Materi 55 – Perkataan Ulama tentang Tawadhu’

Materi 55 – Perkataan Ulama tentang Tawadhu’

iklan erto's

Tulisan tentang “Materi 55 – Perkataan Ulama tentang Tawadhu’” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafizhahullah.

Sebelumnya: Materi 54 – Makna Tawadhu

Materi 55 – Perkataan Ulama tentang Tawadhu’

Sekarang kita akan membaca perkataan para ulama tentang tawadhu‘.

Setelah kita ketahui tentang maknanya secara bahasa dan secara istilah, kita akan baca perkataan mereka (ulama) tentang tawadhu’.

Di antaranya dari Shalih Al-Mirriy (Arab: صالح المرِّيِّ), dia berkata:

خرج الحسن ويونس وأيوب يتذاكرون التَّواضُع

“Suatu hari Hasan Al-Bashri, Yunus, Ayyub as-Sikhtiyani keluar dan mereka sedang berbincang-bincang tentang makna tawadhu’,” ini menunjukkan mereka perhatian tentang tawadhu’ dan mereka ingin tahu apa itu hakikat tawadhu’.

Maka Al-Hasan Al-Bashri berkata kepada Yunus dan Ayyub:

وهل تدرون ما التَّواضُع؟

“Tahukah kalian apa itu tawadhu’?”

Kemudian dijelaskan:

التَّواضُع: أن تخرج مِن منزلك فلا تلق مسلمًا إلَّا رأيت له عليك فضلًا

“Tawadhu’ yaitu engkau keluar dari rumahmu dan engkau tidak bertemu dengan seorang muslim pun kecuali kau melihat memandang bahwasanya orang tersebut lebih utama darimu.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam kitabnya At-Tawadhu’ wal Khumul (Arab: التواضع والخمول).

Ini sangat menjelaskan bahwa tawadhu’ adalah amalan hati. Yaitu bukan hanya pada penampilan dengan pakaian yang sederhana atau cara berjalan yang sederhana, itu juga dituntut, tapi yang paling utama adalah tawadhu’ di hati. Bagaimana seseorang keluar dari rumahnya, dia tidak memandang orang lain kecuali dia memandang orang tersebut lebih baik daripada dirinya. Dia tidak pernah merasa tinggi dan lebih baik daripada orang lain. Dia merasa orang itu mungkin lebih baik daripada dirinya.

Mengapa bisa demikian? Karena pada hakikatnya kita tidak tahu tentang hakikat orang lain. Kita hanya bisa menilai orang lain kalau kita bisa menilai amalan hatinya, menilai amalan zahirnya.

Sementara kita tidak tahu amalan zahir yang dia lakukan, apalagi amalan hati yang dia lakukan. Bisa jadi seseorang muslim di depan kita terlihat biasa-biasa saja, tapi ternyata dia tidak ‘ujub dan sombong. Ternyata dia sabar dan suka bersyukur kepada Allah.

Kalau kita tidak tahu isi hatinya, bagaimana kita bisa mengatakan kita lebih baik daripada dia?

Dan bisa jadi ada amalan-amalan zahir lain yang kita tidak tahu. Mungkin dia berbakti kepada orang tuanya, mungkin dia sayang kepada istrinya, mungkin dia ramah kepada anak-anaknya, mungkin dia bersilaturahmi, kita tidak tahu.

Oleh karenanya jangan pernah kita keluar kemudian kita meremehkan orang lain kemudian kita merasa diri kita lebih tinggi. Ini adalah perkataan yang indah dari Hasan Al-Bashri:

أن تخرج مِن منزلك فلا تلق مسلمًا إلَّا رأيت له عليك فضلًا

“Engkau tidak keluar dari rumah kecuali engkau memandang orang lain lebih utama dari engkau.”

Inti Tawadhu’

Di antara perkataan Yahya bin Abi Katsir, beliau berkata:

رأس التَّواضُع ثلاث:

“Inti daripada tawadhu’ adalah tiga perkara:”

أن ترضى بالدُّون مِن شرف المجلس

“Engkau ridha jika dibawah,” tidak harus engkau yang duduk paling depan dan diutamakan, engkau yang harus berbicara dalam majelis, meskipun engkau diposisikan tidak seperti yang seharusnya, tidak jadi masalah.

Jadi engkau ridha diposisikan tidak sesuai dengan kedudukanmu yang sesungguhnya. Artinya jangan kau tuntut harusnya saya begini, saya begini. Kalau kau tawadhu’, tidak ada masalah.

Yang kedua:

وأن تبدأ مَن لقيته بالسَّلام

“Engkau yang mulai mengucapkan salam terhadap orang yang kau temui.”

Bisa jadi dia lebih muda, saya lebih berilmu daripada dia, saya lebih tua, saya lebih tinggi titelnya, saya lebih ustadz daripada dia, saya lebih dahulu ngaji, saya lebih dahulu hijrah, seharusnya dia memberi salam kepada saya. Tidak, kita tidak usah begitu. Di antara tanda tawadhu’ adalah engkau memulai salam terlebih dahulu.

Lihatlah bagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati anak-anak dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi salam kepada anak-anak.

Yang ketiga:

وأن تكره مِن المدحة والسُّمعة والرِّياء بالبِرِّ

“Engkau tidak suka pujian, sum’ah, riya’, akan kebajikan yang engkau lakukan.”

Kalau kau suka dengan pujian, senang diangkat-angkat, ini berarti kau tidak tawadhu’. Kalau seseorang tawadhu’, ketika dipuji dia merasa malu dan merasa tidak enak, kelihatan sekali. Bukannya dia bilang: “Benar-benar, iya memang saya begitu.”

Ketika dipuji dia merasa malu dan tersipu. Dia tidak tidak suka, dia tahu dirinya tidak pantas untuk dipuji. Dan itu benar-benar keluar dari hatinya, itu adalah tawadhu’ yang sesungguhnya.

▬▬•◇✿◇•▬▬

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Materi 55 – Perkataan Ulama tentang Tawadhu’’” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Baarakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: