mengenai metode untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram, seperti melihat wanita yang membuka aurat, Al-Junaid rahimahullah memberikan jawaban yang sangat kontekstual. Pada masa kehidupan beliau, teknologi gawai belum tercipta sehingga seseorang harus keluar rumah terlebih dahulu jika ingin mencari objek yang haram untuk dilihat. Tantangan tersebut tentu menjadi jauh lebih berat pada masa sekarang, ketika setiap individu dapat mengakses berbagai hal secara bebas melalui gawai di dalam rumah maupun kendaraan.
Al-Junaid rahimahullah memberikan solusi untuk menundukkan pandangan tersebut:
“Dengan ilmumu bahwa pandangan Allah kepadamu lebih mendahului daripada pandanganmu terhadap objek yang kamu tuju.”
Kesadaran bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melihat seorang hamba sebelum hamba tersebut memandang objek haram, serta kuasa-Nya untuk memberikan hukuman sebelum manusia menyadari kesalahannya, merupakan benteng utama dalam menjaga diri.
Nasihat senada juga disampaikan oleh ulama tabi’in, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah. Beliau menekankan agar setiap manusia senantiasa merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Zat yang tidak ada sesuatu pun tersembunyi dari-Nya. Manusia harus selalu menggantungkan harapan hanya kepada Zat yang pasti menepati janji-Nya, sekaligus menumbuhkan rasa takut kepada Zat yang memiliki kuasa penuh untuk menimpakan hukuman setiap saat.
Penerapan muraqabah ini juga tercermin dari nasihat Abdullah bin Mubarak rahimahullah kepada seorang pemuda yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Beliau berpesan agar pemuda tersebut selalu merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika pemuda itu penasaran mengenai caranya, Abdullah bin Mubarak rahimahullah menjelaskan bahwa caranya adalah dengan memosisikan diri seolah-olah sedang melihat Allah ‘Azza wa Jalla.
Kisah lain yang sangat masyhur bersumber dari penuturan Abdullah bin Dinar rahimahullah. Pada suatu hari, beliau melakukan perjalanan bersama Khalifah Umar bin Khattab menuju kota Makkah. Di tengah perjalanan, rombongan beristirahat di sebuah tempat. Tidak jauh dari lokasi tersebut, terdapat seorang penggembala yang sedang menjaga kawanan dombanya.
Umar bin Khattab berinisiatif untuk menguji kualitas keimanan penggembala tersebut, guna mengetahui apakah seorang pekerja kecil pun telah mencapai tingkatan makrifat serta memahami konsep pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengingat pada masa itu belum ada dokumentasi visual berupa foto, sang penggembala tidak mengenali bahwa orang yang mengajaknya berbicara adalah seorang khalifah. Umar bin Khattab kemudian mendekat dan meminta penggembala tersebut untuk menjual seekor domba kepadanya. Menanggapi permintaan itu, sang penggembala memberikan jawaban bahwa dirinya hanyalah seorang pegawai yang ditugaskan untuk menjaga ternak milik orang lain.
Mendengar tawaran dari Umar bin Khattab, sang penggembala menjelaskan bahwa domba-domba tersebut bukan miliknya, melainkan milik majikannya. Umar bin Khattab kemudian menguji keimanannya dengan menyarankan agar dia berbohong kepada majikannya bahwa domba tersebut telah diterkam oleh serigala. Umar bin Khattab meyakinkan bahwa sang majikan tidak akan mengetahui hal tersebut karena pada masa itu belum ada teknologi kamera pengawas.
Saran tersebut justru membuat sang penggembala gemetar dan meneteskan air mata, lalu berucap dengan penuh keyakinan:
فَأَيْنَ اللهُ؟
“Lalu, di mana Allah?” (HR. Al-Baihaqi) [2]
Pertanyaan retoris dari penggembala itu seketika membuat Umar bin Khattab dan Abdullah bin Dinar menangis haru. Umar bin Khattab segera meminta Abdullah bin Dinar untuk mencari tahu keberadaan majikan dari pemuda tersebut. Setelah bertemu dengan pemiliknya, Umar bin Khattab menebus dan membebaskan budak tersebut serta memberikannya sejumlah harta. Beliau mengakui tidak pernah menyangka bahwa tingkat keimanan seorang penggembala bisa mencapai derajat kemuliaan yang sedemikian tinggi.
Kisah agung mengenai sifat muraqabah juga tercermin dari Nabi Yusuf ketika digoda oleh Zulaikha di dalam kamar. Zulaikha merupakan seorang wanita terhormat dan kaya raya yang memiliki paras sangat cantik. Layaknya wanita terhormat pada setiap zaman yang senantiasa merawat diri agar tampil menawan dan wangi, Zulaikha menutup seluruh pintu kamar lalu berkata kepada Nabi Yusuf:
هَيْتَ لَكَ
“Marilah ke sini.” (QS. Yusuf[12]: 23)
Meskipun berada dalam situasi yang sangat mendukung untuk terjadinya kemaksiatan, Nabi Yusuf segera menghindar. Di dalam beberapa riwayat tafsir disebutkan bahwa di dalam kamar Zulaikha terdapat sebuah patung dewa yang dikultuskan. Ketika hendak mengejar Nabi Yusuf, Zulaikha mengambil selembar kain untuk menutup wajah patung tersebut karena merasa malu jika perbuatannya dilihat oleh berhala sesembahannya.
Melihat tindakan itu, Nabi Yusuf menghentikan langkahnya sejenak dan menyatakan keheranannya atas sikap Zulaikha yang merasa malu kepada sebuah benda mati, sementara beliau sendiri merasa jauh lebih malu terhadap pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla, Sang Raja Yang Maha Perkasa. Nabi Yusuf segera berlari menyelamatkan diri hingga pakaian bagian belakangnya robek akibat tarikan Zulaikha.
Rangkaian khutbah Jumat serta ceramah agama yang disampaikan oleh para dai sejatinya bukan sekadar untuk didengarkan lalu dilupakan begitu saja. Setiap jemaah harus melakukan evaluasi diri mengenai dampak dari nasihat yang telah didengar terhadap peningkatan iman serta kedekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keberhasilan suatu mudarasah diukur dari perubahan positif pada kualitas ibadah pendengarnya, bukan sekadar pujian terhadap kefasihan sang pembicara.
Tujuan utama dari ilmu agama adalah untuk menanamkan keimanan di dalam dada. Keimanan yang telah merasuk ke dalam jiwa manusia mampu mengubah karakter seseorang secara drastis, seperti mengubah kebodohan menjadi kecerdasan, ketakutan menjadi keberanian, serta kekikiran menjadi kedermawanan. Oleh karena itu, sangat merugi apabila setiap pekan ibadah khotbah Jumat berlalu tanpa memberikan dampak berupa peningkatan kualitas ibadah serta dorongan untuk bertaubat dari segala dosa.
Sebagai perenungan batin, seorang ulama terdahulu pernah bersenandung melalui bait syair yang sangat masyhur:
إِذَا مَا خَلَوْتَ الدَّهْرَ يَوْمًا فَلَا تَقُلْ خَلَوْتُ وَلَكِنْ قُلْ عَلَيَّ رَقِيبُ
“Jika engkau sedang menyendiri pada suatu waktu, maka janganlah engkau katakan ‘aku sedang sendirian’, akan tetapi katakanlah ‘ada yang mengawasiku’.”
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ يَغْفُلُ سَاعَةً وَلَا أَنَّ مَا تُخْفِي عَلَيْهِ يَغِيبُ
“Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah akan lalai barang sesaat pun, dan jangan pula mengira bahwa apa yang engkau sembunyikan akan luput dari-Nya.”
KHUTBAH KEDUA: Kemuliaan Hari Jumat
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ
“Segala puji bagi Allah, serta selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikutinya.”
Hari Jumat merupakan hari yang paling mulia di antara hari-hari lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan keutamaan hari ini melalui sabda beliau:
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat.” (HR. Muslim)[3]
Keagungan hari Jumat harus dimanfaatkan oleh setiap muslim untuk memperbanyak amalan saleh, meningkatkan zikir, serta memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan penuh kekhusyukan sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an.
Kemuliaan hari Jumat juga ditunjukkan melalui berbagai peristiwa besar dalam sejarah umat manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai beberapa momentum penting yang terjadi pada hari tersebut:
فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ
“Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu ia dikeluarkan dari surga. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.” (HR. Muslim) [4]
Di dalam riwayat lain juga ditambahkan bahwa pada hari Jumat pula Nabi Adam diwafatkan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan anjuran agar umat Islam memperbanyak selawat kepada beliau pada hari tersebut, karena selawat tersebut akan dihantarkan langsung kepada beliau.
Ketika para sahabat bertanya mengenai mekanisme penyampaian selawat setelah beliau wafat dan jasadnya telah bercampur dengan tanah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan jawaban penegasan:
إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.” (HR. Ibnu Majah) [5]
Selain keagungan peristiwa sejarahnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyediakan waktu yang sangat mustajab untuk dikabulkannya doa pada hari Jumat. Riwayat pertama menjelaskan bahwa waktu mustajab tersebut berada di antara duduknya imam di atas mimbar sampai selesainya salat Jumat. Ketentuan ini mendasari kebiasaan para khatib yang selalu memanjatkan doa pada khotbah kedua.
Sementara itu, riwayat kedua memberikan petunjuk agar umat Islam mengejar waktu mustajab tersebut pada akhir hari Jumat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
“Maka carilah ia di akhir waktu setelah Asar.” (HR. An-Nasa’i) [6]
Atas dasar petunjuk ini, sebagian generasi salafus saleh memiliki kebiasaan untuk menetap di masjid setelah melaksanakan salat Asar pada hari Jumat guna mengangkat tangan dan memanjatkan doa ke langit secara terus-menerus hingga berkumandangnya azan Magrib.
Marilah menghadirkan pikiran serta kekhusyukan hati untuk memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar seluruh permohonan ini dikabulkan.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah[1]: 2)
Pujian dipanjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana kelayakan serta kepantasan-Nya sebagai Sang Pencipta. Pujian ini selaras dengan puji-pujian yang telah Dia ajarkan kepada para malaikat, nabi, rasul, serta para wali dan hamba pilihan-Nya, hingga Dia berkenan menerima seluruh amal ibadah serta mengampuni segala dosa yang telah lalu. Selawat serta salam penghormatan juga tercurah kepada utusan-Nya, Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Wahai Zat Yang Maha Kuasa, Maha Melihat, lagi Maha Mengawasi. Engkau mengetahui keberadaan para hamba yang berkumpul di dalam rumah-Mu ini demi menunaikan salah satu perintah-Mu. Kiranya terdapat hamba yang kurang ikhlas, mohon keikhlasan niatnya diluruskan. Sempurnakanlah bagian pahala bagi hamba yang hanya menerima sebagian kecil, serta terimalah seluruh amal saleh yang telah, sedang, dan akan dilakukan hingga akhir hayat nanti dengan ganjaran pahala yang sempurna.
Permohonan ampunan juga dipanjatkan untuk kedua orang tua, kerabat, guru-guru, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah mendahului.
Sebagai hamba yang dilahirkan, bernaung di bawah langit, meminum air, serta mengonsumsi hasil bumi di tanah air ini, mohon agar negeri ini senantiasa dijaga. Karuniakanlah perlindungan terhadap kemerdekaan, persatuan, dan kesatuan bangsa. Berikanlah petunjuk kepada para pemimpin agar dapat menjalankan tugas dan amanah dengan baik, serta jadikanlah masyarakat dapat bergotong-royong bersama pemerintah dalam menjaga nikmat besar kemerdekaan ini. Bagi siapa saja yang menginginkan keburukan bagi negeri, agama, keluarga, dan diri kami, mohon agar tipu daya mereka dikembalikan kepada diri mereka sendiri.
Doa perlindungan juga ditujukan bagi saudara-saudara seiman yang sedang tertindas di Palestina, Sudan, serta berbagai belahan bumi lainnya. Luruskanlah niat perjuangan mereka, terimalah para syuhada mereka, serta muliakanlah Islam melalui tangan mereka dan tangan kami. Ikut sertakan pula kami bersama mereka dalam perolehan pahala, baik melalui untaian doa, dukungan harta, maupun jiwa.
Sumber Video Khutbah Jumat “Hakikat Muraqabah dan Sifat Allah Yang Maha Mengawasi”
Sumber: Khalid Basalamah Official
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
REFERENSI :
[1] https://sunnah.com/bukhari:50
[2] https://abul-jauzaa.blogspot.com/2018/01/berisyarat-ke-langit.html?m=1
[3] https://sunnah.com/riyadussalihin:1147
[4] https://sunnah.com/muslim:854b


COMMENTS