Khutbah Jum’at: Kunci Sukses Belajar

Khutbah Jum’at: Kunci Sukses Belajar

Orang yang tawadhu' akan lebih banyak dialiri dengan ilmu sebagaimana tempat yang landai akan banyak dialiri dengan air.

Tulisan tentang “Kunci Sukses Belajar” adalah transkrip dari khutbah jumat yang disampaikan Ustadz Ammi Nur Baits, S.T., BA. Hafizhahullahu Ta’ala.

Download PDF via telegram: https://t.me/ngajiid/136

Khutbah Jumat Tentang Kunci Sukses Belajar

Khutbah Pertama

Kaum muslimin jama’ah Jum’at yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Manusia sebelum datangnya Nabi Muhammad ﷺ mereka dalam kondisi kegelapan. Lalu Allāh mengutus beliau untuk memperbaiki tatanan sosial yang ada di muka bumi ini dengan Allāh berikan wahyu kepada beliau untuk memperbaiki manusia.

Karena itulah Allāh Subhānahu wa Ta’āla menggambarkan dalam Al-Qur’an, wahyu yang beliau turunkan melalui Nabi ﷺ untuk disampaikan kepada umat manusia sebagaimana layaknya hujan yang turun di muka bumi di posisi tanah yang gersang yang sangat membutuhkan air saat itu.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا

“Allāh menurunkan air dari langit, maka lembah-lembah yang kosong terisi dengan air sesuai dengan kadar volumenya.” (QS. Ar-Ra’d [13] : 17)

Ada lembah yang besar yang bisa menampung banyak air dan ada cekungan kecil yang hanya bisa menampung sedikit air.

فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا

“Kemudian air itu mengangkut kotoran-kotoran yang ada di dasarnya dan diangkut ke permukaan kemudian hanyut.”

Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Gambaran tentang ayat ini, Allāh Subhānahu wa Ta’āla hendak menjelaskan tentang posisi wahyu dan ilmu yang disampaikan oleh Nabi ﷺ ibarat air, sedangkan hati manusia sebagaimana lembah yang ada di permukaan bumi.

Ada manusia yang hatinya sempit sehingga dia hanya bisa menampung sedikit ilmu sebagaimana lembah yang kecil yang hanya bisa menampung sedikit air.

Ada sungai yang besar yang bisa menampung banyak air sehingga ketika hujan deras tidak tumpah, sebaliknya ada selokan kecil yang ketika hujan deras dia tumpah. Demikian pula ada manusia yang hatinya luas sehingga dia bisa menampung banyak air (menampung banyak ilmu). Sebagaimana ilmunya para ulama yang dituangkan dalam karyanya berjilid-jilid yang sangat tebal.

Seperti imam Asy-Syafi’i, imam An-Nawawi, imam Ahmad, Ibnu Hajar Al-Ashqalani dan para ulama lainnya. Mereka memiliki ilmu yang masyaAllah jika dibandingkan dengan pengetahuan kita dalam masalah agama, tidak ada apa-apanya.

Sebaliknya ada orang yang hatinya sangat sempit, sehingga ketika dia dihujani dengan ilmu banyak yang tumpah, banyak yang hilang, banyak yang terlupakan karena wadahnya kecil.

Barangkali di antara kita ada yang merasa ketika belajar agama begitu sulit, belajar bahasa Arab susah memahaminya. Mungkin kita perlu untuk bersedih, berarti kita termasuk orang yang diberi Allāh hati yang kecil (hati yang sempit) sehingga tidak bisa menampung banyak ilmu.

Dan Nabi ﷺ juga menyebutkan dalam hadits riwayat Al-Bukhari:

مَثَلُ ما بَعَثَنِي اللَّهُ به مِنَ الهُدَى والعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أصابَ أرْضًا

“Perumpamaan ilmu dan petunjuk yang Allāh berikan kepadaku sebagaimana hujan deras yang turun di muka bumi.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjelaskan dilanjutan ayat:

فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا

“Kemudian air itu mengangkat kotoran-kotoran yang ada di dasar lembah ke permukaan kemudian hanyut.”

Kita bisa saksikan pada saat musim kering selokan penuh dengan sampah, pada saat musim kering sungai-sungai kelihatan sampah. Ada banyak plastik, sampah domestik, ada banyak dedaunan dan seterusnya. Begitu hujan turun sampah itu terangkat kemudian hanyut bersama dengan air yang sangat deras.

Seperti itu pula ketika seorang hamba selalu belajar ilmu agama. Mendekat kepada Al-Qur’ān dan Sunnah, akhlak-akhlak buruknya akan berangsur-angsur hilang sesuai dengan banyaknya ilmu yang dia terima.

Karena itu tidak ada ceritanya orang yang belajar agama kemudian dia menjadi radikal, tidak ada ceritanya orang yang belajar ilmu agama kemudian dia menjadi teroris. Tidak ada ceritanya.

Kalau pun ada kejadian seperti itu, berarti ada dua kemungkinan:

⑴ Yang pertama, yang dia pelajari salah berarti dia bukan mempelajari agama sebagaimana yang diajarkan Nabi ﷺ.

⑵ Yang kedua, dia salah dalam mempraktikkannya.

Karena tidak mungkin Allāh menurunkan wahyuNya untuk merusak tatanan kehidupan manusia. Allāh menurunkan wahyuNya dalam rangka untuk memperbaiki tatanan kehidupan hambaNya.

Maka orang yang mendekat kepada wahyu Allāh, hakikatnya dia memperbaiki pribadinya dan juga memperbaiki masyarakat yang ada di sekitarnya.

Kemudian, jama’ah yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita memahami sebagaimana sifat air dalam teori fisika, kita memahami air itu mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang lebih rendah. Karena itu ada seorang ulama di masa kekhalifahan Abasyiah yang bernama Abdullāh ibnul Mu’taz rahimahullāh beliau mengatakan:

المتواضع في طلّاب العلم أكثرهم علمًا،

“Orang yang tawadhu’ ketika belajar ilmu agama adalah orang yang paling kaya terhadap ilmu.

كما أن المكان المنخفض أكثر البقاع ماء.

Sebagaimana tempat yang landai tempat yang rendah akan lebih banyak dialiri dengan air.” (Al-Jāmi’ li Akhlāq ar-Rawi 1/198)

Sehingga salah satu di antara kunci sukses dalam belajar adalah menjadi seorang hamba yang tawadhu’. Tawadhu’ terhadap ilmu agama, tawadhu’ terhadap sesama, dia berusaha untuk menghargai setiap perkataan ulama yang menyampaikan penjelasan dari Al-Qur’ān dan Sunnah. Menghargai kepada sesama ketika dia berproses dalam belajar.

Orang yang tawadhu’ akan lebih banyak dialiri dengan ilmu sebagaimana tempat yang landai akan banyak dialiri dengan air.

Demikian khutbhah yang pertama semoga bermanfaat.

Khutbah kedua: Orang Yang Tawadhu’

Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasulullah ﷺ memberikan jaminan, orang yang tawadhu’ bukan semakin rendah dihadapan orang lain, namun sebaliknya justru semakin terhormat dihadapan orang lain.

Sebaliknya orang yang mempunyai karakter sombong bukan semakin mulia dihadapan masyarakat, justru sebaliknya dia akan semakin rendah dihadapan manusia.

Nabi ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Muslim:

وما تواضعَ أحدٌ للَّهِ إلَّا رفعَهُ اللَّهُ

“Siapapun yang dia tawadhu’ karena alasan ikhlas karena Allāh maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengangkat derajatnya.”

Dan Allāh mengajarkan kepada kita adab ketika belajar sebagaimana yang Allāh sebutkan dalam Al-Qur’ān:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَـٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ

“Wahai orang yang beriman apabila dikatakan kepada kalian berikan kelonggaran di majelis, maka berilah kelonggaran…”

Karena itu jama’ah yang datang lebih awal tolong Anda maju ke depan semakin dekat dengan khatib semakin besar nilai pahalanya.

Sehingga ketika Jum’atan yang datang lebih awal jangan melipir mengambil tempat di belakang, sangat disayangkan dia mempunyai peluang untuk mendapatkan pahala tapi dia sia-siakan.

وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟

“Dan apabila dia disuruh untuk berdiri (berpindah tempat) maka dia akan berpindah tempat.”

Ini salah satu adab yang diajarkan oleh Allāh di dalam Al-Qur’ān. Orang seperti ini menunjukkan kalau dia adalah orang yang tawadhu’ (rendah hati) sehingga ketika dia digeser dia tidak gengsi. “Siapa kamu menggeser saya?”.

Ketika dia diminta pindah, dia tidak gengsi, “Siapa kamu mindah-mindah saya” namun dia mau untuk bergeser, dia mau untuk pindah, dalam rangka memberikan kesempatan untuk yang lain.

Sebagaimana pula ketika kita berinteraksi dengan sesama tidak selamanya kita harus menunjukkan identitas kita. Kalau pun kita disuruh untuk bergeser, kita disuruh untuk berpindah, kita disuruh untuk melakukan hal yang itu memberikan maslahat bagi yang lain, lalu kita lakukan, maka itu adalah bagian dari adab yang diajarkan oleh Allāh.

Apa lanjutan ayat?

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ

“Allāh mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengangkat orang-orang yang berilmu beberapa derajat.”

Tafsir para ulama ayat ini menunjukkan salah satu di antara ciri orang yang berilmu adalah gampang ngalah. Karena orang yang tawadhu’ selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi masyarakat bukan menampakkan siapa dirinya tapi yang penting memberikan manfaat bagi umat.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menganugerahkan kepada kita sifat tawadhu’ sehingga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memperbanyak ilmu yang kita pelajari, memperbanyak aliran hidayah yang ada pada diri kita, agar kehidupan kita semakin sejahtera.

Video Khutbah Jumat Tentang Kunci Sukses Belajar

Sumber video khutbah jumat: ANB Channel

Mari turut menyebarkan “Khutbah Jum’at: Kunci Sukses Belajar” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: