Tidak Ada Ilah Yang Berhak Disembah Kecuali Allah – Tafsir Surat Muhammad Ayat 19

Tidak Ada Ilah Yang Berhak Disembah Kecuali Allah – Tafsir Surat Muhammad Ayat 19

ceramah tentang gowes

Tidak Ada Ilah Yang Berhak Disembah Kecuali Allah - Tafsir Surat Muhammad Ayat 19 ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-T

Buku Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu – Syarah Hilyah Thalibil Ilmi
Muqaddimah 2 Silsilah Amalan Dan Penyakit Hati
Materi Ceramah Singkat: Ceramah Tentang Menuntut Ilmu

Tidak Ada Ilah Yang Berhak Disembah Kecuali Allah – Tafsir Surat Muhammad Ayat 19 ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

Lihat juga: Mukadimah Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah

Kajian Tentang Tidak Ada Ilah Yang Berhak Disembah Kecuali Allah – Tafsir Surat Muhammad Ayat 19

Menit ke-3:59 Bismillahirrahmanirrahim.. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya.

Kaum muslimin dan muslimat yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, pada siang hari ini kita akan melanjutkan kajian kita pada kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah dan kita telah sampai pada pembahasan tentang ayat:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ…

Ayat ini merupakan ayat yang mulia, ayat yang agung, yang mengandung makna-makna yang agung, yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ…

Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah.”

Apakah yang dimaksud dengan firman Allah فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ? Apakah yang dimaksud di sini sekedar seseorang mengetahui lafadz dari lafadz-lafadz kalimat Laa Ilaaha Illallah? Ataukah yang dimaksud dengan mengetahui dari La Ilaha Illallah adalah memahami maknanya, memahami maksudnya dan tujuan dari kalimat La Ilaha Illallah dengan pemahaman yang benar?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran dan mereka mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 86)

Berkata para ahli tafsir dalam menafsirkan ayat إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ adalah:

إلا منْ شهِد بلا إله إلا الله وهم يعلمون معنى ما شهد به

“Kecuali orang yang bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan mereka mengetahui makna apa yang mereka persaksikan.”

Jadi, orang yang melafadzkan Laa Ilaaha Illallah itu tidak cukup sekedar mengucapkan hanya dengan lisan. Akan tetapi seseorang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah harus mengetahui makna dari kalimat ini, mengetahui maksud dan kandungan dari kalimat ini, yaitu tauhid dan ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kewajiban untuk mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah dan berlepas diri dari kesyirikan serta mensucikan diri dari segala bentuk kesyirikan.

Dan kalimat kalimat Laa Ilaaha Illallah dibangun diatas dua rukun. Rukun yang pertama yaitu nafi (peniadaan), rukun yang kedua yaitu itsbat (penetapan). Dan tidak termasuk orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan benar apabila dia tidak mengetahui apa yang dikandung oleh kalimat ini. Kalimat ini mengandung dua rukun; rukun yang pertama yaitu peniadaan dan rukun yang kedua yaitu penetapan.

Dan tidaklah seseorang dikatakan muslim yang hakiki apabila dia tidak mengetahui apa yang dia tiadakan dan apa yang dia tetapkan. Maka orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah akan tetapi tidak mengetahui makna apa yang dia ucapkan, ini tidak disebut sebagai muslim yang benar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ…

Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah.”

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyaratkan bagi seorang hamba untuk mengetahui makna dari Laa Ilaaha Illallah. Laa Ilaaha Illallah awalnya adalah peniadaan dan akhirnya adalah penetapan. Peniadaan dari segala hak peribadatan bagi semua selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akhirnya adalah penetapan yang khusus hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hak untuk disembah hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala jenis ibadah, baik itu rasa hina, rasa takut, rasa harap, menyembelih dan segala jenis-jenis ibadah yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ…

Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, sembelihanku, kehidupanku dan kematianku milik Allah Rabb semesta alam, tidak ada sekutu bagiNya.’” (QS. Al-An’am[6]: 163)

Maka kalimat ini mengandung tauhid, mengandung makna ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengandung kewajiban untuk mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala jenis ibadah serta berlepas diri dari segala jenis kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ…

Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah.”

Perhatikan di sini ada dalil-dalil dan bukti-bukti yang sangat banyak yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memberikan Anda petunjuk kepada hakikat makna Laa Ilaaha Illallah, hakikat bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan sebagaimana telah Syaikh jelaskan bahwasanya Al-Qur’an mengandung banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan kepada seorang hamba bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah telah menyebutkan dan meringkas beberapa bukti-bukti tentang hal ini dan kita akan menjelaskan tentang apa yang beliau sebutkan dalam tafsir beliau ketika mentafsir surat Muhammad dan ini adalah tafsir yang sangat bermanfaat sekali untuk kita pelajari.

Menit ke-14:21 Kaum muslimin dan muslimat yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah berkata bahwasanya ketika beliau mentafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ, pengetahuan tentang Laa Ilaaha Illallah mncakup penetapan hati dan pengenalan bahwasanya apa yang diinginkan dari apa yang diketahui tersebut. Artinya seorang tidak cukup sekadar mengetahui, akan tetapi dia harus menetapkan dalam hatinya bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesempurnaan dari pengetahuan tersebut ia beramal dengan konsekuensi dari kalimat Laa Ilaaha Illallah.

Dan ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan dalam ayat ini yaitu ilmu tentang keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini merupakan fardhu ‘ain, kewajiban bagi setiap manusia untuk mengetahui hal ini dan tidak ada seorangpun yang boleh untuk tidak mempelajari hal ini.

Lihat juga: Mengesakan Allah Ta’ala

Bukti bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah

Adapun jalan untuk mengetahui bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala ada beberapa cara.

Yang pertama dan yang paling utama adalah mentadaburi dan merenungi nama-nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta perbuatan-perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menunjukkan kesempurnaan, keagungan, kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hal tersebut akan menyebabkan seseorang mengerahkan segala usahanya untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki segala pujian, segala kemuliaan dan segala ketinggian.

Kemudian cara yang kedua yaitu mengetahui bahwasanya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini. Sehingga ketika dia mengetahui hal tersebut, dia mengetahui bahwasanya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berhak untuk disembah.

Cara yang ketiga yaitu dengan mengetahui bahwasanya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan nikmat, baik yang nampak maupun yang tidak nampak, nikmat agama dan nikmat dunia, yang mana hal tersebut akan menyebabkan seseorang hatinya bergantung dan mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ia pun akan beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Cara yang keempat, yaitu dengan melihat dan mendengar dan memperhatikan ganjaran yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah tolong mereka, Allah beri mereka nikmat yang disegerakan.

Juga dengan kita melihat bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadzab musuh-musuhNya dari kaum musyrikin. Yang mana hal ini menunjukkan kepada kita bahwasanya hanya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang berhak untuk disembah.

Yang kelima yaitu dengan mengetahui hakikat sifat-sifat berhala-berhala dan segala yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dijadikan sesembahan-sesembahan. Yang mana berhala-berhala tersebut tidak memiliki apa-apa, sangat fakir, sangat miskin, bahkan tidak mampu memiliki untuk diri mereka sendiri dan orang yang menyembahnya. Mereka tidak mampu memberikan mereka manfaat, tidak mampu memberikan mudharat, tidak menghidupkan, tidak mematikan dan tidak dapat membangkitkan. Dan mereka tidak akan dapat menolong bagi siapa yang menyembah mereka. Bahkan mereka tidak bisa memberi manfaat bahkan sebesar biji zarah, mereka tidak dapat memberikan mendatangkan kebaikan, tidak dapat menolak keburukan, yang mana apabila kita mengetahui hal ini, maka kita akan meyakini bahwasanya sesungguhnya tidak ada Ilah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya semua yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah batil.

Kemudian yang keenam adalah dengan cara kita mengetahui bahwasanya semua kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sepakat bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang ketujuh, kita mengetahui bahwasanya makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling sempurna, yaitu para Anbiya dan para Rasul dan para ulama, mereka semua telah menyaksikan bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang kedelapan, kita menyaksikan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalil-dalil dan bukti-bukti yang banyak yang kita bisa lihat dengan mata kita sendiri dan bisa kita lihat pada diri kita sendiri. Yang mana ayat-ayat dan bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwasanya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berhak disembah.

Apabila kita memperhatikan indahnya ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Maha Kuasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala  dalam segala apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan.

Ini adalah cara-cara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan ketika Allah mengajak seluruh makhluk agar mempersaksikan bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan hal ini berkali-kali dalam Al-Qur’an.

Maka seseorang harus mempunyai ilmu dan keyakinan akan hal tersebut. Dan apabila semua hal yang kita sebutkan tadi terdapat pada seorang hamba, maka imannya pun akan menjadi kuat dan akan tertancap kuat di hatinya. Yang mana tauhid dan keimanan tersebut akan menjadi seperti gunung-gunung yang kokoh, yang tidak akan roboh dengan syubhat-syubhat dan khayalan-khayalan. Bahkan iman tersebut hanya akan bertambah kuat dengan banyaknya syubhat dan kebatilan.

Dan apabila kita melihat dalil-dalil yang besar ini dan perkara yang agung ini dengan mentadaburi Al-Qur’an dan membaca ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta memperhatikan maknanya, yang mana hal tersebut merupakan pintu yang sangat besar yang dapat menghantarkan kita untuk mengetahui hakikat tauhid yang sesungguhnya yang dengannya juga kita mengetahui segala hal-hal yang diperincikan dalam Al-Qur’an yang kita tidak akan temukan pada selain kitab tersebut.

Menit ke-26:20 Kaum muslimin dan muslimat yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Jalan-jalan dan bukti-bukti yang telah disebutkan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah adalah bukti-bukti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tampakkan dan ulang-ulang dalam Al-Qur’an. Dan bukti-bukti tersebut kita dapatkan dalam banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal tersebut agar pengetahuan kita terhadap Laa Ilaaha Illallah semakin kuat dan agar makna dan kandungan dari Laa Ilaaha Illallah ini semakin mantap di hati seorang muslim sebagaimana kokohnya gunung-gunung.

Dan semakin besar perhatiannya untuk mempelajari bukti-bukti dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka tauhid pun akan semakin kuat dalam hatinya dan keimanannya pun akan semakin mantap.

Adapun penjelasan bukti-bukti yang disebutkan oleh Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah serta penjelasan yang meluas tentang hal ini tentu sangat panjang sekali. Akan tetapi dalam kajian kita kali ini kita akan menjelaskan beberapa isyarat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan ketika kita membaca ayat kursi yang ayat kursi ini merupakan ayat yang paling agung dalam Al-Qur’an.

Ayat Kursi

Dalam ayat kursi ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan ucapan:

اللَّـهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ

Allah, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia.”

Ini adalah permulaan dari ayat kursi. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala melanjutkan ayat ini dengan menyebutkan bukti-bukti serta dalil-dalil terhadap hal tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اللَّـهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Allah, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia, yang Maha Hidup dan senantiasa mengurus makhlukNya.”

ا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak tidur dan tidak merasa ngantuk.

لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

“Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala apa yang ada di langit dan di bumi.”

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan izinNya?”

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

Allah mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka.”

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang Ia kehendaki.”

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

Kursi Allah Subhanahu wa Ta’ala luasnya meliputi langit dan bumi.”

وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak merasa capek menjaga keduanya.”

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ ﴿٢٥٥﴾

Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

Ketika seorang muslim mentadaburi ayat ini serta bukti-bukti yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat kursi ini yang mana jumlahnya ada 12 bukti bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika seorang muslim memperhatikan bukti-bukti ini dan memahami dengan benar serta mengetahui makna dari ayat ini, apakah ia akan menghadapkan dan berharap kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala? Mungkinkah seseorang berdoa dan berharap kepada selain Allah? Apabila dia memahami ayat kursi ini, sesungguhnya dia tidak mungkin melakukan hal tersebut. Karena bukti-bukti ini membuat hati seorang muslim semakin kuat tauhidnya dan semakin ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membuat dia semakin menjauh kesyirikan.

Surat Al-Hasyr

Silahkan baca akhir dari surat Al-Hasyr, yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat tersebut:

هُوَ اللَّـهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ

Dialah Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia.

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

“Yang mengetahui yang tidak nampak maupun yang nampak.”

هُوَ الرَّحْمَـٰنُ الرَّحِيمُ ﴿٢٢﴾

“Dialah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

هُوَ اللَّـهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ

“Dialah Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia.”

الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ

“Raja Yang Maha Suci.”

السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ

“Yang Maha Sejahtera dan membenarkan para RasulNya.”

الْمُهَيْمِنُ

“Yang Maha Melihat dan Mengawasi apa yang dilakukan oleh makhlukNya.”

الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّ

“Yang Maha Perkasa dan Maha Memiliki segala kebesaran dan keagungan.”

سُبْحَانَ اللَّـهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴿٢٣﴾

“Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

هُوَ اللَّـهُ الْخَالِقُ

“Dialah Allah yang Maha menciptakan.”

الْبَارِئُ

“Yang memulai penciptaan.”

الْمُصَوِّرُ

“Yang membentuk.”

لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

“MilikNyalah nama-nama yang baik.”

يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Bertasbih kepadaNya segala apa yang ada di langit dan di bumi.”

وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٢٤﴾

“Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Siapa yang memperhatikan bukti-bukti yang jelas ini dan dalil-dalil yang sangat kuat ini terhadap wajibnya mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan wajibnya mengikhlaskan segala ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apakah mungkin dia akan menghadap kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala? Apakah mungkin dia akan berdoa dan berharap kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala? Tentu tidak.

Oleh karena itu orang yang masih berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dari orang-orang yang telah meninggal yang mereka berharap dan berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimanakah mereka dari dalil-dalil ini? Apakah mereka tidak memperhatikan ayat-ayat dan bukti-bukti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an? Jika bukan karena hati mereka telah ditutup dan penglihatan mereka telah buta dari dalil-dalil dan bukti-bukti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam ayat ini, tentu dia tidak akan melakukan hal tersebut.

Maka seorang manusia apabila memperhatikan bukti-bukti ini, dia akan meyakini bahwasannya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan apabila seorang muslim memperhatikan dan mempelajari bukti-bukti ini, maka tauhidnya akan semakin mantap, imannya akan semakin kuat dan dia akan semakin tetap diatas tauhid ini dan dia akan menjauhi segala syubhat yang memalingkan dia dari ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang mana hal ini banyak menyebabkan manusia berpaling dari kebenaran dan petunjuk.

Menit ke-34:41 Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar selalu membimbing kita untuk mempelajari apa-apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada kita. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mendengar dan Maha Menerima doa.

Mp3 Kajian Tentang Tidak Ada Ilah Yang Berhak Disembah Kecuali Allah – Tafsir Surat Muhammad Ayat 19

Sumber audio: radiorodja.com

Mari turut menyebarkan catatan kajian “Tidak Ada Ilah Yang Berhak Disembah Kecuali Allah – Tafsir Surat Muhammad Ayat 19” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

Saudaraku, silahkan login atau daftar terlebih dahulu ya. Barakallahu fiik.
%d blogger menyukai ini: