Khutbah Jumat Menyambut Muharram: Mencintai Sunnah Rasulullah

Khutbah Jumat Menyambut Muharram: Mencintai Sunnah Rasulullah

pandai mendengar

"Ikuti saja, kewajiban kalian ikuti, jangan membuat perkara yang baru dalam agama ini, karena kalian sudah dicukupi," kata Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu wa Ardhahu.

Sikap berlebih-lebihan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Berprasangka Baik Kepada Allah 
Cara Mendapatkan Akhlak Mulia

Khutbah Jumat Menyambut Muharram: Mencintai Sunnah Rasulullah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor.

Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Muharram Tentang Mencintai Sunnah Rasulullah

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وقال تعالى، يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Ummatal Islam,

Senantiasa kita memuji Allah atas limpahan karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Terutama nikmat iman dan Islam dan diberikan kepada kita kekuatan untuk senantiasa menaatiNya dan menjauhi maksiat-maksiatNya.

Sesungguhnya di antara nikmat yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah ia berusaha untuk mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di dalam kehidupan sehari-harinya, ia berusaha untuk mencintai Rasulullah dengan sepenuh hatinya. Dan dia wujudkan dalam praktek kehidupannya.

Karena, saudaraku.. Seorang muslim yang menyatakan dirinya “asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah,” dia wajib untuk senantiasa mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan cinta Rasul tiada lain adalah dengan ittiba’. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah: ‘Jika kalian memang mencintai Allah, maka ikuti aku (yaitu Rasulullah) niscaya Allah akan mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu.’” (QS. Ali ‘Imran[3]: 31)

Mengikuti Rasulullah bukan hanya dalam perbuatannya, namun juga mengikuti Rasulullah disaat Rasulullah meninggalkan sesuatu perbuatan, walaupun memang tidak setiap yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tinggalkan itu menjadi tidak boleh kemudian setelahnya. Karena para ulama telah memberikan perincian bahwa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tinggalkan karena belum ada pendorongnya dan belum ada penyebabnya. Maka ketika penyebab atau pendorong itu muncul dan maslahatnya besar, maka itu boleh dilakukan.

Seperti contohnya adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di zaman beliau tidak tidak mengajarkan ilmu musthalah hadits, tidak punah ilmu bahasa Arab (ilmu nahwu dan sharaf), karena di zaman itu belum ada pendorongnya, belum dibutuhkan oleh para sahabat. Karena para sahabat orang-orang yang sangat alim tentang bahasa Arab, tentang ilmu ushul fiqih dan yang lainnya.

Yang kedua, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkan suatu perbuatan karena masih ada penghalangnya. Maka ketika penghalang itu telah hilang dan maslahatnya besar, maka boleh dilakukan dan itu tidak termasuk bid’ah sama sekali.

Sebuah contoh adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak melakukan shalat tarawih setiap malam. Hal ini karena ada penghalangnya. Yaitu khawatir diwajibkan atas umatnya. Di zaman ‘Umar bin Khattab, kekhawatiran ini sudah hilang, penghalangnya sudah hilang, tidak mungkin lagi diwajibkan dan maslahatnya pun besar. Maka ‘Umar pun mengadakan shalat tarawih berjamaah setiap malamnya.

Maka yang seperti ini perkara-perkara yang diperbolehkan untuk kita lakukan. Tentunya yang berfatwa adalah para ulama besar mujtahidin.

Yang menjadi permasalahan adalah yang ketiga ini, yaitu yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tinggalkan dan beliau tidak lakukan, padahal pendorongnya ada di zaman Nabi, dibutuhkan di zaman Nabi, penghalangnya pun tidak ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun Nabi tetap meninggalkannya, ini menunjukkan bahwa memang itu tidak disyariatkan.

Sebuah contoh adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat Idul Fitri dan Idul Adha tidak dengan adzan, tidak pula dengan iqomah. Padahal adzan dan iqomah dibutuhkan dan pendorongnya ada, yaitu memanggil orang untuk shalat, mengingatkan mereka untuk shalat. Penghalangnya pun tidak ada, Nabi mampu memerintahkan Bilal untuk adzan. Tapi sengaja Nabi tinggalkan, walaupun Nabi mampu dan itu dibutuhkan. Ketika Nabi tinggalkan, menunjukkan bahwa itu dalam rangka pensyariatan.

Maka setiap di zaman ini yang shalat Ied dengan adzan dan iqomah, kita katakan Anda telah mengada-ngada dalam agama yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka Ya Akhal Islam, perhatikanlah tiga perkara ini. Bahwa ternyata tidak setiap yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tinggalkan atau tidak lakukan, itu setelah Rasulullah meninggal lalu kita lakukan dianggap sebagai bid’ah, tidak. Akan tetapi harus melihat tiga keadaan tadi.

Kita sekarang di bulan Dzulhijjah dan akan menghadapi bulan Muharram. Banyak kaum muslimin ketika memasuki tanggal 1 Muharram mereka merayakan dengan istilah perayaan tahun baru. Dan mereka kemudian merayakannya dengan menyalakan obor-obor di malam hari.

Cobalah kita perhatikan:

Yang pertama, bukankah merayakan tahun baru di zaman Nabi pun ada pendorongnya? Di zaman sekarang mereka mengatakan ini termasuk syiar Islam katanya, katanya ini untuk mensyiarkan agama Islam katanya. Tentu kalau itu syiar Islami, tentu Nabi sudah melakukannya dan Nabi tidak lemah untuk melakukannya, Nabi mampu melakukannya, saudaraku.

Apalagi kemudian syiar-syiar majusi yang di situ dibakar padanya obor-obor ataupun api-api yang itu sama sekali bukan syiar Islam, saudaraku.

Maka Ummatal Islam, inilah yang kita perhatikan.

Di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pendorong tersebut ada, yaitu untuk menegakkan syiar Islam. Penghalangnya pun tidak ada, Nabi mampu melakukannya. Tapi Nabi tidak lakukan, tidak pula para sahabat lakukan, tidak pula para tabi’in lakukan, tidak pula imam yang empat; baik itu Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, tidak pula ulama-ulama setelahnya lakukan.

Kalau lah itu itu perkara yang baik, tentu mereka lebih tahu dari kita, mereka yang paling tahu kebaikan dari kita, mereka yang lebih semangat kepada kebaikan dari kita, dan mereka orang yang paling mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah dari kita, ya akhal Islam a’azzaniyallahu wa iyyakum.

Maka konsekuensi kita ketika kita mengatakan “saya cinta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,” ikutilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana dalam ayat yang saya bawakan tadi:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي…

Jika kalian memang mencintai Allah, maka ikuti aku (yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).” (QS. Ali ‘Imran[3]: 31)

Maka ikutilah Rasulullah, ikutilah para ulama setelahnya. Jangan kita mengada-ngada dalam agama yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan RasulNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegur orang-orang yang membuat-buat syariat yang Allah tidak izinkan. Allah berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ ۚ

Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang membuat syariat untuk mereka dari agama ini sesuatu yang tidak pernah Allah izinkan untuk mereka?” (QS. Asy-Syura[42]: 21)

Ummatal Islam..

Karena sesungguhnya agama kita telah sempurna, agama kita tidak membutuhkan lagi syariat-syariat yang baru, agama kita tidak membutuhkan lagi tata cara yang baru. Semua yang memasukkan ke surga telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan semua yang memasukkan ke neraka telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka cukupkanlah -Ya Akhal Islam- dengan Rasulullah dan para sahabatnya dan para ulama setelahnya. ‘Abdullah bin Mas’ud berkata:

اتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا ، فَقَد كُفِيتُم

“Ikuti saja, kewajiban kalian ikuti, jangan membuat perkara yang baru dalam agama ini, karena kalian sudah dicukupi,” kata Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu wa Ardhahu.

Ummatal Islam,

Kewajiban kita adalah mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa dalam masalah yang sifatnya ‘ubudiyah (ibadah) adalah menunggu perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jangan melakukan suatu ibadah apabila ternyata tidak ada perintahnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka Ya Akhi, adat-istiadat yang bertabrakan dengan syariat tidak boleh kita amalkan.

Kalaupun misalnya sebagian masyarakat mengatakan “ini hanyalah kebiasaan dan adat,” akan tetapi saudaraku, ketika adat itu menjadi sebuah ritual, bahkan dianggap sebagai sebuah syiar agama, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itu artinya berubah menjadi ibadah. Sedangkan ibadah itu bersifat tauqifiyah, menunggu dalil dari Allah dan RasulNya Shalawatullahi ‘Alaihi wa Salamuhu.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

Khutbah kedua – Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah Tentang Mencintai Sunnah Rasulullah

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Ummatal Islam,

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mensyariatkan kepada kita syariat-syariat yang sangat sempurna sekali. Maka kewajiban kita adalah mencintai syariat-syariat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Menjadi sebuah perkara yang terbalik, akhi.. Ketika kita mencintai perayaan-perayaan ataupun tata cara ritual ibadah yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah, tetapi sesuatu yang jelas-jelas Rasulullah syariatkan kita malah membencinya.

Banyak di antara kaum muslimin begitu rajin mengadakan perayaan yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan RasulNya, tapi ketika melihat orang yang melaksanakan sunnah Rasul, ia malah membencinya. Ketika ia melihat ada orang yang berjenggot, ketika ia melihat ada orang yang memakai celana di atas mata kaki, dia langsung mencapainya, “ini wahabi, ini teroris,” Subhanallah.. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah jelas-jelas mensyariatkan kepada umatnya. Sunnah yang sudah jelas malah dibenci tetapi sesuatu yang tidak ada dalilnya malah dicintai, bahkan berlomba-lomba mengamalkannya. Sebuah fenomena yang terbalik, saudaraku.

Kewajiban kita, saudaraku.. Galilah kitab-kitab para ulama, kitab-kitab hadits, demikian pula yang telah menjadi peninggalan para ulama untuk kita.

Lihat kitab-kitab Imam Malik, kitab-kitab Imam Bukhari, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, sangat banyak, tinggal kita pelajari. Mereka orang-orang yang paling mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka kewajiban kita, cintailah sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jangan sampai kita masuk dalam firman Allah:

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Sesungguhnya orang yang membenci engkau (wahai Muhammad) dialah orang yang terputus.” (QS. Al-Kausar[108]: 3)

Kata para ulama, membenci Rasulullah masuk padanya membenci sunnahnya, masuk padanya membenci ajarannya. Maka orang yang membenci sunnahnya, membenci ajarannya, maka ia terputus. Terputus dari apa? Yaitu terputus dari rahmat Allah dan berbagai macam kebaikan, terputus dari keberkahan di dunia dan akhiratnya, bahkan terputus dari surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena tak layak seorang mukmin membenci ajaran-ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اللهم تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

اللهم تقبل أعمالنا يا رب العالمين.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عباد الله:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ.. وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Download mp3 Khutbah Jumat Singkat Menyambut Bulan Muharram

Sumber audio: radiorodja.com

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download khutbah Jum’at ini, kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Komentar

Ada yang bisa saya bantu?

Ahlan, ada yang bisa saya bantu? 00.00