Penjelasan Ibadah Khasyyah, Inabah, Isti’anah, Isti’adzah

Penjelasan Ibadah Khasyyah, Inabah, Isti’anah, Isti’adzah

pandai mendengar

Tulisan tentang "Penjelasan Ibadah Khasyyah, Inabah, Isti'anah, Isti’adzah" ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalats

Empat Perkara Yang Wajib Diketahui
Berilmu Sebelum Berkata dan Beramal
Selamat dari Keburukan dan Kerugian

Tulisan tentang “Penjelasan Ibadah Khasyyah, Inabah, Isti’anah, Isti’adzah” ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

Sebelumnya: Penjelasan Ibadah Khauf, Raja’, Tawakal, Ar-Raghbah, Ar-Rahbah, Al-Khusyu’

Kajian Tentang Penjelasan Ibadah Khasyyah, Inabah, Isti’anah, Isti’adzah

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahirabbil ‘alamin.. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, dan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hamba dan RasulNya. Semoga shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada beliau, kepada keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.

Para pemirsa dan para pendengar yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu Ta’ala mengatakan dalam kitabnya Al-Ushul Ats-Tsalatsah:

Dalil ibadah khasyyah

Dalil ibadah khasyyah adalah firman Allah Ta’ala:

فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي

Janganlah kalian takut kepada mereka, tapi takutlah kepadaKu.” (Al-Baqarah[2]: 150)

Mualif Rahimahullah membahas tentang ibadah khasyyah. Kalau diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia, yaitu takut. Khasyyah adalah ibadah yang berkenaan dengan hati. Ia berasal dari kalimat خشية, yaitu bentuk kata فعلة, dari kata-kata خشية شيئا (takut kepada sesuatu). Namun kata khasyyah di sini lebih khusus dari kata khauf (takut). Karena khasyyah adalah takut yang didasari oleh pengetahuan terhadap sesuatu yang ditakuti. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba Allah hanyalah para ulama.” (QS. Fatir[35]: 28)

Para ulama adalah ahli ilmu, orang-orang yang tahu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka merekalah yang takut kepadaNya. Oleh karenanya semakin seseorang bertambah pengentahuan tentang Allah, tentang nama-namaNya yang mulia, tentang sifat-sifatNya yang suci, maka dia akan bertambah ketakutannya kepada Allah. Semakin tinggi ketakutan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia akan semakin takut untuk melakukan sesuatu yang haram dan sesuatu yang mengandung dosa.

Oleh karenanya Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala mengatakan dalam sebagian kitabnya:

من كان بالله أعرف، كان منه أخوف، ولعبادته أطلب، وعن معصيته أبعد

“Barangsiapa yang lebih mengetahui tentang Allah, maka dia akan lebih takut kepadaNya dan dia akan lebih semangat untuk beribadah dan akan lebih jauh dari kemaksiatan-kemaksiatan kepadaNya.”

Oleh karenanya mengetahui Allah, mengetahui tentang nama dan sifat-sifatNya, ini akan menimbulkan rasa cinta kepada Allah, akan menimbulkan rasa khasyyah, rasa takut kepadaNya. Apabila di dalam hati seseorang ada rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka rasa tersebut akan menghantarkan dia kepada perbuatan-perbuatan baik, perbuatan-perbuatan yang mulia, dan juga akan menjadikan dia tidak terjatuh ke dalam perbuatan-perbuatan kemaksiatan.

Mualif Rahimahullah di sini mengatakan: “Dalil dari ibadah khasyyah,” bahwa khasyyah atau rasa takut ini tidak boleh diselewengkan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah firmanNya:

فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي

Janganlah kalian takut kepada mereka (kepada manusia), tapi takutlah hanya kepadaKu.” (Al-Baqarah[2]: 150)

Maksud dari ayat ini sangat jelas, bahwa hendaklah rasa takut kita hanya hanya kepada Allah semata. Jangan sampai takut kepada manusia. Karena seluruh perkara yang terjadi di dunia ini adalah atas kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ubun-ubun semua hamba Allah itu di tangan Allah dan keputusan-keputusan Allah lah yang akan berjalan di atas mereka. Maka hendaklah kita hanya takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena bagaimanapun kekuataan seorang hamba, bagaimanapun kekuasaan seorang hamba, dia tidak akan mampu untuk memberikan kita mudharat sedikit pun kecuali sesuatu yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَاعْلَم أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَت عَلَى أن يَنفَعُوكَ بِشيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَك

“Ingatlah, sesungguhnya apabila seluruh umat manusia itu berkumpul untuk membahayakan dirimu dengan sesuatu saja, mereka tidak akan mampu untuk memberikan kemudharatan itu kepadamu kecuali sesuatu yang telah dituliskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atasmu.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karenanya hendaklah kita mengumpulkan hati kita untuk fokus takut hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka rasa takut ini merupakan ibadah hati yang tidak boleh diselewengkan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ayatnya adalah فَلا تَخْشَوْهُمْ (janganlah kalian takut kepada mereka), ini adalah larangan. وَاخْشَوْنِي (tapi takutlah hanya kepadaKu), ini perintah. Di dalam ayat ini Allah melarang kita untuk takut kepada selainNya dan memerintahkan kepada kita untuk takut hanya kepadaNya.

Ini menunjukkan bahwa takut merupakan ibadah yang sangat agung dan apabila ibadah tersebut diselewengkan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itu merupakan perbuatan kesyirikan.

Dalil ibadah Inabah

Para pemirsa dan para pendengar yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian mualif Rahimahullah beranjak kepada ibadah yang selanjutnya. Beliau mengatakan: “Dalil dari ibadah inabah.”

Inabah artinya adalah kembali kepada Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Kembalilah kalian kepada Rabb kalian, serahkanlah diri kalian kepadaNya sebelum adzab menimpa kalian kemudian kalian tidak ditolong.” (QS. Az-Zumar[39]: 54)

Ibadah inabah atau -dalam bahasa Indonesia artinya- “kembali”, ini adalah ibadah yang berupa tindakan untuk kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dan makna inabah ini lebih luas daripada makna taubat. Karena ibadah inabah ini adalah ibadah taubat dan ditambah dengan sesuatu yang lainnya. Inabah (kembali kepada Allah) adalah taubat dan ditambah dengan ibadah yang lainnya. Karena ibadah taubat itu merupakan ibadah atau tindakan untuk kembali kepada Allah dengan meninggalkan dosa dan tidak kembali kepada dosa tersebut, ini taubat. Sedangkan inabah adalah kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan meninggalkan dosa sekaligus menghadapkan diri kepada Allah Jalla wa ‘Ala, melakukan ketaatan-ketaatan dan melakukan taqarrub-taqarrub kepada Allah.

Maka orang yang melakukan ibadah inabah, dialah orang yang kembali kepada Allah, orang yang menghadapkan hatinya kepada Allah, meninggalkan dosa-dosanya dan menggantinya dengan ketaatan, menggantinya dengan ibadah dan bermacam-macam amalan taqarrub kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ

“Kembalilah kalian kepada Rabb kalian,” maksudnya kembalilah kalian hanya kepada Rabb kalian. Karena inabah adalah ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah semata.

Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan ibadah ini, وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ (Kembalilah kalian kepadanya Rabb kalian dan serahkanlah diri kalian kepadaNy). Maksudnya adalah kembalilah kalian kepada Allah, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan menghadapkan diri kalian kepada ketaatan-ketaatan, dengan meninggalkan dosa-dosa dan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan berbagai macam ketaatan. Intinya bahwa inabah ini adalah ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Dalil ibadah isti’anah

Isti’anah artinya adalah meminta bantuan atau pertolongan. Di dalam kalimat istianah ini ada syin (ﺵ) dan syin di sini mengandung arti permintaan. Sebagaimana di dalam kalimat yang lainnya, misalnya al-istighatsah yang maksudnya adalah meminta keselamatan. Misalnya lagi al-istighfar yang artinya adalah meminta untuk diampuni dosanya. Misalnya al-isti’adzah, maksudnya adalah meminta untuk dilindungi. Disana ada kalimat istisqa’ yang maksudnya adalah meminta untuk diturunkan hujan.

Intinya bahwa syin di dalam kalimat-kalimat yang semacam ini artinya adalah untuk menunjukkan makna permintaan. Isti’anah artinya adalah meminta pertolongan. Ini merupakan ibadah.

Maka apabila kita menginginkan untuk meminta pertolongan di dalam maslahat apapun, baik maslahat agama ataupun maslahat dunia, maka harusnya kita hanya meminta pertolongan kepada Allah. Karena Allah lah satu-satunya Dzat yang dapat memberikan pertolongan kepada kita. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Dan Allah-lah tempat untuk meminta pertolongan.” (QS. Yusuf[12]: 18)

Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyabdakan kepada sahabat beliau Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, beliaau mengatakan: “Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu, maka janganlah sekali-kali engkau meninggalkan untuk mengatakan di akhir setiap shalatmmu:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, berilah pertolongan kepadaku untuk mengingatMu, untuk bersyukur kepadaMu dan untuk membaikkan ibadah-ibadah kepadaMu.” (HR. Abu Dawud)

Dan di antara doa yang dinukil dari Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah doa yang sangat terkenal:

رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ

“Ya Allah, bantulah aku, berilah pertolongan kepadaku, jangan sebaliknya.”

Ini merupakan doa yang sangat agung. Karena seluruh pertolongan yang datang kepada kita, semuanya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka barangsiapa yang menginginkan pertolongan di dalam hajat-hajatnya yang berhubungan dengan dunia seperti rezeki, seperti kehidupan yang baik atau hajat-hajat yang berhubungan dengan akhiratnya, seperti ibadah, seperti agar dibantu dalam ketaatan-ketaatan kepada Allah, maka jangan sampai dia meminta hal tersebut kepada selain Allah. Dia harus meminta hal tersebut hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hal-hal tersebut semuanya hanya di tangan Allah.

Isti’anah merupakan ibadah yang tidak boleh diselewengkan kepada selain Allah Jalla wa ‘Ala. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

KepadaMu kami beribadah dan kepadaMu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah[1]: 5)

Di dalam ayat ini,  إِيَّاكَ نَعْبُدُ (kepadamMu kami beribadah), maksudnya adalah kami beribadah kepadamu Ya Allah dan kami tidak beribadah kepada selainMu. Begitu pula dalam ayat: وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (kami meminta pertolongan kepadaMu Ya Allah, Dan kami tidak meminta pertolongan kepada selainMu). Di sini ada uslub hasyr (metode pembatasan) di dalam bahasa Arab. Ini di antara metode dalam bahasa Arab untuk membatasi suatu perbuatan, yaitu dengan mendahulukan objek daripada predikatnya. Seharusnya kata-katanya adalah: “Kami menyembahMu dan kami meminta pertolongan kepadaMu.” tapi ketika di balik: “KepadaMu kami beribadah dan kepadaMu kami meminta pertolongan.” Di dalam bahasa ARab akan menunjukkan makna pembatasan. Maksudnya adalah bahwa “hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan.”

Sehingga kata-kata إِيَّاكَ نَعْبُدُ itu artinya sama dengan kata-kata “Kami beribadah kepadaMu dan kami tidak beribadah kepada selainMu”. Begitu pula إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ yang artinya “Kami meminta pertolongan kepadaMu dan kami tidak meminta pertolongan kepada selainMu”.

Kata-kata إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (Kami hanya beribadah kepadaMu Ya Allah dan kami hanya meminta pertolongan kepadaMu Ya Allah), ini adalah perjanjian antara kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita mengulanginya di dalam shalat fardhu kita sampai 17 kali. Ini perjanjian antara kita dengan Allah. Kita berjanji bahwa kita tidak beribadah kecuali kepadaNya dan kita tidak meminta pertolongan kecuali hanya kepadaNya. Maka sudah menjadi keharusan bagi seorang muslim untuk menepati janji ini dan janji-janji yang lainnya secara umum. Tapi janji ini merupakan janji yang paling agung, janji untuk beribadah hanya kepada Allah dan janji untuk meminta pertolongan hanya kepadaNya. Maka hendaklah kita menepati janji yang paling agung ini dengan sesempurna mungkin agar kita mendapatkan kemuliaan di sisiNya.

Dalil ibadah isti’adzah

Dalil dari isti’adzah adalah firman Allah:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Rabbnya manusia.’” (QS. An-Nas[114]: 1)

Ibadah ini berarti ibadah untuk meminta perlindungan dari sesuatu yang kita takuti. Isti’adzah adalah menyandarkan perlindungan kepada sesuatu yang menjadi tujuan permintaan kita dari sesuatu yang kita takuti. Sehingga ibadah isti’adzah ini adalah meminta untuk dilindungi. Itu merupakan tindakan lari dari sesuatu yang kita takuti. Dan larinya kepada seseorang atau Dzat yang bisa melindungi dan menyelamatkan kita, yaitu Allah.

Seorang muslim harus selalu lari untuk meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Barangsiapa yang beri’tisham kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia telah diberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 101)

Isti’adzah merupakan ibadah, meminta pertolongan dan perlindungan dari sesuatu yang kita takuti. Hendaklah kita meminta perlindungan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan di sana ada banyak contoh-contoh yang diberikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam beristi’adzah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari keburukan-keburukan yang sangat banyak disebutkan dalam hadits-haditsnya.

Dalil dari ibadah isti’adzah ini adalah firman Allah Ta’ala:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

Katakanlah Wahai Muhammad: ‘Aku berlindung kepada Rabbnya falaq.’” (QS. Al-Fa laq[113]: )

Kemudian:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Katakanlah Wahai Muhammad: ‘Aku berlindung kepada Rabbnya manusia (maksudnya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala)’” (QS. An-Nas[114]: 1)

Dari sini kita mengetahui bahwa makna isti’adzah adalah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari sesuatu yang dibenci oleh manusia. Ini berbeda dengan makna لياذة (liyadzah). Liyadzah adalah berlindung dari sesuatu yang diinginkan/dicintai. Ini perbedaan antara liyadzah dengan isit’adzah.

Kita cukupkan kajian kita pada hari ini sampai disini. Dan kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan semua kebaikan kepada kita semuanya.

Selanjutnya: Penjelasan Ibadah Istighatsah dan Menyembelih

Baca dari awal yuk: Mukadimah Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah

Mp3 Kajian Penjelasan Ibadah Khasyyah, Inabah, Isti’anah, Isti’adzah

Sumber audio: radiorodja.com

Mari turut menyebarkan catatan kajian “Khasyyah, Inabah, Isti’anah, Isti’adzah” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: