Khutbah Jumat Singkat: Dusta Mendunia

Khutbah Jumat Singkat: Dusta Mendunia

dukung ngaji id

"Tidak akan terjadi kiamat sampai fitnah itu tersebar dimana-mana, dan banyak terjadi kedustaan." (HR. Ahmad)

Khutbah Jumat: Memuliakan Bulan Rajab
Khutbah Jumat Ustadz Firanda Tentang Kaum Liberal Perusak Fitrah
Khutbah Jumat: Terlena Dengan Dunia dan Jabatan

Berikut khutbah jumat singkat tentang “Dusta Mendunia” yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Baits Hafidzahullahu Ta’ala.

Khutbah Pertama Dusta Mendunia

Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Kita bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Dialah Dzat yang memberikan kita kemudahan untuk melaksanakan serangkaian ibadah, sehingga kita bisa melaksanakan ibadah sepanjang bulan Ramadhan, kemudian kita lanjutkan dengan beberapa ibadah sunnah di bulan Syawal. Dan tidak lupa kita mengucapkan:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ…

“Semoga Allah Ta’ala menerima amal kita semua.”

Jama’ah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Bagian dari tanda akhir zaman adalah tersebarnya berbagai macam kedustaan. Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan dinilai Shahih dalam kitab Silsilah Ash-Shahihah. Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْكَذِبُ

“Tidak akan terjadi kiamat sampai fitnah itu tersebar dimana-mana, dan banyak terjadi kedustaan.” (HR. Ahmad)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menyebutkan dalam riwayat yang lain, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

سَيَكونُ في آخِرِ أُمَّتي أُناسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ ما لَمْ تَسْمَعُوا

“Akan datang sekelompok orang di akhir umatku, mereka menyampaikan hadits yang tidak pernah kalian dengar.” (HR. Muslim)

Artinya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah menyampaikan hadits itu.

أنتُمْ ولا آباؤُكُمْ، فإيَّاكُمْ وإيَّاهُمْ

“Didengar oleh kalian maupun bapak-bapak kalian.”

Artinya mereka menyampaikan sebuah informasi yang murni baru, sama sekali tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan beliau sampaikan ini untuk menjelaskan tentang tersebarnya hadits palsu, hadits dusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Secara umum, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbicara tentang tanda akhir zaman, itu menunjukkan kondisi keburukan. Karena itu para ulama mengatakan bahwa hampir semua tanda kiamat adalah keburukan, selain munculnya Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa ‘Alaihish Shalatu was Salam, termasuk juga kemenangan kaum muslimin.

Sementara yang lainnya rata-rata adalah keburukan. Sehingga ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut bahwa bagian dari tanda akhir zaman adalah tersebarnya berita dusta, hadits-hadits palsu atas nama beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita sepakat bahwasanya ini adalah keburukan yang terjadi di tengah umat.

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan seperti ini dalam rangka untuk menyampaikan realita. Artinya tidak bisa dijadikan sebagai alasan pembenar. Sehingga ketika orang mendengarkan hadits ini dia tidak boleh mengatakan: “Kalau bgitu saya boleh berdusta karena ini adalah akhir zaman.” Tentu pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang salah.

Yang benar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan realita akhir zaman. Dan kita berusaha jangan sampai ikut-ikutan seperti itu. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan pesan di akhir hadits:

فَاِيَّكُمْ وَاِيَّاهُمْ

“Janganlah kalian ikut-ikutan seperti mereka.”

Kemudian jama’ah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kedustaan yang paling puncak adalah kedustaan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bentuknya adalah membuat hadits palsu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda dalam hadits dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ

“Berdusta atas namaku statusnya tidak sebagaimana berdusta atas nama manusia biasa.”

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka siapkan tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari)

Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan ancaman yang sangat keras bagi orang yang berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Jama’ah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga melarang kita untuk menyebarkan hadits yang itu merupakan hadits dusta. Hadits dhaif yang tidak pernah beliau sabdakan, atau hadits palsu yang tidak pernah beliau ucapkan, maka terlarang bagi kita untuk menyebarkannya. Disebutkan dalam hadits riwayat Muslim dalam muqoddimah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Barangsiapa yang menyampaikan sebuah hadits dariku, padahal dia punya persangkaan hadits itu adalah hadits palsu, maka berarti dia termasuk salah satu diantara pendusta.” (HR. Muslim)

Wal-‘iyadzubillah... Intinya beliau sangat memberikan peringatan keras, jangan sampai di antara kita melakukan tindakan yang sembrono menyampaikan hadits yang tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Jama’ah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Keberadaan media sosial memudahkan bagi orang untuk menyampaikan berita dusta seperti ini. Baik berita dusta atas nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maupun berita dusta antar sesama manusia. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bermimpi, dan kita tahu mimpi seorang Nabi adalah wahyu. Dalam mimpinya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat berbagai macam kejadian-kejadian aneh yang itu bentuknya adalah hukuman. Salah satu di antara yang dilihat oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Ada orang yang dirobek pipinya, kemudian wajahnya dipotong dari depan ke belakang dengan menggunakan gancu, dari matanya samping kanan dan samping kiri. Kemudian setelah selesai dirobek, wajahnya dikembalikan ulang lalu dia dirobek lagi dan begitu seterusnya, diulang terus sampai terjadi kiamat.”

Dan ini adalah kejadian adzab di alam kubur. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada malaikat tentang siapa orang yang mendapatkan hukuman semacam ini? Malaikat mengatakan:

فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ، فَيَكْذِبُ الكَذْبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ

“Dia adalah orang yang keluar dari rumahnya kemudian dia membuat satu kedustaan lalu tersebar di seluruh permukaan bumi.”

Dan betapa mudahnya seperti ini kita lakukan dizaman sekarang. Orang mengupload sesuatu yang dusta di Facebook, atau di medsos, atau di sebuah grup, kemudian disebarkan oleh anggota grup yang lain ke grup yang sebelahnya, dan begitu seterusnya hingga tersebarlah kedustaan itu. Maka kedustaan itu tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Wal-‘iyadzubillah... Hati-hati jamaah, ini peringatan bagi diri saya pribadi dan kaum muslimin seluruhnya. Betapa mudahnya orang menyebarkan kedustaan di zaman sekarang. Yang jika sampai itu tersebar kemana-mana mendapatkan ancaman sebagaimana disebutkan dalam hadits ini dan hadisnya riwayat Bukhari.

Karena itu, kita berusaha untuk menjaga diri, jangan sampai menyampaikan kabar/berita dusta, disebarkan kemana-mana, apalagi dusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Khutbah kedua Bahaya Su’udzon

Salah satu di antara karakter masyarakat yang banyak berdusta adalah diwarnai dengan banyaknya uang sogok, suap, tips dan aneka uang haram yang lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala ceritakan dalam Al-Qur’an, pengalaman yang dialami oleh kelompok dimasa silam yang dilaknat oleh Allah, yaitu orang Yahudi. Allah menyebutkan di surat Al-Maidah ayat 42, karakter Yahudi:

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

Mereka senang mendengarkan kedustaan, dan suka memakan uang sogok.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 42)

Dan Anda bisa saksikan, betapa sesuainya apa yang Allah sampaikan ini dengan realita yang ada di tengah masyarakat. Yang namanya sogok itu tidak mungkin tidak diiringi dengan kedustaan. Yang namanya uang haram di instansi manapun tidak mungkin tidak diiringi dengan kedustaan. Ada nota kosong, ada perjalanan dinas palsu, ada anggaran palsu, ada A, B, C yang itu semuanya adalah uang haram yang disebar di berbagai macam instansi. Dan pasti akan diiringi dengan kedustaan.

Mereka suka mendengarkan kedustaan dan dusta menjadi konsumsi biasa, sudah tidak malu lagi untuk disampaikan. Laporan palsu, yang tanda tangan tahu, yang stempel tahu, yang menerima juga tahu, semuanya tahu, satu kantor tahu, siapa yang tidak mau menerima maka dia akan dimutasi. Kenapa demikian? Yaitu agar nanti mereka bisa bagi-bagi duit.

Sampai ada satu anggota dalam sebuah instansi tersebut, ada satu karyawan instansi yang dia tidak mau menerima seperti ini, apa nasibnya? Pasti dia akan diputus. Bahkan -jama’ah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala- dalam instansi pendidikan yang kita anggap itu adalah standar idealisme di tengah masyarakat kita, terkadang melesat di bagian ini.

Beberapa kawan dia seorang vendor yang menang dalam kontrak, ketika pemerintah mau melakukan uji materi, ini sebuah konkrit, misalnya ada beton yang harus diuji di kampus-kampus A dan kampus B, ditawarkan di awal, “Bapak mau hasil A, B, atau C,” ada pilihan hasil sebelum diuji. Tapi jelas tentu ada bayarannya.

Subhanallah, ini dunia kampus. Kalau yang sudah dipercaya saja seperti ini kondisinya, berbagai macam sogok terjadi dimana-mana, maka bagaimana mungkin kita bisa memperbaiki masyarakat ini? Maka betul apa kata Allah:

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

Di tengah masyarakat yang mereka senang mendengarkan kedustaan, disaat yang sama mereka senang dengan sogokan.”

Dan itulah realita yang ada di negara kita barangkali.

Karena itu jama’ah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita membersihkan tradisi dusta, disaat yang sama adalah perjuangan untuk membersihkan tradisi uang haram yang ada di instansi pemerintahan maupun swasta. Dan kita ajak masyarakat untuk kembali mengingat akhirat, karena hidup tidak sekali. Bisa jadi ada seorang pejabat yang dia aman sampai mati, tidak ada yang berani menangkapnya, tapi ingat kehidupan tidak sekali. Akan ada pengadilan, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadi saksi dan dia Dzat yang Maha Adil.

Kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari tradisi buruk semacam ini, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki masyarakat kita.

Video Khutbah Jumat Tentang Dusta Mendunia

Sumber audio: anb channel

Mari turut menyebarkan link download kajian “Dusta Mendunia” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0