Penjelasan Tingkatan Iman dan Ihsan

Penjelasan Tingkatan Iman dan Ihsan

pandai mendengar

Tulisan tentang "Penjelasan Tingkatan Iman dan Ihsan" ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang disampaikan ol

Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallah
Penjelasan Ibadah Khasyyah, Inabah, Isti’anah, Isti’adzah
Allah tidak Ridha Dipersekutukan dengan Apapun

Tulisan tentang “Penjelasan Tingkatan Iman dan Ihsan” ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

Sebelumnya: Penjelasan Islam, Iman dan Ihsan dari Hadits Jibril

Kajian Tentang Penjelasan Tingkatan Iman dan Ihsan

Mulai menit ke-23:26

Penjelasan tingkatan iman

Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang iman, beliau berkata: “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada Rasul-RasulNya, kepada hari akhirat, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menafsirkan dengan rukun iman.

Kita perhatikan enam perkara ini, ini tempatnya di hati. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala menafsirkan tentang iman, semuanya berkaitan dengan keyakinan yang tempatnya di hati. Adapun ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang Islam, maka beliau jelaskan tentang syariat-syariat yang dhahir; shalat, puasa, zakat, haji. Adapun iman berkaitan dengan aqidah, dengan keyakinan.

Dari sini kita bisa tahu perbedaan antara hakikat Islam dengan hakikat iman. Kita tahu juga perbedaan antara seorang muslim dan seorang mukmin. Oleh karenanya kalau kita baca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Sesungguhnya laki-laki Islam dan wanita-wanita Islam, dan laki-laki mukmin dan wanita-wanita mukminah.” (QS. Al-Ahzab[33]: 35)

Berarti ada beda antara lelaki muslim dengan lelaki mukmin, antara wanita muslim dengan wanita mukminah. Kalau begitu apa bedanya? Jawabannya kita tahu bedanya dengan mempelajari hadits Jibril. Bahwasanya kita berusaha menjawab perbedaan tersebut dengan bersandar kepada hadits Jibril. Yaitu muslim adalah orang yang melaksanakan syariat Islam yang dzahir (kelihatan). Tapi apakah cukup di sini? Tentunya tidak. Karena di sana ada orang-orang yang melakukan syariat dzahir, dia mungkin shalat, dia bayar zakat, dia puasa, tetapi hatinya menyelisihi itu semua, yaitu orang munafik.

Orang munafik yaitu yang melakukan syariat-syariat yang dzahir, dia mengucapkan syahdatain, dia shalat, dia zakat, dia puasa, bahkan mungkin dia haji, tapi batinnya menyelisihi itu semua, batinnya isinya kerusakan. Allah berfirman:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Jika datang kepada engkau orang-orang munafik (Wahai Muhammad), lantas mereka berkata: ‘Kami bersaksi sesungguhnya Engkau Muhammad benar-benar Rasul Allah’. Dan Allah sungguh mengetahui engkau adalah RasulNya; dan Allah bersaksi bahwasanya orang-orang munafik berdusta.” (QS. Al-Munafiqun[63]: 1)

Jadi mereka ngomongnya saja mengakui Rasulullah sebagai seorang Rasul, tapi hati mereka mengingkari. Dalam ayat yang lain, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Kalau orang-orang munafik bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami beriman” (menunjukkan seakan-akan mereka sama dengan orang beriman). Namun tatkala mereka bertemu dengan teman-temannya, bertemu dengan syaitan-syaitan mereka, maka mereka berkata: “Sesungguhnya kami itu sama dengan kalian, kami hanyalah mengejek orang-orang beriman (menampakkan seakan-akan beriman)“. (QS. Al-Baqarah[2]: 14)

Dalam ayat yang lain, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يُرَاءُونَ النَّاسَ

Orang-orang munafik itu beramal shalih, tapi batinnya menyelisihi, mereka hanya riya’ (ingin dipuji manusia).” (QS. An-Nisa'[4]: 142)

Oleh karenanya amal yang dilakukan oleh orang-orang munafik adalah hanya sekedar riya’. Adapun batin mereka, mereka menyelisihi.

Kadar keimanan minimal

Dari sini kita kembali kepada pertanyaan, siapakah seorang muslim? Maka jawabannya seorang muslim adalah seorang yang melaksanakan syariat-syariat Islam yang dzahir dan disamping itu dia punya kadar keimanan yang ada dalam hatinya yang bisa mensahkan Islamnya.  Ini harus ditambah. Orang muslim tidak hanya yang menjalankan syariat Islam secara dzahir, tapi dalam hatinya ada kadar keimanan yang minimal yang mensahkan Islamnya. Kenapa demikian? Yaitu supaya keluar orang munafik. Karena orang munafik sama, dzahirnya juga melaksanakan syariat Islam, tapi batinnya tidak kadar iman yang minimal yang mensahkan Islamnya.

Orang munafik juga shalat, puasa dan juga bersyahadatain, tetapi dia menyelisihi. Adapun orang muslim adalah orang yang shalat, yang puasa, yang membayar zakat, yang haji, mengucapkan syahadatain dan dalam hatinya ada kadar keimanan yang membenarkan atau mensahkan Islamnya.

Perhatikan di sini, tidak maksudnya imannya penuh, hatinya penuh dengan iman secara full, tidak, bukan begitu. Tapi ada kadar minimal yang menjadikan Islamnya itu sah. Apa sih kadar minimal yang menjadikan sahnya Islam? Yaitu keyakinan dengan pasti tentang rukun iman, bahwasanya dia tidak ada keraguan tentang iman kepada Allah, iman kepada kitab-kitab, iman kepada para Rasul, iman kepada hari akhirat, iman kepada takdir. Dia benar-benar yakin Allah itu ada, dia benar-benar yakin bahwasanya kitab-kitab diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia benar-benar yakin Allah mengutus para Rasul, dia benar-benar yakin bahwasanya akan ada hari kebangkitan, dia benar-benar yakin bahwasanya takdir telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak punya keraguan sama sekali tentang hal ini. Kalau ternyata ada keraguan tentang hal ini, hilang kepastian, maka dia bukan orang beriman dan dia bukan orang Islam, berarti Islamnya tidak sah, maka dia kufur. Karena Allah berfirman:

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa yang kufur kepada keimanan, maka amalnya akan gugur dan dia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 5)

Oleh karenanya seorang muslim tidak sah dikatakan dia seorang muslim kecuali dalam hatinya ada kadar minimal yang dia yakin bahwasanya rukun iman itu ada, tidak ada keraguan sama sekali.

Kita sudah mengetahui tentang Islam, sekarang kita berbicara derajat yang lebih tinggi, yaitu iman. Apa yang dimaksud dengan iman? Iman sama rukun iman tetapi memiliki kadar yang lebih tinggi, yaitu keimanan yang sudah kokoh, bukan hanya tidak ragu, tapi benar-benar kokoh iman mereka dalam hati mereka.

Oleh karena orang Islam yaitu adalah orang yang datang menjalankan syariat-syariat Islam yang dzahir dan di dalam hatinya ada kadar minimal yang mensahkan Islamnya. Adapun orang mukmin, kita jawab sesuai dengan berdasarkan hadits Jibril, yaitu orang mukmin adalah orang yang beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada para RasulNya, kepada hari akhirat, dan kepada takdir dan dia telah mengkokohkan imannya dalam hatinya. Imannya telah masuk dalam hatinya dan kokoh dalam hatinya, itulah orang mukmin.

Bukti kokohnya iman

Oleh karenanya kita tahu di antara bukti seorang imannya sudah kokoh, maka anggota tubuhnya akan baik. Makanya para ulama mengatakan:

كل مؤمن مسلم

“Setiap orang beriman, dia pasti seorang muslim.”

Karena kalau benar-benar imannya sudah kokoh dalam hatinya, sudah mengakar dalam hatinya, maka anggota tubuhnya pasti akan tunduk kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya para ulama mengatakan setiap mukmin pasti muslim, tetapi tidak sebaliknya. Apakah setiap muslim adalah mukmin? Jawabannya tidak. Apakah setiap orang yang menjalankan syariat Islam yang dzahir kemudian telah beriman? Pasti jawabannya tidak, yaitu kalau imannya ternyata belum kuat. Contohnya Allah berfirman:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا

Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman’.” (QS. Al-Hujurat[49]: 14)

Maka Allah tegur:

قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا

Katakanlah: ‘Kalian belum beriman, akan tetapi kalian hendaknya berucap ‘kami baru Islam’,” (QS. Al-Hujurat[49]: 14)

Artinya kalian masih berada di derajat yang rendah. Adapun derajat iman yang tinggi belum sampai, maka jangan kalian berkata “Kami sudah beriman.” Karena kalian belum msampai pada derajat keimanan. Tapi katakanlah “Kami sudah Islam.”

Dalam satu hadits, Sa’ad Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu suatu hari sedang berdiri di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Waktu itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang membagi-bagi pemberian. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memberi seseorang. Maka Sa’ad bertanya kepada Rasulullah:

يا رَسولَ اللهِ، ما لكَ عن فُلانٍ؟ فَواللَّهِ إنِّي لأَراهُ مُؤْمِنًا

“Ya Rasulullah, kenapa engkau tidak kasih pemberianmu kepada Si Fulan? Padahal menurut saya orang itu orang yang beriman.”

Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

أوْ مُسْلِمًا

“Mungkin dia muslim?”

Jadi waktu Sa’ad mengatakan “menurut saya dia beriman,” kata Nabi: “menurut saya dia muslim” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan hal ini. Karena berbeda antara derajat Islam dengan derajat iman. Kalau derajat Islam, derajatnya lebih rendah daripada derajat iman, derajat iman lebih tinggi.

Maka kalau kita sudah mengetahui bahwasanya derajat iman lebih tinggi daripada derajat Islam, maknanya bahwa tidak mungkin seorang bisa mencapai derajat yang lebih tinggi kecuali dia telah melewati derajat yang di bawahnya. Tidak mungkin seorang bisa sampai pada derajat iman kecuali dia telah sampai pada derajat Islam, baru kemudian dia beranjak kepada derajat yang lebih tinggi.

Maka kita kita semakin mempertegas perkataan para ulama: “Setiap mukmin adalah muslim,” benar setiap mukmin adalah muslim. Karena tidak mungkin seorang mencapai derajat iman kecuali telah melewati derajat Islam. Dan “tidak setiap muslim adalah mukmin,” benar, tidak semua orang muslim mencapai derajat mukmin.

Kalau demikian, maka seorang mukmin -berdasarkan hadits Jibril- adalah orang yang telah kokoh iman dalam hatinya, telah terpancang dalam imannya begitu kuat dalam hatinya dan anggota tubuhnya menjadi baik karena anggota tubuh itu hanyalah mengekor kepada kehendak-kehendak hati. Kalau imannya kuat pasti anggota tubuhnya juga ikut. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

“Ketahuilah di dalam tubuh ada segumpal daging, kalau segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh anggota tubuh, kalau rusak segumpal daging ini maka rusak pula seluruh anggota tubuh, ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati.”

Penjelasan derajat Al-Ihsan

Setelah kita membahas tentang derajat Islam, derajat iman, kita masuk pada pembahasan yang berikutnya, yaitu derajat yang lebih tinggi daripada dua derajat sebelumnya, yaitu derajat Al-Ihsan. Karena malaikat Jibril bertanya kepada Nabi: “Kabarkanlah kepadaku tentang al-ihsan.”

Al-Ihsan secara bahasa menunjukkan pada makna الإتقان والإجادة (manteb dan bagus). Oleh karenanya seorang tatkala mencapai derajat ihsan, berarti dia telah mencapai derajat إتقان dalam agamanya. Yaitu agamanya sudah matang, sudah mantab, sudah mencapai puncak yang derajatnya tinggi.

Kalau begitu apa yang dimaksud dengan al-ihsan dalam agama? Kapan seseorang dikatakan dia sudah mencapai derajat ihsan? Kapan dikatakan dia telah mencapai derajat yang tinggi? Kapan dikatakan dia sebagai seorang yang muhsin, yang sudah sangat baik dalam agamanya?

Maka malaikat Jibril bertanya kepada Nabi: “Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang ihsan (yaitu ihsan dalam agama)”

Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika kau tidak melihat Allah, maka Allah melihatmu,” yaitu bahwasanya engkau tatkala beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kondisimu seperti ini. Tatkala kau sedang beribadah kau menghadirkan perasaan seperti itu, yaitu kau merendah, khusyuk, merendah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, seakan-akan kau melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala engkau beribadah. Dan jika kau tidak melihat Allah, yakinlah Allah sedang melihatmu. Kalau matamu tidak bisa melihat Allah, yakinlah Allah sedang melihatmu. Sebagaimana firman Allah:

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ ﴿٢١٨﴾ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ ﴿٢١٩﴾

Dialah Allah yang melihat engkau tatkala engkau berdiri hendak shalat. Dan Dialah Allah yang telah melihat engkau tatkala engkau sedang sujud bersamma orang yang sujud dalam shalatmu.” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 218-219)

Jadi tatkala kita beribadah, kita yakin Allah sedang melihat kita sedang beribadah. Maka tatkala seorang hamba beribadah kepada Allah sampai pada derajat ini (yaitu seakan-akan dia melihat Allah, kalau tidak maka dia yakin Allah pasti melihat dia) maka dia telah mencapai derajat yang tinggi, derajat yang baik dalam agama ini.

Derajat ihsan ini, orang-orang terdahulu banyak telah mencapai derajat ihsan. Adapun orang-orang belakangan, maka tidak banyak yang mencapai derajat ihsan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ثُلَّةٌ مِّنَ الْأَوَّلِينَ ﴿١٣﴾ وَقَلِيلٌ مِّنَ الْآخِرِينَ ﴿١٤﴾

Bahwasanya derajat ihsan ini segolongan besar dari orang-orang terdahulu dan hanya sebagian kecil dari orang-orang yang belakangan.” (QS. Al-Waqi’ah[56]: 13-14)

Dan tatkala Allah menjelaskan bahwasanya yang mencapai derajat ihsan hanya sedikit dari orang-orang belakangan, ini bukan berarti menjadikan kita malas, menjadikan kita kemudian menjadi mundur, tidak. Bahkan ini semakin memotivasi kita untuk berusaha mencapai derajat tersebut, derajat yang tinggi. Dan Allah telah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjuang untuk menuju Kami, maka Kami akan membukakan jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang ihsan.” (QS. Al-‘Ankabut[29]: 69)

Maka seorang berusaha untuk berjuang bisa mencapai derajat ihsan. Dan cara yang paling tepat untuk bisa mencapai derajat ihsan yaitu seorang berusaha mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal nama-nama Allah yang Maha Indah, mengenal sifat-sifat Allah yang Maha Mulia, yang dimana Allah telah memperkenalkan diriNya kepada hamba-hambaNya dalam Al-Qur’an maupun dalam sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan nama-nama tersebut, dengan sifat-sifatNya tersebut. Maka seorang hamba tatkala Allah mengenalkan dirinya dan sifat-sifatNya, dia berusaha mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifatNya.

Dan semakin tinggi ma’rifat seorang hamba mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka semakin kuat imannya dalam hatinya dan lama-lama kemudian dia naik dan naik, akhirnya sampai pada derajat al-ihsan dan itqan. Sebagaimana perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Dan jika engkau tidak melihat Allah, yakinlah Allah melihatmu.”

Maka dari hadits Jibril ‘Alaihis Salam ini kita mengenal apa itu Islam, iman dan ihsan. Dan juga kita bisa membedakan apa itu muslim, apa itu mukmin dan apa itu muhsin.

Demikianlah para pemirsa yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kajian kita pada kesempatan siang hari ini di kota Madinah atau sore hari di tanah air. Dan insyaAllah kita berjumpa kembali pada kesempatan berikutnya.

Baca dari awal yuk: Mukadimah Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah

Mp3 Kajian Tentang Penjelasan Tingkatan Iman dan Ihsan

Sumber audio: radiorodja.com

Mari turut menyebarkan catatan kajian “Penjelasan Tingkatan Iman dan Ihsan” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: