Teks Khutbah Jumat Bahaya Merayakan Malam Tahun Baru

Teks Khutbah Jumat Bahaya Merayakan Malam Tahun Baru

Teks Khutbah Jumat Bahaya Merayakan Malam Tahun Baru ini disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Khutbah Pertama - Teks Khutba

Khutbah Jumat Menyentuh Hati Tentang Kegembiraan dan Kesedihan Seorang Muslim
Teks Khutbah Jumat Singkat Tentang Tiga Hikmah Dibalik Turunnya Hujan
Khutbah Jum’at: Sebab Datang dan Hilangnya Hidayah Allah

Teks Khutbah Jumat Bahaya Merayakan Malam Tahun Baru ini disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Silahkan daftar atau login(GRATIS) terlebih dahulu untuk men-copy..

Khutbah Pertama – Teks Khutbah Jumat Bahaya Merayakan Malam Tahun Baru

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Ummatal Islam,

Sesungguhnya pergantian tahun tidak ada bedanya dengan pergantian bulan dan pergantian hari demi hari. Ia berjalan menuju waktu yang telah Allah tentukan. Ia berjalan menuju ketentuan Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah menuju suatu hari yang Allah tegakkan padanya kiamat, yang Allah perintahkan Israfil untuk meniup sangkakala. Disaat itu manusia akan hancur dan mati semuanya. Kemudian Allah bangkitkan untuk dimintai pertanggungjawaban mereka kelak pada hari kiamat di padang mahsyar.

Tidak ada keistimewaan pergantian tahun dengan pergantian abad ataupun yang lainnya.

Sesungguhnya ya Ummatal Islam, semakin datang tahun seharusnya mengingatkan kita kepada kematian. Bahwasannya ajal kita semakin dekat. Bila Anda ditakdirkan oleh Allah untuk meninggal -misalnya- pada tahun 2020, dengan datangnya waktu, semakin berjalannya bulan, demikian pula hari dan tahun, berarti ajal itu semakin dekat.

Tidakkah seorang hamba berpikir bahwasannya apa yang akan ia bawa kelak menuju kematiannya? Apa persiapan yang ia telah siapkan menuju kematiannya? Apakah dengan pergantian tahun dia pun bersorak-sorai, diapun bergembira, dia pun kemudian menghambur-hamburkan harta dan waktu tak ada manfaatnya, menambah dosa di sisi Allah, menambah hal-hal yang sesuatu yang ia tidak sukai untuk melihatnya kelak setelah ia meninggal dunia.

Ummatal Islam,

Sesungguhnya pergantian hari dan waktu adalah merupakan kebesaran dan merupakan tanda akan kebesaran Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah. Bukankah Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّـهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi mereka yang diberikan akal pikiran. Yaitu mereka yang senantiasa berdzikir kepada Allah ketika ia berdiri, ketika ia duduk, dan ketika ia berbaring. Lalu ia pun memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya ia bergumam, ‘Wahai Rabb kami, Maha Suci engkau, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau ya Allah, maka peliharalah kami dari adzab neraka.” (QS. Ali-Imran[3]: 191)

Itulah ucapan seorang mukmin ketika ia mengetahui bagaimana kebesaran Allah. Allah menjalankan roda waktu kemudian Allah membolak-balikan kehidupan manusia. Hari ini kita tertawa, entah besok kita menangis. Hari ini kita diberikan kemudahan, entah mungkin besok kita akan diberikan kesulitan. Hari ini kita diberikan kekayaan, kesenangan, mungkin besok lusa kita diberikan kemiskinan dan kesulitan. Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mentakdirkan segala sesuatu:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Demikianlah hari-hari Kami silih-gantikan kepada manusia -kata Allah Subhanahu wa Ta’ala-” (QS. Ali-Imran[3]: 140)

Ummatal Islam,

Namun mengapa, banyak umat Islam yang ikut bergembira ria dengan merayakan malam tahun baru? Apakah dengan merayakannya itu akan memberikan manfaat untuk agamanya? Apakah dengan merayakan itu akan bisa menambahkan keimanannya? Ataukah dengan merayakannya itu dia akan diridhai oleh Allah Maha Pencipta segala sesuatu? Tidaklah kita berpikir Ya ummat Islam, Apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam panutan kita, orang yang paling kita cintai pernah merayakan malam tahun baru, pergantian tahun demi tahun?

Ummat Islam,

Sesungguhnya dalam merayakan tahun baru banyak mudharat dan bahayanya. Adapun mudharatnya:

Yang pertama, kita termasuk orang-orang yang menyerupai orang-orang kuffar. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” kata Rasulullah..

Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. Merayakan tahun baru bukanlah kebiasaan kaum muslimin. Ia berasal dari orang-orang kafirin.

Ummat Islam,

Maka orang-orang muslim tidak boleh menyerupai orang-orang kafir. Hendaklah ia berbangga dengan agamanya, hendaklah ia bergembira dengan kitab sucinya, hendaklah ia berbangga bahwasanya Allah turunkan kepada dia Al-Qur’an, Sunnah dan agama yang haq yang berasal dari pencipta alam semesta. Allah berfirman:

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ

Tidakkah mencukupi buat mereka bahwa Kami turunkan kepada mereka Al-Qur’an ini.” (QS. Al-Ankabut[29]: 51)

Apakah tidak cukup -saudaraku- sehingga harus kita mengadakan perayaan-perayaan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah bahkan kemudian menyerupai orang-orang yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Didalam shahih Bukhari ada seorang Yahudi berkata kepada Umar Bin Khattab, “Wahai Amirul Mukminin, ada satu ayat dalam kitab kalian, kalaulah ayat itu turun kepada kami orang-orang Yahudi niscaya kami akan jadikan ia sebagai perayaan.” Lihat, orang-orang Yahudi mengatakan, “kalaulah ayat itu turun kepada kami orang-orang Yahudi, kami akan jadikan sebagai perayaan.” Itu menunjukkan -Ya Akhi- kebiasaan menjadikan atau merayakan sesuatu itu bukan dari Islam. Islam hanya mensyariatkan kepada kita dua hari raya. Hari Idul Fitri dan Idul Adha. Maka ini bahaya yang pertama. Yaitu menyerupai orang-orang kafirin.

Yang kedua kita telah berbuat bid’ah dalam agama. Karena perayaan itu termasuk pensyariatan, saudaraku. Ketika Rasulullah sampai ke Kota Madinah, didapati orang-orang Anshar sedang merayakan 2 perayaan mereka. Kemudian Rasulullah bertanya, “apa ini?”, kata mereka, “Ini adalah hari raya kami ya Rasulullah, kami bermain padanya.”, maka Rasulullah bersabda, “Allah telah menggantikan untuk kalian dengan yang lebih baik dari itu, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.”

Ummatal Islam,

Maka siapa yang mengadakan perayaan sesuatu yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan RasulNya, maka ia telah membuat syariat yang tidak pernah diizinkan oleh Allah dan RasulNya. Allah berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّـهُ

Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu bagi Allah yang memberikan syariat kepada mereka sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?” (QS. Asy-Syura[42]: 21)

Diantara mudharatnya, saudaraku.. Yaitu berbuat maksiat kepada Allah. Kita dapati mereka merayakan tahun baru bercampur padanya laki-laki dan wanita, mereka tidak peduli dengan batasan-batasan Allah, mereka pun berbuat maksiat kepada Allah.

Diantara bahayanya, ya akhi.. Menghamburkan harta sia-sia. Membeli petasan untuk kemudian dibunyikan sehingga mengganggu orang yang sedang tidur. Dia telah mendapatkan 2 dosa. Dosa yang pertama menghambur-hamburkan harta percuma. Bukankah Allah berfirman:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Sesungguhnya orang yang mubazir, orang yang berbuat boros terhadap hartanya, itu termasuk teman-temannya setan,” kata Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang kedua ia mengganggu orang, mengganggu orang yang sedang istirahat dengan suara-suara yang membuat pekak telinga. Mereka tidak sadar bahwa itu adalah perbuatan dosa.

Kemudian diantara bahayanya, ya akhi.. Menghambur-hamburkan waktu percuma, sia-sia. Seorang muslim adalah orang yang paling pelit waktunya. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Diantara tanda kebaikan Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi)

Seorang muslim adalah orang yang paling pelit waktunya.
“Diantara tanda kebaikan Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi)

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.
www.ngaji.id/klik/34

Bukankah lebih baik kita lewati malam itu seperti malam-malam yang lainnya? Dengan kita tahajud kepada Allah, dengan kita bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, sama dengan malam yang lainnya, tidak ada bedanya sama sekali, tidak ada keistimewaan sama sekali, saudaraku.

Namun dilain pihak, ketika sebagian orang yang begitu semangat beribadah kepada Allah melihat saudara-saudaranya kaum muslimin meniup terompet kemudian berbaur dan berbuat maksiat, mereka berfikir bagaimana membuat ibadah, sesuatu yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga lalu mereka membuat dzikir berjamaah.

Mereka berkata, “Dari pada kita berbuat maksiat kepada Allah, mendingan kita berkumpul dan berdzikir berjamaah di sini.” Subhanallah, apakah maksiat akan dibalas dengan kebid’ahan, ya Akhi?

Kaidah yang harus kita pahami, ya Akhi.. Bahwasanya maksiat tidak boleh dibalas dengan kebid’ahan, maksiat itu dibalas dengan ketaatan kepada Allah. Yaitu dengan cara meyakini bahwasanya malam tahun baru tidak ada keistimewaan sama sekali, kita lewati sama seperti malam-malam yang lainnya, kita yakini sama seperti pergantian hari demi hari, bulan demi bulan, tidak ada keistimewaan sama sekali, ikhwatal Islam..

Maka dari itulah, seorang mukmin hendaklah bertaqwa kepada Allah. Seorang mukmin hendaklah senantiasa ittiba’ sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berbangga dan mencukupkan diri dengan agama yang Allah turunkan kepada RasulNya.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

Khutbah Kedua – Teks Khutbah Jumat Bahaya Merayakan Malam Tahun Baru

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Ummatal Islam,

Diantara bahaya merayakan malam tahun baru, terutama malam tahun baru Masehi. Yaitu meridhakan orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani sangat ridha, sangat ingin kaum muslimin mengikuti millah dan tata cara mereka. Bukankah Allah berfirman:

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Tidak akan pernah orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani ridha kepada kalian sampai kalian mengikuti millah dan tata cara beragama mereka.”

Allah tidak mengatakan, “Sampai kalian masuk kepada agama mereka.” Bahkan kalian mengikuti tata cara mereka saja mereka sudah bergembira, mereka sudah ridha.

Subhanallah, seharusnya kita meridhakan Allah, bukan meridhakan mereka orang-orang yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diantara kemudharatan (bahaya) daripada merayakan tahun baru bahwasannya kita telah mengikuti millah atau tata cara beragama selain Islam. Dan itu bisa menyeret kita sedikit demi sedikit kepada kekufuran. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تُطِيعُوا فَرِيقًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ ﴿١٠٠﴾

Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian mentaati sebagian ahli kitab itu, niscaya mereka akan mengembalikan kalian setelah keimanan yang menuju kekafiran.” (QS. Ali-Imran[3]: 100)

Allah mengatakan, saudaraku..

Bahwa kita apabila mentaati tata cara kehidupan mereka dan beragama mereka, maka kita akan dikembalikan sedikit demi sedikit dari keimanan menuju kekufuran. Lalu Allah berfirman:

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ

Bagaimana kalian akan menjadi kafir?“, artinya kekafiran jauh dari kalian. Kapan?

وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّـهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ

Sementara kalian dibacakan ayat-ayat Allah dan pada kalian Rasul-Nya.“, setelah Rasulullah meninggal, ada sunnahnya.

وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّـهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Siapa yang berpegang kepada agama Allah, maka ia telah diberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali-Imran[3]: 101)

Allah mengatakan bahwa senantiasa seseorang berpegang kepada agamanya, ia tidak akan kafir. Tapi ketika seseorang mengikuti tata cara (millah) daripada orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka ia akan dikembalikan kepada kekafiran.

Tidakkah kita melihat banyak sekali mudharat-mudharat yang ada? Seorang mukmin takut apabila agamanya rusak dan hancur. Ia segera lari membawa agamanya, menyelamatkan akhiratnya, baginya agamanya adalah segala-galanya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ، وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، وَيَا قَادِيَ الْحَاجَاتِ

اللهم اهدي شباب المسلمين، ووفقهم لما تحب وترضى يا رب العالمين

اللهم وفق ولاة أمور المسلمين في هذا البلد، وفي سائر بلاد المسلمين يا رب العالمين ..

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَآخِرُ دَعْوَانَ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Audio Khutbah Jumat Bahaya Merayakan Malam Tahun Baru

Sumber audio: Radio Rodja 756AM.
Download Khutbah Ustadz Badrusalam – 20110114 – Khutbah Jumat – Bahaya Merayakan Malam Tahun Baru.mp3

COMMENTS

WORDPRESS: 0
Login/daftar untuk men-copy (GRATIS)
%d blogger menyukai ini: