Khutbah Jum’at : Perhatikan Amal Shalihmu

Khutbah Jum’at : Perhatikan Amal Shalihmu

pandai mendengar

Seseorang berusaha untuk menjaga amalnya agar tidak gugur dan tidak rusak dengan niat ingin dipuji, dipamerkan, disanjung, dan dihormati oleh masyarakat.

Materi 25 – Riya’ Terselubung 1
Materi 7 – Faedah Ikhlas ke-4
Ceramah Singkat Motivasi Beramal: Hilang Hartaku
Berikut Khutbah Jum’at “Perhatikan Amal Shalihmu” yang disampaikan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. Hafizhahullahu Ta’ala.

Khutbah Pertama : Perhatikan Amal Shalihmu

Ma’asyiral mu’minin,

Sesungguhnya di antara perkara yang telah diketahui oleh kaum muslimin sekalian bahwasanya amal shalih sebesar apapun, sebanyak apapun perjuangan untuk melakukannya, sebanyak apapun biaya yang dikeluarkannya untuk mengerjakannya, namun jika tidak memenuhi dua persyaratan, yaitu ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” QS. Al Mulk [67] : 2

Kata Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu ta’ala,  amalan yang terbaik adalah amalan yang paling ikhlas dan amalan yang paling sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana suatu amalan, jika dikerjakan ternyata tidak sesuai dengan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak diterima. Demikian pula jika suatu amalan dikerjakan ternyata tidak ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka akan ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ;

أنا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فيه مَعِي غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan serikat (tandingan). Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan dan ternyata dia mengambil serikat selain-Ku, (ternyata dia tidak ikhlas,) maka Aku akan tinggalkan dia dan serikatnya.” HR. Muslim 7666

Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak akan menyuruh dia mencari pahala dari orang yang dia mencari pujian darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memberikan pahala baginya.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Dari sini kita tahu bahwasanya  amalan apapun dan sebesar apapun, jika tidak dikerjakan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala maka percuma dan sia-sia. Oleh karenanya, Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala pernah berkata, “Perkara yang terpenting bukanlah seseorang beramal, akan tetapi yang lebih dari itu adalah bagaimana menjaga suatu amalan agar jangan sampai rusak dan jangan sampai gugur.”

Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya riya’ beramal shalih untuk dipuji, untuk diperlihatkan, atau untuk dipamerkan adalah menggugurkan amal. Sesungguhnya riya’ meskipun sedikit, tetap akan menggugurkan amal. Dan pintu-pintu riya’ sangatlah banyak tidak terhitung.”

Ingat, jadi tidak ada bedanya seorang beramal shalih agar dipuji oleh lima orang dengan agar dipuji oleh seribu orang. Sama-sama tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima amalan seorang hamba kecuali yang sangat murni, tidak diserahkan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi ingat, pintu-pintu riya’ sangatlah banyak. Oleh karenanya seseorang berusaha untuk menjaga amalnya agar tidak gugur dan tidak rusak dengan niat ingin dipuji, dipamerkan, disanjung, dan dihormati oleh masyarakat.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Dan di antara perkara yang sangat memudahkan kita untuk bisa menjaga amal, yaitu kita menyembunyikan amal shalih yang kita kerjakan. Abu Hazim al A’raj rahimahullahu ta’ala berkata,

أُكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ كَمَا تَكْتُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكَ

“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana kamu menyembunyikan dosa-dosamu.” (Siyar A’lam an Nubala’ : 100/6)

Sebagaimana engkau takut memamerkan dosa-dosamu, jangan kau pamerkan amalan-amalan kebajikanmu.

Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنِ اسْتَطَاءَ منكم أن يَكُونَ له خَبِّءٌ مِنْ عَمَلِ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ

“Barang siapa di antara kalian yang mampu untuk menyembunyikan amal shalihnya, maka lakukanlah.”  HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf no. 35768

Maka hendaklah dia menyembunyikan amal shalihnya. Jangan dia ceritakan. Apakah dia berbuat bakti kepada ibunya, apakah dia berbakti kepada ayahnya, apakah dia berbakti kepada seorang suami, apakah dia seorang pengajar yang hebat, apakah dia seorang penuntut ilmu yang hebat, apakah dia seorang donator yang mendonasikan hartanya yang sangat banyak, maka hendaknya dia sembunyikan jangan dia ceritakan kepada siapapun agar pahalanya lebih banyak, agar pahalanya lebih selamat dari riya’

Oleh karenanya, syaithan berusaha menggelitiki hati seseorang agar menceritakan amal shalihnya. Karena syaithan tahu bahwasanya seseorang yang jika menceritakan amal shalihnya, dia sangat mudah terjerumus dalam riya’. Syaithan berusaha menjerumuskannya dalam riya’. Oleh karenanya kita lihat bagaimana para salafush shalih dahulu. Mereka bersusah payah untuk menyembunyikan amal shalih mereka, menyembunyikan bacaan Al Qur’an mereka, sholat malam mereka, dan sedekah mereka.

Tetapi kita dapati sebagian saudara-saudara kita di zaman sekarang ini begitu bermudah-mudah untuk menyiarkan amal shalih yang mereka lakukan. Mereka foto lalu mereka share di media social seakan-akan mereka aman dari riya’. Kalaupun seseorang tidak terjerumus ke dalam riya’, dengan menshare amal shalih yang dia lakukan, maka dia akan terjerumus dalam perkara yang lain yaitu pahalanya akan berkurang. Amal yang tersembunyi pahalanya lebih besar daripada amal shalih yang disiarkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka itu baik. Dan jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahan kalian. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” QS. Al Baqarah [2] : 271

Apa yang kalian lakukan, Allah ‘Azza wa Jalla pasti tahu. Sedekah apapun yang kalian lakukan, raka’at yang kalian rukuk, sholat yang kalian lakukan, tilawah Al-Qur’an yang kalian lakukan, Allah Maha Mengetahuinya. Tidak perlu memberitahukan kepada orang lain. Maka ini lebih selamat dari penyakit riya’ yang sangat berbahaya.

Ingatlah, syaithan tidak peduli Anda beramal shalih sebanyak apapun. Kalau Anda riya’, maka gugurlah amal shalih anda. Bahkan bisa jadi syaithan lebih suka seseorang beramal shalih dengan riya’ daripada seseorang yang tidak beramal sama sekali. Karena jika seseorang tidak beramal sama sekali, dia tidak memiliki pahala. Tapi seseorang yang beramal shalih dengan riya’, maka dia mengalami banyak kerugian, yaitu rugi waktu, tenaga, dan biaya.

Bayangkan bila seseorang pergi haji dan ternyata dia riya’, hanya ingin dipanggil pak haji, hanya ingin diakui masyarakat, dan hanya ingin dihormati masyarakat. Betapa banyak kerugian yang dia rasakan; kerugian tenaga, biaya, dan waktu. Dari sisi lain bukan hanya itu saja, bahkan pahalanya nol. Bahkan dia mendapat minus, dia mendapat dosa. Karena riya’ adalah dosa besar yang bisa menjerumuskan orang ke dalam neraka Jahannam.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari penyakit riya’ dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita untuk ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Khutbah Kedua : Perhatikan Amal Shalihmu

Hadirin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Ada perkara yang lebih berbahaya dari sekedar riya’, yaitu riya’ yang bercampur dengan kedustaan. Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu ta’ala pernah berkata, “Aku mendapati orang-orang yang mereka dahulu riya’ dengan apa yang mereka lakukan, namun sekarang aku dapati orang-orang yang mereka riya’ dengan apa yang tidak mereka lakukan. Mereka ingin dipuji dengan hal yang tidak mereka lakukan.”

Kalau seseorang ingin dipuji dengan hal yang ia lakukan itu adalah riya’ dan berdosa. Apalagi ingin dipuji dengan hal yang tidak ia lakukan. Ini adalah sifat-sifat orang munafik dan orang-orang yahudi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“.. Dan mereka suka ingin dipuji dengan apa yang tidak mereka kerjakan. Janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” QS. Ali ‘Imraan [3] : 188

Barang siapa yang kembali kepada buku-buku tafsir,maka dia akan dapati para ulama tafsir menyebutkan sebab turunnya ayat ini kembali kepada salah satu di antara dua kelompok yaitu sifat-sifat orang yahudi atau pun sifat-sifat orang munafik.

Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecam hal ini. Beliau mengatakan,

المُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَهُ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُّوْرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bergaya dengan apa yang tidak ia miliki, maka ia seakan-akan memakai dua pakaian kedustaan.” HR. Muslim no. 2129

Di antara tafsiran para ahli hadits, yang dimaksud dengan dua pakaian kedustaan yaitu dia berdusta kepada dirinya dan dia berdusta kepada orang lain. Dia mengesankan bahwasanya dia adalah seorang dai, tetapi ternyata dia bukan seorang dai. Dia mengesankan bahwasanya dia hafal Al Qur’an, tetapi ternyata dia tidak hafal Al Qur’an. Dia mengesankan kepada masyarakat seakan-akan dia donator, tetapi ternyata dia adalah penyalur. Dia mengesankan kepada orang lain amal shalih seakan-akan dia berbakti kepada orang tuanya, tetapi ternyata dia tidak berbakti kepada orang tuanya. Maka dia berdusta kepada dirinya dan berdusta kepada orang lain.

Di antara tafsiran berikutnya, maknanya adalah dia menggabungkan antara riya’ dengan dusta. Dia berdusta sekaligus riya’. Maka terkumpul padanya dua kedustaan dan dua dosa. Maka seseorang harus berhati-hati jangan sampai dia riya’, apalagi riya’ dengan perkara yang tidak dia lakukan. Mengesankan kepada masyarakat apa yang tidak dia kerjakan. Pencitraan yang tidak pada tempatnya. Maka ini dibenci dalam syari’at.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنِ ادَّعَى دَعْوَى كَاذِبَةً لِيَتَكَثَّرَ بِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ اِلَّا قِلَّةً

“Barang siapa yang menyeru suatu seruan dusta, mengaku-akui suatu pengakuan dusta agar diakui dan dianggap banyak memiliki sesuatu yang tidak dia miliki, maka allah tidak akan menambah baginya kecuali semakin sedikit.” HR. Muslim no. 160

Suatu saat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengungkap kebohongannya tersebut. Kalau tidak diungkap di dunia maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan ungkap di akhirat kelak. Wal ‘iyadzubillah.

Video Khutbah Jum’at : Perhatikan Amal Shalihmu

Sumber Video: Masjid Imam Syafi’i Banjarmasin

Mari turut menyebarkan Khutbah Jumat tentang Perhatikan Amal Shalihmu di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0