Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Bahaya Hasad” yang disampaikan Ustadz Abdullah Roy, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA: Wasiat Takwa dan Perintah Menjaga Hati
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَبِفَضْلِهِ تَنْزِلُ الْبَرَكَاتُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَفْضَلُ الْبَرِيَّاتِ وَأَكْرَمُ الْمَخْلُوقَاتِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُولِي الْفَضْلِ وَالْمَكْرُمَاتِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)
Di awal khotbah kali ini, khatib mengingatkan diri sendiri yang lemah dan juga jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Sikap takwa tersebut diwujudkan dengan menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, serta dalam keadaan bersama orang lain maupun saat sendirian. Seseorang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendapatkan kemudahan dalam urusannya, diberikan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi, dan di hari kiamat kelak akan dimasukkan ke dalam surga yang telah disediakan.
Bagian dari bentuk takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah usaha seseorang untuk membersihkan hatinya dari berbagai macam penyakit hati. Salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya adalah hasad, iri, dan dengki.
Hasad memiliki makna ketidaksukaan atau ketidaksenangan di dalam hati seseorang saat melihat saudaranya mendapatkan kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, disertai dengan adanya keinginan agar kenikmatan tersebut lenyap dari saudaranya.
- Seseorang merasa tidak senang melihat rezeki tetangganya yang lebih besar, lalu merasa gembira apabila kekayaan tersebut habis.
- Seseorang merasa tidak suka mendengar rekan kerjanya naik jabatan, lalu merasa senang apabila rekan tersebut dicopot dari posisinya.
- Seseorang merasa iri melihat temannya meraih prestasi yang tinggi, lalu bercita-cita agar reputasi teman tersebut hancur.
- Seseorang dari panitia kajian tertentu merasa tidak senang melihat kesuksesan panitia kajian lain dalam menyelenggarakan acara, lalu berangan-angan agar keberhasilan tersebut sirna.
- Seseorang merasa dengki melihat yayasan, pondok, atau ma’had milik orang lain meraih berbagai kesuksesan, lalu merasa senang jika kesuksesan itu dicabut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Berbagai contoh tersebut merupakan sebagian kecil dari realitas penyakit hasad yang banyak tersebar di lingkungan sekitar.
Penyakit hasad merupakan jenis dosa yang berusia sangat tua dalam sejarah makhluk hidup. Iblis laknatullahi ‘alaih ditimpa penyakit hasad ketika melihat Nabi Adam Alaihis Salam mendapatkan kemuliaan, kedudukan, serta keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasa dengki tersebut akhirnya membuat Iblis membangkang dan menolak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bersujud, yang kemudian mendorongnya untuk terus berusaha menjerumuskan Nabi Adam ‘Alaihis Salam beserta seluruh keturunannya ke dalam lembah dosa dan kehinaan.
Kisah kelam akibat hasad juga terjadi pada putra Nabi Adam ‘Alaihis Salam, yaitu Qabil. Rasa hasad yang bergejolak di dalam diri Qabil terhadap saudaranya, Habil, menjadi penyebab utama dirinya tega melakukan pembunuhan terhadap saudara kandungnya sendiri.
Peristiwa serupa juga menimpa Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam. Saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihis Salam merasa hasad kepada beliau karena beliau lebih dicintai oleh ayah mereka. Akibat dari penyakit hati tersebut, mereka tega memasukkan Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam ke dalam sumur yang dalam, lalu melakukan kebohongan besar di hadapan orang tua mereka.
Dalam catatan sejarah kenabian, orang-orang Yahudi juga menaruh rasa hasad yang sangat besar kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka menolak kebenaran karena nabi terakhir yang diutus ternyata tidak berasal dari kalangan Bani Israil. Rasa dengki tersebut menjadi penghalang utama bagi mayoritas kaum Yahudi untuk beriman kepada risalah yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sifat dengki ini menjadi bukti nyata dari penyakit hati yang sangat berbahaya dari zaman ke zaman dan akan terus mengancam kehidupan manusia.
Hasad merupakan jenis penyakit hati yang dapat menggerogoti keimanan seseorang serta merusak hubungan antar manusia. Dampak buruk hasad terhadap iman dan amal saleh telah diingatkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui sabda beliau:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Hati-hatilah kalian terhadap hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)
Melalui hadits tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perumpamaan yang sangat mendalam sebagai utusan yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Seseorang yang telah mengumpulkan tumpukan amal saleh sedikit demi sedikit melalui perjuangan dalam shalat, puasa, sedekah, serta dzikir, pada hakikatnya sedang mengumpulkan bekal berharga untuk hari akhirat. Namun, ketika percikan api hasad, dengki, dan iri muncul akibat ketidakrelaan melihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, api tersebut secara perlahan tetapi pasti akan membakar tumpukan kebaikan yang ada. Amal saleh yang telah dikerjakan akan berubah menjadi abu yang tidak memiliki nilai di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.
Hal yang ironis adalah api hasad tersebut hanya menghancurkan amalan milik orang yang mendengki itu sendiri. Sifat dengki tidak akan mengurangi atau membakar amalan serta kenikmatan yang dimiliki oleh orang yang didengki. Orang yang didengki tetap mendapatkan kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan orang yang memelihara sifat dengki akan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut. Ketika manusia lain datang membawa tumpukan kebaikan, orang yang hasad datang dengan tangan hampa karena amalannya telah habis dimakan oleh sifat iri dan dengki.
Selain menghancurkan pahala, hasad juga merusak hubungan sosial antar manusia. Keinginan di dalam hati agar kenikmatan orang lain hancur dan sirna dapat mendorong seseorang untuk melakukan segala cara demi mencapai tujuannya. Orang yang ditimpa penyakit hasad akan mulai mencari-cari kesalahan orang lain, membicarakan kejelekan sesama di setiap kesempatan, melakukan adu domba, menyakiti secara fisik, bahkan perbuatannya dapat berujung pada tindakan pembunuhan.
Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an memerintahkan setiap hamba untuk memohon perlindungan dari dampak buruk yang ditimbulkan oleh orang yang mendengki:
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq[113]: 5)
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA: Wasiat untuk Selamat dari Hasad
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ.
Khatib kembali menyampaikan wasiat kepada diri pribadi dan juga jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah mendengarkan penjelasan mengenai dampak yang sangat dahsyat dari penyakit hasad, setiap individu tentu memiliki keinginan yang kuat agar dapat selamat dari dosa ini. Hasad merupakan dosa besar yang harus diwaspadai karena terbukti dapat menghancurkan amalan ibadah serta merusak jalinan persaudaraan antarsesama muslim.
Upaya pertama untuk selamat dari dosa hasad adalah dengan menyadari secara mendalam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dialah yang mentakdirkan segala sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membagi-bagi rezeki serta memberikan keutamaan di antara manusia. Seorang hamba harus meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui kepada siapa keutamaan tersebut layak diberikan.
Cara yang kedua adalah dengan melihat orang yang memiliki keadaan lebih rendah. Hal demikian akan menjadikan seseorang semakin bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Individu yang menyibukkan dirinya untuk senantiasa mengingat nikmat serta bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memiliki kesempatan untuk menaruh dengki kepada orang lain. Dirinya akan selalu merasa bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kenikmatan yang banyak serta karunia besar yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia lainnya.
Langkah yang ketiga adalah dengan memperbanyak doa kebaikan untuk orang yang dihasadi, terutama saat sedang sendirian tanpa didengar oleh orang tersebut. Ketika merasakan adanya penyakit dengki di dalam diri, lisan harus dipaksa untuk mendoakan, “Ya Allah, berkahilah saudaraku ini. Berkahilah nikmat yang Engkau berikan kepadanya. Berikanlah dia harta yang halal, dan berikanlah pula kepadaku harta yang halal serta berkah sebagaimana Engkau telah memberikannya.” Doa-doa kebaikan yang serupa jika diperbanyak akan menjadi sebab kuat hilangnya hasad di dalam diri seseorang.
Langkah yang keempat adalah dengan memperbanyak permohonan perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari bahaya hasad. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengajarkan perlindungan ini di dalam Al-Qur’an melalui surah Al-Falaq. Seseorang dapat berdoa dengan lafaz:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”
Atau dengan membaca doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْحَسَدِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hasad.”
Apabila seseorang tulus di dalam doanya disertai kesadaran bahwa hasad hanya membawa kerugian di dunia dan akhirat, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan perlindungan dari penyakit tersebut.
Penutup Khotbah dan Doa
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Sumber Video Khutbah Jumat “Bahaya Hasad”
Sumber : HSI Abdullahroy
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS