Makna Tauhid Adalah Mengesakan Allah Ta’ala

Makna Tauhid Adalah Mengesakan Allah Ta’ala

Makna Tauhid Adalah Mengesakan Allah Ta’ala ini adalah apa yang bisa kami ketik dari tabligh akbar yang berjudul Keesaan Allah Ta’ala yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr.

Kedudukan dan Kemuliaan Tauhid Dalam Agama Islam

Tauhidullah hal paling agung

Menit ke-7:13. Pembicaraan kita pada pertemuan kita yang sekarang ini adalah tentang hal yang paling agung di permukaan bumi ini, hal yang paling agung di dunia ini, yang paling suci dan yang paling besar. Pembicaraan kita adalah tentang Tauhidullah Tabaraka wa Ta’ala, bagaimana kita bisa mengesakan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dan ketahuilah bahwa Tauhidullah ini adalah orientasi dan maksud penciptaan Allah terhadap langit dan bumi dan terhadap seluruh makhlukNya. Dan karena tauhid inilah Allah Tabaraka wa Ta’ala menciptakan seluruh makhluk agar kemudian makhluk hidup untuk mempraktekkan dan mengamalkan Tauhid dalam kehidupan mereka. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾

Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)

Allah juga berfirman:

اللَّـهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّـهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ﴿١٢﴾

Allah yang telah menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi seperti itu pula. Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan perintah-perintahNya dari langit menuju bumi agar semua kalian tahu bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala maha kuasa atas segala sesuatu dan bhwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Talaq[65]: 12)

Dan oleh karena tauhid ini jugalah Allah Tabaraka wa Ta’ala mengutus Rasul-RasulNya yang mulia, Allah menurunkan kitab-kitabNya yang sangat agung, agar kemudian semua ini mengarah kepada maksud penciptaan Allah Tabaraka wa Ta’ala terhadap semua makhlukNya. Allah berfirman tentang pengutusan Rasulullah:

…أَنِ اعْبُدُوا اللَّـهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ…

“…sungguh Kami telah utus kepada setiap umat para Rasul agar mereka berdakwah mengajak manusia beribadah kepada Allah dan menjauhkan Thagut dari kehidupan mereka…” (QS. An.Nahl[16]: 36)

Allah juga berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ ﴿٢٥﴾

Tidaklah Kami utus sebelummu seorang Rasulpun melainkan kami wahyukan kepadanya: ‘Tidak ada Ilah kecuali saya, maka beribadah kalian hanya kepada saya.’” (QS. Al-Anbiya[21]: 25)

Dan ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang semakna dengan ini sangatlah banyak.

Permisalan tauhid bagaikan akar

Menit ke-11:51. Dan tentang tauhid ini, hal yang harus kita ketahui bahwa dia adalah pondasi yang diatasnya berdiri agama Allah. Ketahuilah bahwasanya tidak ada manfaat daripada ketaatan dan tidak ada faidah daripada ketaatan tersebut kecuali apabila ketaatan tersebut dibangun oleh orang yang beramal dan melakukan ketaatan diatas Tauhidullah, diatas mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sungguh mesti untuk kita ketahui bahwa sesungguhnya permisalan kalimat tauhid yang dia adalah pondasi daripada agama Allah, permisalannya adalah perpisahan akar-akar bagi sebuah pohon. Bahwasanya pohon tidak akan mampu berdiri manakala dia tidak memiliki akar. Demikian juga amalan-amalan ketaatan didalam agama juga tidak akan bermanfaat manakala tidak ada akar tauhid yang membangun amalan tersebut.

Tidakkah kita melihat kepada firman Allah Tabaraka wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّـهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ ﴿٢٤﴾

Tidakkah kalian melihat permisalan kalimat thayyibah (tauhid) bagaikan pohon yang suci yang mana pondasinya mengakar di tanah dan batangnya tinggi ke langit.” (QS. Ibrahim[14]: 24)

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat permisalan untuk kalian, mudah-mudahan kalian mengingatnya.

Ketahuilah bahwasanya Allah di dalam ayat ini menyuruh kita untuk melihat, mendengar dan memperhatikan dengan sebaik-baiknya bahwasanya permisalan tauhid untuk amalan adalah bagaikan permisalan akar untuk pohon. Sebagaimana pohon tidak akan berdiri kalau dia tidak berdiri di atas akar yang kokoh. Maka demikian juga amalan tidak akan berdiri kalau tidak begini diatas tauhid yang kokoh. Dan tauhid yang kokoh itu adalah agar engkau mengesakan Allah di dalam ketaatan dan mengikhlaskan segala ketaatan engkau hanya untuk Allah.

Tauhid adalah agama yang sesuai dengan fitrah

Menit ke-16:25. Dan tauhid ini, dia sebenarnya adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Karena sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala sebenarnya telah menjadikan fitrah manusia semuanya diatas tauhid. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّـهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّـهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ …

Maka berdirikan wajahmu menghadap Allah dengan lurus. Ini adalah fitrah Allah yang telah Allah buat fitrah itu di dalam hati manusia. Iini adalah agama yang sangat lurus.” (QS. Ar-Rum[30]: 30)

Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadits yang shahih yang didalamnya Nabi kita juga menerangkan bahwasanya agama tauhid ini sesuai dengan fitrah manusia. Yang saya maksud adalah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Tidaklah ada seorang yang dilahirkan melainkan ketika dia dilahirkan adalah dilahirkan diatas fitrah.”

فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

“Kedua orang tuanyalah yang telah menjadikannya Yahudi, yang telah menjadikan dia Nasrani atau menjadikan dia majusi.” (HR. Muslim)

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menerangkan bahwasanya unta-unta yang lahir tidakkah lahir di atas kesempurnaan penciptaan sehingga kalianlah yang telah menjadikan unta itu buntung dengan cara kalian memotong kaki dan tangannya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga berbicara tentang tauhid adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, di dalam hadits qudsi yang diriwayatkan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, Allah berfirman:

خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ

“Aku telah menciptakan hamba-bambaKu diatas agama yang lurus.”

وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

Namun setan-setanlah yang telah membuat mereka keluar daripada agama yang lurus itu.” (HR. Muslim)

Sesungguhnya Al-Hunafa dalam hadits ini maknanya adalah diciptakan diatas tauhid, diatas agama, mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun setan lah yang telah menyesatkan manusia dan menjauhkan mereka dari pada fitrah tersebut.

Tidak diterima amal kecuali diatas tauhid

Menit ke-20:51. Diantara perkara tauhid yang menunjukkan agungnya kedudukan tauhid di dalam agama Islam bahwasanya seluruh amal manusia terhenti dan tidak akan diterima oleh Allah kecuali manakala amalan tersebut berdiri diatas pondasi tauhid. Maka tidak akan ada manfaat dari amal apapun, tidak ada faidah daripada amal apapun dan tidak akan diterima amal itu di sisi Allah kecuali apabila orang yang beramal tersebut mentauhidkan Allah dan mengesakan Allah di dalam amalan itu. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٦٥﴾

Sungguh telah diwahyukan kepada engkau dan kepada orang-orang sebelummu, apabila kalian berbuat syirik, tidak mentauhidkan Allah, niscaya hapus seluruh amalan kalian dan di akhirat akan menjadi orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar[39]: 65)

Di dalam Al-Qur’an Allah tambahkan:

بَلِ اللَّـهَ فَاعْبُدْ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ ﴿٦٦﴾

Akan tetapi jadilah kalian itu beribadah hanya kepada Allah dan jadilah kalian itu adalah orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az-Zumar[39]: 66)

Allah juga berfirman:

…وَمَن يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ…

Barangsiapa yang kufur kepada iman (yaitu kepada tauhid), sungguh telah hancur dan musnah hapus seluruh amalannya.” (QS. Al-Maidah[5]: 5)

Allah juga berfirman:

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّـهِ وَبِرَسُولِهِ …

“Dan tidak ada yang menghalangi Allah untuk menerima sedekah-sedekah mereka, infaq-infaq mereka kecuali hanya karena mereka itu kafir kepada Allah dan kepada Rasul-RasulNya.”

Amalan apapun, saudara.. Kalau tidak berdiri diatas tauhid, maka amal itu tidak akan diterima oleh Allah. Karena syarat diterimanya amalan disisi Allah amal itu harus dibangun diatas keikhlasan kepada Allah dan mengesakan Allah, hanya Allah tujuan daripada amalan tersebut satu-satunya. Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ…

Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah, mengikhlaskan kepadaNya seluruh ketaatan…” (QS. Al-Bayyinah[98]: 5)

أَلَا لِلَّـهِ الدِّينُ الْخَالِصُ…

Ketahuilah hanya untuk Allah agama yang lurus.” (QS. Az-Zumar[39]: 3)

Allah berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّـهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا…

Beribadah hanya kepada Allah dan jangan sekutukan Allah dengan apapun.” (QS. An-Nisa[4]: 36)

Allah juga berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ…

Allah telah membuat keputusan bahwasanya jangan kalian beribadah kecuali hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Isra[17]: 23)

Dan ayat-ayat Allah di dalam masalah ini sangatlah banyak.

Tauhid merupakan hak Allah

Tauhid -wahai saudaraku yang dimuliakan Allah- merupakan hak Allah terhadap seluruh hamba-hambaNya. Dan barangsiapa yang menunaikan hak Allah ini di permukaan bumi niscaya dia telah menjadi orang yang sangat beruntung dengan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Namun barangsiapa yang menyepelekan masalah tauhid dan menyia-nyiakan tauhid dan jauh daripada tauhid, niscaya mereka akan merugi di dunia dan di akhirat.

Di dalam hadits yang shahih, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam suatu saat bersama Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu. Muad bin Jabal bercerita Radhiyallahu ‘Anhu bercerita:

كُنتُ رِدْفَ النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَلَى حِمارٍ

“Suatu hari aku berbonceng dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di atas seekor keledai.”

فَقَالَ: “يَا مُعَاذُ هَل تَدري مَا حَقُّ اللَّه عَلى عِبَادِهِ، ومَا حَقُّ الْعِبادِ عَلى اللَّه؟

“Ketika itu Nabi berkata kepadaku: “Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah terhadap hamba-hambaNya? Dan tahukan engkau apa hak hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala?”

Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu:

اللَهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

“Allah dan Rasulnya yang lebih mengetahui.”

Nabi kemudian mengatakan:

حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَن يَعْبُدُوه، وَلا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً،

“Hak Allah terhadap hambaNya adalah hamba itu harus beribadah kepada Dia satu-satunya dan tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu apapun.”

وَحقَّ العِبادِ عَلى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لا يُشِركُ بِهِ شَيْئاً

“Adapun hak hamba terhadap Allah, bahwasanya Allah tidak akan mengadzab hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.”

Ini adalah hak hamba terhadap Allah. Allah tidak akan mengadzab hamba yang tidak berbuat syirik kepadaNya. Kemudian Mu’adz bin Jabal berkata:

يَا رسولُ اللَّهِ أَفَلا أُبَشِّرُ النَّاسَ؟

“Wahai Rasulullah, bolehkah saya memberikan kabar gembira ini kepada manusia?”

Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لاَ تُبَشِّرْهُم فَيَتَّكِلُوا

“Jangan engkau memberikan kabar gembira ini kepada manusia, saya takut mereka hanya bersandar kepada kabar gembira ini saja.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan ini menunjukkan akan keagungan tauhid. Yang mana dia adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib ditunaikan oleh para hambaNya. Maka hamba manapun yang menunaikan hak Allah ini (yaitu tauhid), sungguh dia akan menjadi mulia di permukaan bumi dan mulia di akhirat dan akan selamat dari pada murka Allah dan selamat daripada amarah Allah di akhirat. Kemudian barangsiapa yang menyia-nyiakan tauhid, menyepelekan tauhid dan melanggar tauhid, maka sungguh dia akan menjadi orang yang sangat merugi di dunia dan di akhirat.

Dan hak Allah ini adalah tauhid, mengesakan Allah dalam seluruh ibadah. Dan dia adalah hal yang paling agung di permukaan bumi sebagaimana yang sudah kita katakan diawal muhadzarah tadi. Oleh karena itu barangsiapa yang keluar daripada tauhid, maka dia keluar daripada hal yang terbaik dan paling mulia yang ada di permukaan bumi. Dan hendaklah setiap orang menjadikan seluruh maksud dan tujuannya adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadikan tauhid ini adalah curahan perhatiannya yang paling besar dan orientasi kehidupannya yang paling agung. Harusnya dia lebih peduli kepada tauhid lebih daripada sekedar makan setiap harinya, minuman setiap harinya, pakaian setiap harinya, hendaknya dia lebih memperdulikan itu. Karena sesungguhnya kehidupan manusia yang sebenarnya adalah kehidupan diatas tauhid. Allah berfirman:

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ…

Tidakkah engkau melihat orang-orang sebenarnya mereka adalah mayat, namun Kami yang menghidupkan mereka.” (QS. Al-An’am[6]: 122)

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّـهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ…

Hai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan sambutlah seruan Rasul. Kalau Allah dan Rasul itu mengajak kalian untuk sesuatu yang akan membuat kalian hidup.” (QS. Al-Anfal[8]: 24)

Ketahuilah bahwasanya kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang hakiki dan kebahagiaan yang abadi tidak akan didapatkan seseorang kecuali apabila orang itu menegakkan tauhid di permukaan bumi di dalam kehidupannya.

Tauhid sumber ketenangan

Menit ke-32:42. Dan barangsiapa yang tidak mentauhidkan Allah, maka niscaya suruh perkaranya akan tercerai-berai. Hatinya akan senantiasa galau dan tidak akan pernah tenang. Dan sesungguhnya seluruh perkaranya akan hilang sia-sia. Perhatikanlah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:

…أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّـهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ ﴿٣٩﴾

Apakah Rabb-Rabb yang banyak dan beranekaragam lebih baik daripada Allah Yang Esa dan maha perkasa?” (QS. Yusuf[12]: 39)

Tidak akan berkumpul di dalam kehidupan seseorang kebaikan dan tidak akan sempurna urusannya dan tidak akan tenang kehidupannya kecuali kalau dia hidup diatas mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan seluruh ketaatan hanya kepada Allah. Tanpa tauhid, sesungguhnya kehidupan seseorang akan tercerai berai dan sesungguhnya hatinya akan terpecah-belah dan seluruh urusannya tidak akan bisa tenang dan hidupnya tidak akan pernah bisa damai. Dan ini menunjukkan keagungan yang sangat besar, kemuliaan yang sangat besar terhadap tauhid Allah, mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam seluruh ketaatan. Ketenangan hidup seseorang, kebahagiaannya, kesempurnaan urusannya, adalah ketika dia hidup diatas mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tauhid adalah agama yang Allah turunkan melalui wahyu

Menit ke-36:55. Tauhid -saudaraku yang mulia- adalah agama Allah yang Allah Tabaraka wa Ta’ala telah turunkan agama itu melalui wahyu-wahyuNya. Sesungguhnya seluruh aqidah-aqidah yang ada diantara manusia yang bukan dengannya Allah turunkan wahyu, maka itu adalah aqidah yang tumbuh di permukaan bumi, manusia yang membuatnya dengan logika-logika, perasaan-perasaan dan hawa nafsu mereka. Seluruh aqidah manusia seperti itu kecuali aqidah tauhid. Aqidah tauhid ini tidak tumbuh di permukaan bumi, namun dia turun melalui wahyu yang diwahyukan Allah Tabaraka wa Ta’ala dari langit. Dan ketahuilah bahwasanya aqidah di permukaan bumi terbagi dua:

  • Aqidah yang turun melalui wahyu yang diturunkan Allah
  • Aqidah yang tumbuh di permukaan bumi, manusia yang membuatnya dengan pikiran-pikiran mereka, dengan perasaan-perasaan mereka.

Dan ketahuilah seluruh aqidah yang tumbuh di permukaan bumi dan tidak turun melalui wahyu, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak akan menerima aqidah itu. Allah tidak akan menerima aqidah kecuali aqidah yang Allah turunkan wahyu dengannya. Lihatlah apa yang dikatakan Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam ketika Nabi Yusuf berdakwah kepada sahabatnya yang menghuni penjara bersamanya:

Baca Juga:  Hadits Tentang Tanda Seseorang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

…أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّـهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ ﴿٣٩﴾

Apakah Rabb-Rabb yang beraneka ragam lebih baik daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Esa dan maha perkasa?

مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّـهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ…

Sesungguhnya apa yang kalian ibadahi ini (yaitu perbuatan syirik kepada selain Allah), kata Nabi Yusuf: ‘ini hanyalah nama-nama yang orang tua kalian dahulukan beri nama, ini adalah Ilah-Ilah yang kalian dan orang tua kalian yang membuatnya yang Allah tidak pernah turunkan ilmunya.” (QS. Yusuf[12]: 40)

Demikian juga apa yang Allah katakan dalam surat An-Najm:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ ﴿١٩﴾ وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ ﴿٢٠﴾ أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنثَىٰ ﴿٢١﴾ تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ ﴿٢٢﴾ إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّـهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ…

Tidakkah kalian melihat kepada Lata dan ‘Uzza, dan Manah Tuhannya Quraisy yang ketiga. Apakah untuk kalian adalah laki-laki dan untuk Allah adalah wanita? Semua itu adalah pembagian yang sangat tidak adil. Sesungguhnya berhala-berhala kalian tersebut adalah nama-nama yang kalian yang membuat nama itu, kalian dan orang tua kalian, yang Allah tidak pernah turunkan wahyu dan kekuatan di dalam hal tersebut.” (QS. An-Najm[53]: 19-23)

Dan apa yang Allah tidak turunkan wahyunya, tidak Allah turunkan kekuatan ilmu untuk menerangkan itu adalah aqidah, maka aqidah itu adalah aqidah yang tumbuh di permukaan bumi dan Allah tidak akan menerima agama apapun kecuali agama yang agung ini, agama yang mulia ini, ini yang akan diterima oleh Allah. Yaitu agama yang berdiri diatas mengesakan Allah dan mentauhidkanNya dan mengikhlaskan seluruh amalan hanya untukNya.

Tauhid sangat sesuai dengan akal yang sehat

Menit ke-43:17. Diantara perkara tauhid yang tadi telah kita sebutkan yaitu dia adalah agama yang dengannya diturunkan wahyu. Maka sesungguhnya tauhid itu juga adalah agama yang sangat sesuai dengan akal yang sehat. Sesungguhnya seseorang yang memiliki akal yang sehat, akal sehatnya itu akan membawanya kepada bahwa dia tidak akan ridha dan dia tidak akan mau untuk menjadikan tandingan-tandingan untuk Allah daripada kuburan-kuburan, daripada pepohonan-pepohonan, bebatuan-bebatuan yang dijadikan tandingan-tandingan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akal yang sehat tidak akan menerima kecuali tauhid, mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam ketaatan.

Sesungguhnya banyak daripada manusia yang Allah berikan taufik kepadanya dengan kemurnian akalnya, dengan akalnya yang sehat, Allah berikan taufik kepada mereka sehingga mereka tidak akan ridha untuk menjadikan apapun sebagai tandingan bagi Allah. Sebagai misal yang bisa kita bawakan pada kesempatan kali ini adalah seseorang yang bernama Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Beliau adalah orang yang hidup dimasa jahiliyah, wafat sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus menjadi Nabi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zaid bin ‘Amr bin Nufail ini dikenal dengan seorang yang bertauhid dari kaum jahiliyah. Zaid bin ‘Amr bin Nufail, dikalangan jahiliyah dia mencela perbuatan orang jahiliyah terhadap ibadah mereka kepada berhala-berhala. Di dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa Zaid bin ‘Amr bin Nufail berkata kepada orang-orang jahiliyah: “Kambing, Allah yang menciptakan. Dan Allah turunkan untuk kambing itu air dari langit. Bagaimana mungkin kalian menyembelih kambing itu dengan nama selain Allah?” Dan dia tidak mau makan kambing yang dipersembahkan oleh orang Quraisy kepada berhala.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya oleh para sahabat tentang Zaid bin ‘Amr bin Nufail ini. Nabi mengatakan:

إِنَّهُ يُبْعَثُ أُمَّةً وَحْدَهُ

“Dia akan dibangkitkan oleh Allah bagikan satu umat.”

Aqidah tauhidnya itu membuatnya menjadi satu umat, menjadi besar di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang apabila melihat dengan akalnya yang sehat, niscaya dia tidak akan ridha kecuali mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dia akan mengetahui rusaknya akal manusia yang beribadah kepada selain Allah, beribadah kepada bebatuan, beribadah kepada pepohonan, beribadah kepada apapun yang diibadahi manusia selain daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tauhid sumber keamanan

Menit ke-48:25. Diantara perkara tauhid yang sangat agung adalah bahwasanya hamba tidak akan pernah merasakan keamanan, hamba tidak akan pernah merasakan keselamatan dan ketenangan dari seluruh hal-hal yang membuatnya takut dan khawatir dari seluruh hal-hal yang membuat kecelakaan dan kebinasaan kepadanya, itu tidak akan terwujud kecuali bilamana seseorang senantiasa melaksanakan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengesakan Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَـٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾

Orang-orang yang beriman yang tidak mencampuri keimanan mereka dengan kedzaliman, merekalah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan merekalah orang-orang yang akan mendapatkan petunjuk dan hidayah.” (QS. Al-An’am[6]: 82)

“Kedzaliman” di dalam ayat ini maksudnya adalah tidak mencampur keimanan mereka sedikitpun dengan kesyirikan, ini maksud daripada ayat. Ayat ini ketika turun, para sahabat merasa berat dan bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan pertanyaan mereka:

أيُّنا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ؟

“Wahai Nabi, siapa diantara kami yang tidak pernah mendzalimi dirinya?”

Pada sahabat mengira ظلم di sini adalah kedzaliman dan mereka mengatakan: “Siapa diantara kita yang tidak pernah mendzalimi dirinya?” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Tidakkah kalian mendengar perkataan hamba Allah yang shalih yaitu Luqman kepada anaknya:

…يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّـهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴿١٣﴾

Wahai anakku, jangan engkau sekutukan Allah. Sesungguhnya perbuatan syirik (menyekutukan Allah) adalah kedzaliman yang paling besar.” (QS. Luqman[31]: 13)

Di dalam hadits ini Nabi memberikan keterangan bahwa maksud daripada mencampuri iman dengan kedzaliman adalah mencampurinya dengan kesyirikan. Barangsiapa yang tauhidnya tidak dicampur dengan kesyirikan, niscaya dia akan merasakan keamanan dan mendapatkan petunjuk di dunia dan di akhirat. Allah juga mengatakan di dalam Al-Qur’an yang semakna dengan ayat ini. Allah mengatakan:

وَعَدَ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا…

Allah berjanji kepada orang yang beriman dan beramal shalih dari kalian, niscaya Allah akan menjadikan mereka pemimpin di permukaan bumi sebagaimana Allah menjadikan orang-orang sebelum mereka pemimpin. Niscaya Allah akan mengokohkan di permukaan bumi ini agama yang telah Allah ridhai untuk mereka dan niscaya Allah akan menggantikan ketakutan yang ada pada mereka dengan keamanan.” (QS. An-Nur[24]: 55)

Allah akan menggantikan ketakutan dengan keamanan, tapi dengan syarat:

يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

Mereka harus beribadah kepadaKu dan menjauhi perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dengan susuatu apapun.” (QS. An-Nur[24]: 55)

Dengan makna ini Allah Tabaraka wa Ta’ala menerangkan bahwasannya keamanan dan ketenangan hanya didapatkan oleh orang-orang yang beribadah dan hanya mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tauhid adalah kebaikan yang paling baik

Tauhid -wahai saudaraku yang mulia- adalah kebaikan yang paling baik, kemuliaan yang paling utama secara mutlak. Dalil bahwasannya tauhi adalah kemuliaan yang paling mulia, keutamaan yang paling mulia secara mutlak, yang menunjukkan ke arah itu adalah bahwa seluruh kebaikan yang kita lakukan, seluruh kebaikan yang kita laksanakan akan dilihat apakah kita mengerjakannya diatas tauhid atau tidak. Kalau tidak diatas tauhid, maka dia tidak akan diterima oleh Allah, berhenti makna daripada seluruh kebaikan kalau tidak dibangun diatas tauhid.

Oleh karena itu menunjukkan bahwasanya tauhid itu adalah keagungan yang paling agung, kemuliaan yang paling mulia. Karena seluruh amal shalih dan ketaatan harus membutuhkan tauhid untuk diterima disisi Allah. Dan demikian juga dengan lawannya, yaitu syirik. Syirik adalah keburukan yang paling buruk. Tidak ada keburukan yang lebih buruk daripada syirik. Dan yang menunjukkan ke arah itu adalah bahwa sesungguhnya adanya syirik dalam sebuah amalan akan membuat amalan itu tidak diterima oleh Allah, menghapuskan amalan tersebut secara keseluruhan. Bahwasanya tidak akan Allah terima ibadah apapun yang di dalam ibadah itu masih ada kesyirikan. Allah tidak menerimanya kecuali apabila dibangun diatas tauhid.

Tauhid adalah pintu surga

Tauhid -wahai saudaraku yang mulia- adalah kunci pintu surga. Dan tidak akan ada seseorang yang bisa masuk ke dalam surga kecuali dengan kuncinya. Dan kunci surga itu adalah tauhid. Tidak akan terbuka untuk seseorang pintu-pintu surga kecuali dia datang dengan membawa tauhid. Dan orang yang datang dengan tidak membawa tauhid di akhirat dia tidak akan bisa masuk surga. Dengarkan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

… لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ…

Orang-orang kafir tidak akan dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk ke dalam surga sampai unta masuk ke dalam lubang jarum.” (QS. Al-A’raf[7]: 40)

Ini menunjukkan bahwasannya tauhid adalah kunci daripada pintu-pintu surga dan tidak akan mungkin seseorang masuk ke dalam surga kecuali apabila dia membawa kunci pintu surga itu, yaitu tauhid. Ini menunjukkan bahwa tauhid asas yang sangat agung, pondasi yang sangat luar biasa di dalam agama Islam.

Apa yang telah kita sampaikan tadi -saudaraku yang mulia- adalah muqaddimah yang dengannya kita menyampaikan bagaimana sebenarnya posisi tauhid di dalam agama Islam. Kita menerangkan bagaimana bahwa tauhid itu memiliki kemuliaan-kemuliaan yang sangat banyak, memiliki faidah-faidah yang sangat banyak, memiliki keutamaan-keutamaan yang sangat banyak. Bahkan kita mengatakan seluruh kebaikan dan seluruh keberkahan yang ada di dunia dan akhirat semuanya dihasilkan hanyalah dengan tauhid.

Sesungguhnya di dalam mukaddimah yang tadi kita sampaikan, kita telah berbicara tentang posisi tauhid dan kemuliaan tauhid dalam agama Islam. Dan kita akan segera masuk ke dalam pembahasan berikutnya, yaitu hakikat tauhid. Aapa sebenarnya tauhid itu?

Pengertian dan Hakikat Tauhid

Menit ke-1:00:29. Tauhid adalah sebuah perkara yang secara makna asalnya menunjukkan kepada الإفراد (mengesakan Allah). Dan makna mentauhidkan Allah adalah mengesakan Allah, menjadikan Allah hanya satu-satunya di dalam seluruh sifat-sifat yang khusus milik Allah, di dalam hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita harus mengesakan Allah di dalam hak-hak Allah dan menjadikan Allah Esa, satu-satunya di dalam sifat-sifat yang itu hanya merupakan kekhususan Allah.

Diantara kekhususan yang hanya Allah yang memilikinya adalah bahwa Dialah satu-satunya yang telah mencipta, Dia satu-satunya yang telah memberi rezeki, satu-satunya yang menghidupkan, satu-satunya yang mematikan, satu-satunya yang memuliakan, satu-satunya yang menghinakan seseorang, satu-satunya yang mengatur alam semesta. Dialah yang menjaga, Dialah yang mengangkat dan menurunkan, Dialah yang menghidupkan dan mematikan. Dan sesungguhnya di dalam Al-Qur’an Allah mengatakan:

قُلِ اللَّـهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٢٦﴾

Katakah wahai Nabi, bahwasannya Allah raja dari seluruh kerajaan yang ada, Engkaulah yang memberikan kerajaan kepada siapa pun yang Engkau inginkan dan Engkau mencabut kerajaan itu dari orang-orang yang Kau inginkan. Engkau agungkan orang yang Engkau agungkan, dan Engkau memuliakan orang-orang yang ingin Engkau muliakan, seluruhnya kebaikan itu ada di tanganMu. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali-Imran[3]: 26)

Seluruh perintah di permukaan bumi ada ditangan Allah, sebagaimana seluruh makhluk hanya akan tunduk dan patuh kepada aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia yang menghidupkan, Dia yang mematikan, Dia yang membentangkan segala sesuatu dan Dia juga yang akan mengambilnya dari seseorang. Dia yang memuliakan, Dia yang menghinakan, Dia yang menjadikan semua yang kaya (menjadi) kaya, dan Dia juga yang menjadikan semua yang fakir (menjadi) fakir. Dia yang membuat seseorang tertawa dan Dia yang membuat seseorang menangis.  Seluruh urusan adalah urusan Allah, seluruh makhluk adalah makhluk Allah, seluruh perintah adalah perintah Allah, dan kita wajib untuk mengesakan Allah di dalam semua itu.

Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Esa di dalam penciptaan, Esa di dalam rezeki, Esa di dalam menghidupkan dan mematikan, hanya Dia satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya. Dan barangsiapa yang mengalihkan ini kepada sesuatu selain Allah, hal yang merupakan hak-hak khusus milik Allah dia berikan kepada sesuatu selain Allah, maka sungguh dia telah menyekutukan Allah di dalam Rububiyyah Allah dan dengan itu ia telah membatalkan tauhidnya dan dia telah menghapuskan tauhidnya dan dia akan termasuk orang-orang yang telah berbuat syirik. Karena sesungguhnya keyakinan bahwasannya Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang Esa, Dialah satu-satunya yang mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan dan tiada sekutu bagiNya.

Di antara kekhususan-kekhususan Allah, hak-hak Allah, bahwasanya Allah itu Maha Eesa dan satu-satunya dengan dengan nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang sangat mulia. Lihatlah di dalam Al-Qur’an, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّـهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَـٰنُ الرَّحِيمُ ﴿٢٢﴾

Dialah Allah yang tiada Ilah selain Dia, yang mengetahui suruh yang ghaib dan yang tampak, Dialah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

هُوَ اللَّـهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ…

Dialah Ilah yang tiada Ilah kecuali Dia…”

…الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ…

Dialah yang maha raja, yang maha mulia, Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang mengamankan, Dialah yang perkasa, Dialah yang berkehendak melakukan apapun yang Ia inginkan, Dialah yang maha kesombongan atas seluruh keburukan.”

…سُبْحَانَ اللَّـهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴿٢٣﴾

Maha suci Allah atas apa yang mereka sekutukan.”

هُوَ اللَّـهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ…

Dialah Allah yang tiada Ilah melainkan Dia, Dialah pencipta, Dialah yang mengadakan segala sesuatu, Dialah yang telah membentuk seluruh rupa, Dialah yang memiliki seluruh asma’ul husna.”

…يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٢٤﴾

Bertasbih kepadaNya seluruh yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah yang maha perkasa lagi maha bijaksana.” (QS. Al-Hasyr[59]: 24)

Didalamnya terdapat sifat-sifat Allah dan nama-nama Allah yang mulia, demikian juga Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَلِلَّـهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا…

Allah memiliki nama-nama yang mulia, maka berdoalah kepadaNya dengan menyebut nama yang mulia tersebut...”

…وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿١٨٠﴾

Dan biarkan orang-orang yang berbuat hal yang sesat melenceng dari pada asma’ul husna, mereka akan diberikan balasan sesuai dengan apa yang mereka amalkan.” (QS. Al-A’raf[7]: 180)

Allah juga berfirman:

قُلِ ادْعُوا اللَّـهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَـٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ…

Katakan: ‘berdoalah kepada Ar-Rahman kapanpun kalian berdoa, sesungguhnya Allah memiliki nama-nama yang indah.’” (QS. Al-Isra[17]: 110)

Allah juga berfirman:

…لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ﴿١١﴾

Tidak ada yang sama dengan Allah, Dialah yang memiliki nama (As-Sami’) maha mendengar dan memiliki nama (Al-Bashir) yang maha melihat.” (QS. Asy-Syura'[42]: 11)

Allah juga berfirman:

…هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا ﴿٦٥﴾

Apakah engkau tahu ada orang yang sama dengan Allah?” (QS. Maryam[19]: 65)

Allah juga berfirman:

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّـهِ الْأَمْثَالَ…

Jangan engkau membuat permisalan-permisalan sesuatu yang sama dengan Allah...” (QS. An-Nahl[16]: 74)

Maka diantara kekhususan Allah adalah mengesakan Allah di dalam nama-nama yang mulia dan sifat-sifat yang mulia tersebut.

Sesungguhnya tauhid -saudaraku yang dimuliakan Allah- adalah mengesakan Allah di dalam nama-nama ini. Dan hendaknya kita menetapkan untuk Allah seluruh nama-namaNya dan sifat-sifatNya yang mulia sebagaimana Allah telah menetapkan nama-nama dan sifat itu untuk diriNya dan sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menetapkan nama-nama dan sifat itu untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:  Teks Khutbah Jumat Singkat Tentang Tiga Hikmah Dibalik Turunnya Hujan

Hendaknya seorang mukmin selalu berkata:

آمنت بالله، وبما جاء عن الله، على مراد الله

“Kami beriman kepada Allah dan kepada seluruh yang datang dari Allah sesuai dengan maksud Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut”

وآمنت برسول الله، وبما جاء عن رسول الله، على مراد رسول الله.

“Dan kami beriman kepada Rasulullah dan seluruh yang datang dari Rasulullah sesuai dengan maksud Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Dan hendaklah kita beriman dengan sifat-sifat tersebut dan nama-nama yang mulia tersebut sebagaimana yang ada di dalam Al-Qur’an dan di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hendaklah keimanan kita tidak melampaui batas keterangan yang diterangkan oleh Allah di dalam kitabnya dan yang diterangkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam sunnahnya.

Barangsiapa yang tidak menetapkan asma’ dan sifat ini untuk Allah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, dengan itu dia telah menghanguskan tauhidnya, dengan itu dia telah membatalkan tauhid atau pengesaannya kepada Allah. Demikian juga orang yang menyamakan antara Allah dengan makhlukNya, yang membuat persamaan dan perbandingan antara Allah dan makhlukNya, dia juga telah melakukan hal yang akan membatalkan tauhidnya. Dan orang tidak akan menjadi orang yang bertauhid sampai dia menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang telah memiliki nama-nama dan sifat sesuai yang ia tetapkan untuk dirinya di dalam kitabNya dan sesuai yang ditetapkan untuk diriNya oleh RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hak Allah Yang Paling Agung

Menit ke-1:14:33. Diantara hak-hak Allah dan itu adalah hak yang paling agung daripada hak Allah adalah agar manusia beribadah kepadaNya saja dan tidak membutuhkan apapun dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ…

“Tidaklah manusia itu diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Allah, mengikhlaskan untuk Allah ketaatan mereka tersebut…”

Juga Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ﴿١٦٣﴾

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada sekutu bagiNya, dan dengan itu aku diperintahkan dan aku akan selalu menjadi awal-awal orang-orang yang Islam.” (QS. Al-An’am[6]: 163)

Mengesakan Allah dalam hal ini merupakah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, hak Allah terhadap hambaNya. Yaitu agar hambaNya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan wajib bagi seorang hamba untuk mengesakan Allah dalam hal tersebut dan tidak menjadikan sesuatu daripada ibadah itu dia peruntukan kepada sesuatu selain Allah. Seorang tidak boleh berdoa kepada selain Allah, seseorang tidak boleh minta pertolongan dan bantuan kepada selain Allah, seseorang tidak boleh menyembelih untuk selain Allah, seseorang tidak boleh bernadzar kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena semua itu adalah ketaatan dan ibadah. Ketaatan harus satu-satunya untuk Allah dan ibadah semuanya harus untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan hendaklah di dalam ibadah tersebut mereka mengikhlaskan niat mereka untuk melakukan itu mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa yang melakukan ibadah ini kepada selain Allah, dengan itu dia telah menghanguskan tauhidnya, telah membatalkan ibadah dan ketaatannya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang meninggal dunia dan dia berdoa kepada selain Allah, dia pasti masuk neraka.” (HR. Bukhari)

Dan hendaklah setiap Mukmin mengetahui hak Allah ini dan mengetahui keagungan dan kemuliaan hak Allah dan menjadikan seluruh agama dan ketaatannya hanya diperuntukkan kepada Allah dan menjadikan seluruh ketaatannya kepada Allah dan untuk Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

Tauhid adalah makna Laa Ilaaha Illallah

Menit ke-1:22:42. Tauhid adalah makna daripada Laa Ilaaha Illallah. Sehingga pada kalimat Laa Ilaaha Illallah disebut sebagai kalimat tauhid. Dan tauhid yang berada di dalam kalimat Laa Ilaaha Illallah berdiri diatas 2 rukun daripada rukun Laa Ilaha Illallah.

Rukun pertama disebut nafi, rukun yang kedua disebut itsbat. Laa Ilaaha adalah nafi, menafikan seluruh peribadatan kepada selain Allah. Illallah adalah itsbat, penetapan bahwasannya ini adalah hanya untuk Allah. Dan inilah makna daripada tauhid itu. Dan tidak akan sempurna Laa Ilaaha Illallah seseorang apabila dia hanya melakukan itsbat tanpa nafi, atau dia melakukan nafi tanpa itsbat. Sesungguhnya baru akan sempurna Laa Ilaaha Illallah seseorang manakala dia menyatukan dua rukun daripada rukun Laa Ilaaha Illallah ini. Yaitu dia satukan antara nafi dan itsbat.

Maka sesungguhnya tauhid adalah makna daripada Laa Ilaaha Illallah. Dimana kita mengesakan ketaatan dan menjadikan Allah satu-satunya yang kita ibadahi dan menjauhkan peribadahan kepada selain Allah.

Oleh karena itu hendaklah kita sangat memperhatikan kalimat Laa Ilaaha Illallah tersebut. Kita perhatikan pengucapannya, kita perhatikan maknanya, kita perhatikan bagaimana mengaplikasikan Laa Ilaaha Illallah di dalam kehidupan kita.

Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya didalam dzikir-dzikir Nabi yang diajarkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di dalamnya terdapat banyak sekali hal-hal yang akan menuntun kita (kepada) makna daripada tauhid yang semakna dengan Laa Ilaaha Illallah yang kita sebutkan di atas.

Tahlil setelah shalat

Kita ambil contoh dari dzikir-dzikir Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dzikir setelah shalat misalnya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan kita untuk mengucapkan setiap selesai shalat tiga buah tahlil yang diiringi dengan dzikir-dzikir setelahnya.

Catatan: Syaikh membaca tiga tahlil ini pada menit ke-1:18:59

Tahlil pertama:

لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Tahlil kedua:

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ

Tahlil ketiga:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Ketahuilah bahwa tahlil-tahlil ini ketika kita diperintahkan mengucapkannya setelah selesai shalat, maka di dalamnya kita diperintahkan untuk senantiasa memperbaharui Laa Ilaaha Illallah kita. Hendaknya kita selalu memperkuat Laa Ilaaha Illallah kita dengan cara kita benar-benar memperhatikan tauhid kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terkandung di dalam tiga tahlil yang kita bacakan tadi. Lihatlah, setiap tahlil daripada apa yang kita bacakan di dalamnya terdapat hal-hal yang memperkuat makna daripada Laa Ilaaha Illallah itu.

Penjelasan bacaan tahlil setelah shalat:

Tahlil pertama, وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ memperkuat makna لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. Bahwa وَحْدَهُ (hanya untuk Allah semata, saya hanya mengesakan ini untuk Allah semata). Ini adalah itsbat (menetapkan) ibadah hanya untuk Allah. لاَ شَرِيكَ لَهُ (tidak ada sekutu bagiNya), ini adalah nafi yang menafikan seluruh peribadahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya di dalam kalimat ini terdapat kalimat yang memperkuat makna daripada Laa Ilaaha Illallah yang telah kita ucapkan diawal, memperjelas maknanya dan memperjelas hakikatnya.

Tahlil kedua, اَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ (Kami tidak beribadah kecuali hanya kepadaNya). Lihat kalimat yang kedua daripada tahlil juga menuntun kita kepada makna daripada Laa Ilaaha Illallah, yaitu bahwa kita tidak akan beribadah kecuali hanya kepada Allah dan kita tidak akan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan inilah dia makna tauhid.

Adapun di tahlil yang ketiga, kita mengatakan مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (kita ikhlaskan kepada Allah seluruh ketaan kita walaupun orang-orang kafir sangat membencinya), ini adalah makna daripada tauhid, ini adalah syarah (penjelasan) daripada tauhid, bahwa tauhid itu kita mengikhlaskan seluruh ketaatan kita hanya untuk Allah dan kepada Allah. Dan kita menjauhi pola-pola yang diajarkan oleh orang-orang kafir, walau apa yang kita lakukan dibenci dan tidak disukai oleh orang kafir. Inilah dia tauhid, dan inilah dia keikhlasan. Dan keikhlasan itu adalah aqidah tauhid suci daripada hal-hal yang menodainya, suci daripada hal-hal yang akan menghancurkannya, sesuatu yang bersih, sesuatu yang suci daripada kesyirikan sebagaimana Allah mengatakan di dalam Al-Qur’an:

أَلَا لِلَّـهِ الدِّينُ الْخَالِصُ…

Ketahuilah hanya untuk Allah lah agama yang bersih, agama yang suci, agama yang tidak ternodai oleh kesyirikan.” (QS. Az-Zumar[39]: 3)

Sesungguhnya apabila kita ingin membuat definisi tauhid Laa Ilaaha Illallah, maka kita bisa mengambil kesimpulan dari definisi tahlil yang tiga yang kita ucapkan di dalam shalat tadi. Kita akan mengatakan bahwa makna Laa Ilaaha Illallah definisinya adalah:

أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ

“Kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah.”

وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ

“Kepadanya semata dan tidak ada sekutu bagiNya.”

مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Kita ikhlaskan seluruh ketaatan itu kepadaNya.”

Hendanya kita memperbanyak tahlil ini dan menjadikan tahlil ini sesuatu yang senantiada kita sebut sehingga memperbaharui keimanan kita, memperbaharui dan memperkuat tauhid di dalam hati kita, mengikuti ajaran Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Pondasi dan Lawan Tauhid

Dan dari tadi yang telah kita uraikan di awal kita akan mengetahui -saudaraku yang mulia- bahwa sesungguhnya Tauhidullah Subhanahu wa Ta’ala berdiri diatas 3 pondasi tauhid, yaitu:

1. Tauhid Rububiyah

Mentauhidkan Allah, Mengesakan Allah Satu-Satunya Didalam Rububiyah. Dengan cara meyakini dengan keyakinan yang kuat dan kokoh bahwa Dialah satu-satunya pencipta, Dialah satu-satunya pemberi rezeki, dia satu-satunya yang mampu, Dialah satu-satunya yang menghidupkan dan mematikan.

2. Tauhid Asma’ wa Sifat

Tuhid dalam Asma’ wa Sifat yaitu dengan cara bahwa kita menetapkan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala nama-nama yang mulia, nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia yang ada dan tertera di dalam kitabullah dan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

3. Tauhid Ibadah

Mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam beribadah kepadaNya yaitu kita hanya menjadikan ibadah kita itu untuk Allah satu-satunya dan kita tidak memperuntukkan ibadah kita itu kepada sesuatu yang merupakan sekutu bagiNya dan kita tidak akan menjadikan ibadah kita itu untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan ketahuilah, kalau kita sudah memahami tiga makna daripada tauhid ini, ketahuilah juga bahwasanya tiga makna dari pada tauhid ini juga memiliki hal yang bertolak-belakang dengan tauhid itu. Sebagaimana makna yang telah kita uraikan, kita juga paham hal yang merupakan musuh atau yang bertolak-belakang daripada tauhid itu:

1. Pembatal Tauhid Rububiyah

Ketika kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kita imani Dia satu-satunya di dalam rububiyahNya (di dalam penciptaan, di dalam pengaturan, di dalam pemberi rezeki, di dalam melakukan seluruh yang akan Allah lakukan), maka sesungguhnya lawannya adalah kita mengidhafahkan (menyandarkan) seluruh atau sebagian daripada tauhid itu yang merupakan hak-hak Allah kepada selain Allah.

Misalnya kita memberikan keyakinan bahwasannya ada sesuatu yang berkuasa selain Allah, ada yang mampu menciptakan sesuatu selain Allah, ada yang mengatur selain Allah, dan ada yang melakukan sesuatu di permukaan bumi ini selain Allah. Sehingga kita menjadikan tauhid yang merupakan kekhususan Allah kita peruntukkan untuk selain Allah. Dengan ini maka kita telah membatalkan tauhid tidak, karena kita telah melakukan hal yang bertolak-belakang dengan makna dari pada tauhid itu.

2. Pembatal Tauhid Asma’ wa Sifat

Kita katakan tadi bahwa kita harus mengesakan Allah, Dialah yang memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia. Maka ketahuilah lawan daripada tauhid asm’a wa sifat ada dua perkara;

Pertama, mengingkari nama-nama ini untuk Allah, mengingkari sifat-sifat yang mulia ini untuk Allah dan tidak mengakui bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat yang telah Allah terangkan di dalam kitabNya dan telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam haditsnya.

Kedua, bagian daripada mengingkari tauhid asma’ wa sifat adalah menyamakan antara Allah dengan makhluk-makhlukNya, menjadikan makhluknya sama dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ini terlarang di dalam Al-Qur’an. Allah mengatakan:

…لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ﴿١١﴾

Tidak ada sesuatupun yang sama dengan Allah dan Dia maha mendengar lagi maha melihat.” (QS. Asy-Syura[42]: 11)

3. Pembatal Tauhid Ibadah

Dengan mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam ketaatan dan ibadah, kita menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya yang Esa di dalam peribadatan kita. Apapun ibadah yang kita lakukan, kita lakukan untuk mengharapkan ridha Allah satu-satunya, hanya kepadaNya kita melakukan itu. Dan barangsiapa memalingkan ibadah itu sedikit apapun untuk sesuatu selain Allah, dia palingkan doanya kepada selain Allah, dia berikan tawakalnya kepada selain Allah, dia menyembunyikan untuk sesuatu selain Allah, dia bernadzar untuk sesuatu selain Allah, maka sungguh dia telah melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan tauhid ibadahnya kepada Allah. Dengan demikian ia telah menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu. Dan itu apabila dia lakukan, dengannya dia telah menghancurkan dan menghapuskan tauhid Laa Ilaaha Illallah-nya.

Menjaga dan Menyempurnakan Tauhid

Menit ke-1:40:08. Oleh karena itu suatu hal yang sangat pantas untuk kita lakukan adalah kita benar-benar serius di dalam perkara tauhid ini, kita benar-benar memperhatikan dan kita benar-benar menjaga tauhid kita dengan cara kita mengaplikasikan dalam amalan kita tentang tauhid ini. Dan ketahuilah bahwa mengaplikasikan tauhid dan mengamalkan tauhid dalam kehidupan sehari-hari adalah derajat yang paling tinggai dan dia memiliki martabat yang paling besar dalam agama Islam. Dan maksudnya adalah menyempurnakan tauhid dengan kita menjadikan amalan kita sehari-hari dengan cara mentauhidkan Allah dalam alamaln tersebut.

Dan barangsiapa yang sempurna di dalam tauhidnya dan dia telah berhasil menyempurnakan tauhidnya, maka dia akan dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di alam surga Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa dihisab dan tanpa diadzab untuk orang-orang yang hidup di permukaan bumi yang telah menyempurnakan tauhidnya. Disinilah letaknya kenapa tauhid itu begitu penting, karena dia akan membuat kita masuk ke dalam surga Allah tanpa dihisab dan tanpa diadzab. Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika Nabi kita tercinta Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berrcerita tentang 70.000 daripada umatnya yang masuk ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa diadzab. Nabi mengatakan:

هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ ، وَلاَ يَكْتَوُونَ ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan pengobatan kay (besi panas) dan mereka adalah orang-orang yang tidak tidak tathayyur (merasa sial dari perkara-perkara), dan mereka adalah orang-orang yang senantiasa bertawakal kepada Allah.” (HR. Bukhari)

Ketahuilah bahwa posisi menyempurnakan ini adalah posisi yang sangat agung dan mulia di dalam agama Islam. Dan cara untuk menyempurnakan tauhid dalam kehidupan adalah menjauhkannya dari perkara-perkara yang akan menghancurkannya, menjauhkannya dari perkara-perkara yang akan merusak dan mengurangi tauhid itu. Yaitu dia adalah tiga perkara. Jauhkan tauhid kita daripada syirik, jauhkan tauhid kita daripada bid’ah dan jauhkan tauhid kita daripada maksiat.

Dan sesungguhnya sesuatu yang merusak tauhid terbagi kepada dua; (1) ada yang merusak tauhid dengan menghancurkan dan membatalkan tauhid itu sehingga tidak ada yang tersisa, (2) dan ada yang menghancurkan tauhid, sesuatu yang membuatnya berkurang walaupun tidak menghancurkannya dan menghapuskannya sama sekali sehingga menjadi tauhid itu sesuatu yang tidak ada.

Oleh karena itu ulama selalu mengatakan bahwa tauhid:

له نواقض وله نواقص

“Tauhid memiliki sesuatu yang menghancurkannya dan yang membatalkannya, dan memiliki sesuatu yang membuatnya berkurang daripada kesempurnaannya”

Dan tiga hal ini yang merupakan sesuatu yang harus sangat diperhatikan oleh seorang muslim dan muslimah, dia selalu berusaha untuk menjaga tauhidnya dari hal-hal yang akan membuatnya sirna, hancur dan musnah dan dari hal-hal yang akan membuatnya berkurang. Dan dia adalah menjauhkan amalannya daripada syirik, bida’ah dan maksiat. Dan tiga perkara ini disebut oleh para ulama sebagai penghalang-penghalang tauhid.

Baca Juga:  1# Penjelasan Kitab Tauhid Aswaja (Ahlus Sunnah wal Jama'ah)

Sesungguhnya orang apabila telah berhasil menjaga tauhidnya daripada syirik, menjaga tauhidnya daripada bid’ah, menjaga tauhidnya daripada maksiat, orang itulah yang akan sampai kepada ridha Allah dan orang itulah yang akan beruntung untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.

Penghalang syirik

Kita bisa menjauhkan diri kita daripada kesyirikan itu apabila kita mengikhlaskan seluruh ibadah dan ketaatan kita hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kita tidak akan beribadah kepada sesuatu selain Allah.

Penghalang bid’ah

Bid’ah bisa kita jauhi dengan kita senantiasa ikut kepada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan melakukan amalan sesuai dengan apa yang telah disunnahkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan melazimi sunnah tersebut.

Penghalang maksiat

Ini kita lakukan dengan menjaga diri dan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan diri kita daripada perbuatan maksiat tersebut dan tidak mendekati maksiat itu. Namun boleh jadi ada orang melakukan maksiat, kalau itu terjadi maka yang harus dia lakukan adalah segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada maksiat tersebut dan mengikhlaskan ketaatan kepada Allah dan menjauhkan hal-hal yang merupakan perbuatan maksiat kepadaNya.

Pembatal-Pembatal Tauhid

Menit ke-1:46:38. Ketahuilah saudaraku yang mulia, ketika kita berbicara tentang sesuatu yang akan membatalkan tauhid dan sesuatu yang akan mengurangi tauhid, maka pembicaraannya dari sisi نواقض, yang harus kita ketahui bahwa penghangus daripada tauhid adalah tiga perkara. Salah satu diantara tiga perkar aini merupakan pemusnah tauhid sehingga tidak tersisa sedikitpun. Tiga perkara itu adalah syirik besar, nifak besar dan kufur besar.

1. Syirik besar

Adapun makna dari syirik besar yang akan menghanguskan tauhid kita sampai ke akar-akarnya adalah:

تسوية غير الله بالله في شيء من خصائص الله

“Engkau membuat sesuatu selain Allah sama dengan Allah di dalam perkara-perkara yang dia adalah kekhususan hak Allah dan dia adalah hak-haknya Allah.”

Manakala didalam dirimu terdapat hal ini, engkau menyamakan sesuatu selain Allah sama dengan Allah, maka sungguh dengan ini engkau telah membatalkan tauhidmu, engkau telah menghapus tauhidmu.

Sesungguhnya penduduk neraka ketika diadzab di neraka, Allah sampaikan kepada kita jeritan-jeritan mereka di neraka. Allah sampaikan kepada kita bahwa mereka menjerit karena mereka telah membatalkan tauhid mereka. Mereka berkata di nereka sebagaimana yang Allah nukilkan:

تَاللَّـهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ ﴿٩٧﴾ إِذْ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٩٨﴾

Demi Allah, sungguh kami dulu di dunia berada dalam kesesatan yang nyata. Ketika kami menyamakan kalian-kalian ini sama dengan Rabbul ‘Alamin” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 97)

Kemudian Allah juga berfirman:

…ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ ﴿١﴾

Kemudian orang-orang kafir senantiasa menyamakan sesuatu dengan Rabb mereka.” (QS. Al-An’am[6]: 1)

Allah mengatakan bahwa orang kafir menyamakan Allah dengan sesuatu. Inilah kekufuran dan kesyirikan akbar. Dan barangsiapa yang telah menyamakan Allah dengan sesuatu selain Allah, maka dengan itu dia telah membatalkan tauhidnya.

2. Kufur Akbar

Menit ke-1:50:24. Kemudian, perkar ayang akan membatalkan tauhid adalah kufur akbar. Dan kufur akbar terdapat dalam perkara-perkara yang akan kita sebutkan ini.

a. Takdzib (mendustakan)

Pertama, takdzib (mendustakan); baik mendustakan Allah atau mendustakan sesuatu yang datang dari Allah atau mendustakan Rasul-Rasul Allah, dan mendustakan sesuatu yang datang kepada kita dari Rasul-Rasul Allah. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّـهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْكَافِرِينَ ﴿٦٨﴾

Siapa lagi yang lebih dzalim daripada orang yang membuat kedustaan atas nama Allah atau dia mendustakan kebenaran yang datang dari Allah. Tidakkah neraka seburuk-buruk tempat untuk orang yang kafir?” (QS. Al-Ankabut[29]: 68)

b. Kesombongan

Kemudian tauhid kita juga akan batal dengan kekufuran akbar apabila kekurangan itu dari sisi yang kedua, yaitu kesombongan; sombong kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala sebagaimana kesombongan yang telah dipertontonkan oleh iblis kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, tidak mau tunduk dan patuh kepada Allah, dan ini berlaku kepada iblis dan kepada siapa pun yang sombong seperti iblis. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ…

Dan ingatlah ketika Kami telah berkata kepada malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam.” maka seluruh malaikat sujud kepada Adam kecuali iblis...” (QS. Al-Baqarah[2]: 34)

Ia lakukan itu dengan kesombongan.

c. I’radh (berpaling)

I’radh adalah seseorang berpaling dan tidak mau mempelajari agama Allah sedikitpun. Ini adalah sesuatu yang bisa membawa seseorang kepada kekufuran besar, dia tidak mau belajar Agama Allah. Allah berfirman:

…وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنذِرُوا مُعْرِضُونَ ﴿٣﴾

Dan orang-orang kafir terhadap apa yang diberikan peringatan kepada mereka, mereka akan berpaling, tidak mau mendengarnya, tidak mau peduli kepada agama Allah.”

d. Ragu

Dan kufur akbar yang ke-4 bahwa kita ragu terhadap apa yang Allah turunkan kepada kita.

3. Nifak besar

Hal yang juga membatalkan tauhid -saudaraku yang mulia- adalah nifak yang besar. Ini adalah kemunafikan yang sebenarnya dan ini adalah kemunafikannya orang-orang munafik. Dan kemunafikan ini adalah kekufuran. Allah Tabaraka wa Ta’ala mengatakan di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ…

Sesungguhnya orang munafik terdapat di dalam derajat yang paling bawah daripada neraka…” (QS. An-Nisa[4]: 145)

Dan kemunafikan besar ini adalah apabila seseorang secara dzahir dia adalah seseorang yang beriman namun di batinnya atau di dalam dadanya dia menyimpan kekufuran. Dia sebenarnya meletakkan kekufuran di dadanya dan kemudian dzahirnya mempertontonkan keimanan. Dan seperti yang Allah katakan tentang mereka:

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ ﴿١٤﴾

Apabila orang munafik bertemu dengan orang-orang yang beriman, orang munafik secara lisan berkata kepada orang yang beriman: ‘kami beriman’. Namun apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, kepada teman-teman mereka sesama orang kafir, mereka akan berkata: ‘kami sebenarnya bersama kalian, kami hnay mempermainkan orang-orang yang beriman.’“(QS. Al-An’am[2]: 14)

Allah juga berfirman:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّـهِ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّـهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ ﴿١﴾

Apabila datang kepadamu (wahai Rasulullah) orang munafik, mereka akan berkata: ‘kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah’, Allah tahu bahwa engkau adalah RasulNya, dan Allah pun bersaksi bahwa orang munafik adalah orang-orang yang berdusta.” (QS. Al-Munafiqun[63]: 1)

Berdusta maksutnya adalah apa yang mereka ucapkan dengan lisan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka yakini dalam hati mereka. Di lisan mereka ucapkan kalimat syahadat, mereka menukilkan dan menyampaikan dalam lisan mereka syahadat, adapun hati mereka dipenuhi dengan kekafiran.

Syirik Kecil, Kufur Kecil dan Munafik Kecil

Menit ke-1:58:28. Adapun kesyirikan kecil dan kekufuran kecil dan kemunafikan kecil, maka itu adalah hal-hal yang akan mengurangi tauhid, walau dia tidak membatalkan tauhid, hal-hal yang akan membuat tauhid itu berkurang daripada kesempurnaannya, walau tidak menghilangkannya dari asalnya.

Kesyirikan kecil

Syirik kecil adalah sesuatu yang disebut di dalam nash-nash, di dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa dia adalah syirik. akan tetapi dia tidak sampai kepada defenisi syirik besar yang tadi telah kita sebutkan. Disebutkan dalam beberapa nash nushush tentang perbuatan-perbuatan manusia dan Nabi mengatakan itu adalah syirik, namun sebenarnya di dalam definisi dia belum sampai kepada definisi syirik besar yang tadi kita sampaikan. Kita ambil contoh bersumpah dengan nama selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi mengatakan:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah dengan nama selain Allah, maka dia telah berbuat syirik.”

Walau belum sampai kepada definisi syirik besar, namun ini adalah mengurangi tauhid. Atau perkataan: “Allah telah berkehendak dan engkau juga berkehendak.” atau seperti perkataan manusia: “Kalaulah bukan karena bebek, niscaya maling akan masuk rumah kita.” Ini adalah kalimat syirik kecil yang harus dijauhi. Atau perkataan: “kalaulah bukan karena para pelaut, niscaya kita akan tenggelam. Para pelaut datang, oleh karena itu kita tidak tenggelam.” Kalimat-kalimat seperti ini adalah kalimat yang mengandung kesyirikan, walau belum sampai kepada kesyirikan besar namun dia adalah sesuatu yang mengurangi kesempurnaan tauhid.

Kemunafikan kecil

Kemudian yang juga merupakan kemunafikan-kemunafikan kecil dan kekufuran-kekufuran kecil adalah sesuatu yang disebut di dalam nash-nash Al-Qur’anul Karim, dalam nash-nash hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai kekufuran akan tetapi secara definisi dia belum sampai kepada kekufuran besar yang tadi kita sebutkan.

Di antara apa yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah: “Ada dua dari umatku yang dia adalah merupakan kekufuran; bangga dengan nasab kita, dan menghujat orang lain karena nasabnya.” Ini adalah kekufuran yang disebut oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam haditsnya akan tetapi tidak sampai kepada derajat kekufuran besar.

Kemunafikan kecil

Adapun kemunafikan, maka dia adalah sesuatu yang disebut oleh Nabi di dalam nash-nash syar’i sebagai kemunafikan, namun secara definisi dia belum sampai kepada kemunafikan besar yang tadi kita sampaikan. Seperti hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Ciri orang munafik ada tiga; kalau dia berbicara maka dia berdusta, kalau dia berjanji maka dia akan menghianati janjinya, kalau dia diberikan amanah maka dia akan khianat.” (HR. Bukhari)

Nabi menyebutnya sebagai kemunafikan namun dia bukanlah kemunafikan besar. Dan setiap kita hendaklah sangat berhati-hati dari hal-hal yang membatalkan tauhid kita ini dan hal-hal yang mengurangi kesempurnaan tauhid kita ini dengan cara kita senantiasa memperhatikan tauhid kita, kita senantiasa menjaga tauhid kita agar kemudian tauhid kita selalu sempurna, selalu suci, bersih daripada hal-hal yang menodainya, dan berharap bertemu dengan Allah diatas tauhid kita yang sempurna itu.

Tauhid adalah hal paling agung dalam Al-Qur’an

Menit ke-2:04:53. Al-Qur’anul Karim adalah kitabullah. Dan di dalam kitabullah tersebut terdapat keterangan yang menegaskan akan tauhid dan keterangan-keterangan yang benar-benar sangat sempurna di dalam menyampaikan tauhid. Dan Allah turunkan kitabNya sebagai hujjah atas hamba-hambaNya. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa memperhatikan kitabullah yang dia merupakan hujjah Allah kepada hamba-hambaNya. Dan (hendaknya kita) memperhatikan sesuatu yang paling agung, sesuatu yang paling besar yang diterangkan oleh Al-Qur’an, yaitu tauhid.

Kitabullah adalah sesuatu yang sangat agung, dan sesuatu yang paling agung dalam kitabullah itu adalah Tauhidullah (mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala). Maka hendaklah kita senantiasa memperhatikan kitabullah dan kemudian memperhatikan hal yang paling agung dan kitabullah itu, yaitu tauhid.

Ayat kursi menjadi ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an karena di dalamnya terdapat seluruh tauhid yang penuh dengan keikhlasan. Demikian juga dengan qul huwallahu aḥad (surat Al-Ikhlas). Qul huwallahu aḥad kata Nabi sepertiga Al-Qur’an, hal ini karena di dalamnya terdapat keterangan yang sempurna tentang tauhid. Dan demikian juga dengan surah Al-Fatihah, dia dikatakan sebagai surat di dalam Al-Qur’an yang paling afdhal. Karena di dalam Al-Fatihah tersebut terdapat hal yang menerangkan tentang tauhid dengan ketiga cabang-cabangnya.

Menyempurnakan ketauhidan merupakan suatu hal yang harus diperhatikan. Dan dengannya kita memperhatikan kitabullah dan dengan kitabullah kita memperhatikan tauhid kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan ketahuilah -saudaraku yang mulia- bahwa sesungguhnya tauhid ini adalah inti daripada seluruh kitab yang Allah turunkan ke permukaan bumi, intisari daripada seluruh kitab, bahkan dia adalah intisari dakwah dari para seluruh Nabi dan Rasul yang pernah diutus oleh Allah.

Ketahuilah bahwa kitab-kitab yang Allah turunkan, Nabi dan Rasul yang Allah utus, seluruh dakwah mereka adalah satu kalimat, yaitu dakwah kepada tauhid. Sehingga Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Sallam mengatakan:

نَحْنُ الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لعَلَّات، دِينُنَا وَاحِد وأُمَّهَاتُنا شِتى

“Kami para Nabi bagaikan saudara satu ayah, agama kami satu, namun ibu-ibu kami berbeda.”

Maksud “ibu” di sini adalah syariat. “Agama kami satu”, kami mengarah kepada satu kalimat, yaitu kalimat tauhid namun dengan syariat yang berbeda-beda. Allah berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

Setiap daripada kalian Kami jadikan untuknya syariat-syariat dan Kami jadikan untuknya manhaj-manhaj sesuai dengan umat tersebut.” (QS. Al-Maidah[5]: 48)

Maka apabila telah kita ketahui bahwa tauhid merupakan intisari daripada kitab-kitab yang Allah turunkan, apabila kita sadar bahwasanya itulah inti daripada dakwah para Nabi dan para Rasul, maka sangat penting bagi kita untuk memperhatikan tauhid kita itu, memahaminya dengan benar, mempraktekkannya dan menyempurnakan tauhid kita. Dan hendaklah perhatian kita kepada tauhid itu lebih daripada perhatian kita kepada makanan kita, kepada minuman kita, kepada seluruh perkara duniawi kita, karena sesungguhnya kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan diatas tauhid.

Penutup Tabligh Akbar Keesaan Allah Ta’ala

Dan akhirnya saya mohon kepada Allah yang Maha Agung dan Maha Mulia, dengan seluruh nama-namaNya yang indah dan seluruh sifat-sifatNya yang mulia untuk menjadikan kita ini adalah orang-orang yang perkaranya akan selalu lebih baik dan agar Allah Tabaraka wa Ta’ala memberikan hidayah kepada kita kepada jalan yang lurus. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki untuk kita agama kita, dimana agama ini adalah pokok perkara seluruh urusan kita, dan memperbaiki untuk kita dunia kita yang didalamnya kehidupan kita, memperbaiki untuk kita akhirat kita yang kepadanya semua kita akan dikembalikan, menjadikan untuk kita kehidupan ini adalah hidup untuk menambah kebaikan dan agar menjadikan kematian kita kelak adalah kematian untuk berhenti daripada seluruh keburukan.

Semoga Allah mengampuni kita, mengampuni kedua orang tua kita, seluruh kaum muslimin dan muslimat, yang hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.

Ya Allah berikanlah kepada kami takwa dan memberikan kesucian kepada kami. Engkaulah yang mampu untuk memberikan dan mensucikan ketakwaan kami tersebut.

Ya Allah, Kami memohon kepadaMu agar Engkau tetapkan kami diatas perkara dan Engkau jadikan kami selalu berada diatas hidayah, dan Engkau jadikan kami adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur atas nikmatMu. Ya Allah, berikalnlah kepada kami hati yang suci, berikan kepada kami lisan yang jujur.

Ya Allah, berikan kepada kami rasa takut kepadaMu yang bisa menghalangi kami dari berbuat maksiat kepadaMu, dan berikan kepada kami ketaatan kepadaMu yang menjauhkan kami daripada perbautan maksiat kami kepadaMu dan memasukkan kami ke dalam surgaMu, dan berikan kepada kami keyakinan yang dengan keyakinan itu musibah-musibah dunia terasa ringan bagi kami.

Ya Allah, berikan kami kesempatan untuk senantiasa menikmati pendengaran-pendengaran kami, menikmati pandangan-pandangan kami, menikmati kekuatan kami selama Engkau hidupkan kami. Ya Allah jadikan kami adalah orang-orang yang Engkau tolong dan berikan kepada kami kemenangan atas musuh kami. Dan jangan jadikan musibah kami adalah diatas agama kami. Dan jangan jadikan dunia ini adalah keinginan kami yang paling besar.

Dan akhirnya kami menutup pembicaraan ini dengan doa:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ

Video Tabligh Akbar Keesaan Allah Ta’ala

Sumber video: Rodja TV – Tabligh Akbar: Keesaan Allah Ta’ala (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr)

Mari turut menyebarkan kajian Tabligh Akbar: Keesaan Allah Ta’ala yang berisi pembahasan tauhid ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

Saudaraku, silahkan login atau daftar terlebih dahulu ya. Barakallahu fiik.
%d blogger menyukai ini: