Materi 20 – Cara Berjuang Melawan Riya’

Materi 20 – Cara Berjuang Melawan Riya’

pandai mendengar

Tulisan tentang "Materi 20 - Cara Berjuang Melawan Riya'" ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang di

Materi 7 – Faedah Ikhlas ke-4
Berprasangka Baik Kepada Allah 
Perbedaan Fakir dan Miskin Serta Keutamaan Orang Miskin Yang Sabar

Tulisan tentang “Materi 20 – Cara Berjuang Melawan Riya’” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah.

Sebelumnya: Materi 19 – Nasib Orang yang Riya’ di Dunia

Transkrip Materi 20 – Cara Berjuang Melawan Riya’

 بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Renungkan hakikat orang yang kita harapkan pujiannya

Di antara cara kita untuk bisa berjuang melawan riya’ adalah kita merenungkan tentang hakikat orang yang kita harapkan pujiannya. Bukankah ketika kita terjerumus ke dalam riya’, kita berharap dilihat orang, disanjung orang, mungkin orang tersebut adalah pejabat atau orang tersebut adalah orang yang terkenal atau siapa saja yang kita ingin harapkan pujiannya.

Ketahuilah, orang yang kita harapkan pujiannya tersebut hanyalah manusia yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak bisa memberi mudharat. Kita mengharapkan pujiannya, sementara dia adalah manusia yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak bisa memberi mudharat.

Yang kedua, orang tersebut adalah makhluk yang sangat lemah. Coba lihat ketika dia sakit dan terbaring di rumah sakit. Perihalnya seperti anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa, terbaring, tergeletak, tidak bisa berkutik. Orang seperti ini yang mau kita harapkan pujiannya? Buat apa?

Seandainya orang yang kita harapkan pujiannya kemudian dia meninggal, kemudian tidak dikuburkan, maka akan mengeluarkan bau yang sangat busuk. Manusia siapapun (yang tidak) dikuburkan pada umumnya mengeluarkan bau yang busuk, akan mengganggu keluarganya, bahkan mengganggu masyarakat sekampungnya.

Apakah orang seperti ini yang kita harapkan pujiannya? Apakah dia bisa bisa memberi manfaat bagi kita di akhirat kelak? Bahkan bisa jadi orang yang kita harapkan pujiannya tersebut mungkin kita lebih baik daripada dia, terus buat apa kita mengharapkan pujiannya?

Kita mengharapkan pujian seseorang yang mungkin punya kedudukan, tapi ternyata di akhirat dia malah masuk neraka, buat apa kita mengharapkan pujiannya?

Terus kita renungkan juga, orang yang memuji kita ini, kalau kita ada masalah sama dia, mungkin juga dia akan menghabisi kita dengan kata-kata yang sangat buruk. Dan bagaimanapun banyaknya orang yang memuji kita, sungguhnya yang lebih tahu hakikat diri kita adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pujian orang satu dunia tidak akan merubah hakikat kedudukan kita di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Cercaan orang satu dunia kepada kita kalau memang kita tinggi di sisi Allah, maka tidak akan menurunkan derajat kita sedikitpun. Pujian manusia sedunia kalau memang kita rendah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak akan menaikkan derajat kita sedikitpun.

Kemudian, ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Renungkan hakikat diri kita sendiri

Yang terakhir, di antara perkara yang hendaknya kita renungkan agar kita bisa melawan riya’, yaitu kita renungkan tentang diri kita sendiri. Apakah hakikat diri kita? Orang memuji-muji kita, apakah memang kita mulia? Kita ini siapa? Kita ini banyak dosa. Kalau dosa-dosa kita dibongkar sedikit saja oleh Allah (tidak semua, tapi sebagian saja), maka tidak ada yang mau tertarik dengan kita, tidak ada yang akan memuji kita.

Oleh karenanya Muhammad bin Wasi’ Rahimahullah pernah berkata:

لو كان للذنوب ريح ما جلس إلي أحد

Seandainya dosa-dosa itu punya aromanya (kalau dosa ghibah aromanya tertentu, dosa namimah aromanya tertentu, dosa melihat yang haram aromanya tertentu, dosa mendengar yang haram aromanya tertentu, dosa sombong aromanya tertentu, dosa hasad aromanya tertentu), maka akan banyak keluar aroma dari tubuh kita yang busuk-busuk sehingga orang tidak ada yang mau duduk dengan kita, tidak ada yang akan memuji kita.

Oleh karenanya jangan terpedaya dengan pujian manusia, kita tahu siapa diri kita yang penuh dengan kekurangan. Kita ini hanya dimuliakan oleh Allah karena aib kita ditutupi. Seandainya aib kita ada baunya, maka semua orang akan lari dari kita. Jangankan memuji kita, mereka akan lari meninggalkan kita, bahkan mungkin mencerca kita, akan mengata-ngatain kita: “Sok alim, sok anu, sok ini,” yaitu ketika aib kita dibongkar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karenanya jangan pernah terpedaya dengan pujian manusia karena kita tahu siapa hakikat diri kita. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita untuk bisa berjihad melawan riya’.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Selanjutnya: Materi 21 – Doa Terhindar Dari Riya’

Perhatian Materi 20 – Cara Berjuang Melawan Riya’

⚠️ Note: Kalau team UFA merevisi audionya, insyaAllah catatan ini juga akan direvisi sesuai dengan audio yang baru.

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: