Materi 39 – Tawakal kepada Allah

Materi 39 – Tawakal kepada Allah

iklan erto's

Tulisan tentang “Materi 39 – Tawakal kepada Allah” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafizhahullah.

Sebelumnya: Materi 38 – ‘Ujub Berafiliasi dan Dekat dengan Penguasa Dzalim

Transkrip Materi 39 – Tawakal kepada Allah

Mulai kajian ini kita akan membahas amalan hati yang baru, yaitu bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al-Imam Ahmad rahimahullah pernah berkata:

التوكل على الله عمل القلب

“Bertawakal kepada Allah adalah salah satu amalan hati.”

Dan pembahasan tentang tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pembahasan yang sangat penting, terutama di zaman sekarang ini dimana banyak orang mulai bersandar kepada sebab, hati mereka terpikat kepada materi yang mereka lihat dan mereka lupa untuk bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang kalau berobat maka ia bersandar kepada dokter, seakan-akan kesembuhan itu datangnya dari dokter. Kalau seorang pekerja, maka dia sandarkan hatinya kepada bosnya.

Kalau dia belajar dan ketika ingin lulus, maka dia sandarkan kepada usahanya. Dia lupa bahwasanya kita memang disuruh untuk berikhtiar, tetapi hati kita harus juga disandarkan selalu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah-lah yang menentukan segalanya, yang mengatur segalanya.

Contoh juga seperti zaman sekarang, jangan sampai kita lalai ketika di masa pandemi kemudian kita bersandar kepada obat misalnya, bersandar menyerahkan hati kepada vaksin. Kita tahu semua itu baik, tetapi masalah hati harus diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan kita merasa bahwasanya pandemi ini akan selesai dengan adanya vaksin.

Tentu kita berharap demikian, dengan adanya vaksin pandemi bisa selesai atau paling tidak menjadi ringan. Tapi ingat hati kita harus bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan kepada sebab-sebab yang kita lihat secara kasat mata. Karena alam semesta ini semua yang mengatur adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi pembahasan tentang tawakal ini sangat penting. Oleh karenanya di antara doa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Yang Maha Hidup, Yang Menegakkan Yang Lainnya, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan kepada Engkau, perbaikilah segala urusanku, dan janganlah Engkau menyerahkan diriku kepada diriku meskipun hanya sekejap mata.” (HR. Ibnu As-Sunni dan Al-Baihaqi.)

Seakan-akan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Ya Allah, aku serahkan segala urusanku kepada-Mu.”

Nanti in syaa Allah akan ada pembahasan khusus tentang urgensinya kita mempelajari tawakal. Ini hanya sekedar muqaddimah. Intinya kita penting untuk berlajar tawakal.

Pengertian tawakal

Tawakal secara bahasa diambil dari وكّل kemudian توكّل. Kalau kita bahas secara bahasa, وكّل yaitu menyerahkan urusan kepada pihak lain. Ini sering kita gunakan dalam bahasa Indonesia. Sering kita mengatakan: “Wakil saya Si Fulan.” Apa maksud kita mengatakan “Wakil saya Si Fulan?” Maksudnya “Saya menyerahkan urusan saya kepada dia,” dia yang menjalankan urusan saya.

Jadi secara bahasa, tawakal itu maknanya adalah الاعتماد (bersandar) dan التفويض (menyerahkan urusan).

Oleh karenanya kalau kita lanjutkan kepada makna istilah/ makna terminologi/ secara syariat, tawakal secara mudahnya adalah menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyandarkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala urusan kita. Itulah makna tawakal secara sederhana.

Dan di antara definisi yang memberi gambaran yang sempurna tentang tawakal adalah definisi yang dibawakan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, beliau berkata:

حقيقة التوكل على الله: أن يعلم العبد أن الأمر كله لله

“Hakikat tawakal kepada Allah yaitu seorang hamba mengetahui bahwa segala urusan/perkara adalah milik Allah.”

وأنه ما شاء الله كان

“Bahwasanya apa yang Allah kehendaki, akan terjadi.”

وما لم يشأ لم يكن

“Dan apa yang Allah tidak kehendaki, tidak akan terjadi.”

وأنه هو النافع الضار

“Dialah Allah yang memberi manfaat dan juga yang memberi mudharat.”

المعطي المانع

“Dialah Allah yang memberi dan menahan.”

وأنه لا حول ولا قوة إلا بالله

“Dan tidak ada perubahan dari satu kondisi ke kondisi yang lain, tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

فبعد هذا العلم يعتمد بقلبه على ربه

“Setelah seorang hamba yakin akan hal ini, maka dengan hatinya dia bersandar kepada Rabbnya.”

في جلب مصالح دينه ودنياه

“Dalam rangka untuk meraih kemaslahatan yang berkaitan dengan agamanya maupun tentang dunianya.”

وفي دفع المضار

“Dalam rangka juga untuk menolak kemudharatan.”

ويثق غاية الوثوق بربه في حصول مطلوبه

“Dan dia benar-benar percaya kepada Allah dalam rangka meraih apa yang dia cari.”

وهو مع هذا باذل جهده في فعل الأسباب النافعة.

“Disertai dengan dia menyandarkan hatinya kepada Allah, dia juga berusaha untuk berikhtiar (berusaha melakukan sebab).”

فمتى استدام العبد هذا العلم وهذا الاعتماد والثقة فهو المتوكل على الله حقيقة

“Maka kapan seorang hamba senantiasa menghadirkan ilmu ini dalam dirinya (yaitu meyakini segala sesuatu di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala), dan senantiasa menghadirkan dalam hatinya menyandarkan diri kepada Allah dan percaya kepada Allah, maka sungguh dia telah bertawakal kepada Allah secara sungguh-sungguh.”

وليبشر بكفاية الله له

“Dan hendaknya dia bergembira bahwasanya Allah akan mencukupkan urusannya.”

ووعده للمتوكلين

“Dan Allah telah memberi janji-Nya kepada orang-orang yang bertawakal.”

Ini penjelasan yang lengkap dari Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Intinya tawakal secara istilah adalah menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyandarkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala urusan disertai dengan ikhtiar.

Perhatian Materi 39 – Tawakal kepada Allah

⚠️ Note: Kalau team UFA merevisi audionya, insyaAllah catatan ini juga akan direvisi sesuai dengan audio yang baru.

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: