Materi 38 – ‘Ujub Berafiliasi dan Dekat dengan Penguasa Dzalim

Materi 38 – ‘Ujub Berafiliasi dan Dekat dengan Penguasa Dzalim

dukung ngaji id

Sebenarnya seseorang jika dekat dengan pejabat atau menjadi pejabat, sebenarnya dia lebih condong kepada tugas yang berat daripada suatu yang dibanggakan.

Materi 77 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Bawahannya
Khutbah Jumat: Bentengi Diri Kita dari Neraka
Materi 39 – Tawakal kepada Allah

Tulisan tentang “Materi 37 – ‘Ujub dengan Banyaknya Jumlah” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah.

Sebelumnya: Materi 37 – ‘Ujub dengan Banyaknya Jumlah dan Harta

⚠️  Mohon maaf, untuk materi 39 dan seterusnya tidak akan dipublish di website ini lagi. Bagi yang membutuhkan silahkan hubungi admin.

Transkrip Materi 38 – ‘Ujub Berafiliasi dan Dekat dengan Penguasa Dzalim

 بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Di antara model ‘ujub yang disebut oleh Al-Ghazali adalah:

7. ‘Ujub dengan berafiliasi kepada para penguasa yang dzalim

‘Ujub dengan berafiliasi kepada para penguasa yang dzalim dan anak buah mereka, bukan berafiliasi kepada agama dan ilmu. Ini merupakan puncak kebodohan.

Ini Al-Ghazali menyindir bahwa ada sebagian orang yang ‘ujub karena dia punya hubungan dekat dengan penguasa, padahal penguasa tersebut dzalim. Mungkin dia adalah keturunan penguasa, atau dia adalah pejabat di penguasa tersebut, atau punya hubungan yang dekat dengan pejabat tersebut, padahal pejabat-pejabat tersebut dzalim. Tentu ini adalah puncak kebodohan, kata Al-Ghazali.

Kalau ada penguasa yang adil kemudian kita dekat dengan penguasa tersebut, pun tidak boleh menjadikan kita ‘ujub, tidak boleh. Apalagi penguasa tersebut misalnya dzalim. Akhirnya kita bangga dekat dengan penguasa tersebut. Kita kalau diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa dekat dengan penguasa, maka tugas kita adalah menasehati, bukan kita bangga karena dekat, bangga dengan kekuasaan.

Seseorang harus sadar bahwasanya kekuasaan itu adalah ujian. Makanya tentang kepemimpinan, Nabi mengatakan:

وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ

“Bahwasanya kekuasaan/jabatan kalau tidak bisa dijalankan dengan baik, maka pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan.”

Saya gambarkan misalnya sekarang seseorang menjadi penguasa kemudian mereka menarik pajak dari masyarakat, dia digaji dengan uang masyarakat, maka dia harus amanah, tidak boleh dia menghambur-hamburkan uang tersebut sembarangan. Hal ini karena sebenarnya dia pekerjaan masyarakat. Bagaimana kita bayangkan menjadi pejabat kemudian dia bangga, dia ‘ujub sebagai pejabat, merasa hebat dan yang lainnya, kemudian dia berfoya-foya, kemudian tinggal dihisab pada hari kiamat kelak. Maka itu semua akan menjadi hinaan baginya dan penyesalan baginya.

Oleh karenanya, sebenarnya seseorang jika dekat dengan pejabat atau menjadi pejabat, sebenarnya dia lebih condong -kita katakan- kepada tugas yang berat daripada suatu yang dibanggakan. Berat sekali menjadi pejabat. Karena dia bekerja untuk negara yang dia digaji oleh masyarakat, bayangkan jika ternyata dia tidak menjalankan tugas dengan baik, maka terlalu banyak ancaman dalam hadits-hadits Nabi yang mengingatkan orang-orang yang seperti ini.

Benar, kalau dia bisa menjalankan tugasnya sebagai pejabat dengan baik, maka dia akan mendapatkan pahala yang banyak, dia memberi kebahagiaan kepada banyak orang, dia mengambil gaji seperlunya. Tetapi jika sebaliknya, ternyata dia mengambil gaji sebanyak-banyaknya. Sementara yang membayar pajak dengan berat melepaskan harta mereka untuk diberikan kepada penguasa. Kemudian para pejabat tersebut berfoya-foya menggunakan harta tersebut. Kemudian setelah selesai dari jabatan, mereka hanya menjabat 5 tahun atau setidaknya 10 tahun, mereka hanya mendapat kenikmatan dunia sebentar, setelah itu tinggal pertanggungjawaban yang sangat panjang. Mulai dari alam barzakh, kemudian di padang mahsyar, kalau dia ternyata dzalim, maka dia akan dituntut oleh masyarakat. Allahul musta’an.

Maka seorang ketika memiliki jabatan, itu bukan untuk dia ‘ujubkan. Tapi dia sadar bahwasanya itu amanah dari Allah yang dia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah untuk menunaikan amanah tersebut dan bisa dia pertanggungjawabkan di hadapan masyarakat, terutama di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah menjauhkan kita dari segala bentuk ‘ujub dan semoga Allah senantiasa menjaga keikhlasan niat kita sepenuhnya.

Perhatian Materi 38 – ‘Ujub Berafiliasi dan Dekat dengan Penguasa Dzalim

⚠️ Note: Kalau team UFA merevisi audionya, insyaAllah catatan ini juga akan direvisi sesuai dengan audio yang baru.

Komentar

WORDPRESS: 0