Materi 60 – Tawadhu’ Kepada Orang Tua

Materi 60 – Tawadhu’ Kepada Orang Tua

dukung ngaji id

Tulisan tentang “Materi 60 - Tawadhu' Kepada Orang Tua” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disa

Materi 73 – Tawadhu’nya Nabi Saat Kondisi Perang Khandaq
Materi 72 – Tawadhu’ Terhadap Orang yang di Bawahnya Tanpa Pilih-Pilih Menyapa dan Mengucapkan Salam
Materi 74 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Istri dan Keluarga

Tulisan tentang “Materi 60 – Tawadhu’ Kepada Orang Tua” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafizhahullah.

Sebelumnya: Materi 59 – Tawadhu’ Kasih Sayang Terhadap Sesama

Materi 60 – Tawadhu’ Kepada Orang Tua

Di antara ayat dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang tawadhu’ -dan ini adalah tawadhu’ yang spesial- adalah tawadhu’ terhadap kedua orang tua. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua (yaitu ayah dan ibu) karena kasih sayang kepada mereka berdua, dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah merawatku/mentarbiyahku ketika aku masih kecil.'” (QS. Al-Isra'[17]: 24)

Ayat ini adalah tawadhu’ yang spesial, berbeda dengan ayat-ayat tawadhu’ yang lainnya. Dalam ayat-ayat tawadhu’ yang lainnya sebagaimana dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Rendahkanlah dirimu wahai Rasulullah kepada orang-orang beriman yang mengikutimu.” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 215)

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan مِنَ الرَّحْمَةِ dan جَنَاحَ الذُّلِّ. Kalau جَنَاحَ artinya sayap burung, seakan-akan kalau kita punya sayap maka kita turunkan sayap kita.

Ketika berkaitan dengan orang tua ada tambahan dua lafal, Allah mengatakan جَنَاحَ الذُّلِّ (sayap kerendahan/ kelembutanmu) dan ada tambahan lagi مِنَ الرَّحْمَةِ (karena kasih sayang). Ini menunjukkan bahwasanya tawadhu’ di hadapan kedua orang tua lebih spesial/ spesifik dari pada tawadhu’ kepada orang-orang secara umum.

Oleh karenanya saya ingatkan diri saya pribadi dan juga kepada ikhwan dan akhwat. Seseorang sebagaimana kalau dia tawadhu’ kepada orang lain, kepada gurunya, kepada bosnya, maka tawadhu’ kepada orang tua harus lebih lagi. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

“Rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua karena kasih sayang.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala ingatkan bahwasanya seseorang ketika merendahkan dirinya kepada kedua orangtua bukan karena takut kepada orang tua, takut diomelin, takut dimarahi, atau karena berharap diberikan sesuatu oleh orang tua, misalnya ada orang merendah kepada orang tua supaya mendapat hadiah misalnya, supaya dapat pemberian dari orang tua. Karena sebagian orang meskipun sudah dewasa orang tuanya masih kaya raya dan masih suka memberi. Jangan ya!

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh seseorang ketika tawadhu’ kepada orang tua karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena kasih sayang. Karenanya setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Katakanlah, ‘Ya Rabbku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah merawatku/ mentarbiyahku ketika aku masih kecil.'” (QS. Al-Isra'[17]: 24)

Jadi, kita disuruh ingat ketika masih kecil kita tidak bisa apa-apa, orang tua berkorban dengan luar biasa, berkorban waktu dan harta. Lihatlah betapa banyak orang tua tidak tidur demi menidurkan anaknya, bagaimana ketika seorang anak sakit sehingga orang tua sampai menangis, begadang, meneteskan air mata, gelisah melihat anaknya yang sakit.

Betapa banyak orang tua bekerja, mencari nafkah dengan susah payah untuk bisa membiayai anaknya. Dan orang tua tidak pernah perhitungan kepada anaknya, dia merendahkan dirinya dulu untuk bisa melayani si kecil anaknya. Orang tua dulu seperti itu.

Apalagi kita bicara tentang orang tua yang susah. Bagaimana pekerjaan mereka dahulu yang intinya semua untuk bisa membiayai dan menghidupi anak-anaknya.

Maka ketika kita sudah besar, kita disuruh untuk tawadhu’ kepada mereka berdua karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena berharap pemberian mereka, bukan karena takut kepada mereka. Mungkin sebagian orang tua suka ngomel, jangan sampai kita tawadhu’ kepada mereka karena takut diomelin, tapi karena rahmat kepada mereka sebagaimana mereka dahulu sayang kepada kita.

Al-Imam Al-Qurthubi Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan bahwasanya tawadhu’ tersebut dalam segala hal. Yaitu dalam berkata-kata, dalam memandang, jangan menajamkan pandangannya, jangan melihat orang tua dengan pandangan sinis, kalau berbicara jangan mengangkat suara, jangan sok pintar di hadapan kedua orang tua mekipun orang tua mungkin pendidikannya kurang, mungkin kalau sudah tua bicaranya mulai ngawur, mulai tidak jelas karena sudah tua, mulai pikun, harus tawadhu’ di hadapan mereka.

Hal ini diperintahkan khusus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ini adalah orang yang paling berjasa dalam kehidupan kita, yaitu kedua orang tua kita.

Maka tawadhu’ kepada orang tua adalah ibadah yang agung dan ini adalah tawadhu’ spesial lebih daripada tawadhu’ kepada selain mereka berdua.

▬▬•◇✿◇•▬▬

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Materi 60 – Tawadhu’ Kepada Orang Tua” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Baarakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0