Khutbah Jumat: Wajib Bagi Setiap Muslim Mengikuti Dalil

Khutbah Jumat: Wajib Bagi Setiap Muslim Mengikuti Dalil

pandai mendengar

Ibnu Abbas berkata: "Aku menyangka mereka akan binasa. Aku katakan, ‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda’, lalu mereka mengatakan, ‘Abu Bakr dan ‘Umar melarangnya’.” (HR. Ahmad)

Penjelasan Islam, Iman dan Ihsan dari Hadits Jibril
Kultum Singkat Tentang Kejujuran Beserta Dalilnya
Ceramah Tentang Bulan Ramadhan Penuh Berkah Beserta Dalil Shahih

Tulisan “Wajib Bagi Setiap Muslim Mengikuti Dalil” ini adalah catatan dari video khutbah jumat yang disampaikan oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafidzahullah.

Khutbah Jumat Pertama Wajib Bagi Setiap Muslim Mengikuti Dalil

Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah..

Sidang Jumat yang mudah-mudahan dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang Allah karuniakan kepada kita dan kita wajib untuk selalu bersyukur kepada Allah Karena nikmat yang Allah karuniakan kepada kita sangat banyak dan tidak akan dapat kita hitung.

Ikhwani fiddin a’azzakumullah..

Dalam kesempatan khutbah yang singkat ini, saya akan bawakan tentang prinsip yang besar dalam Islam yaitu dalam kita beragama, pijakan kita, pegangan kita adalah dalil dari Al-Qur’an wa Sunnah ‘ala fahmi Salaf. Bukan kata orang, bukan kata orang, bukan kata Syaikh, bukan kata Ustadz, bukan kata Imam, bukan fatwa, tapi dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Ini prinsip yang besar dalam agama Islam. Sampai orang-orang kafir ketika mengatakan bahwa mereka yang berhak untuk masuk surga, yang diminta oleh Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar minta pada mereka dalil. Allah sebutkan di dalam surah Al-Baqarah di ayat 111,

وَقَا لُوْا لَنْ يَّدْخُلَ الْجَـنَّةَ اِلَّا مَنْ كَا نَ هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ تِلْكَ اَمَا نِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَا تُوْا بُرْهَا نَکُمْ اِنْ کُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Mereka berkata bahwa tidak ada yang berhak untuk masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani. Katakanlah bawa bukti kamu, bawa dalil kamu, bawa hujjah kamu, jika kamu orang yang jujur.” (QS. Al-Baqarah[2]: 111)

Allah menyebutkan bahwa orang Yahudi Nasrani berkata bahwa tidak akan masuk surga itu kecuali orang Yahudi Nasrani. Kata Allah تِلْكَ اَمَا نِيُّهُمْ (itu angan-angan mereka),  قُلْ هَا تُوْا بُرْهَا نَکُمْ اِنْ کُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ(bawa hujjah kamu, bawa dalil kamu, jika kamu orang-orang yang jujur).

Jadi dalam kita beragama dalil, hujjah, bukan kata orang, bukan kata Ustadz, bukan kata Syaikh, bukan kata Ulama, bukan kata Imam, bukan kata fatwa, tapi dalil. Allah sebutkan lagi dalam surah Al-Isra’ di ayat 36, Allah berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

Jangan kamu ikut apa yang kamu tidak tahu, karena semua pendengaran, mata dan hati akan ditanya oleh Allah” (QS. Al-Isra'[17]: 36)

Jangan ikut, jangan taqlid, minta dalil. Kalau sudah datang dalil, maka kewajiban kita ikut dalil, Al-Qur’an wa As-Sunnah itu yang kita ikut. Kalau manusia ingin selamat, ingin bahagia, ingin tenang, ingin tentram, ingin masuk surga, harus ikut dalil, karena itulah ketentuan dari syari’at.

Sampai Nabi bersabda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam kitab yang Mustadrak di juz yang pertama, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي ، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang dengan dua perkara itu: yaitu Kitabullah dan Sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah sampai datang menemui aku nanti di telaga.” (HR. Hakim)

Ikhwani fiddin a’azzakumullah..

Ini penting untuk kita camkan, ini dalil yang besar. Dalil yaitu Qur’an dan Sunnah. Kalau disebutkan ilmu, maka Qur’an dan Sunnah, tidak ada yang lain. Dan ini pokok yang paling besar dari semuanya, tidak ada yang lebih besar daripada itu. Maka dikatakan oleh Imam Ibnu Jauzi di dalam kitabnya Shaidul Khatir,

فإن العلم هو الأصل الأعظم

“Ilmu itu merupakan pokok yang paling besar,”

Lebih besar dari semua ulama. Ilmu maksudnya dalil. Kalau sudah datang dalil dari Quran dan Sunnah, kewajiban kita untuk ikut, Sami’na wa Atho’na, tidak boleh kita menolak dalil dengan alasan “Ada kata Imam begini, kata Ustadz, kata Syaikh, kata fatwa,” dalil yang kita ikut. Kalau sudah ada dalil tentang wajibnya kita ikut dalil itu, jangan pilih-pilih. Ketika orang pilih-pilih, pasti sesat. Allah Sebutkan di dalam surah Al-Ahzab di ayat 36 Allah berfirman,

وَمَا كَا نَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا

Tidak patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan kalau sudah datang perintah Allah dan RasulNya tidak berhak bagi mereka untuk pilih-pilih dalam urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan RasulNya, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab[33]: 36)

Ketika dia pilih-pilih menurut hawa nafsunya, menurut enaknya dia, tidak ikuti dalil (sesat).

Ikhwani fiddin a’azzakumullah..

Tadi disebutkan bahwa siapapun dia orangnya yang mengatakan itu, kalau menyalahi dalil, maka tidak boleh kita ikut. Saya ambil contoh sahabat besar yang dijamin dengan masuk surga, yaitu Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhuma. Ketika Abu Bakar dan Umar melarang tentang haji tamattu’, Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan haji tamattu’.

Haji tamattu’ itu artinya kita melaksanakan umrah di bulan-bulan haji, dimulai Syawal, Dzulqo’dah, Dzulhijjah. Kemudian selesai kita melakukan umroh, kita tahallul (menggunting rambut) kemudian kita ganti lagi dengan pakaian biasa. Nanti begitu tanggal 8 Dzulhijjah, kita berpakaian ihrom lagi niat untuk haji. Ini namanya tamattu’.

Waktu itu ada yang menyebutkan bahwasannya Abu Bakar dan Umar melarang, kata Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma:

أُرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ أَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَقُولُ: نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ

“Aku menyangka mereka akan binasa. Aku katakan, ‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda’, lalu mereka mengatakan, ‘Abu Bakr dan ‘Umar melarangnya’.” (HR. Ahmad)

Akan binasa, kalau sudah datang dalil “Qola Rasulullah” maka kewajiban kita untuk sami’na wa atho’na. Itu orang beriman. Meskipun yang berkata Abu Bakar dan Umar, kalau menyalahi sabda Rasulullah, kita buang pendapat itu. Ini penjelasan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma. Sebagaian disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya di juz yang pertama, dan dijelaskan juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ Fatawa, Ibnul Qayyim dalam kitabnya I’lamul Muwaqi’in, dan juga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitabnya, yakni Kitab Tauhid. Makanya dikatakan oleh Ibnu Abbas: “Mereka akan binasa. Aku berkata: “Qola  Rasulullah” tapi kalian berkata: “Telah berkata Abu Bakar dan Umar.”

Padahal kedua sahabat itu sudah yang paling tinggi. Dari seluruh manusia yang paling mulia Abu Bakar dan Umar, ahli jannah. Tapi tidak boleh ikut kalau menyalahi sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yang kita ikut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Itu jalan selamat dan itu akan membawa manusia ke Surga.

Kemudian juga dikatakan oleh orang-orang kepada Ibnu Umar. Ibnu Umar sama pendapatnya dengan Ibnu Abbas tentang adanya haji tamattu’. Bahkan sebagian ulama berpendapat haji tamattu’ itu wajib. Kemudian orang mengatakan: “Bapakmu (Umar) mengatakan tidak boleh (Umar melarang).” Kemudian kata Ibnu Umar: “Apakah yang kita ikuti Rasulullah atau Umar?” Padahal Ibnu Umar ini adalah anaknya Umar. Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam sunannya.

Yang kita ikut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hujjah dalam kita beragama ini adalah dalil.

Bahkan ketika terjadi persilangan, ada pendapat ini dan pendapat ini, kembalikan kepada Quran dan Sunnah. Ini prinsip yang besar. Allah sebutkan dalam surah An-Nisa’ di ayat 59,

فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

Apabila kalian berselisih tentang suatu perkara dalam masalah agama ini, kembalikan kepada Allah (kepada Qur’an), kembalikan kepada Rasul (kepada Sunnah) jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir dan itu yang paling baik dan sebaik-baik akibatnya.” (QS. An-Nisa'[4]: 59)

Jadi kalau ada perselisihan, kembalikan kepada dalil, yaitu Qur’an dan Sunnah.

Yang harus kita ingat, jangan sekali-kali kita menyalahi perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kalau orang menyalahi perintah Rasulullah, pasti celaka, pasti binasa, pasti sesat, pasti dia tidak akan mengalami ketentraman dan ketenangan dalam hidupnya, akan ditimpa dengan berbagai macam fitnah dan yang lainnya dan juga azab. Allah berfirman dalam surah An-Nur di ayat 63, Allah berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَا لِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖۤ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ

Hendaknya berhati-hati orang-orang yang menyalahi perintah Rasulullah, akan ditimpa fitnah atau azab yang pedih.” (QS. An-Nur[24]: 63)

Yang kita kerjakan perintah Rasullullah, jangan yang lain. Dan harus kita ingat, kita ini berpegang kepada dalil. Kalau kita pakai dalil, maka selamat kita. Dalil yaitu Qur’an dan Sunnah, bukan kata orang. Ini penting dalam kita beragama, supaya kita betul-betul ketika ada apapun, tetep istiqomah di atas manhaj yang haq ini, Al-Qur’an wa Sunnah ‘ala fahmi Salaf.

Mudah-mudahan yang saya sampaikan bermanfaat.

Khutbah Kedua

Ikhwani fiddin a’azzakumullah..

Kalau kita berpegang kepada dalil Al-Qur’an wa Sunnah ‘ala fahmi salaf, kita belajar ini untuk kita amalkan, bukan koleksi ilmu. Kita belajar, belajar, belajar, menuntut ilmu, kita baca Quran, kita baca hadits, supaya kita tambah kuat iman kita, tambah takut kita kepada Allah, tidak takut kepada siapapun juga.

وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ

Tidak takut kecuali kepada Allah.”

Ketika Allah menyebutkan tentang yang meramaikan Masjid itu orang beriman, Allah menyebutkan dalam surat At-Taubah ayat 18,

وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ

Ia tidak takut kecuali kepada Allah.” (QS. At-Taubah[9]: 18)

Takutnya hanya kepada Allah. Kita baca Quran, baca hadits, kita belajar, supaya apa? Yaitu supaya tambah iman kita kepada Allah, tambah takut kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang beriman begitu, orang menakut-nakuti apa saja dia tidak takut. Seperti yang Allah sebutkan dalam surah Ali Imran tentang para sahabat ketika pulang dari Perang Uhud, orang-orang munafik menakut-nakuti, mereka itu orang-orang kafir Mekkah,

قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ

Mereka telah berkumpul untuk balik lagi ke Madinah, hendaklah kalian takut.

فَزَادَهُمْ إِيمَانًا

Bertambah imannya.

Kalau orang beriman ditakut-takuti justru tambah iman, bukan tambah takut. Kalau orang beriman ditakut-takuti, maka tambah iman dia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah sebutkan dalam surah Ali Imran:

وَّقَا لُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

Cukuplah Allah sebaik-baik pelindung.”

Jadi, ikhwani fiddin a’azzakumullah..

Dengan kita mengikuti dalil Quran dan Sunnah ‘ala fahmi salaf, kita mentaati perintah Allah, mentaati perintah Rasulullah, betul-betul kita cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena Allah memerintahkan dalam Al-Qur’an untuk ittiba’ kepada Rasulullah. Allah memerintahkan untuk mengikuti Qur’an, Allah memerintahkan untuk mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ

Ikuti apa yang Allah turunkan, jangan ikuti yang lain...” (QS. Al-A’raf[7]: 3)

Ikuti Qur’an, ikuti Sunnah, maka akan mendapatkan ketenangan, kebahagiaan, keberkahan, kenikmatan, banyak manfaatnya, puluhan manfaat. Beda dengan orang-orang yang takut, dengan orang-orang yang tidak mengikuti dalil, mereka tidak tenang hidupnya, shalat juga belum tentu benar. Tapi beda dengan orang-orang yang betul-betul mengikuti dalil. Akan mendapatkan ketenangan, akan mendapatkan kebahagiaan, akan mendapatkan keberkahan, akan mendapatkan pahala, akan mendapat doa dari para malaikat, malaikat mendoakan:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

“Ya Allah ampuni dia, Ya Allah sayangi dia…”

Malaikat mendoakan di pintu-pintu masjid, kepada orang-orang yang datang ke masjid. Beda dengan yang tidak ke masjid, tidak akan mendapat ketenangan, tidak akan mendapat kebahagiaan. Bahkan menurut dalil Al-Qur’an tadi, dia akan sesat. Allah sudah putuskan tentang wajibnya, tapi dia milih yang lain, yang lebih enak buat dia. Padahal tidak ada yang lebih enak, yang ada adalah susah atau bahagia tetap ikut dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Ini perintah dan ini merupakan prinsip yang besar yang wajib kita ingat, kita yakini, kita fahami, kita amalkan seumur hidup kita.

Mudah-mudahan khutbah ini bermanfaat untuk saya dan untuk Antum sekalian dan semoga Allah juga menetapkan kita di atas Islam dan Sunnah ‘ala fahmi salaf.

Video Khutbah Jumat Tentang Wajib Bagi Setiap Muslim Mengikuti Dalil

Sumber Video: Wajib Bagi Setiap Muslim Mengikuti Dalil

Mari turut menyebarkan transkrip Khutbah Tentang Wajib Bagi Setiap Muslim Mengikuti Dalil di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0