Teks Khutbah Idul Adha: Idul Adha adalah Momentum Kita Menjaga Persaudaraan

Teks Khutbah Idul Adha: Idul Adha adalah Momentum Kita Menjaga Persaudaraan

Teks Khutbah Idul Adha: Idul Adha adalah Momentum Kita Menjaga Persaudaraan. Ini adalah transkrip Khutbah Ied Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri pada 1437 H

Khutbah Idul Adha Yang Membuat Menangis: Nabi Ibrahim Idola Kita

Teks Khutbah Idul Adha: Idul Adha adalah Momentum Kita Menjaga Persaudaraan. Ini adalah transkrip Khutbah Ied Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri pada 1437 H.

Silahkan daftar atau login(GRATIS) terlebih dahulu untuk men-copy.. Barakallahu fiikum..

Teks Khutbah Idul Adha: Idul Adha adalah Momentum Kita Menjaga Persaudaraan

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walillahilhamd..

Hari apakah ini?

Itulah pertanyaan Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lima belas abad yang lalu, di hari yang sama dengan hari ini.

Hari apa ini?

Adalah sebuah pertanyaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari Idul adha, di hadapan para sahabat-sahabatnya. Lalu sahabat-sahabatnya menjawab, “hari yang suci, dimana dosa-dosa dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Lalu Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melemparkan pertanyaan yang kedua, “tempat apa ini wahai para sahabatku?” lalu para sahabat menjawab, “tempat suci, dimana dosa-dosa yang dikerjakan disana dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melemparkan pertanyaan yang ketiga, “bulan apakah ini?” lalu para sahabat menjawab, “bulan suci, dimana dosa-dosa dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Hari Idul Adha adalah hari suci bagi kita, hari yang mulia, oleh karena itu dosa-dosa dilipatgandakan. Dan tanah suci, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada saat itu sedang berhaji, hadirin sekalian. Dan kita tahu berdosa di tanah suci dosanya dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan pada saat itu, begitu juga pada hari ini kita berada di bulan Dzulhijjah dan Allah berfirman bahwa bulan Dzulhijjah adalah bulan suci sebagaimana dalam surat At-ataubah ayat 36.

Ma’asyirol Muslimin… yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Setelah Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melemparkan tiga pertanyaan di atas, baru beliau masuk ke inti pesan dan nasehat beliau. Beliau menyatakan Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إنَّ دِماءَكُم، وأمْوالَكم وأعْراضَكُم حرامٌ عَلَيْكُم كَحُرْمة يومِكُم هَذَا، في شهرِكُمْ هَذَا، في بلَدِكُم هَذَا

“Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, kehormatan-kehormatan kalian, suci, mulia, dan tidak boleh ditumpahkan, tidak boleh diambil tanpa hak, tidak boleh dilecehkan, tidak boleh dihinakan dan dijatuhkan, sebagaimana kesucian hari ini, kesucian bulan ini dan kesucian tempat suci ini.” (Muttafaqun ‘alaih)

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walillahilhamd..

Di khutbah Idul adha -lima belas abad yang lalu- baginda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan prinsip-prinsip berukhuwah. Beliau mendidik kita semua dasar-dasar bersaudara dan berukhuwah. Yaitu menjaga darah saudara kita, menjaga harta saudara kita dan menjaga kehormatan saudara kita. Idul Adha tidak bisa dipisahkan dengan ukhuwah Islamiyah, Idul Adha adalah momentum kita menjaga persaudaraan diantara kita, mulai dari lingkungan yang terkecil, keluarga inti kita, lalu keluarga besar kita, satu RT dengan kita, satu RW dengan kita, sesama satu cluster, satu komplex dan begitu seterusnya. Dan prinsipnya digariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jaga darah saudara kita, jaga harta dia, jaga perasaan dia, jaga kehormatannya.

Ma’asyirol Muslimin… yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Karena apabila ketiga faktor  besar itu dijaga, maka terciptalah ukhuwah islamiyah, terciptalah yang Allah inginkan dari kita, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ 

“Sesungguhnya sesama umat Islam dan kaum mukmin adalah bersaudara….”

Dan bagaimana persaudaraan tercipta apabila darah itu tumpah, apabila uang dirampas dan dirampok, dan apabila harga dari kita dijatuhkan dan dilecehkan? Tidak akan tercipta persaudaraan di dalam Islam.

1. Menjaga Darah

Oleh karena itu ma’syirol muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Allah dan RasulNya benar-benar memfokuskan dalam masalah darah. Kita tidak boleh melukai sesama kita, kita tidak boleh membunuh umat Islam. Jangankan umat Islam, orang non muslim yang tidak memerangi kita dan mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah, itu tidak boleh kita sentuh. Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

منْ قتَلَ مُعاهِداً لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ

“Barangsiapa yang membunuh non muslim yang tidak memerangi kita dan dijamin keamanannya oleh pemerintahan kita, dia tidak akan mencium bau surga.” (HR. Bukhari)

Itu non muslim ma’asyirol muslimin..

Oleh karena itu tidak mungkin Islam selaras dengan terorisme, Islam tidak menghalalkan cara-cara seperti itu. Lalu bagaimana jika muslim yang meninggal, muslim yang terbunuh? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat An-Nisa ayat 93:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً

“Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja,”

Ma’asyirol Muslimin… yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Tidak ada ancaman terbanyak di dalam Al-Quran untuk sebuah dosa, kecuali ayat ini. Mari kita simak:

فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ

Maka balasannya adalah neraka jahannam

Apakah sudah selesai?

Belum!! Ini baru awal.

خَالِدًا فِيهَا

Dia akan kekal selama-lamanya disana.

Ulama tafsir mengatakan, kata “selama-lamanya” digunakan, walaupun yang membunuh seorang muslim, itu menunjukkan dia akan lama di neraka. Karena kita tahu bersama seorang muslim pasti pada akhirnya masuk surga, tapi dia tidak akan transit sebentar di neraka, diazab, disiksa, dibakar. Dan kita tahu bersama azab terendah di api neraka adalah pada saat seseorang dipakaikan sepatu dari api neraka lalu otaknya mendidih. Lalu bagaimana jika dia diazab 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, dan seterusnya? Dan ini belum selesai.

وَغَضِبَ اللَّـهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

dan Allah murka kepada dia, dan Allah laknat pembunuh tersebut, dan Allah persiapkan untuk dia azab yang super pedih.” (QS. An-Nisa[4]: 93)

Ma’asyirol Muslimin… Tidak mungkin hidup bahagia orang yang membunuh seorang muslim. Walaupun penampilannya dia segar, walaupun penampilannya dia tenang, Allah yang jamin Allah murka kepadanya dan Allah laknat dia. Mungkinkah seseorang bisa hidup tenang jika dia dilaknat oleh Allah Jalla wa Ala?

Ma’asyirol Muslimin… yang dirahmati oleh Allah,

Maka kita harus menjaga darah saudara kita, tidak boleh kita sentuh, tidak boleh kita lukai. Setetes darah yang jatuh dari tubuhnya karena pukulan kita, karena sikap kita, maka urusannya akan panjang sampai hari kiamat kelak.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walillahilhamd..

Lalu yang kedua, Ma’asyirol Muslimin…

2. Menjaga Harta

Menjaga harta saudara kita, teman kita, tetangga kita, satu warga kompleks kita, jama’ah mesjid kita. Menjaga harta adalah prinsip menjaga ukhuwah islamiyah yang digariskan oleh Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada saat Idul Adha lima belas abad yang lalu.

Kenapa?

Karena ini adalah pemicu. Harta adalah hal yang sangat sensitif, menghancurkan! Jangankan sesama warga komplek, ayah bunuh anaknya, anak bunuh ayahnya, gara-gara masalah harta. Oleh karena itu masalah harta harus kita jaga, kalau kita ingin menjaga ukhuwah islamiyah.

Ma’asyirol Muslimin… yang dirahmati oleh Allah,

Siksa yang sangat pedih bagi orang yang mengambil harta orang lain. Sebagai contoh Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 10, Allah menceritakan bagaimana orang-orang yang memakan harta anak yatim tanpa hak. Allah menyatakan:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”

Keponakannya mewarisi harta yang begitu banyak dari kakaknya, lalu dia kelola ambil harta keponakannya tersebut untuk kepentingan dia, sesungguhnya yang dia makan itu adalah api ke dalam perutnya -dan ini baru muqaddimah- dan di akhirat kelak dia akan dihempaskan ke dalam siksa api neraka.

Hati-hati dalam masalah harta! Jangan sampai ada harta orang masuk ke dalam mulut kita. Walaupun berupa makanan-makanan yang memiliki citarasa yang enak. Karena Nabi mengatakan:

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Setiap daging yang tumbuh dari harta yang haram (harta yang korup, harta hasil perampokan, pencurian, harta hasil money laundry) maka neraka lebih pantas untuk dirinya” (HR. Ahmad dan at-Tirmizi, dinyatakan shahih oleh al-Albani).

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walillahilhamd..

3. Menjaga Kehormatan

Lalu prinsip yang ketiga dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu kehormatan dan perasaan saudara kita harus kita jaga, tidak boleh kita lecehkan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencela seorang muslim merupakan kefasikan dan memeranginya merupakan kekufuran.” (HR. Bukhari-Muslim)

Mencela seorang muslim ialah dosa besar, kita tidak boleh mengghibah saudara kita, apalagi memfitnahnya. Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah menjelaskan konsep ini dalam surat al-Hujurat ayat 12:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah prasangka.”

Yang menghancurkan hubungan itu adalah buruk sangka, hadirin..

Ketika sebuah divisi dalam sebuah yayasan sudah buruk sangka kepada seorang bendahara, maka akan pecah itu yayasan. Apabila suami sudah buruk sangka dengan istri, istri sudah buruk sangka dengan suami, kita buruk sangka dengan tetangga kita, tetangga kita buruk sangka dengan kita -baik masalah dunia maupun akhirat- maka akan hancur hubungan ukhuwah pada saat itu.

Oleh karena itu Allah mengatakan jauhi banyak prasangka,

إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Karena sebagian prasangka itu dosa.

وَلَا تَجَسَّسُوا

Jangan cari kesalahan saudara kita.

Betul, ketika kita melihat kemungkaran, kita harus rubah dengan tangan kita kalau kita bisa, dengan lisan kita kalau kita bisa, atau paling tidak dengan hati kita. Tapi jangan cari-cari kesalahan sehingga kehormatan saudara kita hancur, sehingga aibnya kita bicarakan dengan teman-teman kita.

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا

Dan jangan saling mengghibah diantara kalian.

Mengghibah atau membicarakan aib orang walaupun itu benar. Karena kalau itu tidak benar namanya fitnah bukan ghibah. Dan fitnah lebih parah daripada ghibah.

Lalu Allah menjelaskan:

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Apakah kalian senang memakan bangkai saudara kalian yang kalian benci tersebut?

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Pada saat kita mengghibah saudara kita, atau tetangga kita, atau teman kita, maka pada saat itu kita memakan bangkai saudara kita. Tahukah kita bahwa memakan bangkai dalam ayat ini, ini bukan analogi semata-mata. Dalam riwayat Abdullah bin Abbas, orang yang suka mengghibah dihadirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat kelak, lalu Allah suguhkan daging bangkai manusia untuk dia lahap dan dia habiskan pada saat itu. Kalau kita mengghibahi dua orang seumur hidup kita, makan dua bangkai manusia pada hari kiamat, kalau kita ghibahi 10 orang di dunia, maka 10 bangkai manusia pada hari kiamat. Bagaimana yang 100 orang? Bagaimana yang 200 orang? Bagaimana yang 1000 orang? Maka 1000 bangkai! Dan kita tidak boleh beranjak sampai kita habiskan bangkai-bangkai tersebut.

Oleh karena itu ma’asyirol muslimin,

masalah kehormatan itu mahal, masalah kehormatan itu mulia, jaga kehormatan saudara kita, jaga kehormatan tetangga kita, jaga kehormatan warga kita. Jangan melempar isu, jangan mengomongi aibnya. Walaupun kita tahu dia benar-benar melakukan hal tersebut.

Apa solusinya?

Raih tangannya dengan penuh kelembutan lalu nasehati empat mata. Tidak ada gunanya jika kita membicarakan dia di belakang dia. Amar ma’ruf nahi munkar harus tetap dilakukan, tapi kehormatan saudara kita harus juga dijaga.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walillahilhamd..

Ma’asyirol muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala..

Idul Adha tidak bisa dipisahkan ukhuwah Islamiyah, tidak bisa dipisahkan dengan persaudaraan, persatuan umat islam. Mungkin ada yang bertanya, kalau begitu bagaimana kita menumbuhkan ukhuwah Islamiyah di tengah-tengah kita? Bagaimana cara kita menumbuhkan persaudaraan dan persatuan di tengah-tengah warga kita?

Ma’asyirol muslimin..

Idul Adha jawabannya!

Mari kita lihat ke arah barat pada saat ini. Mari kita lihat prosesi ibadah haji yang sedang dilakukan dan terus dilakukan pada detik-detik ini oleh jamaah haji dari belahan dunia, saudara-saudara kita di Masjidil Haram, di Arafah, di Muzdalifah, mengajarkan kepada kita bagaimana kunci ukhuwah Islamiyah.

Ma’asyirol muslimin..

Tidakkah kita berpikir “Apa resep mereka bisa berkumpul, kompak dan bersatu, berada di tanah suci pada hari ini?”

Apa yang membuat mereka kompak dan bersatu, sama-sama wukuf di Arafah pada kemarin, dan detik ini mayoritas jamaah haji sedang mabit di Muzdalifah. Apa yang membuat mereka begitu kompak? Apa yang membuat mereka begitu terlihat bersatu? Apa yang membuat mereka benar-benar hadir di sana? Padahal tidak ada kontak di antara mereka. Jamaah haji asal Indonesia tidak punya kontak dengan jamaah haji yang ada di Eropa, tapi mereka bertemu dan bersatu di Arafah. Apa yang membuat jamaah haji asal Malaysia ketemu dengan jamaah haji asal Indonesia dan kompak di Arafah? Padahal mereka tidak pernah kontak-kontakan atau buat janji sebelumnya?

Ma’asyirol muslimin yang dirahmati oleh Allah..

Jawabannya, karena setiap jamaah haji komitmen dalam taat kepada Allah. Jama’ah haji komitmen dalam mengikuti sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika jamaah haji Indonesia berusaha menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Ali Imron ayat 97:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

“Sesungguhnya salah satu hak Allah yang wajib ditunaikan oleh manusia adalah pergi haji jika mampu”

Lalu orang Malaysia mengamalkan ayat ini, orang Brunei mengamalkan ayat ini, orang Cina mengamalkan ayat ini, orang Arab mengamalkan ayat ini, begitu juga dengan Eropa, lalu Amerika, maka mereka bertemu di Masjidil Haram, mereka bersatu di Masjidil Haram, tanpa kontak sebelumnya.
Apabila orang Indonesia mengamalkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الحج عرفة

“Inti dari Haji adalah wukuf di Arafah”

Lalu diamalkan juga oleh orang Malaysia, diamalkan juga oleh orang Australia, diamalkan juga oleh orang Afrika, maka mereka bersatu di Arafah tanpa ada kontak dan janji sebelumnya.

Ma’asyirol muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala..

Begitu juga dengan kita. Apabila setiap kita kompak menjalankan firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 18:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir,…” 

Maka secara otomatis, tanpa disadari, kita akan bersatu di rumah Allah, kita akan bertemu di rumah Allah. Dan pertemuan itu akan menciptakan komunikasi, menciptakan senyuman, menciptakan keharmonisan, dan terciptalah ukhuwah Islamiyah.

Ma’asyirol muslimin..

Banyak teori tentang ukhuwah Islamiyah, namun inilah teori dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, teori dari Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Haji dan Idul Adha, mengajarkan kepada kita bahwa apabila setiap muslim kompak dan komitmen menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah, maka pasti tercipta ukhuwah Islamiyah diantara mereka.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walillahilhamd..

Keluarga Ibrohim ma’asyirol muslimin..

Bagaimana keluarga itu adalah simbol keluarga sakinah mawaddah warahmah. Keluarga yang merupakan simbol dari ukhuwah Islamiyah, simbol dari keharmonisan, simbol dari cinta kasih, apa yang terjadi dengan mereka? Allah berfirman dalam surat as-saffat ayat 102. Ketika Ismail tumbuh sebagai pemuda dewasa, maka ujian itu pun datang. Keluarga yang penuh dengan cinta kasih digoncang dengan sebuah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَ

“Wahai Anakku, tadi malam Allah perintahkan aku dengna mimpi bahwa aku menyembelihmu. Apa pandanganmu!”

Nabi Ismail menjawab:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Wahai ayahanda, lakukan apa yang Allah perintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan lihat dan menyaksikan aku termasuk orang-orang yang sabar.

Dan kita tahu singkat cerita, Allah ganti Nabi Ismail dengan seekor kambing yang besar.

Coba kita berpikir ma’asyirol muslimin,

Apa yang membuat mereka harmonis?

Jawabannya karena sang ayah, sang ibu atau istri dan anak komitmen dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika datang perintah untuk menyembelih, semua “sami’na wa atha’na”. Oleh karena itu Allah puji mereka:

فَلَمَّا أَسْلَمَا

Ketika ayah dan anak itu menyerah kepada Allah (tunduk kepada Allah)” (QS. Ash-Shaffat[37]: 103)

Coba kita bayangkan apabila mereka tidak mau tunduk kepada Allah, maka tidak akan tercipta keharmonisan. Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan perintahNya, maka Hajar membawa perasaannya sebagai seorang ibu, Hajar menolak! “Saya nggak terima anak saya disembelih” Apa yang akan terjadi? Perceraian hadirin yang dirahmati oleh Allah. Apabila Ismail tidak mau menjalankan perintah Allah, apa yang terjadi? Dia akan kabur dari rumah, dan pecahlah hubungan keluarga tersebut.

Keharmonisan keluarga Nabi Ibrahim menjelaskan kepada kita, bahwa untuk membangun hubungan habluminannas, untuk membangun hubungan ukhuwah, untuk membangun hubungan keharmonisan diantara keluarga, maka setiap kita harus menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah sebabnya ketika Allah berbicara tentang persatuan, Allah berbicara tentang ukhuwah, Allah mengatakan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّـهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah dengan tali Allah, dengan perintah-perintah Allah, dengan larangan-larangan Allah, dengan syariat Allah, dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, -baru setelah itu- larangan untuk berpecah.” (QS. Ali-Imran[3]: 103)

Karena tidak mungkin terjadi persatuan tanpa taat pada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kenapa demikian?

Karena apabila ada diantara kita yang tidak taat kepada Allah, maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itu akan membuat kita pecah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan “tidaklah ada dua orang muslim saling cinta dan kasih diantara mereka, lalu pecah kecuali karena dosa yang dilakukan salah satu dari keduanya (apalagi dua-duanya).”

Maksiat yang membuat kita pecah. Meninggalkan sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang membuat kita tidak akan bersatu selama-lamanya. Karena bagaimana mungkin bersatu, apa perintah Allah kepada umat Islam? kepada orang-orang beriman ketika melihat kemungkaran? Kita disuruh nahi munkar, dan di nahi munkarlah biasanya timbul gesekan demi gesekan. Yang salah tidak mau menerima, yang nahi munkar mungkin kurang hikmah. Akhirnya pecahlah hubungan di antara mereka tersebut.

Oleh karena itu ma’asyirol muslimin, Idul Adha ini adalah momentum untuk bersatu, momentum untuk menjaga ukhuwah, momentum untuk menjaga keharmonisan di antara kita, di antara keluarga kita, keluarga besar kita, satu RT dan RW dengan kita, kompleks kita yang terdiri dari beberapa cluster yang ada. Marilah kita sama-sama menjalankan perintah Allah. Apabila semua kita komit untuk beribadah kepada Allah, maka akan tercipta ukhuwah. Apabila semua kita komit mengamalkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“ (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban)

Bayangkan apabila satu kompleks komit menjalankan hadits ini.

Apa yang terjadi dengan kompleks kita apabila saat semua keluarga, semua warga menjalankan perintah Nabi:

أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Sebarkan salam di tengah-tengah kalian”

Apa yang terjadi di komplek kita apabila semua komit mengamalkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Saling memberikan hadiah diantara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai” (HR. Bukhari)

Apa yang terjadi di kompleks kita apabila setiap kita komitmen untuk bersikap lemah lembut?

فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya tidaklah kelemah-lembutan berada di sebuah kondisi kecuali akan menghiasi kondisi itu, dan tidaklah kelemah-lembutan dicabut dari sebuah kondisi kecuali akan merusak kondisi itu” (HR. Abu Dawud)

Kalau setiap kita, setiap warga, setiap ayah, setiap suami, setiap istri, setiap anak selalu bersikap lemah lembut, apa yang terjadi di komplek kita dan di rumah kita? Ukhuwah tidak bisa dipisahkan dengan perintah Allah. Ukhuwah tidak bisa dipisahkan dengan sami’na wa atho’na. Hanya dengan sami’na wa atho’na lah kita menjalankan ukhuwah islamiyah yang sejati.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walillahilhamd..

Ma’asyirol muslimin yang dirahmati Allah,

Oleh karena itu, kita tidak mungkin menjalankan perintah Allah kalau kita tidak tahu apa itu perintah Allah. Maka di mimbar yang begitu mulia ini, di moment yang begitu berharga ini, mariklah kita jadikan sebuah momentum untuk menuntut ilmu agama. Ingat, di suasana Idul Adha inilah agama kita disempurnakan oleh Allah.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian NikmatKu. dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS. Al-Maidah : 3)

Surat Al-Maidah ayat 3 ini turun dalam suasana Idul Adha. Sudahkah kita mempelajari agama kita? Sudahkan kita mempelajari firman-firman Allah dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Semakin tinggi ilmu kita, maka semakin lembut kita. Semakin tinggi ilmu kita, maka kita akan semangat menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

Allah telah sempurnakan agamaNya, maka agar kita bisa menjadi hamba yang bersyukur, pelajarilah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari, maka terciptalah ukhuwah Islamiyah.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walillahilhamd..

Ma’asyirol muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Yang terakhir.. Idul adha jelas mengajarkan kita bagaimana nilai sebuah pengorbanan. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini, saya ingin menekankan bahwa tidak ada kehidupan yang bahagia tanpa pengorbanan. Kalau kehidupan itu ada, pasti Nabi Ibrahim orang yang pertama kali menjalaninya, pasti Nabi-Nabi Allah yang hidup tanpa ada hambatan. Tapi apa yang terjadi, Nabi Ibrahim -kekasih Allah- diperintahkan untuk menyembelih anaknya dalam rangka menguji pengorbanan beliau. Siapa yang lebih beliau cintai, anaknya atau Allahu Tabaraka wa Ta’ala.

Dan itu yang akan kita alami bersama, di dalam rumah-rumah kita. Allah akan memuji kita, sanggupkah kita mengorbankan sesuatu yang kita cintai demi mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Dan kabar gembira buat kita semua ma’asyirol muslimin..

Bahwa ujian Allah bukan untuk menghancurkan kita. Seberat-berat pengorbanan tidak akan memudhorotkan. Lihat bagaimana Nabi Ibrahim! Pada saat itu beliau hanya memiliki satu orang anak, lalu Allah perintahkan untuk disembelih. Apa yang terjadi? Apakah beliau kehilangan anak beliau? Tidak! Ismail tetap hidup, lalu beliau mendapatkan seekor kambing yang besar. Dan yang ketiga, beliau mendapatkan anak yang kedua yaitu Ishaq ‘Alaihis Salam.

Itu yang ingin Allah uji. Ketika Allah lihat komitmen kita, maka Allah akan berikan semuanya untuk kita. Tapi diuji dulu! Karena itulah hakikat dunia.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلً

Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan dengan segala dinamikanya, dengan segala warna-warninya, dengan segala ujian-ujiannya. Untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya” (QS. Al-Mulk[67]: 2)

Begitu yang Allah lihat, dan kita sudah buktikan, maka janji Allah semua akan diberikan kepada kita. Jangan lupa berqurban dan awali dengan berqurban seekor kambing atau sepertujuh sapi minimal pada hari ini, karena Nabi mengatakan:

من كَانَ لَهُ سَعَة وَلم يضح فَلَا يقربن مصلانا

“Barangsiapa yang memiliki kemampuan namun tidak berqurban, makan jangan sekali-kali mendekat masjid kami ini.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Nabi melarang untuk dekat-dekat dengan Masjid Nabawi. Kalau dia tidak diterima di masjid Allah, kemana lagi dia mencari kebahagiaan? Kemana lagi dia bernanung dari badai-badai kehidupan? Ini adalah ancaman, ini adalah penekanan. Walaupun berqurban hukumnya Sunnah, tetapi kalau kita mampu dan kita tidak berqurban dan Nabi ada di tengah-tengah kita, kita akan diusir dari masjid beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Marilah kita berqurban pada hari ini, dan resapi filosofinya, lalu amalkan perintah Allah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kita akan bahagia di dunia dan di akhirat, dan akan terciptalah kehidupan ukhuwah Islamiyah yang kita dambakan selama ini.

Semoga ini bermanfaat khususnya bagi khatib pada pagi hari ini, dan kita semua dan akhir kata, marilah kita tundukkan hati kita untuk bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta kepada Allah, karena do’a pada hari ini sangat mudah diijabah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللهم اني اسالك الهدى والتقى والعفاف والغنى

اللهم اعز الاسلام والمسلمين، وعضلا الكفرة والمشركين

ودمر اعداءك اعداء الدين يا رب العالمين

اللهم انصر اخواننا في كل مكان

اللهم انصر اخواننا المستضعفين في كل مكان

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين

Khatib mengucapkan:

تقبل الله منا ومنكم

Selamat hari raya Idul Adha 1437 H, Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, menerima shalat ied kita dan menerima qurban kita.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Video Sumber Teks Khutbah Idul Adha: Idul Adha adalah Momentum Kita Menjaga Persaudaraan

Diperiksa dan diterbitkan oleh: Dedi Purnomo Abu Zaid

COMMENTS

WORDPRESS: 0
Login/daftar untuk men-copy (GRATIS)