Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Keberkahan Sebagai Kunci Keberhasilan Hidup” yang disampaikan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Hafidzahullahu Ta’ala
Khutbah Pertama: Hakikat Keberkahan Dalam Setiap Karunia
Maasyiral muslimin, sidang Jumat yang semoga Allah muliakan. Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran[3]: 102)
Takwa bermakna menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan larangan-Nya berdasarkan ilmu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا ۙ يُّصْلِحْ لَـكُمْ اَعْمَا لَـكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَا زَ فَوْزًا عَظِيْمًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia menang dengan kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 70-71)
Maasyiral muslimin, sidang Jumat yang dimuliakan Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan mengenai hakikat kunci keberhasilan di dunia. Manusia seringkali lupa bahwa hal yang paling mendasar bukanlah kuantitas waktu, melainkan keberkahan waktu. Demikian pula dengan harta, anak, pasangan hidup, dan segala aspek kehidupan lainnya; yang paling utama adalah keberkahannya.
Keberkahan adalah kunci keberhasilan di dalam kehidupan. Namun, manusia cenderung lebih mementingkan jumlah uang yang banyak daripada uang yang berkah, atau rezeki yang berlimpah dibandingkan rezeki yang berkah. Dalam dunia usaha, seringkali perhatian hanya tertuju pada bagaimana angka penjualan meningkat, bukan bagaimana keberkahan hadir dalam setiap transaksi.
Bagi yang telah mengenyam asam garam kehidupan, tentu menyadari bahwa harta yang tidak berkah akan membuat kehidupan berantakan. Uang tersebut seringkali lenyap tanpa bekas dan tidak dapat digunakan untuk kemaslahatan maupun kepentingan yang bermanfaat. Penyebab utama dari fenomena tersebut adalah ketidakberkahan harta.
Maasyiral muslimin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berbicara mengenai keberkahan dalam perniagaan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا
“Dua orang yang melakukan jual beli boleh memilih antara meneruskan atau membatalkan selama keduanya belum berpisah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setelah menjelaskan mengenai hak khiar (pilihan dalam transaksi), Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan poin penting mengenai kejujuran:
فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا
“Jika keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang), maka keduanya diberkahi dalam jual beli mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apabila penjual dan pembeli bersikap jujur serta menjelaskan fakta yang perlu diketahui, termasuk aib atau kekurangan pada barang, maka transaksi tersebut diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Penjual yang jujur menjelaskan kecacatan barang mungkin akan menerima harga yang lebih rendah dari harapannya, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keberkahan pada harta tersebut.
Meskipun angkanya tidak besar, harta yang berkah akan memberikan kebaikan saat digunakan untuk menafkahi keluarga, membayar tempat tinggal, atau memenuhi kebutuhan primer lainnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah berbohong mengenai hukum maupun hal-hal gaib, karena perkataan beliau adalah wahyu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm[53]: 3-4)
Berdasarkan wahyu tersebut, kejujuran dalam menjelaskan kondisi barang akan mendatangkan keberkahan bagi pembeli maupun penjual. Inilah yang senantiasa diharapkan oleh setiap mukmin.
Khutbah Kedua: Dampak Ketidakjujuran Dalam Kehidupan
Maasyiral muslimin, sidang Jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menutup penjelasan beliau mengenai etika perniagaan dengan peringatan yang sangat tegas. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ
“Jika keduanya (penjual dan pembeli) menyembunyikan cacat dan berbohong, maka akan dimusnahkan keberkahan jual beli mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apabila penjual atau pembeli menyembunyikan hal yang seharusnya disampaikan, bahkan rela berdusta untuk menutupi aib demi keuntungan semata, maka musibah besar akan menimpa. Barang yang memiliki cacat namun dikatakan sempurna mungkin akan membuat transaksi berhasil dan angka keuntungan yang diharapkan tercapai. Namun, keberkahan dari transaksi tersebut telah dicabut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Harta tersebut mungkin berjumlah banyak, tetapi tidak membawa ketenangan. Penghasilan yang didapatkan tanpa keberkahan tidak akan membuat jiwa lebih semangat bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan, nafkah yang diberikan kepada istri dan anak-anak tidak akan membawa kebaikan bagi perilaku mereka.
Fenomena anggota keluarga yang sulit diatur atau bersikap lancang kepada kepala rumah tangga seringkali berakar pada pemberian harta yang tidak berkah. Masalah tersebut bukan sekadar persoalan karakter, melainkan dampak dari penggunaan uang hasil manipulasi, kebohongan, atau penyembunyian fakta. Meskipun jenis transaksinya halal, proses yang diwarnai kedustaan tetap akan mencabut keberkahan rezeki.
Pesan kejujuran ini memiliki spektrum yang lebih besar daripada sekadar urusan dagang. Kejujuran dan sikap apa adanya adalah kunci keberkahan dalam seluruh aspek kehidupan. Sebaliknya, kehidupan yang diisi dengan kebohongan demi kebohongan karena khawatir tidak mendapatkan harta yang diinginkan justru akan membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala mencabut keberkahan waktu dan setiap amal perbuatan. Puluhan tahun kehidupan hanya akan menghasilkan keletihan dan lelah tanpa kebahagiaan batin. Rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah, serta anak-anak yang saleh dan salehah sulit terwujud apabila pondasi kejujuran telah runtuh.
Jagalah kejujuran di dalam hidup karena hal itu merupakan kunci keberkahan. Kekuatan untuk senantiasa jujur bersumber dari kekuatan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kunci kejujuran yang paling utama adalah meyakini bahwa Allah ‘Azza wa Jalla Maha Mendengar setiap ucapan, Maha Melihat setiap perbuatan, dan Maha Mengetahui setiap trik maupun gerakan hati manusia. Keyakinan terhadap nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut mendorong hamba untuk hanya beribadah dengan penuh keikhlasan dan menjauhi segala bentuk kesyirikan maupun kecurangan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik-Nya agar kita menjadi pribadi yang jujur sehingga melahirkan lapisan-lapisan keberkahan di dalam kehidupan.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّواعَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
Sumber Video Khutbah Jumat “Keberkahan Sebagai Kunci Keberhasilan Hidup”
Sumber: Muhammad Nuzul Dzikri
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS