Ayat Tentang Sabar Diatas Gangguan Dalam Jalan Ilmu, Amal dan Dakwah

Ayat Tentang Sabar Diatas Gangguan Dalam Jalan Ilmu, Amal dan Dakwah

ceramah tentang gowes

Ayat Tentang Sabar Diatas Gangguan Dalam Jalan Ilmu, Amal dan Dakwah ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang

Materi Khutbah Jumat Singkat Tentang Ikhlas Ruh Ibadah
Berilmu Sebelum Berkata dan Beramal
Mempelajari Amalan Hati – Part 2

Ayat Tentang Sabar Diatas Gangguan Dalam Jalan Ilmu, Amal dan Dakwah ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

Lihat juga: Mukadimah Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah

Kajian Ayat Tentang Sabar Diatas Gangguan Dalam Jalan Ilmu, Amal dan Dakwah

Menit ke-3:00 Bismillahirrahmanirrahim, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya.

Para pemirsa dan pendengar Radio Rodja yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, penulis kitab ini Rahimahullah berkata:

الرابعة: الصبر على الأذى فيه.

“Bersabar diatas gangguan di dalam jalan ilmu, amal dan dakwah.”

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

{وَالْعَصْرِ * إِنَّ الأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}.

Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, saling berpesan dalam kebenaran dan saling berpesan dalam kesabaran.” (QS. Al-Ashr[103]: 2)

قال الشافعي رحمه الله تعالى: لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم.

“Berkata Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala: ‘Seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan hujjah untuk para makhluknya kecuali surat ini, maka sungguh ini sudah cukup.'”

وقال البخاري رحمه الله تعالى: باب العلم قبل القول والعمل. والدليل قوله تعالى: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ}. فبدأ بالعلم، قبل القول والعمل.

“Dan berkata Imam Al-Bukhari Rahimahullah dalam kitabnya: ‘Bab ilmu sebelum berkata dan beramal.’ Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Ketahuilah bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan minta ampunlah atas dosa-dosamu‘ (QS. Muhammad[47]: 19). Maka dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan perintah berilmu sebelum berkata dan beramal.”

Penjelasan oleh Syaikh ‘Abdurrazzaq Al-Badr

1. Semua masalah harus dibangun diatas dalil

Penjelasan dari kitab ini, ketika pengarang Rahimahullah menyebutkan empat masalah, yaitu ilmu, amal, dakwah dan sabar, beliau menyebutkan dalil wajibnya perkara-perkara di atas. Karena di pembukaan kitab ini, ketika beliau menyebutkan empat masalah ini, beliau menyebutkan bahwasanya wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari empat masalah ini.

Maka apabila ditanyakan kepada kita apa dalilnya, maka beliau Rahimahullah menyebutkan dalil dari apa yang beliau sebutkan bahwasanya hal ini wajib. Dan telah kita ketahui bahwasannya beginilah jalannya para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang senantiasa menyebutkan suatu perkataan dan menyebutkan dalilnya dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kita mengetahui bahwasanya agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bab aqidah, ibadah dan hukum-hukum, itu semuanya masalah-masalah dan dalil-dalilnya. Inilah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan masalah-masalah ini terbagi menjadi dua, ada masalah yang berkaitan dengan aqidah dan masalah yang berkaitan dengan amalan, yaitu bab ibadah dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, inilah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, agama Allah Subhanahu wa Ta’ala itu dibangun di atas hukum-hukum dan dalil-dalilnya.

Dalil-dalil yang digunakan adalah dalil-dalil dari perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semua masalah-masalah agama harus dibangun diatas cara ini. Kita meyakini seperti ini karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman seperti ini atau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda seperti ini.

Dalam semua permasalahan agama, kita wajib menerapkan cara ini. Yaitu kita beragama sesuai dengan dalil. Oleh karena itu pengarang kitab ini mengatakan بالأدلة (dengan dalil-dalilnya), yaitu mengenal Allah, mengenal NabiNya dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya. Dan beginilah cara kita dalam beragama, baik itu dalam masalah ilmiah (ilmu) maupun masalah amaliah (ibadah), maka harus dibangun diatas dalil-dalil dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Menit ke-9:31 Para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, semua masalah yang disebutkan atau diucapkan oleh seseorang haruslah dibangun diatas dalil dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan semua masalah yang tidak ada dalilnya, maka masalah tersebut akan ditolak.

Berkata Imam Malik Rahimahullah:

كل يُؤخذ من كلامه ويُرد إلا صاحب هذا القبر

“Semua boleh diambil perkataannya dan ditolak kecuali pemilik kubur ini (yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)”

Juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

كل يستدل لقوله لا به ، إلا الله ورسوله

Bukan dijadikan dalil perkataan para ulama, akan tetapi dicarikan dalil untuk perkataan tersebut, kecuali perkataan Allah dan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini karena perkataan Allah dan perkataan Rasulullah yang dijadikan sebagai dalil.

Dan semua yang berdalil dan tidak diambil dari kitab dan sunnah, maka dalil tersebut tertolak. Inilah jalannya para salafush shalih sejak dahulu, mereka setiap menyebutkan masalah selalu menyebutkan setelahnya dalil dari masalah tersebut.

2. Dalil surat Al-Ashr

Menit ke-12:08 Pengarang kitab ini Rahimahullah menyebutkan bahwasanya setiap muslim wajib mempelajari empat perkara ini. Kemudian beliau menyebutkan dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu dalil dari empat perkara ini dan bahwasanya empat perkara ini adalah wajib, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling berpesan dalam kebaikan dan berpesan dalam kesabaran.” (QS. Al-Ashr[103]: 2)

Ini adalah dalil dari permasalahan yang empat yang disebutkan oleh pengarang kitab ini Rahimahullah, yaitu surat Al-Ashr dari ayat pertama sampai ayat terakhir.

Dan surat ini adalah dalil wajibnya untuk mempelajari empat hal ini. Dan pendalilan dengan menggunakan dalil ini terhadap wajibnya kita mempelajari masalah yang empat ini nampak sangat jelas. Karena dalam surat ini disebutkan bahwasanya seluruh manusia akan berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang mempunyai sifat yang disebutkan dalam surat ini, dialah yang selamat dari kerugian.

Dan juga dalam surat ini terdapat dalil bahwasanya wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari masalah yang empat ini. Dan apabila seorang muslim tidak mempelajarinya maka dia akan merugi dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahwasanya dia akan merugi apabila dia tidak mempelajari empat hal ini.

3. Allah bersumpah dengan masa atau zaman

Menit ke-15:44  Pemirsa dan pendengar Rodja yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, pengarang kitab ini memulai menyebutkan dalil dengan surat Al-Ashr yang mana surat Al-Ashr ini dimulai dengan sumpah, yaitu: وَالْعَصْرِ (demi masa). Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa atau zaman.

Masa atau zaman ini adalah salah satu dari makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan malam, menciptakan siang, menciptakan langit, menciptakan gunung, sungai-sungai, matahari dan bulan.

Dan zaman atau masa ini adalah salah satu dari makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk bersumpah dengan apa saja dari makhluk-makhlukNya.

Oleh karena itu kita dapati di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak bersumpah dengan nama makhluk-makhlukNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan  وَاللَّيْلِ (demi malam), وَالنَّهَارِ (demi siang), وَالشَّمْسِ (demi matahari),  وَالْقَمَرَ (demi bulan), وَالضُّحَىٰ (demi waktu dhuha),  وَالنَّجْمِ  (demi bintang), ini semua adalah sumpah-sumpah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan apa saja yang Allah kehendaki dari makhluk-makhlukNya.

Adapun hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka tidak berhak dan tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana sabda Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ

“Barangsiapa yang ingin bersumpah, maka hendaklah dia bersumpah dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Bukhari)

Juga sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَا تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ وَلَا بِأُمَّهَاتِكُمْ

“Janganlah kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian dan ibu-ibu kalian.” (HR. Bukhari)

Juga sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ حَلَفَ بِالْأَمَانَةِ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang bersumpah dengan amanat maka bukan dari golongan kami.” (HR. Abu Dawud)

Juga sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah selain dengan nama Allah, maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu tidak boleh dan tidak halal bagi seorang muslim untuk bersumpah selain dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu bersumpah dengan nama Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau bersumpah dengan Ka’bah atau dengan amanah atau apa saja dari makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk bersumpah kecuali dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena sumpah adalah pengagungan dan pengagungan ini tidak berhak kecuali untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.

Oleh karena itu Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ

“Barangsiapa yang ingin bersumpah, maka hendaklah dia bersumpah dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Bukhari)

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah selain dengan nama Allah, maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Bukhari)

Hal ini karena dia telah memalingkan penggunaan yang itu merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada selainnya dari para makhlukNya.

4. Allah menciptakan waktu untuk beramal

Menit ke-21:25 Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan apa saja yang Dia kehendaki dari para makhlukNya. Dan ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan sesuatu dari makhlukNya, maka ini menunjukkan kemuliaan makhluk tersebut. Ini adalah pemuliaan untuk makhluk tersebut. Yang ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan makhluk tersebut dengan bersumpah dengannya, maka ini merupakan bukti bahwasanya makhluk tersebut adalah makhluk yang mulia.

Dalam surat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan Al-Ashr. Para ulama menyebutkan bahwasanya makna Al-Ashr ini ada beberapa pendapat. Akan tetapi pendapat yang paling kuat bahwa maksud dari Al-Ashr adalah zaman seluruhnya. Yaitu mencakup malam dan siang, seluruh umur-umur manusia dan seluruh waktu dalam kehidupan ini, bukan hanya kehidupan seseorang, akan tetapi seluruh hidup ini yang merupakan tempat untuk kita beramal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan malam, siang dan menciptakan seluruh zaman ini sebagai waktu kita untuk beramal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan waktu ini untuk manusia dan setiap manusia mempunyai waktu tertentu yang mana apabila waktu tersebut telah sampai, maka akan datanglah ajal orang tersebut.

Oleh karena itu sebagian para ulama ketika memberi nasihat yang mengatakan:

أيها الإنسان! إنما أنت وقت

“Wahai manusia! Sesungguhnya engkau adalah waktu.”

Dan waktu adalah zaman tertentu yang apabila waktu tersebut telah berlalu dan telah habis, maka telah habislah umur seseorang yang tidak mungkin bagi seseorang untuk memajukan atau mengundurkan waktu tersebut. Karena setiap manusia punya waktu yang dibatasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu dalam surat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan Al-Ashr, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwasanya orang yang tidak bersifat dengan sifat-sifat yang disebutkan dalam surat ini, dia adalah orang yang sangat merugi. Maka ini menunjukkan bahwasanya pentingnya waktu ini dan pentingnya kita mengisinya dengan beramal penuh ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita isi kehidupan ini, jangan sampai berlalu begitu saja dan jangan sampai kita termasuk orang yang merugi. Karena hari-hari yang kita lewati dengan sia-sia begitu saja, maka tentu kita akan termasuk orang yang merugi apabila kita habiskan waktu kita dengan hal-hal yang sia-sia.

Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan waktu, ini merupakan peringatan agar kita memperhatikan waktu kita dan tidak menyia-nyiakannya. Dan sesungguhnya menyia-nyiakan waktu di antara sebab terbesar kemarahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sebab terbesar meruginya seseorang.

Oleh karena itu ini menunjukkan pentingnya waktu. Dan sesungguhnya berlalunya siang dan malam ada keajaiban dalam hal tersebut. Oleh karena itu sebagian orang menyebutkan waktu ini mempunyai keajaiban-keajaiban. Karena siang dan malam senantiasa baru, banyak umat telah berlalu, banyak manusia telah meninggal dan banyak terjadi musibah-musibah dan fitnah-fitnah, akan tetapi siang dan malam selalu baru. Banyak negeri-negeri yang telah hilang dan banyak manusia-manusia hebat telah meninggal, akan tetapi siang dan malam terus baru. Ini adalah keajaiban dari perkara siang dan malam. Siang dan malam senantiasa bergerak, akan tetapi kelihatannya dia diam saja.

Oleh karena itu, perlu kita ketahui bahwasanya siang dan malam ini selalu baru, selalu pergi dan datang kembali dan keadaan-keadaan manusialah yang penuh dengan keajaiban. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا ﴿٦١﴾

Maha Suci Allah yang menjadikan di langit matahari dan menjadikan bintang-bintang serta bulan yang terang benderang.” (QS. Al-Furqan[25]: 61)

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا ﴿٦٢﴾

Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengingat dan orang yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan[25]: 62)

Kata خِلْفَةً yaitu mengganti sebagian dari sebagian yang lain, malam pergi maka siang datang, begitu pula siang pergi maka malam datang. Dan senantiasa siang dan malam itu menjadi baru. Oleh karena itu ini adalah peringatan bagi orang yang ingin mengingat atau orang yang ingin bersyukur.

Maka para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, hendaklah kita senantiasa memperhatikan waktu-waktu kita siang dan malam dan jangan sampai kita tidak bersyukur atas waktu-waktu tersebut. Karena waktu yang kita lewati adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa diperbaharui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka wajib bagi kita dalam menghadapi siang dan malam ini bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala karunia dan nikmat-nikmatNya.

5. Memperhatikan waktu dan tidak menyia-nyiakannya

Menit ke-28:00 Para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam sumpah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan Al-Ashr, ini merupakan peringatan bagi kita sebelum memulai pembahasan surat ini. Pembahasan atau peringatan kepada kita untuk memperhatikan masalah waktu dan tidak menyia-nyiakannya yang mana apabila kita menyia-nyiakan waktu tersebut maka kita akan termasuk orang yang merugi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾

Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-Ashr[103]: 1-2)

Kalimat Al-Insan di sini mengandung makna semua manusia. Karena kata alif dan lam dalam kalimat Al-Insan, yang dimaksud adalah alif lam al-jins (ال الجنس), yaitu yang mengandung makna seluruh manusia. Oleh karena itu makna Al-Insan di sini artinya seluruh manusia. Dan bagaimana cara kita mengetahui bahwasanya ال ini mencakup makna jins? Kita dapat mengetahuinya apabila kita menghilangkan kalimat ال tersebut kemudian kita mengganti dengan kalimat كل yang berarti semua. Apabila kita ganti ال tersebut dengan kata كل dan maknanya tetap sama, maka ini menunjukkan bahwasanya ال tersebut adalah ال الجنس yang mengandung makna yang umum.

Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾

Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia akan berada dalam kerugian.” (QS. Al-Ashr[103]: 1-2)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan: “Sesungguhnya manusia akan rugi,” karena cara Allah Subhanahu wa Ta’ala mengucapkan kalimat ini lebih mantap dalam menyebutkan makna dari yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan.

Menit ke-31:55 Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾

Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-Ashr[103]: 1-2)

Yang dimaksud di sini adalah seluruh manusia. Dan ini mengandung arti bahwasanya manusia diliputi dengan kerugian dari segala arah dan dia tenggelam dalam kerugian tersebut. Oleh karena itu makna لَفِي خُسْرٍ di sini adalah mengandung makna dhorfiyah, yaitu mengandung makna bahwa seluruh manusia benar-benar tenggelam dalam kerugian dari seluruh arah. Dan ini adalah keadaan setiap manusia, tidak ada yang selamat dari hal ini, semuanya tenggelam dalam kerugian dari segala arahnya. Kecuali yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala إِلَّا (kecuali) dalam surat ini.

6. Menunjukkan tiga penegasan

Menit ke-33:59 Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾

Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,” dipertegas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tiga penegasan, yaitu:

  • Penegasan yang pertama yaitu sumpah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan “Demi masa.” Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah untuk menegaskan hal ini.
  • Penegasan yang kedua yaitu kalimat إِنَّ (sesungguhnya).
  • Penegas yang ketiga yaitu ل yang masuk ke dalam kalimat jar dan majrur, yaitu kalimat لَفِي خُسْرٍ.

Hal ini dipertegas dengan tiga penegas yang sangat kuat. Yang mana ini adalah hakikat yang dihukumkan untuk semua manusia, yaitu bahwasanya mereka semua berada dalam kerugian. Dan tidak ada yang selamat dari hal ini sedikitpun kecuali yang Allah Subhanahu wa Ta’ala muliakan dan bersifat dengan sifat yang disebutkan dalam surat ini. Yaitu yang dikecualikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah kalimat إِلَّا (kecuali). Siapakah mereka? Yaitu:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾

Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling mengajak kepada kebenaran dan saling mengajak kepada kesabaran.” (QS. Al-Ashr[103]: 3)

7. Wajib melakukan empat sifat ini

Menit ke-35:59 Dan agar seorang manusia selamat dari kerugian, maka dia harus bersifat dengan sifat-sifat yang empat ini seluruhnya, tidak cukup bagi seseorang untuk mengambil satu sifat dan melupakan sifat yang lainnya. Tapi yang wajib dia harus melakukan empat sifat ini agar dia selamat dari kerugian. Dan apabila dia tidak mempunyai empat sifat ini, maka sungguh demi Allah dia berada dalam kerugian. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan hal itu dengan firmanNya:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾

Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling mengajak kepada kebenaran dan saling mengajak kepada kesabaran.” (QS. Al-Ashr[103]: 3)

Menit ke-38:30 Para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Oleh karena itu dalam surat ini mengandung nasihat yang sangat dalam dan sangat kuat pengaruhnya bagi orang yang diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memahaminya dan memahami maknanya. Oleh karena itu Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata bahwasanya ayat ini cukup, maksudnya di sini cukup dalam bab nasihat dan peringatan terhadap bab-bab kebaikan.

Dan bukanlah maksud Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah bahwasanya surat ini cukup, tidak butuh lagi surat-surat yang lain dan hadits-hadits yang lain dan seluruh masalah agama yang lain, bukan itu yang dimaksud dengan Imam Syafi’i Rahimahullah bahwasanya cukup surat ini saja dan tidak butuh dengan surat yang lain. Akan tetapi yang beliau maksudkan bahwasanya surat ini cukup sebagai nasihat yang sangat kuat, sangat dalam,  ringkas dan mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk mendatangkan kebaikan-kebaikan.

Oleh karena itu Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah pernah berkata:

فهذه السورة على اختصارها هي من اجمع سور القرآن للخير بحذافيره

“Surat ini walaupun ringkas akan tetapi di antara surat-surat Al-Qur’an yang mencakup semua kebaikan dari segala arahnya.”

Dan surat ini walaupun surat yang ringkas, surat yang sangat dalam maknanya sebagaimana yang disebutkan oleh sahabat ‘Amr bin Ash ketika ditanya oleh Musailamah Al-Kadzab, yang mana di antara sahabat ‘Amr bin Ash dan Musailamah ada pertemanan di zaman Jahiliyah. Oleh karena itu ketika keduanya bertemu dan Musailamah bertanya kepada sahabat ‘Amr bin Ash, surat apa yang diturunkan untuk temanmu (yaitu Nabi Muhammad) pada malam ini? Maka beliau menjawab bahwasanya pada malam ini diturunkan surat yang ringkas akan tetapi sangat dalam maknanya. Dan hadits ini insyaAllah kita akan teruskan pada pertemuan berikutnya yang walaupun ringkas akan tetapi makna-maknanya sangat luas dan mencakup banyak sekali kebaikan dari segala arah-arahnya. Dan barangsiapa yang senantiasa memperhatikan ayat ini, maka dia akan terpanggil untuk melakukan kebaikan-kebaikan.

Menit ke-41:00 Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita menuju taufik dan hidayahNya dan semoga kita selalu diberikan ilmu yang bermanfaat.

Download mp3 kajian Ayat Tentang Sabar Diatas Gangguan Dalam Jalan Ilmu, Amal dan Dakwah

Sumber audio: Sabar atas Gangguan saat Berdakwah – Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Mari turut menyebarkan catatan kajian “Ayat Tentang Sabar Diatas Gangguan Dalam Jalan Ilmu, Amal dan Dakwah” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: