Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat : Fase Kehidupan Manusia dan Keistimewaan Usia Muda” yang disampaikan Ustadz Ammi Nur Baits, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Pemuda-Pemuda Pembuat Sejarah dalam Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan melalui beberapa fase kehidupan. Fase tersebut dimulai dari kondisi lemah saat masa kanak-kanak, kemudian menjadi kuat di era ketika mereka menjadi sosok pemuda, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan lemah kembali serta beruban di era ketika mereka menjadi tua. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan ketetapan ini di dalam Al-Qur’an:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Ar-Rum[30]: 54)
Para pemuda dianugerahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kekuatan fisik yang lebih dibandingkan dengan fase usia yang lain. Pemuda berada di fase kuat yang diapit oleh dua fase lemah, yaitu lemah pertama saat masih bayi dan lemah kedua saat sudah lanjut usia. Fase muda ini terhitung lebih singkat dibandingkan dengan dua fase di kanan dan kirinya. Seseorang yang tidak memanfaatkannya dengan maksimal akan sangat merugi, karena usia muda tidak mungkin dapat dikembalikan lagi.
Bagi para santri yang saat ini berada di usia muda, kondisi fisik sedang merangkak naik dan berada dalam posisi kuat. Kondisi waktu muda yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban secara khusus. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ : عَنْ جَسَدِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ ؟ وَعَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ كَيْفَ عَمِلَ فِيهِ ؟
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia gunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan ke mana dia infakkan, dan tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan.” (HR. Tirmidzi) [1]
Seiring berjalannya waktu, fisik manusia pasti akan mengalami penurunan. Pada fase kuat inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertanyakan untuk apa kekuatan tersebut dihabiskan. Oleh karena itu, setiap pemuda harus menyadari bahwa usia muda bukan waktu untuk banyak beristirahat atau sekadar menikmati hidup dengan bersenang-senang, melainkan waktu yang tepat untuk berkarya dan beramal saleh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak memuji pemuda di dalam Al-Qur’an sebagai sosok yang mengukir sejarah. Bahkan, sebagian nabi disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai seorang pemuda ketika memulai pergerakannya. Nabi Ibrahim Alaihis Salam memulai dakwahnya melawan berbagai praktik kesyirikan di usia muda. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah ketika kaum Nabi Ibrahim kebingungan mencari pelaku yang telah menghancurkan berhala-berhala mereka:
قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
“Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim’.” (QS. Al-Anbiya[21]: 60)
Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan kata fatan yang berarti pemuda untuk menyebut Nabi Ibrahim. Berkaitan dengan hal ini, Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu anhuma pernah menyampaikan sebuah keterangan:
مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا وَهُوَ شَابٌّ
“Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang nabi melainkan mereka berada di usia muda.”
Puncak prestasi tertinggi manusia ditempati oleh para nabi, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih mereka pada usia produktif tersebut.
Selain para nabi, kisah pemuda lain yang diabadikan di dalam Al-Qur’an adalah Ashabul Kahfi. Mereka adalah sekelompok pemuda yang berusaha keras menjaga akidah dan imannya dari penyimpangan masyarakat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahf[18]: 13)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan status mereka sebagai anak-anak muda (fityatun). Berbekal semangat kemudaan tersebut, mereka rela melarikan diri dan mengasingkan diri dari kaumnya demi mempertahankan agama yang lurus.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kisah para pemuda pilihan dibaca oleh seluruh manusia sampai akhir dunia. Hal ini disebabkan karena mereka adalah pemuda-pemuda unggulan yang memiliki prestasi besar dalam agama. Al-Hafiz Ibnu Katsir menyampaikan sebuah keterangan saat memuji sosok Ashabul Kahfi:
فَذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُمْ فِتْيَةٌ وَهُمْ الشَّبَابُ وَهُمْ أَقْبَلُ لِلْحَقِّ وَأَهْدَى لِلسَّبِيلِ مِنْ الشُّيوخِ الَّذِينَ قَدْ عَتَوْا وَعَتَمُوا فِي دِينِ الْبَاطِلِ
“Allah Ta’ala menyebutkan bahwa mereka adalah fityah, yaitu para pemuda. Mereka lebih mudah untuk menerima kebenaran dan lebih lurus jalan hidupnya dibandingkan dengan orang-orang tua yang terkadang sudah sulit menerima kebenaran dan tenggelam dalam agama kebatilan.”
Berdasarkan realitas tersebut, Al-Hafiz Ibnu Katsir kemudian menarik sebuah kesimpulan:
وَلِهَذَا كَانَ أَكْثَرُ الْمُسْتَجِيبِينَ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَبَابًا
“Karena itulah, dominasi orang-orang yang menerima dakwah Allah dan rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah para pemuda.”
Karakter dasar pemuda memang lebih terbuka terhadap kebenaran dibandingkan dengan orang tua yang sudah terlanjur tenggelam dalam aneka kebatilan. Oleh karena itu, masa muda merupakan kesempatan yang luar biasa, sebuah usia emas (golden age) untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Di posisi usia inilah para manusia berprestasi diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an.
Keistimewaan masa muda hanya dapat diraih oleh pemuda yang telah menyiapkan diri untuk hidup di atas syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagi mereka yang konsisten belajar, memegang teguh komitmen agama, dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan sebuah naungan mulia pada hari kiamat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ … وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ
“Ada tujuh golongan yang akan diberi naungan oleh Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya… salah satunya adalah seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari) [2]
Kondisi tersebut tercapai ketika seorang pemuda mendedikasikan dirinya untuk serius belajar agama, berkomitmen menjaganya, serta mengamalkannya secara nyata. Pemuda yang menyebarkan kebaikan kepada orang lain dengan energi dan kekuatan yang dimiliki akan menghasilkan pengaruh yang jauh lebih besar. Mengenai hakikat pemuda yang sejati, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah menegaskan:
حَيَاةُ الْفَتَى وَاللَّهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى إِذَا لَمْ يَكُونَا لَا اعْتِبَارَ لِذَاتِهِ
“Demi Allah, kehidupan seorang pemuda yang sejati adalah dengan ilmu dan takwa. Jika kedua hal tersebut tidak ada pada dirinya, maka eksistensi fisiknya sama sekali tidak berharga.”
Saat usia masih muda adalah waktu yang tepat untuk menentukan pilihan hidup, yaitu antara menjadi manusia berharga yang bermanfaat bagi masyarakat atau menjadi manusia yang tidak bernilai.
KHUTBAH KEDUA : Larangan Lalai dan Mengantuk saat Mendengarkan Khotbah
Seorang pemuda atau santri yang diberikan fisik sehat dan kuat seharusnya mampu menahan diri untuk tetap tegak saat mendengarkan khotbah. Masa belajar menuntut konsentrasi penuh yang optimal. Jika dalam kesempatan mendengarkan khotbah saja sudah mengantuk, maka peluang untuk menyerap ilmu yang lebih banyak akan tertutup.
Pada masa lalu, para sahabat Nabi ketika melihat ada orang yang tertidur atau mengantuk pada saat salat Jumat akan menghardik dengan teguran yang sangat keras. Mereka menyatakan:
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ شَرِيْعَةٍ أُخْفِقُوْا
“Perumpamaan mereka itu seperti pasukan yang kalah perang.”
Sikap malas tersebut menunjukkan adanya modal kekuatan yang disia-siakan akibat terlalu lelah bermain. Waktu habis untuk hal yang tidak bermanfaat, sehingga stamina terkuras dan menyisakan kelelahan saat tiba waktunya belajar. Kebiasaan mengantuk saat Jumatan harus disadari sebagai cerminan diri yang menyerupai pasukan kalah perang yang kehilangan kesempatan emas untuk meraih kemenangan ilmu.
Satu pelajaran berharga yang dapat menjadi bekal bagi setiap muslim tercantum di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tin[95]: 6)
Mengenai ayat tersebut, terdapat sebuah penafsiran dari Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu anhuma sebagaimana dikutip oleh Ad-Dahhak dan dicantumkan oleh Imam Al-Qurtubi di dalam kitab tafsirnya:
إِذَا كَبِرَ الرَّجُلُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَا كَانَ يَعْمَلُ فِي شَبَابِهِ
“Apabila seseorang telah memasuki usia tua dalam ketaatan kepada Allah, maka Allah akan tetap menuliskan pahala untuknya seperti pahala amal yang biasa dia kerjakan ketika masa mudanya.”
Ketika seorang pemuda terbiasa rajin melaksanakan salat berjamaah, konsisten menunaikan puasa sunah, aktif bersedekah, serta giat melakukan berbagai jenis ibadah lainnya, lalu ia memasuki fase usia lanjut hingga fisiknya melemah dan tidak mampu lagi melakukan aktivitas tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetap mengalirkan pahala kepadanya secara utuh. Pahala yang mengalir itu disesuaikan dengan bobot amal saleh yang rutin ia kerjakan pada masa mudanya.
Kondisi fisik manusia pasti akan mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. Setelah melewati titik puncak kebugaran, tubuh akan melemah hingga menyebabkan banyak amal ketaatan tidak dapat dilaksanakan lagi. Lutut yang dahulu kuat melangkah ke masjid, badan yang dahulu tegap beribadah, serta fisik yang dahulu tahan berpuasa sunah, pada suatu masa akan mencapai titik tidak mampu lagi digerakkan seperti sedia kala. Bagi orang yang memiliki rekam jejak amal yang konsisten, falahum ajrun ghairu mamnun, mereka berhak mendapatkan pahala yang terus mengalir tanpa putus sebagai bentuk kemurahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kesempatan emas di masa muda tidak akan pernah datang berulang kali. Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan durasi waktu muda lebih singkat dibandingkan dengan fase sebelum dan sesudahnya. Manusia diciptakan dari kondisi awal yang lemah saat bayi, kemudian diubah menjadi kuat pada masa muda, lalu dikembalikan lagi ke dalam kondisi lemah dan renta pada masa tua.
Fase kekuatan ini diapit oleh dua fase kelemahan, yang berarti waktu produktif bagi manusia sangat terbatas. Jika kesempatan yang berharga ini tidak dimanfaatkan secara maksimal, kehidupan yang dijalani akan berakhir dengan kesia-siaan.
Diharapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat serta taufik-Nya agar masa muda yang tidak mungkin kembali ini dapat dipergunakan semaksimal mungkin untuk menuntut ilmu. Pengisian waktu muda dengan belajar menjadi hamba yang bertakwa merupakan modal utama untuk membentuk pribadi muslim yang ideal, baik pada masa muda maupun saat memasuki usia tua nanti.
Sumber Video Khutbah Jumat “Fase Kehidupan Manusia dan Keistimewaan Usia Muda”
Sumber : anb channel
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
REFERENSI:


COMMENTS