Ikatlah Ilmu dengan Tulisan

Ikatlah Ilmu dengan Tulisan

pandai mendengar

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Ikatlah (catatlah) ilmu dengan tulisan." (HR. Ibnu 'Abdil Barr)

Bersegera Mendatangi Majelis Ilmu
Kultum Singkat Tentang Tata Cara Berdoa yang Sesuai Sunnah
Mendengarkan Ilmu dengan Penuh Konsentrasi

Kajian Ikatlah Ilmu dengan Tulisan ini disampaikan oleh Ustadz Muhamad Nuzul Dzikri Hafidzahullah di Masjid Al-Barkah Cileungsi pada tahun 1433 H / 2012 M.

Disyariatkan Mencatat Ilmu

Disyariatkannya mencatat/menulis ilmu yang disampaikan oleh seorang guru/pemateri. Hal ini perlu kita tekankan. Karena jangan sampai kita datang ke majelis ilmu dan membiarkan  ilmu tersebut menguap dari ingatan karena kita tidak mencatatnya. Kita akan berikan dalil bahwa ini bukan hanya sekedar adab yang ditekankan oleh para ulama. Namun adab ini berdasarkan Al-Qur’anul Karim dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dalil-dalil untuk mencatat ilmu

Adapun dari Al-Qur’anul Karim, maka sebagian para ulama meberikan dalil yang sangat mudah dan saya rasa kita semua sudah menghafalnya. Yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾

Yang telah mengajarkan manusia dengan qalam.” (QS. Al-‘Alaq[96]: 4)

Al-Imam Al-Qurthubi Rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini dengan perkataannya:

يعني الخط والكتابة أي علم الإنسان الخط بالقلم

“Maksud dari ayat ini adalah Allah mengajarkan manusia tulisan dengan menggunakan pena.”

Oleh karena itu Al-Imam Qatadah mengatakan:

القلم نعمة من الله عظيمة، لولا ذلك لم يقُـم دِيـن، ولـم يصلح عيش!

“Pena adalah nikmat yang sangat agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau tidak ada pena, maka agama ini tidak berdiri dengan kokoh dan kehidupan ini tidak berjalan dengan baik.”

Maksudnya adalah bahwa ilmu agama bisa sampai ke zaman kita ini karena dicatat di buku-buku para ulama. Penjelasan para ulama tercatat dengan rapi, maka sampai pada hari ini. Maka kalau tidak ada pena yang digunakan untuk menulis, agama ini tidak berdiri dengan kokoh, sunnah-sunnah Nabi akan tercecer, bahkan ayat-ayat Al-Qur’an akan berkurang dan seterusnya.

Oleh karena itu di antara yang dijadikan dalil adalah “Yang telah mengajarkan manusia dengan qalam,” karena salah satu fungsi Allah mengajarkan qalam kepada manusia adalah untuk eksistensi agamaNya. Sehingga agama itu tercatat, umat Islam menulis ilmu agama, lalu ia warisi ke generasi berikutnya.

Di antara dalil yang lain adalah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dikeluarkan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah (catatlah) ilmu dengan tulisan.” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr)

Jadi mencatat ketika kita belajar adalah perintah Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bukan hanya himbauan para ulama. Oleh karena itu Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Ulama telah berijma’ bolehnya menulis ilmu.” Bahkan kata beliau: “Hukum menulis ilmu sunnah bahkan bisa wajib bagi orang yang rentan salah (mungkin hafalannya tidak kuat) dan dia harus menyampaikan kepada orang.”

Amalkanlah sunnah ini sebagaimana kita mengamalkan sunnah-sunnah Nabi yang lain. Hal ini penting. Para ulama sampai mengatakan:

العلم صيد و الكتابة قيده * قيد صيودك با الحبال الواثقه

“Ilmu itu ibarat binatang buruan, dan tulisan adalah tali yang mengikat binatang buruan tersebut. Maka ikatlah buruan-buruan dengan tali yang kokoh dan kuat.”

Ketika datang ke majelis ilmu, bawa senjata yang lengkap, jangan tangan kosong. Bawa bolpen, bawa buku tulis, bawa penghapus, bawa tipe-x, bawa penggaris, bawa pensil dan seterusnya. Jadi memang benar-benar kita mau belajar. Karena ini adalah ilmu yang menentukan dunia dan akhirat kita. Kita belajar matematika saja alat tulisnya komplit, apalagi Al-Qur’an dan Sunnah.

Di antara dalil yang menjelaskan masalah ini -kata para ulama- adalah perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada sebagian para sahabatnya untuk mencatat dan menulis Al-Qur’anul Karim. Oleh karena itu kita mengenal penulis-penulis wahyu seperti Zaid bin Tsabit, Muawiyah bin Abi Sufyan dan lain sebagainya. Padahal Allah sudah menggaransi/menjamin akan menjaga Al-Qur’anul Karim. Allah berfirman dalam surat Al-Hijr ayat 9::

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴿٩﴾

Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’anul Karim dan Kami yang akan menjaganya.” (QS. Al-Hijr[15]: 9)

Walaupun demikian, Nabi tetap memerintahkan para sahabatnya untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’anul Karim. Ulama menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan tulisan di dalam dunia ilmu.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa bukankah ada larangan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mencatat apa yang berasal dari beliau/untuk mencatat sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Sebagai hadits riwayat Imam Muslim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لا تَكْتُبُوا عَنِّي، ومَن كَتَبَ عَنِّي غيرَ القُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

“Janganlah kalian tulis sesuatu yang berasal dariku. Barangsiapa yang menulis dariku selain Al-Qur’anul Karim, maka hapuslah tulisannya.” (HR. Muslim)

Para ulama memaparkan sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan yang lain bahwa larangan ini disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diawal-awal kenabian beliau. Sebabnya adalah beliau khawatir hadits-hadits beliau tercampur aduk dengan ayat-ayat Al-Qur’anul Karim. Lalu diakhir masa beliau, larangan ini pun dihapus dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membolehkan para sahabatnya untuk mencatat ilmu yang berasal dari beliau, membolehkan para sahabat mencatat sunnah-sunnah dari beliau. Dan telah dinukil ijma’ tentang masalah ini sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Al-Qadhi Iyadh bahwa telah terjadi ijma’ bolehnya mencatat dan membukukan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan ulama mengatakan kalau tidak boleh dicatat, maka akan tercecer ilmu yang sangat amat banyak.

Al-Imam Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah pun juga mengatakan bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Sampaikan dariku walaupun satu ayat,” itupun dalil yang menunjukkan bahwa diakhir masa kenabian, Nabi membolehkan umatnya untuk mencatat seluruh hal yang berasal dari beliau dan menyampaikan kepada orang lain. Jadi tidak ada kontradiksi sama sekali.

Nasihat Para Ulama

Menit ke-12:56 Ketahuilah bahwa para ulama kita, mulai dari sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, senantiasa menasihati kita untuk mencatat ilmu yang kita dengar.

‘Umar bin Khattab Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu mengatakan:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah (catatlah) ilmu dengan tulisan.”

Nasihat beliau sama persis dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Begitu juga dengan nasihat ‘Ali bin Abi Thalib, beliau pun mengatakan:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah (catatlah) ilmu dengan tulisan.”

Ini juga yang diucapkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas, beliau mengatakan:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah (catatlah) ilmu dengan tulisan.”

Subhanallah..  حَبْر الأمَّة, orang nomor satu dalam ilmu tafsir, ‘Abdullah bin ‘Abbas yang ilmunya laksana samudera, beliau masih menasihati kita untuk menulis ilmu yang telah kita dapatkan. Dan kita tahu bersama kekuatan hafalan para sahabat sangat jauh melebihi kita. Jadi kalau mereka saling menasihati satu dengan yang lain untuk mencatat ilmu tersebut, bagaimana dengan orang sekarang?

Begitu juga dengan Anas bin Malik, beliau pernah memberikan wasiat kepada anak-anaknya:

يا بَنيَّ ! قَيِّدوا العِلمَ بالكِتابِ

“Wahai anakku, ikatlah ilmu tersebut dengan tulisan.”

Jadi benar-benar ditekankan oleh para ulama. Bahkan Al-Imam Asy-Sya’bi dan Al-Imam Adh-Dhahhak pernah mengatakan:

إِذَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَاكْتُبْهُ وَلَوْ فِي الْحَائِطِ

“Apabila engkau mendengar sebuah ilmu, maka tulislah walaupun di dinding.”

Ini menunjukkan betapa pentingnya mencatat. Kalau tidak ada kertas karena habis, cari media lain. Subhanallah.

Al-Imam Muawiyah bin Qurrah pernah mengatakan:

من لم يكتب العلم فلا تعدّ علمه علماً

“Barangsiapa yang tidak mencatat ilmu yang ia dengar/yang ia pelajari, makanya jangan dianggap seorang ulama.”

Jangan masukkan dia dalam keluarga besar ulama. Karena ulama itu mencatat. Orang yang tidak mencatat ilmunya, itu akan jatuh dalam kesalahan dia akan lupa.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in mengatakan:

كلُّ مَن لا يكتُبُ العلمَ لا يُؤمَنُ عليه الغلطُ

“Setiap orang yang tidak mencatat ilmunya, maka dia tidak aman dari kesalahan.” Artinya dia rentan terjatuh kedalam kesalahan. Karena bagaimana dengan daya ingat kita? Subhanallah.. Daya ingat kita sangat terbatas, bukan seperti para ulama. Dan ulama saja mencatat, apalagi kita?

Teladan para ulama dalam menulis ilmu

Menit ke-17:29 Inilah yang dikatakan oleh para ulama kita. Dan nasihat mereka bukan isapan jempol semata. Namun benar-benar mereka praktikkan.

Al-Imam Az-Zuhri

Al-Imam Az-Zuhri adalah ulama besar, apa yang beliau lakukan?

إن الزهري ربما كتب الحديث في ظهر نعله مخافة أن يفوته

“Sesungguhnya Al-Imam Az-Zuhri itu terkadang menulis hadits di punggung sendalnya, khawatir dia lupa terhadap hadits tersebut.”

Lagi mendengar hadits tidak membawa buku, tidak membawa kertas, tidak ada pelepah kurma, maka dia tulis di atas sendalnya. Subhanallah. Lihat bagaimana para ulama, ini imam besar ilmu hadits, hafalannya luar biasa, siapa yang tidak kenal Imam Az-Zuhri? Namun masih saja khawatir lupa. Ini yang harus kita renungkan.

Lihat bagaimana para ulama mengamalkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka benar-benar mengamalkan hadits sesuai dengan kemampuan mereka. Kalau tidak ada apa-apa kecuali sendal, ya sudah tulis saja di sendal.

Sa’id bin Jubair

Sa’id bin Jubir adalah salah satu muridnya ‘Abdullah bin ‘Abbas dan salah satu orang yang mendapatkan rekomendasi oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas dan telah diizinkan berfatwa walaupun dia sedang bersama ‘Abdullah bin ‘Abbas.

Sa’id bin Jubair pernah menceritakan bagaimana beliau menuntut ilmu dengan ‘Abdullah bin ‘Abbas, beliau mengatakan:

ربما أتيت ابن عباس فكتبت في صحيفتي حتى أملأها، وكتبت في نعلي حتى أملأها، وكتبت في كفي

“Terkadang ketika aku mendatangi ‘Abdullah bin ‘Abbas, aku mencatat ilmu dari beliau dan aku catat di buku tulisku sampai aku habiskan buku tulis tersebut. Ketika buku telah habis, maka aku catat di sendalku sampai sendalku penuh dengan tulisan. Akhirnya aku catat di telapak tanganku.”

Subhanallah. Ulama, orang yang direkomendasikan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas, orang yang memiliki daya ingat yang luar biasa masih mencatat, bagaimana dengan kita? Maka hendaklah kita catat baik-baik ilmu yang diberikan oleh guru/ustadz-ustadz kita.

Imam Asy-Syafi’i

Muhammad bin Idris Rahimahullahu Ta’ala, ulama yang sangat luar biasa. Beliau menceritakan bagaimana beliau menuntut ilmu agama. Beliau mengatakan:

فكنت أجالس العلماء، وكنت أسمع الحديث أو المسألة فأحفظها، ولم يكن عند أمي ما تُعطيني أشتري به قراطيس، فكنت إذا رأيت عظمًا يلوح، آخذه فأكتب فيه

“Aku dahulu duduk bersama para ulama, dan aku mendengarkan hadits atau permasalahan-permasalahan agama dari para ulama tersebut, maka aku menghafalkannya. Dan pada saat itu ibuku tidak punya uang untuk membelikan kertas untuk menulis. Oleh karena itu apabila aku berjalan dan aku melihat ada tulang, maka aku ambil tulang tersebut dan aku tulis ilmu di tulang-belulang itu.”

Padahal daya ingat beliau luar biasa. Bahkan dikisahkan kalau beliau membaca buku dan beliau membaca halaman pertama, maka beliau menutup halaman kedua dengan tangan beliau. Beliau melakukan hal tersebut karena khawatir terbaca lalu terhafal. Dan kalau terhafal, maka hafalan di otak beliau itu berantakan, yang harusnya ada di halaman kedua menjadi halaman pertama. Subhanallah.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih punya alasan untuk tidak mencatat? Maka perlu dicatat karena hafalan kita tidak seperti Imam Syafi’i. Dan kita harus memiliki keinginan untuk memiliki dan menambah ilmu. Bagaimana tidak menginginkan penambahan ilmu, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu di antara kalian.” (QS. Al-Mujadilah[58]: 11)

Semakin dalam ilmu kita, maka semakin tinggi kedudukan kita di hadapan Allah. Mengapa kita malas mencatat?

Abu Qilabah mengatakan:

الكتاب أحب إلي من النسيان

“Menulis lebih aku sukai daripada lupa.”

Jadi lebih baik aku capek menulis daripada ilmu tersebut lupa dari ingatanku. Karena kalau aku tidak memiliki ilmu, maka kedudukanku di hadapan Allah pun sesuai dengan rendahnya ilmuku tersebut.

Catatlah ilmu, karena ilmu itu akan hilang kalau kita tidak mencatat. Yang saya sebutkan adalah ulama-ulama besar, Al-Imam Az-Zuhri, Sa’id bin Jubari, Al-Imam Syafi’i, orang-orang yang memiliki kelebihan dan kemampuan yang begitu luar biasa dalam daya ingat, namun  mereka masih mencatat, mereka masih menulis. Maka kita hendaklah menulis.

Dan ingat, ini Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu orang yang mengaku Ahlus Sunnah harus berusaha mengamalkan Sunnah ini di majelis ilmu. Karena ini perintah “Ikatlah ilmu itu dengan tulisan.” Apalagi sarana sekarang Subhanallah. Ada yang dengan cara klasik, dengan bolpen, dengan buku tulis. Ada yang mencatatnya mungkin di Blackberry, ada yang mencatatnya di iPad, ada di tablet dan lain sebagainya, ini adalah sarana yang begitu luar biasa, ada yang mencatatnya di laptop.

Intinya catat ilmu tersebut, jangan sampai hilang. Karena ilmu ibarat binatang buruan, maka ikatlah binatang tersebut dengan tali yang kokoh. Ulama mengatakan: “Dan salah satu bentuk kebodohan apabila kita memburu seekor kijang dan kita mendapatkannya lalu tidak kita ikat sehingga kijang itu kembali lari ke hutan.”

Jadi catatlah dan ikatlah ilmu tersebut. Dan inilah adab yang bisa kita bahas pada kesempatan kali ini, insyaAllah di kesempatan berikutnya kita akan lanjutkan dengan adab yang berikutnya.

Lihat juga: Motivasi Menulis “Pentingnya Berdakwah Melalui Tulisan”

Mp3 Kajian Ikatlah Ilmu dengan tulisan

Sumber: radiorodja.com

Silahkan dibagikan, semoga bermanfaat dan menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

Ada yang bisa saya bantu?

Ahlan, ada yang bisa saya bantu? 00.00