Apa Makna Tauhid?

Apa Makna Tauhid?

pandai mendengar

Tulisan tentang Apa Makna Tauhid? ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr.

Allah tidak Ridha Dipersekutukan dengan Apapun
Penjelasan Ibadah Istighatsah dan Menyembelih
Penjelasan Ibadah Khasyyah, Inabah, Isti’anah, Isti’adzah

Tulisan tentang Apa Makna Tauhid? ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

Lihat sebelumnya: Urgensi Tauhid

Kajian Tentang Apa Makna Tauhid?

Menit ke-3:30 Bismillahirrahmanirrahim.. Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya. Kitu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan memberi kita manfaat atas apa yang telah kita pelajari.

Pengarang kitab ini Rahimahullah mengatakan:

وأعظم ما أمر الله به: التوحيد

“Perkara terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada hambaNya yaitu perkara tauhid.”

Oleh karena itu mari kita mempelajari apa itu tauhid?

Tauhid adalah masdar dari kata وحد يوحد توحيدا. Dan kalimat tauhid menunjukkan pengesaan. Jadi tauhid artinya adalah pengesaan. Dan agama Islam ini dinamakan dengan agama tauhid karena dibangun diatas keimanan tentang keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan di antara nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah الأحد, juga الواحد (Yang Satu). Jadi agama Islam ini dibangun diatas keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Esa. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Esa dalam rububiyahNya, Maha Esa dalam nama dan sifat-sifatNya, juga Maha Esa dalam uluhiyahNya.

Bagaimana kita mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala? Yaitu dengan kita meyakini bahwasanya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan, yang memiliki alam semesta ini, yang memberikan kita rezeki yang mengaruniakan kepada kita berbagai macam kenikmatan dan yang mengatur seluruh jagat raya ini, tidak ada sekutu bagiNya.

Kemudian mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, yaitu kita meyakini bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang luhur tanpa kita meniadakan atau menolak atau menyelewengkan atau menentukan bagaimana bentuk sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala atau memisalkan sifat Allah dengan sifat makhlukNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِلَّـهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai nama-nama Indah, maka serulah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama tersebut.” (QS. Al-A’raf[7]: 180)

Kemudian cara kita mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam uluhiyahNya, yaitu kita mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala bentuk ibadah dan mengikhlaskan agama hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu para ulama mengatakan tauhid itu terbagi menjadi tiga macam; yang pertama tauhid rububiyah, yang kedua tauhid asma’ wa shifat dan yang ketiga adalah tauhid uluhiyah.

Dan perlu kita ketahui bahwasanya tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat mengharuskan seorang mentauhidkan Allah. Ketika seorang mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam rububiyahNya dan asma’ wa shifatNya, maka hal itu mengharuskan dia mentauhidkan Allah dalam uluhiyah. Artinya barangsiapa yang mengetahui dan meyakini bahwasanya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan alam semesta dan dia beriman dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia wajib untuk mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah.

Dan kita dapati ayat-ayat yang sangat banyak dalam Al-Qur’an seruan agar kita mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari sela-sela ayat-ayat yang menerangkan tentang rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara contohnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

…وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ ﴿٩٢﴾

Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya[21]: 92)

Kemudian di antara ayat-ayat lain yang menerangkan tentang hal ini firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

…أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّـهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ ﴿٣٩﴾

Apakah Rabb yang banyak itu lebih baik daripada Allah yang Maha Satu dan Maha Perkasa?” (QS. Yusuf[12]: 39)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

هُوَ اللَّـهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَـٰنُ الرَّحِيمُ ﴿٢٢﴾

Dialah Allah yang tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dia adalah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr[59]: 22)

Juga banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang mengharuskan seseorang yang mengakui rububiyah dan mengakui nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharuskan seseorang untuk mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ibadah. Karena sebagaimana kita mengakui bahwasanya hanya Allah yang menciptakan, hanya Allah yang memberi rezeki, hanya Allah yang melimpahkan karuniaNya kepada kita, tidak ada sekutu bagiNya.

Dan sebagaimana juga kita meyakini bahwasanya Allah mempunyai nama-nama yang indah, sifat-sifat yang luhur yang menunjukkan kesempurnaan, ketinggian, keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka esakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah. Jangan engkau jadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan berdoa, jangan meminta, jangan tunduk, jangan berserah diri, jangan memalingkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana engkau meyakini bahwasanya hanya Allah yang menciptakan, yang memberi rezeki, yang memberi nikmat. Maka wajib bagi kita juga untuk mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah.

Tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah

Menit ke-15:40 Para pendengar yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian pengarang kitab ini Rahimahullah mengatakan bahwasanya tauhid adalah:

إفراد الله بالعبادة

“Tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah.”

Pengarang kitab ini Rahimahullah mengartikan tauhid dengan tauhid uluhiyyah. Kenapa? Karena tauhid uluhiyah mengandung dua tauhid yang lainnya, yaitu tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat. Adapun tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat mengharuskan tauhid uluhiyah. Sedangkan tauhid uluhiyah mengandung tauhid asma’ wa shifat dan tauhid rububiyah.

Artinya barangsiapa yang mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah, maka hal itu adalah cabang dari pengesaan dia terhadap rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keimanan dia terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena penghambaan seorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketundukannya, kerendahannya dan kepasrahannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah disebabkan karena dia mengikrarkan dan meyakini bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Menciptakan, Yang Maha Memberi Rezeki dan itu juga disebabkan karena dia meyakini bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai nama-nama dan sifat-sifat yang mulia.

Dan perlu kita ketahui bahwasanya perbedaan dan pertentangan antara para Nabi dan kaumnya, yaitu pada tauhid uluhiyah. Ketika para Nabi ‘Alaihimus Salam berkata kepada kaum mereka:

اعْبُدُوا اللَّـهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـٰهٍ غَيْرُهُ

Sembahlah Allah, kalian tidak mempunyai sesembahan selain Dia.” (QS. Hud[11]: 84)

Maka kaum dari para Nabi tersebut mengingkari dan memusuhi Nabi-Nabi mereka. Hal ini karena kebanyakan umat-umat para Nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kebanyakan umat manusia meyakini bahwasanya Allah adalah Maha Pencipta, Maha Pemberi Rezeki, akan tetapi mereka mensekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka menjadikan perantara-perantara antara mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan keyakinan bahwasanya perantara-perantara tersebut akan mendekatkan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana perkataan mereka:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّـهِ زُلْفَ

Tidaklah kami menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Az-Zumar[39]: 3)

Juga perkataan mereka (orang-orang musyrikin):

وَيَقُولُونَ هَـٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّـهِ

Mereka yang kami sembah adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Yunus[10]: 18)

Jadi ketika mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka menganggap bahwasanya sekutu-sekutu tersebut akan mendekatkan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan mereka tidak meyakini bahwasanya sekutu-sekutu tersebutlah yang menciptakan, yang memberi rezeki, yang memiliki alam ini, yang mengatur alam ini, mereka tidak meyakini seperti itu. Akan tetapi mereka meyakini bahwasanya perantara-perantara tersebut mempunyai kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan memberikan mereka syafaat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadi perantara antara mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana perkataan mereka:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّـهِ زُلْفَ

Kami tidak menyembah mereka kecuali karena mereka akan mendekatkan kami kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Az-Zumar[39]: 3)

Mereka tidak mengatakan bahwasanya “Kami menyembah mereka karena mereka yang menciptakan, karena mereka yang memberi rezeki,” mereka tidak mengatakan seperti itu. Bahkan sebaliknya, mereka meyakini bahwasanya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan, yang memberi rezeki, yang memberi nikmat, yang mengatur alam ini, dan banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang hal ini. Akan tetapi yang menunjukkan kesesatan mereka yaitu ketika mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ibadah. Inilah perbedaan antara para Nabi dengan kaum-kaum yang menentang para Nabi tersebut.

Oleh karena itu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memulai dakwahnya dengan mengatakan:

قُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تُفْلِحُوا

“Katakanlah: Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah agar kalian beruntung.” (HR. Ibnu Hibban)

Apa yang mereka katakan? Karena mereka tahu bahwasanya makna Laa Ilaaha Illallah yaitu tiada yang berhak disembah kecuali Allah. Mereka menjawab:

إِنَّ هَـٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Apakah dia menjadikan sembahan-sembahan yang banyak sebagai sembahan yang satu?” (QS. Sad[38]: 5)

Ini adalah perkara yang aneh, perkara yang mengherankan bagi mereka ketika sembahan-sembahan yang banyak ini dijadikan satu.

Kemudian mereka pun saling berwasiat di antara mereka agar terus sabar dalam menyembah berhala-berhala/sesembahan-sesembahan tersebut dengan perkataan mereka:

وَانطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ

Kemudian pergilah pemimpin-pemimpin di antara mereka dan mereka mengatakan: ‘Bersabarlah atas sembahan-sembahan kalian.’” (QS. Sad[38]: 6)

Jadi mereka saling berwasiat untuk terus-menerus menjadikan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu. Mereka menyembah mereka disamping mereka menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi ketika dikatakan kepada mereka: “Ketika kalian menyembah sekutu-sekutu tersebut, apakah kalian meyakini bahwasanya mereka menciptakan? Apakah mereka memberi rezeki? Apakah mereka yang memiliki alam ini?” Mereka mengatakan tidak. “Jika demikian kenapa kalian menyembah mereka?” Mereka akan menjawab:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّـهِ زُلْفَ

Kami tidak menyembah sembahan-sembahan tersebut kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Az-Zumar[39]: 3)

Bahkan orang-orang musyrikin dahulu ketika mereka berhaji ke Baitullah, mereka berkata dalam talbiyah mereka:

لبيك لا شريك لك لبيك إلا شريكاً هو لك؛ تملكه، وما ملك

“Kami menjawab panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu kecuali sekutuMu yang Engkau miliki dan dia tidak memiliki.”

Mereka mengatakan: “Kecuali sekutu yang Engkau miliki.” Jadi mereka tidak menjadikan sekutu kecuali sekutu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memilikinya. Mereka meyakini bahwasanya patung-patung tersebut, sembahan-sembahan tersebut tidak memiliki apa-apa dan Allah lah yang memiliki mereka. Sehingga mereka mengatakan: “Aku menjawab panggilanMu Ya Allah, tidak ada sekutu bagiMu kecuali sekutu yang Engkau miliki.”

Dan ketika sahabat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu menjelaskan tentang sifat haji Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau mengatakan:

فَأَهَلَّ النَّبِيَُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّوْحِيدِ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertalbiyah dengan tauhid.”

Karena dahulu orang-orang musyrikin dengan kesyirikan. Mereka mengatakan: إلا شريكاً هو لك. Adapun kaum muslimin mengatakan:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ، وَالنِّعْمَةَ، لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ

“Aku menjawab panggilanMu Ya Allah, aku menjawab panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu, Sesungguhnya segala pujian segala nikmat segala kerajaan itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ada sekutu bagiNya dalam ibadah, dalam ketaatan, maka kita harus mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala hal. لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ini adalah kalimat tauhid, kalimat ikhlas, yang wajib bagi setiap orang yang melakukan ibadah haji atau umrah untuk mengulang-ulang kalimat-kalimat ini dan merenungkan makna dari kalimat tauhid yang mulia ini, kalimat ikhlas, dan menunjukkan bahwasanya seorang berlepas diri dari kesyirikan.

Talbiyah لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ ini mengandung dua jenis tauhid; tauhid ilmi dan tauhid amal. Tauhid amal yaitu لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ (Kami menjawab panggilanMu Ya Allah, kami menjawab panggilanmu, tidak ada sekutu bagiMu, aku menjawab panggilanmu).

Adapun tauhid ilmi, yaitu keyakinan bahwasanya إِنَّ الْحَمْدَ، وَالنِّعْمَةَ، لَكَ وَالْمُلْكَ (Sesungguhnya segala pujian, segala nikmat dan segala kerajana hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala).

Jadi arti tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah. Ini adalah definisi tauhid. Dan tauhid ini mengandung dua jenis tauhid yang lain, yaitu tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat.

Menit ke-30:25 Kaum muslimin dan muslimat yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian pengarang kitab ini rahimahullah memberikan definisi tauhid adalah إفراد الله بالعبادة. Ini adalah definisi yang singkat, yaitu tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah.

Yang dimaksud ibadah di sini adalah semua jenis ibadah hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak boleh sedikitpun diperuntukkan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita telah mengetahui apa itu makna ibadah. Shalat itu ibadah, puasa itu ibadah, berdoa itu ibadah, menyembelih itu ibadah, bernadzar, bertawakkal, isti’anah (minta tolong kepada Allah), ini semua adalah bentuk-bentuk ibadah yang mana semuanya harus diperuntukan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan seorang yang bertauhid adalah orang yang tidak berdoa kecuali kepada Allah, tidak beristighatsah kecuali, tidak menyembelih kecuali untuk Allah, tidak bernadzar kecuali untuk Allah, tidak memalingkan ibadah kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka barangsiapa yang bernadzar kepada selain Allah, menyembelih kepada selain Allah, bertawakkal kepada selain Allah atau memalingkan ibadah apapun bentuknya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia disebut dengan musyrik dan berarti dia tidak meninggalkan tauhid dan keluar dari tauhid tersebut dan dia tidak termasuk sebagai ahli tauhid.

Oleh karena itu semua ibadah harus diperuntukan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seburuk buruk perkara adalah kesyirikan

Dan ketahuilah para kaum muslimin dan muslimat yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa kesyirikan ini adalah sejelek-jeleknya perkara, seburuk buruk perkara adalah kesyirikan. Dan apabila kesyirikan itu merasuki amalan seseorang, maka kesyirikan tersebut akan merusak seluruh amalannya yang lain.

Apabila ada orang yang ikhlas dalam shalatnya, ikhlas dalam puasanya, ikhlas dalam hajinya, akan tetapi dia melakukan kesyirikan dalam doa, maka ketika dia melakukan kesyirikan dalam doa, maka ketika dia melakukan kesyirikan dalam doa tersebut, akan rusak amalan-amalan yang lain, akan terhapus amalan-amalan dia yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

Dan telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, jika engkau melakukan kesyirikan maka akan terhapuslah amalan-amalanmu.” (QS. Az-Zumar[39]: 65)

Dan kalimat “amalan” di sini adalah kalimat yang mufrad yang diidhafahkan, maka mencakup seluruh amalan. Yaitu apabila seseorang melakukan kesyirikan, maka akan terhapus semua amalan-amalan yang lain. Maka kita mengetahui dari sini bahwasanya kesyirikan itu adalah perkara yang sangat berbahaya yang akan menghapus pahala seluruh amalan yang lain. Dan barangsiapa yang menjumpai Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan syirik, maka amalan-amalannya yang lain akan terhapus dan akan pergi begitu saja sia-sia. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا ﴿٢٣﴾

Dan Kami datangkan apa yang mereka lakukan dari amalan-amalan dan Kami jadikan amalan tersebut seperti debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan[25]: 23)

Takut kepada kesyirikan

Makanya para ulama Rahimahullah mengatakan bahwasanya wajib bagi setiap manusia untuk menjadikan kesyirikan adalah sesuatu yang paling dia takuti. Dan dia harus selalu merasa takut, merasa khawatir terjatuh dalam kesyirikan lebih daripada takutnya dari perkara-perkara yang lain.

Pada suatu hari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melewati sahabat-sahabatnya yang sedang berbicara tentang fitnah Dajjal yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya fitnah Dajjal ini adalah fitnah yang sangat besar. Akan tetapi ketika itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟

“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang aku lebih takut dari fitnah Dajjal?”

Maka para sahabat mengatakan: “Tentu Wahai Rasulullah.”

Rasulallah mengatakan:

الشِّرْكُ الْخَفِيُّ

“Syirik yang tersembunyi.”

Ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih takut terhadap syirik yang tersembunyi daripada fitnah Dajjal. Padahal fitnah Dajjal adalah fitnah yang sangat besar, fitnah yang sangat berbahaya, akan tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih takut kepada kesyirikan daripada takutnya kepada fitnah Dajjal. Padahal fitnah Dajjal adalah fitnah yang sangat besar.

Bahkan kita ketahui pemimpin para Nabi, bapaknya para Nabi yang bahkan dia menghancurkan berhala-berhala dengan tangannya sendiri, dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ ﴿٣٥﴾ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ

Ya Allah jauhkanlah aku dan keturunanku dari menyembah berhala. Sesungguhnya mereka telah menyesatkan banyak dari kalangan manusia.” (QS. Ibrahim[14]: 35-36)

Banyak dari manusia disesatkan oleh berhala-berhala dan sesembahan-sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ ﴿١٠٣﴾

Walaupun kau bersemangat memberikan mereka petunjuk, kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS. Yusuf[12]: 103)

Kebanyakan manusia meninggalkan tauhid. Dan ini banyak diterangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an. Seperti firman Allah yang lain:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّـهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ ﴿١٠٦﴾

Tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali mereka melakukan kesyirikan.” (QS. Yusuf[12]: 106)

Yaitu mereka beriman kepada Allah bahwasanya Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, akan tetapi mereka mensekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah.

Ketika mereka ditimpa musibah, ditimpa kesulitan, ditimpa penyakit, mereka mendatangi dan berdoa kepada selain Allah, mereka mengatakan: “Bantulah aku Wahai Wali,” atau “Tolonglah aku, bantulah aku,” bahkan di antara mereka ada yang mengatakan: “Aku adalah hambamu yang lemah,” ini adalah perkara yang sangat berbahaya dan dimanakah akal-akal mereka ketika mereka berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala? Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menciptakan manusia kecuali agar mereka menyembah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah perkara yang harus kita jauhi dan perkara yang sangat berbahaya.

Dan kita tutup kajian kita pada siang hari ini, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi kita taufik.

Selanjutnya: Kesyirikan adalah Perkara yang Paling Allah Larang

Baca dari awal yuk: Mukadimah Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah

Mp3 Kajian Tentang Penjelasan tentang Makna Tauhid

Sumber audio: radiorodja.com

Mari turut menyebarkan catatan kajian “Penjelasan tentang Makna Tauhid” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: