Khutbah Jumat : Bahaya Kesombongan dan Hakikat Diri Manusia

Khutbah Jumat : Bahaya Kesombongan dan Hakikat Diri Manusia

Khutbah Jumat: Hati-Hati Dalam Urusan Agama
Khutbah Jumat: Tauhid dan Istighfar Merupakan Tiang Agama
Khutbah Jumat: Bukti Benarnya Iman di Hati

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat : Bahaya Kesombongan dan Hakikat Diri Manusia” yang disampaikan Ustadz Firanda Andirja, Hafidzahullahu Ta’ala

KHUTBAH PERTAMA : Faktor-Faktor Pemicu Kesombongan

Sesungguhnya di antara dosa yang sangat besar adalah takabur atau sombong. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan keras melalui sabda beliau:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarah.” (HR. Muslim) [1]

Kata zarah merupakan ungkapan dalam bahasa Arab untuk menunjukkan sesuatu yang ukurannya sangat ringan. Sebagian ulama menafsirkan zarah sebagai sebutir debu, sebutir pasir, semut yang sangat kecil, atau bahkan kepala semut. Hadits tersebut menjadi peringatan nyata bahwa kesombongan yang hanya sedikit saja dapat menghalangi seseorang untuk masuk ke dalam surga.

Hal ini dikarenakan satu-satunya zat yang berhak sombong, merasa besar, serta diagungkan hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah dan tidak memiliki daya apa pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا، قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Keagungan adalah sarung-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barang siapa yang mencoba mengusik-Ku pada salah satu dari keduanya, maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Abu Dawud) [2]

Oleh karena itu, neraka jahanam dipastikan menjadi seburuk-buruk tempat kembali bagi orang-orang yang sombong. Sejarah mencatat bahwa pembangkangan iblis kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saat diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam disebabkan oleh sifat enggan dan takabur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Ia enggan dan menyombongkan diri dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah[2]: 34)

Iblis merasa dirinya lebih mulia dengan berkata:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ

“Aku lebih baik daripada dia.” (QS. Al-A’raf[7]: 12)

Mengingat besarnya bahaya sifat takabur, setiap muslim wajib mengenali faktor-faktor yang dapat memicu munculnya kesombongan di dalam hati.

1. Merendahkan Orang Lain (Gamtunas)

Pintu pertama kesombongan sering kali bermula dari perilaku meremehkan dan memandang rendah harkat sesama manusia.

2. Kekayaan dan Harta Benda

Harta kekayaan yang berlimpah dapat melalaikan pemiliknya, sebagaimana kisah Qarun yang sombong atas pencapaian materinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ

“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS. Al-Qashash[28]: 76)

Kaumnya telah memberikan teguran agar ia tidak bersikap congkak:

لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُ يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

“Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri.” (QS. Al-Qashash[28]: 76)

Namun, Qarun mengabaikan peringatan tersebut dan justru menonjolkan kemewahannya di hadapan publik:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya.” (QS. Al-Qashash[28]: 79)

Akibat kesombongan yang telah mencapai puncaknya tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjatuhkan hukuman dengan menenggelamkan Qarun beserta seluruh harta bendanya ke dalam tanah.

3. Jabatan dan Kekuasaan

Kedudukan yang tinggi di dunia kerap membuat seseorang melampaui batas dan meremehkan orang-orang yang berada di bawahnya. Padahal, kekuasaan mutlak kelak pada hari kiamat sepenuhnya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَقْبِضُ اللَّهُ الْأَرْضَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ؟

“Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman: ‘Akulah Sang Raja, mana raja-raja bumi?’.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3]

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ

“Akulah Sang Raja, mana orang-orang yang berbuat semena-mena? Mana orang-orang yang sombong?” (HR. Muslim) [4]

Setiap individu yang diamanahi jabatan atau kekuasaan harus menjaga hatinya agar tidak berubah menjadi arogan, karena kelalaian tersebut dapat menyeretnya ke dalam neraka jahanam.

4. Fanatisme Suku dan Kabilah

Rasa bangga yang berlebihan terhadap silsilah keturunan merupakan salah satu adat jahiliah yang masih tersisa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa di antara perkara jahiliah yang ada pada umat beliau adalah bangga dengan kedudukan (alfakhru bil ahsab) dan mencela nasab (watthofnu fil ansab).

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia bersuku-suku bukan untuk saling merendahkan, melainkan untuk saling membangun hubungan yang harmonis. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat[49]: 13)

Kemuliaan seorang hamba diukur berdasarkan tingkat ketakwaannya, bukan dari tinggi atau rendahnya garis keturunan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan:

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barang siapa yang lambat amalnya, maka nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya.” (HR. Muslim) [5]

Tingginya status sosial atau garis keturunan tidak akan memberi manfaat sedikit pun jika tidak diiringi dengan amal saleh. Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan bahwa mengagumi nasab secara berlebihan (ujub) merupakan anak tangga yang mengantarkan seseorang pada kesombongan. Fenomena ini bahkan pernah terjadi pada sebagian keturunan Bani Hasyim yang menyombongkan silsilah mereka, padahal leluhur mereka, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, adalah manusia yang paling menentang sifat takabur. Oleh karena itu, membanggakan darah biru atau keturunan raja merupakan salah satu faktor yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam neraka.

5. Fasilitas Kendaraan dan Tunggangan

Jenis kendaraan yang dimiliki juga dapat menjadi sarana munculnya kesombongan di dalam dada. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَهْلِ الْخَيْلِ وَالْإِبِلِ … وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ

“Rasa bangga dan kesombongan terdapat pada pemilik kuda dan unta… sedangkan ketenangan terdapat pada pemilik kambing.” (HR. Bukhari) [6]

Para ulama menjelaskan bahwa pemilik unta dan kuda pada masa lalu cenderung meremehkan pemilik kambing. Mereka merasa lebih berharta, sehingga muncul sifat arogan untuk menyerang, mendominasi, atau menghina pihak lain yang posisinya berada di bawah mereka.

Hal ini menjadi sebuah kaidah yang berlaku pada masa kini. Seseorang dapat terjangkit sifat sombong karena fasilitas kendaraan atau mobil mewah yang dimilikinya. Kewaspadaan harus senantiasa ditingkatkan agar nikmat fasilitas duniawi tersebut tidak berubah menjadi racun kesombongan yang merusak keimanan.

6. Kesombongan Melalui Pakaian, Alas Kaki, dan Ilmu

Pakaian yang dikenakan oleh seseorang dapat menjadi salah satu celah masuknya sifat takabur. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan sebuah peringatan nyata mengenai hal ini melalui sabda beliau:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي بُرْدَيْنِ مُعْجَبٌ بِنَفْسِهِ مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan dengan mengenakan dua pakaian yang indah sambil bersikap sombong gara-gara bajunya tersebut, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Maka dia terus digoncangkan di dalam bumi itu sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari) [7]

Potensi kesombongan tersebut bahkan bisa muncul hanya karena urusan alas kaki atau sepasang sandal. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan umatnya tentang bahaya sifat sombong, seorang sahabat bertanya mengenai seseorang yang gemar memakai sandal dan pakaian indah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian memberikan penjelasan:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)[8]

Penggunaan fasilitas yang indah diperbolehkan selama tidak dibarengi dengan sikap meremehkan, memamerkan diri, atau merendahkan orang lain. Sebaliknya, apabila sepasang sandal atau sehelai pakaian yang dikenakan justru memicu rasa ujub dan sombong hingga meremehkan sesama, maka hal tersebut menjadi jalan lurus yang mengantarkan pelakunya menuju neraka jahanam.

Di antara berbagai faktor pemicu takabur, Imam Az-Zahabi rahimahullah menyebutkan bahwa kesombongan karena faktor

7. ilmu merupakan jenis kesombongan yang paling buruk (wa asyarul kibr). Ilmu yang dimiliki oleh seorang hamba seharusnya melahirkan sifat rendah hati, sebagaimana falsafah ilmu padi yang semakin berisi akan semakin merunduk. Fenomena ketika ilmu yang dikuasai justru membuat seseorang menjadi angkuh, sombong, serta gemar membodoh-bodohi orang lain dicap sebagai bentuk kesombongan yang paling nista.

KHUTBAH KEDUA : Tindakan Preventif Melawan Kesombongan

Kaum muslimin dituntut untuk senantiasa melawan gejolak takabur di dalam hati melalui berbagai tindakan preventif. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pujian khusus bagi orang-orang yang mampu menekan ego kesombongannya melalui sabda beliau:

مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا

“Barang siapa yang meninggalkan pakaian yang mahal karena tawadu kepada Allah, padahal dia mampu membelinya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk sampai Allah menyuruhnya memilih gaun keimanan mana saja yang dia sukai untuk dikenakan.” (HR. Tirmidzi) [9]

Meskipun memiliki kemampuan finansial yang berlimpah, seorang hamba yang memilih untuk mengenakan pakaian sederhana demi menjaga ketawadhuan hatinya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendapatkan kemuliaan besar di hari kiamat.

Terkait kesederhanaan hidup ini, Sahabat Abu Umamah radhiallahu anhu meriwayatkan sebuah momen ketika para sahabat sedang berbincang mengenai urusan duniawi di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau kemudian langsung memberikan nasihat secara berulang:

أَلَا تَسْمَعُونَ أَلَا تَسْمَعُونَ أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ

“Tidakkah kalian mendengar? Tidakkah kalian mendengar? Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan dalam berpakaian adalah bagian dari keimanan. Sesungguhnya kesederhanaan dalam berpakaian adalah bagian dari keimanan.” (HR. Abu Daud) [10]

Kata al-badazah di dalam hadits tersebut ditafsirkan sebagai kondisi berpakaian yang sederhana, tidak necis, dan tidak terkesan mewah. Hal ini bukan berarti umat Islam dilarang memakai baju yang indah, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri mengenakan pakaian terbaiknya pada hari Jumat, hari raya Id, serta saat menyambut tamu resmi.

Namun, sesekali mengenakan pakaian yang biasa dan murah sangat diperlukan agar hati tidak terbuai oleh gemerlap dunia. Langkah ini melatih diri agar tidak disibukkan oleh urusan estetika lahiriah secara berlebihan, seperti berfokus pada keindahan sorban, songkok, maupun sepatu secara berlebihan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahkan sesekali berjalan tanpa mengenakan alas kaki demi meredam potensi sombong yang bisa timbul kapan saja. Konsep preventif ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari; misalnya, dengan memilih terbang menggunakan kelas ekonomi sesekali walaupun mampu membeli tiket kelas bisnis, atau dengan mengendarai kendaraan yang biasa saja.

Kesombongan memiliki banyak celah untuk menyusup ke dalam hati, baik melalui harta, tunggangan, tas, pakaian, maupun jabatan. Apabila seseorang terbiasa mengenakan pakaian yang terlalu mewah atau barang-barang bermerek (branded) yang sangat mahal, kecenderungannya akan mengarah pada kepuasan pamer agar diakui oleh publik, bukan lagi didasarkan pada nilai fungsi barang tersebut. Di sinilah kesombongan akan masuk dengan sangat mudah dan menjerumuskan seorang hamba ke dalam dosa besar yang menghalanginya masuk surga. Diharapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga kaum muslimin di atas sifat tawadu dan menjauhkannya dari segala jenis kesombongan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)

Sumber Video Khutbah Jumat “Bahaya Kesombongan dan Hakikat Diri Manusia”

Sumber : Firanda Andirja 

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

REFERENSI :

[1] https://sunnah.com/muslim:91c

[2] https://sunnah.com/qudsi40:19

[3] https://sunnah.com/mishkat:5522

[4] https://sunnah.com/muslim:2788a

[5] https://sunnah.com/mishkat:204

[6] https://sunnah.com/bukhari:3301

[7] https://sunnah.com/bukhari:5789

[8] https://sunnah.com/muslim:91a

[9] https://sunnah.com/riyadussalihin:801

[10] https://sunnah.com/mishkat:4345

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: